BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 202


__ADS_3

Lady Chantall menarik napas perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mengangkat dagunya tinggi, mencegah air matanya jatuh. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak di depan para pelayan, tidak di hadapan Marco. "Omong kosong," katanya dalam getar amarah. Ia tertawa kering. "Aku setia dan Marco tahu itu. Lagi pula, pengkhianatan apa yang kau maksud, Renata? Jika tidak ada buktinya, kau tentu tahu apa namanya, hm? Fitnah! Ini Fitnah!"


"Aneh bagaimana kau muncul mendadak di puri Ashington tanpa memberi tahu rumah ini mengenai kecurigaanmu pada Selatan. Padahal kau tahu kami juga mencari Marco."


"Aku tidak perlu menjelaskan diri padamu."


Renata mengalihkan wajah kembali pada kakak iparnya. "George mencatat ada sambungan telepon ke Aston dilakukan dari rumah ini, dilakukan tengah malam. Bukan aku atau kau yang melakukannya, Kak. Dan itu berlangsung sejak Lady Chantall datang."


"Lalu kenapa? Apa kalau rambutmu rontok saat aku di rumah ini maka aku juga yang salah?" Lady Chantall mendorong dayang-dayang di depannya dengan kasar dan berjalan menghampiri Marco. Kalau yang menuduhnya orang lain, ia tidak akan secemas ini. Namun Renata adalah anggota keluarga Argent. Wanita itu bertunangan dengan Edgar sejak masih sangat kecil. Marco menganggapnya seperti saudari kandung dan sangat memanjakannya. Kedekatan mereka bahkan sampai membuat orang-orang salah paham dan mengira keduanya punya afair.


Lady Chantall tahu Marco sangat mementingkan keluarganya, pendapat mereka jelas akan lebih diperhitungkan. Ia meraih tangan pria itu dan meletakkannya di atas dada, di jantungnya. "Kau percaya padaku, kan?" Sudut bibirnya bergetar. "Aku sudah menjelaskan kenapa aku tidak menghubungi Rolan atau Jose. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih sejak kau hilang, aku cuma ingin menemukanmu dengan cepat."


"Kapan saja panggilan telepon itu dilakukan?" Marco tidak menatap pada Lady Chantall, tapi juga tidak menarik tangannya.


"Salah satunya adalah kemarin malam pukul satu dini hari." Renata mengerjap lagi, kali ini lebih lembut.


Marco mengangguk mengerti. Ia menggeser wajah hingga tak ada yang melihatnya selain Lady Chantall, lalu berbisik tanpa suara. Apa pun yang kutanyakan, jawablah 'iya'.


Bola mata hijau itu mengerjap pelan. Butir-butir air mata bergulir menuruni pipinya, menggantung di batas rahang seperti mutiara mungil.


"Milady," Marco memulai, "apa kau memang berada di luar kamar pada malam yang disebut Renata?"


"Ya."


"Kau melihat seseorang menelepon?"


"Ya."


"Orang itu adalah pelayan di rumah ini?"


"Ya."


"Jadi kau melihat wajahnya dan bisa menunjukkan siapa orangnya padaku?"


Lady Chantall tidak ragu ketika mengangguk. "Ya."


Marco menundukkan kepalanya ke sisi pipi Lady Chantall, mengangguk pelan dan bersikap seolah sedang mendengar bisikan. Kemudian ia tertawa serak. "Benarkah? Kau melihat wajah dayang Renata?"


"Ya."


Renata menaikkan sebelah alis. Lekuk kecil di senyumnya tidak memudar. Ia berbalik cepat pada empat dayangnya yang kini saling berpandangan dengan kaget. "Itu benar?" tanyanya ganas.


Keempatnya segera menjatuhkan lutut dan menyangkal. Dua dayang senior menyangkal paling keras, memberi rentetan pembelaan.


"Jika kalian semua benar, berarti kakkakku yang salah?" Renata menoleh pada Marco.

