BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 195


__ADS_3

Ketika keluar ruang rawat dan melihat Hans berjaga di samping pintu, Jose segera mendapat satu kesimpulan. Rolan tidak ada di rumah. "Ke mana Paman Rolan?" tanyanya.


Hans memperhatikan tuannya dengan cermat sejauh yang bisa dilakukannya dalam batas kesopanan. Jose kelihatan tenang, tapi ada bekas air mata di matanya. Dan wajah itu kelihatan sedih. "Dokter tidak bilang apa pun pada saya, Tuan,” jawabnya. “Tapi mungkin ke Pusat Arsip, Tuan,” tambahnya segera begitu ingat. “Ada orang yang dikirim ke sana untuk mencari tahu apa yang dibaca Krip. Mungkin Dokter Rolan ke sana untuk mengawasi."


“Mungkin saja.” Jose mengangguk. "Aku mau kembali ke kamarku. Kau bisa balik lagi ke posmu."


Hans meringis, tapi tidak pergi ke mana-mana. "Saya akan mengantar Tuan."


"Tentu, tentu." Jose memutar bola mata, tahu bahwa mengantar yang dimaksud pria itu adalah mengawalnya dengan ketat sesuai permintaan Rolan. Ia membiarkan pria besar itu mengikutinya di belakang. Mereka berpapasan dengan George di tengah jalan, yang membenarkan bahwa Rolan memang pergi ke Pusat Arsip.


Jose jadi ingin pergi ke sana juga, jadi ia mengubah rute dan pergi ke kamar kerja Marco untuk meminta izin.


Sayangnya berapa kali pun Jose memanggil dan mengetuk, tetap tidak ada jawaban dari dalam. Menurut keterangan George, Lady Chantall masih belum pulang. Kereta kuda dan dayangnya masih menunggu di bawah. Mungkin sedang ada diskusi serius dilangsungkan di dalam sana karena Marco juga tidak meminta sarapan diantar naik.


Mendadak mendapat ide, Jose buru-buru kembali ke kamarnya. "Kau bisa kembali ke posmu," katanya pada Hans sebelum menutup pintu.


Hans lagi-lagi hanya meringis lebar sebagai jawaban, membuat Jose tahu pekerja itu tidak akan pergi. Ia menutup pintu tanpa mengatakan apa pun. Dalam keadaan biasa, ia akan mengizinkan siapa pun yang ditugaskan mengawalnya untuk ikut masuk ke dalam kamar, tapi kali ini dibiarkannya Hans di luar. Pintu kamar tidak ia kunci supaya tidak ada yang curiga. Jose melepas mantel hitam tebalnya karena itu hanya akan memperlambat gerakannya, kemudian memastikan tali sepatu bootnya terikat dengan kencang agar tidak mengganggu. Setelah itu, hampir tanpa suara, Jose membuka jendela kamarnya dan meloncat keluar, menyusuri tembok rumah dan merayap menuju jendela kamar pribadi Marco.


Ia tahu pintu kamar itu pasti dikunci karena pemiliknya sedang berada di kamar kerja. Namun jendela kamar pasti tidak dikunci. Ia akan masuk lewat sana, kemudian mencari petunjuk.


Marco tidak pernah mengatakan seluruh rencananya pada orang lain. Pamannya itu hanya akan memberi sepotong pada satu orang, kemudian sepotong lagi yang berbeda pada orang lain, tidak pernah membiarkan orang-orang tersebut mengetahui gambaran utuh mengenai apa yang akan dilakukannya. Jose tahu pamannya tidak percaya pada siapa pun, jadi sistem tersebut juga berfungsi sebagai bentuk pertahanan. Jika ada yang berkhianat, orang tersebut tidak akan bisa menghancurkan seluruh rencana dan Marco akan bisa menentukan siapa pengkhianatnya begitu melihat rahasia yang mana yang bocor.


Tidak mungkin akan ada daftar rencana tertulis rapi di kamar Marco. Jose tahu kebetulan semacam itu hanya terjadi dalam buku cerita anak, dan ia memang tidak bermaksud mencari daftar rencana.

__ADS_1


Jose sampai ke beranda di kamar Marco dengan mudah. Ia membuka jendela beranda yang tidak dikunci, lalu melangkah masuk sambil memperhatikan sekitar, memastikan ia tidak menyentuh hal yang tak penting. Marco meletakkan semua barang di kamarnya dalam posisi tertentu yang berubah setiap hari. Orang akan melihat pena di atas meja sebagai barang biasa, tapi Marco meletakkan pena di atas meja sebagai penanda. Seluruh posisi benda di kamar ini adalah penanda. Jika ada satu saja yang bergeser, Marco akan tahu ada yang masuk ke dalam kamarnya, dan pria itu akan bisa menebak siapa yang datang serta apa tujuannya berdasar perubahan serta pergeseran benda di kamarnya.


The Mad Argent. Argent Gila. Jose merasa julukan itu memang pantas untuk pamannya. Ia heran dari mana pamannya bisa menemukan cara semerepotkan itu dan menggunakan semua pritilan barang yang ada untuk mengawasi kamarnya sendiri saat sedang tidak berada di sana. Jose melangkah mendekati brankas kecil yang ditanam di lantai di balik karpet kamar. Ia tahu kodenya, tapi tidak pernah memutuskan untuk mengotak-atiknya—sampai hari ini.


***


Maria dan Nolan sarapan bersama di rumah kaca, dikelilingi tanaman hias dan bunga. Mereka membahas pistol Maria dan mengomentari bentuknya yang aneh serta mengobrolkan banyak hal.


