
Elevator itu ternyata lebih berisik dari yang Marco kira. Dari luar tidak akan terdengar apa-apa, tetapi jika berada di salam sangkar, suara berisiknya sangat jelas. Logam beradu dengan logam, roda gerigi berputar dari dalam dinding puri, katrol berderit-derit.
Robert menatap Marco dari samping, memperhatikan pria itu dengan saksama hingga yang ditatap merasa risih.
"Aku memang tidak menikah," kata Marco tenang dengan mata menatap lurus ke depan, "tapi aku yakinkan kau, aku tetap menyukai perempuan."
"Andai aku bisa menyobek mulut usilmu," geram Robert dongkol. "Aku cuma heran bagaimana kau bisa selamat dari monster itu!"
Marco mendengus. "Monster? Kalau yang seperti itu kau sebut monster, aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresimu melihat monster yang sebenarnya."
"Aku sudah melihatnya sekarang." Robert mengangguk-anggukkan kepala, tidak bisa menutupi rasa herannya. "Aku sudah melihatnya sekarang Argent, dia berdiri di sampingku saat ini."
Marco hanya tersenyum simpul.
Ia tidak mungkin menceritakan pengalamannya semalaman pada Robert. Hantu hitam itu menjijikan dan mengerikan. Bahkan peluru pun tidak bisa menjatuhkannya. Marco sudah berpikir ia akan mati ketika menyadari hantu tersebut menghindari api. Bahkan setelah ia menemukan cara untuk membakarnya, hantu hitam tersebut tetap saja tidak mati. Semalaman penuh ia menebas dan menusuk serta mencacah sang monster karena tubuh yang berserakan itu selalu menyatu kembali dan mengejarnya hingga pagi datang. Begitu matahari mencapai bagian bawah menara, hantu itu meleleh dengan desis menjijikan seperti es disiram air panas.
Marco menyimpan pengalamannya jauh-jauh dalam kepala. Ia tidak akan mengatakannya pada siapa pun. Bayangan peristiwa semalam masih bisa membuatnya lumpuh karena ngeri jika dibayangkan. Hanya keberuntungan dan keteguhan hatilah yang membuatnya mampu selamat. Dan Marco tidak ingin merusak kedua hal itu dengan bercerita. Ia juga tidak akan bercerita bahwa ia masih selalu dibayang-bayangi sosok merayap itu, seolah sosok itu masih ada di belakang punggungnya.
Marco adalah pria dengan harga diri sangat tinggi. Ia tidak akan membiarkan orang lain tahu bahwa ia sempat dibuat ketakutan oleh makhluk itu. Kelemahan harus disimpan rapat-rapat dalam hati.
Robert berdiri diam, sekarang kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.
"Berapa lama sampai ke atas?" tanya Marco heran. Elevator mereka berjalan cukup lamban, kadang malah tersendat.
"Lima belas sampai dua puluh menit. Tenang saja, meski kelihatannya rusak, benda ini cukup kokoh. Roda-roda penggeraknya juga selalu dirawat, jadi tidak akan macet."
Marco tidak mencemaskan itu. Ia menoleh, lalu dalam satu tarikan napas mencabut pisau belatinya dari pinggang, menarik lengan Robert, dan memuntirnya jatuh ke lantai dengan ujung pisau menempel di leher pria itu.
__ADS_1
Robert kini jatuh. Perutnya menempel pada lantai elevator, dengan lutut Marco menekan tubuhnya, menahannya tetap di sana. Lengan kanannya dipuntir ke belakang punggung.
Selama beberapa saat Robert masih bengong, tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian ia berteriak marah, "Apa kau gila, Argent? Apa! Kau! Gila?! Lepaskan aku!"
Marco sudah merampas revolver Robert, kini menempelkan moncongnya yang dingin ke pelipis pria itu. Pisaunya sudah ia simpan lagi. "Idiot," katanya dingin. "Cuma orang tolol yang memamerkan ada berapa senjata yang ia simpan tapi tidak menjaganya dengan benar. Kau yang sebodoh ini sesumbar ingin melindungiku? Bahkan bocah Selatan itu melakukannya dengan lebih baik."
Robert bernapas dengan cepat karena marah. Wajahnya merah padam. Matanya melotot seperti hendak copot.
"Aku sudah selalu bilang padamu, Robert, kebaikan hatimu akan jadi senjata makan tuan," lanjut Marco, menekan lututnya lebih keras ke punggung Robert karena pria itu berontak. "Kau bilang kau di sini untuk investigasi pribadi, tapi aku masih ingat melihatmu berteriak-teriak di hutan, membuat monster. Kau, Charles Hastings, Xavier Hastings. Masih mencoba mengelak?"