__ADS_1


"Kau kan membawa dua pekerja di luar. Aku lihat Finnian dan Harold. Suruh mereka seret orang-orang ini ke ruang bawah tanah," kata Marco santai. "Buat mereka mengaku."


Renata memanggil Finnian. Pintu terbuka dan dua pekerja menghambur masuk menunggu perintah selanjutnya. Dua dayang seniornya mulai makin panik memohon makin keras. Semua orang tahu apa yang dilakukan Jacob pada Xavier Hastings di sana, mereka juga sudah mendengar bahwa Marco memenggal kepala dua orang Jorm di sel bawah tanah. Semua yang bekerja di rumah ini tahu apa saja yang terjadi pada orang-orang yang diseret ke ruang bawah tanah. Semuanya akan mati atau cacat.


"Itu bohong, Nyonya!" Melihat para dayang senior tidak malu memohon dan meratap, salah satu dayang muda ikut bicara, "Tidak mungkin dia bisa melihat wajah siapa pun! Malam itu kan gelap!"


Dayang itu tersentak sendiri dan menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajah. Kesunyian jatuh dengan keras dalam kamar. Tidak ada suara apa pun lagi, bahkan tak ada lagi yang menghiba.


"Oh?" Renata menaikkan sudut bibirnya. Ia memutar langkah mendekati dayangnya. "Malam itu gelap. Bagaimana kau tahu?"


"Malam yang Nyonya maksud ... saat itu tidak ada bulan," bisik dayang itu, kini menunduk makin dalam hingga keningnya menempel pada karpet.


"Bagaimana kau tahu ada bulan atau tidak?" tanya Renata. "Kalian harusnya ada di kamar bersamaku, dan aku tidak membuka jendela. Ada yang membuka jendela kemarin malam?" Ia mengalihkan wajah pada tiga dayang lain, yang segera menggeleng.


"Saya ... saya hanya menebak."


Renata mengangkat sebelah tangan, dan kedua dayang senior yang tadi menghiba paling keras kini bangkit dalam ketenangan yang terlatih, lalu mencekal lengan dayang muda tadi. Wajah mereka lempeng, tanpa ada sisa panik atau kesedihan yang sempat mereka tunjukkan.


"Bawa dia ke kamar bawah tanah dan interogasi dia," perintah Renata.


Finnian berjalan santai menarik lengan dayang itu, yang masih menjerit dan berontak, meneriakkan kalimat-kalimat pembelaan bahwa semua ini cuma kekeliruan dan bahwa ia tidak bersalah. Dayang muda yang satu lagi masih terpaku diam di lantai, kebingungan. Renata memberi tanda dengan satu anggukan. Dua dayang yang senior membantu dayang muda itu bangun, kemudian mereka undur diri. Pintu tertutup di belakang punggung renata.


Lady Chantall menyaksikan semuanya dengan rasa heran yang makin menjadi. "Apa maksudnya ini?" bisiknya, masih mencengkeram tangan Marco di dada.


"Renata," Marco mendesah. "Permainanmu menjengkelkan."


Marco mengangguk setuju, mengerti alur logika Renata. "Tapi kau justru curiga pada dayang-dayangmu."


"Karena baik house maids maupun scullery maids tidak akan bisa menyentuh telepon. Selain itu mereka juga diawasi ketat oleh George dan Margie, terutama akhir-akhir ini. Yang punya hak menyentuh telepon hanya dayang-dayangku. Mereka hanya punya kesempatan menelepon saat aku mandi, setelah Jose pergi. Ketika Jacob pulang dan mulai mengatur prajurit Clearwater, mereka tidak bisa meralat info karena aku mengawasi mereka, karena itu lawan kita tidak menyiapkan rencana lain menghadapi keduanya."


Lady Chantall paham sekarang. Kelambu seperti tersibak dalam kepalanya, membuatnya memahami keseluruhan kejadian. "Kenapa kau perlu memainkan sandiwara konyol ini?"