"Jadi ayahmu adalah orang Utara?" Maria tidak heran mendengar cerita Nolan. Ia memang merasa gadis itu terlalu cerdas untuk ukuran orang Selatan, apalagi untuk ukuran perempuan. Pendidikan sudah mulai merata, tapi masih banyak perempuan yang memilih untuk tidak sekolah. Bagi kebanyakan dari mereka, kemampuan akademis tidak ada gunanya. Perempuan Selatan lebih suka tetap di rumah dan belajar memasak atau berladang sementara perempuan Utara lebih suka mengasah kemampuan bersosialisasi di pesta-pesta minum teh atau merawat kulit. Orang Selatan yang pintar seperti Nolan jelas janggal bagi Maria. "Siapa nama ayahmu? Pekerjaannya?"


"Titus," jawab Nolan pendek. Ia mengoles selai stroberi banyak-banyak ke rotinya, membuatnya kelihatan lebih mirip puding roti.  "Namanya Titus. Ayah bilang, dia berdagang."


Ayah bilang? Maria mengerutkan kening, menyimpulkan bahwa keterangan itu berarti Nolan tidak tahu jelas apa yang dilakukan ayahnya. Maria memperhatikan Nolan baik-baik, mulai merasa tertarik. Anak pedagang Utara tidak mungkin ditaruh di Selatan. "Berdagang apa?"


Nolan mengangkat bahu. Ia menelan rotinya, menggunakan lap yang disediakan untuk menyeka sudut bibir. "Bukan hal yang besar. Katanya menjualkan produk orang secara eceran. Aku tidak terlalu tahu."


"Lalu kenapa?" tukas Nolan defensif, menatap Maria dari tepian rotinya. "Pekerjaannya ya urusannya. Aku tidak ribut tanya-tanya apa yang di lakukan di luar sana. Apa pun yang dia lakukan, itu tidak penting. Yang penting dia pulang."


Maria tertegun. "Itu tadi kata ibumu?"


Nolan selesai makan. Ia meraih gelas air di atas meja dan meneguknya banyak-banyak, lalu menghapus jejak air di bibir dengan punggung tangan, merasa risih karena sejak tadi diperhatikan baik-baik. "Apanya?"


"Apa pun yang dia lakukan, itu tidak penting," Maria mengulang. Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya disilangkan di atas meja bulat putih yang menyekat keduanya. "Yang penting dia pulang. Itu kata-kata ibumu?”

__ADS_1


Mata biru Nolan menyorot penuh tanya. "Iya," katanya. "Kok tahu?"


Karena itu adalah ucapan khas istri para Pembisik, pikir Maria. Ayahnya bukan berdagang, tapi bekerja sebagai informan untuk seseorang. Seorang bangsawan, yang jelas. "Hanya menebak," jawabnya. Nolan jelas tidak tahu apa yang dilakukan ayahnya, dan Maria merasa tidak sopan untuk terus mengorek-ngorek, jadi ia memutuskan berhenti.


Maria melayangkan pandangan ke arah bukaan pintu rumah kaca. Halaman depan rumah Argent terlihat dari tempat mereka duduk karena meja dan kursi di rumah kaca memang diletakkan di tengah ruangan, diatur sedemikian rupa sehingga orang yang duduk di sana bisa mengawasi sayap timur rumah sekaligus apa yang terjadi di halaman depan.


"Itu Jose," katanya sambil bangkit berdiri.


"Mana?" Nolan menyusul Maria yang sekarang berdiri di ambang pintu rumah kaca, di samping tatanan bunga anggrek.


Ada banyak orang berseliweran di depan rumah Argent, kebanyakan adalah pekerja, tapi juga ada orang-orang Clearwater, Maria bisa melihat jubah mereka yang khas. Kemungkinan pria itu dan Adrian Marsh sudah datang karena Jose sudah ada di sana. Lelaki itu berjalan santai mendekati salah satu pekerja dan bicara dengan mereka.


"Itu, yang sedang berjalan ke arah kumpulan pekerja di depan. Nah, sekarang dia melihat ke sini.” Maria melambai dan tertawa.


"Aku tidak melihatnya." Nolan memicingkan mata, mencari yang mana Jose. "Ada terlalu banyak orang."


“Kau tidak melihatnya? Dia sedang membungkuk sekarang, bergaya memberi hormat dengan dramatis.” Maria membalas dengan melakukan curtsy, sengaja berlebihan ketika mengangkat ujung-ujung roknya.


Nolan memperhatikan Maria dengan heran. “Matamu pasti bagus. Dan matanya juga, kalau dia melihatmu melakukan itu.”


“Akomodasi mata Jose memang bagus. Dia melatih semua inderanya supaya tajam.” Maria sedikit memiringkan tubuhnya ketika menatap Nolan, memperhatikan ekspresi wajah gadis itu baik-baik. “Tapi mataku tidak sebagus itu. Kalau yang berjalan di sana adalah Clearwater, aku mungkin tidak tahu. Sebelumnya, kupikir aku bisa mengenalinya di mana pun karena sudah bersamanya sejak lama, tapi akhir-akhir ini aku tahu bukan karena itu. Bukan hanya karena itu.” Ia menghela napas lembut, membiarkan senyumnya mengambang tipis di bibir. “Saat kau menyukai seseorang, kau akan lebih menyadari kehadiran orang itu. Bahkan meski orang itu ada di tengah keramaian, kau pasti bisa menemukannya dengan mudah.”


Nolan sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Maria. “Kau suka padanya.”

__ADS_1


Maria menggeleng. Aku jatuh cinta padanya.


***


__ADS_2