"Aku terpaksa!" Robert tersengal. Urat-urat di wajahnya mencuat. Debu lantai beterbangan di sekitar wajahnya karena sengal napas. "Mereka curiga padaku! Mereka masih belum percaya! Aku harus melakukannya supaya mereka percaya aku juga bagian mereka! Tapi makhluk yang kami buat tidak bisa melakukan apa-apa, jenis itu akan lenyap sendiri begitu keluar dari hutan!"
Marco mengerutkan kening. "Memangnya ada berapa jenis?"
"Lepaskan aku! Kau tidak perlu melakukan ini, aku akan menjawabmu!"
Marco tertawa. Ia tidak mengendurkan puntirannya. "Kau lupa sedang bicara dengan siapa? Apa menurutmu aku ini pria lemah lembut yang akan percaya pada permohonan orang lain?"
***
Clearwater datang satu jam setelah Tuan Stuart datang. Jose menemuinya sendirian di kamar tamu, tidak ingin melibatkan kawannya itu dengan misteri Bjork yang sedang ia selidiki.
"Aku harus pulang secepatnya," kata Clearwater pelan, menolak dipersilakan duduk. Wajah lelaki itu masih semuram biasa. "Orang-orangku menunggu di Clearwater."
"Aku mengerti, Luke," sahut Jose tenang. Ia melambai pada George yang ada di ruangan tersebut, memintanya pergi. George segera melakukan yang diperintahkan. "Aku tidak akan menahanmu lama-lama di sini. Kau lihat Dave di mana?"
"Di dekat kantor pajak," Clearwater berkata. Suaranya monoton dan dingin. Kalau tidak mengenalnya, Jose akan mengira pria itu bicara dengan nada bosan, tetapi ia tahu yang terjadi adalah sebaliknya. Kawannya itu cukup bersemangat. Clearwater yang sedang bosan tidak mungkin bicara lebih dari satu kata. "Aku memanggilnya. Berulang kali. Tapi dia tidak menoleh. Aku di dalam kereta menuju ke pesta, jadi tidak turun. Mungkin suaraku tidak kedengaran olehnya."
__ADS_1
Jose merinding. "Di dekat kantor pajak? Apa dia berjalan ke Bjork Selatan?"
Clearwater berpikir sebentar. "Mungkin. Entahlah. Memang mengarah ke sana, tapi aku tidak tahu apa dia benar ke sana."
Mau tidak mau, Jose teringat mayat Gladys. "Bagaimana sikap tubuhnya? Kau melihat wajahnya dengan jelas?"
"Dia berjalan ... gontai. Sedikit aneh. Aku lihat wajahnya cukup jelas." Clearwater menghela napas. "Aku tidak turun menghampiri karena dia ... aneh. Aku yakin dia Dave, tapi aku juga berharap aku salah. Jalannya terseok. Matanya kosong. Harusnya aku memang turun dari kereta. Tapi aku merasa tidak ingin berada di dekatnya yang seperti itu."
"Kau memberi tahu Lady Lidya Jewel?"
Clearwater menggeleng. "Tidak akrab dengannya. Tidak mau. Dia cerewet."
Jose tertawa kecil mendengarnya. Dibanding Clearwater yang hanya bicara sepatah dua patah kata, Lidya memang seperti bendungan jebol. "Siapa saja yang tahu kau melihat Dave? Selain aku?"
"Adrian. Simon."
Jose mengangguk. "Ada lagi yang kau lihat?"
"Hanya itu." Clearwater diam selama beberapa saat. Mata kelabunya menatap Jose dalam-dalam. "Aku dengar kabar. Pamanmu hilang."
Jose mengedikkan bahu dengan lagak tak peduli. "Dia kan memang selalu hilang. Besok mungkin sudah pulang. Kau dengar dari siapa?"
"Spencer." Clearwater memakai topinya, pertanda bahwa ia akan pulang. "Di luar banyak kabar tentang Marquis Argent. Kabar buruk. Para bangsawan gelisah. Kau hati-hati, Jose. Kalau butuh bantuan, telepon saja. Aku akan datang. Kapan pun, di mana pun."
Jose mengangguk. Mereka berpelukan singkat, kemudian Jose mengantar Clearwater ke keretanya di depan. Seperti Greyland, Clearwater juga membawa pengawalnya sendiri. Lima pria bermata dingin yang kelihatan terbiasa membunuh berdiri berjajar menyambut mereka.
"Semoga jalanmu diperluas," kata Jose sebelum pintu kereta menutup.
__ADS_1
"Semoga rumahmu dilindungi," balas Clearwater sopan. Kemudian pintu kereta ditutup dan kereta kudanya berjalan pelan keluar dari wilayah Argent. Para pengawal pria itu berjalan di sisi kereta.
***