"Aku tidak tahu siapa pengkhianat dari antara dayangku, aku ingin memastikan yang mana tepatnya," Renata memberi alasan. Ia bicara dengan kata-kata lembut dan artikulasinya jelas. Tubuhnya yang ramping berdiri anggun seperti bangau diam. "Ada empat yang ditugaskan menjagaku sejak Anna dan Linda sakit. Yang dua adalah dayang senior dan yang dua lagi baru bekerja di sini selama dua tahun. Aku curiga pada dua dayang muda, tapi tidak tahu yang mana pengkhianatnya."


Alasan itu tidak masuk akal. Lady Chantall meradang, "Kau kan bisa melempar keduanya ke bawah tanah langsung!"


"Dan menyakiti dayangku yang setia? Itu akan melukai reputasiku." Renata tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan reputasiku? Kau menuduhku di hadapan pelayan!"


"Sebenarnya kau bisa saja bekerja sama denganku sejak awal. Aku berusaha memberi tahu rencanaku lewat kerjapan mata dan isyarat lain, tapi kau tidak menangkapnya, makanya aku sampai minta bantuan kakakku." Renata mengangkat bahu, tidak menggubris kemarahan wanita di depannya. "Kau tidak perlu memikirkan dayangku yang lain. Dua yang senior sudah tahu rencana ini, mereka berusaha memancing pengkhianatnya dengan ikut memohon dan meratap. Yang satu lagi pasti sudah mengerti sekarang bahwa ini hanya akal-akalan saja. Reputasimu tidak akan ternoda."


Lady Chantall menoleh ke arah Marco, melihat pria itu menatapnya dingin. Ia baru sadar sekarang bahwa sejak awal kedatangan Renata, Marco sudah tahu apa yang terjadi. Dan pria itu diam saja. Perutnya terasa mulas. Apakah aku terlalu sombong mengira ada cinta di antara kami?


"Tunggu di luar, Jeanne," kata Marco. "Aku ingin bicara dengan Renata."

__ADS_1


Lady Chantall tadinya tidak ingin keluar. Ia takut jika melangkah keluar kamar, akan sulit baginya untuk masuk sekali lagi. Namun Marco mengusap lembut rambutnya dan meminta sekali lagi, jadi Lady Chantall mengangguk patuh.


Begitu pintu kamar menutup rapat, Marco mengalihkan wajahnya pada Renata. "Dia menangis. Apa kau sudah puas?"


Renata menelengkan kepala. "Aku tidak mengerti, Kak?"


"Ayolah, kau ingin berbohong di depan wajahku?" Marco menarik laci nakas, mengambil obat pereda sakit dari sana.


Renata dengan peka menuang air dari teko yang tersedia di meja kopi dan menyerahkan gelasnya pada Marco. "Kau masih sakit?" bisiknya. "Maaf mengganggu istirahatmu."


Marco meletakkan gelas tanpa suara. "Banyak cara untuk mencari siapa pengkhianat di antara dayangmu." Ia menyeka sudut bibir dengan ibu jari. "Kau cerdas, tidak mungkin kekurangan cara. Tapi kau sengaja memilih cara ini untuk mengusili Chantall. Masih dendam karena dia memperlakukan Nolan dengan kasar?"


"Nolan memang ada di bawah lindunganku, dan aku kesal ketika dia memperlakukannya seperti pelayan," Renata mengakui. "Tapi itu bukan salahnya. Waktu itu Nolan memang memakai seragam pelayan."


"Jadi?"


Ada keheningan sesaat dalam kamar. Yang terdengar hanya suara gemerisik kain ketika Renata berjalan ke tepi jendela, memandang keluar dari sana. "Baru dua hari Lady Chantall di sini, tapi aku sudah mendapat banyak keluhan," akhirnya ia menjelaskan. "Dia berlagak seperti nyonya rumah dan menyuruh-nyuruh pelayan dengan seenaknya. Dayang-dayangnya menginvasi rumah ini dan dia berkeliaran dengan pakaian berantakan. Benar-benar tak berkelas." Renata menghela napas. "Kau menyerahkan urusan rumah tangga padaku, jadi aku punya hak mengembalikan keteraturan di rumah ini atau menegurnya—meski dengan cara apa pun."


"Aku mengerti bahwa dia sudah melewati batasannya sebagai seorang tamu, dan itu jelas menyinggungmu. Tapi kau bisa mengatakannya padaku, aku bisa mengurusnya." Marco menggeleng pelan. "Aku tidak suka ada pertengkaran dalam rumah ini. Lady Chantall adalah tamuku. Seperti kau yang marah saat Nolan dihina, apa menurutmu aku bisa tidak tersinggung kau menerabas masuk dan menghinanya di kamarku sendiri? Sekarang kau mau melangkahiku?"


Nada dingin pria itu membuat Renata menundukkan wajah. Sorot matanya melunak dalam rasa takut. "Aku tidak bermaksud," gumamnya lirih.


"Aku tahu." Marco mendekat, merangkul Renata dan memeluknya hangat. "Aku melihat bayangan kecemasan di wajahmu. Kau kelelahan. Kau mencemaskan Edgar, Jacob, Rolan dan terutama Jose, dan itu membuatmu gelisah." Ia menilai, menimbang tiap kata sebelum mengucapkannya. "Aku dengar kau mendesak Rolan agar mengatakan semua yang terjadi. Kau juga mencari tahu sendiri dari sini dan sana tentang misteri Bjork. Renata, kau tahu kenapa kami tidak pernah memberi tahumu secara detail apa yang kami lakukan atau apa yang terjadi?" Ia melepas pelukan, menyentuhkan sisi jarinya ke dagu Renata. "Itu akan membuatmu cemas. Dan kecemasan akan membuatmu sakit."


Juga membuatmu kejam, tambahnya dalam hati. Renata bisa lebih kejam dari Edgar kalau mau. Perempuan selalu bisa bersikap lebih kejam dari para lelaki.


"Aku mengerti," bisik Renata, membersut hidungnya. "Kau benar. Aku letih. Aku gelisah memikirkan semua ini dan malah jadi senewen sendiri. Maafkan aku."


"Baiklah, jangan sedih. Serahkan semua urusan padaku, kau percaya aku bisa mengatasi semua ini, kan? Terlalu banyak kepala yang terlibat malah akan membuatku pusing. Kau mengerti?"


"Aku tetap ingin mengurus sendiri pengkhianatnya." Renata mengangkat wajah. Mata cokelatnya menatap basah dengan tatapan memohon, seperti yang biasa dilakukannya saat mereka kecil. "Kakak akan mengizinkan, kan?"


Marco tertawa. "Dia dayangmu. Tentu saja aku mengizinkan. Tapi lakukan besok. Malam ini biar Finnian yang mengurus. Kau istirahat, aku tidak ingin dibantah. Edgar akan sedih kalau pulang dan melihat wajahmu jadi kuyu. Dia akan menyalahkanku."


Renata tertawa. Ia berjinjit, mengecup singkat pipi Marco, kemudian berpamitan dengan hangat.


Di luar, Lady Chantall menghadangnya.


"Kau sengaja melakukannya," wanita itu berbisik rendah. "Kau sengaja mempermalukanku di depan Marco."


Renata menatap lurus melewati Lady Chantall, bersikap seolah tidak melihatnya. "Aku tidak perlu mempermalukanmu, milady. Kau sudah melakukannya sendiri." Ia tersenyum dalam caranya yang khas. "Kalau kau ingin menjadi Argent, bersikaplah seperti layaknya seorang Argent."


Untuk menegaskan maksudnya, Renata menyapukan pandangan pada Lady Chantall dari atas sampai bawah, terutama pada mantel tidur yang diikat longgar memamerkan belahan dada wanita itu, kemudian ia beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.


***

__ADS_1


¬Scullery maids: tingkatnya lebih rendah daripada house maids. Mereka mengerjakan pekerjaan kasar di dapur.


__ADS_2