
Tuan Stuart memutuskan untuk menemui Xavier sendirian, berniat mengorek informasi lebih dalam. Dave diantar ke kamar tamu untuk istirahat dan diberi pengamanan ekstra. Rolan juga meletakkan sigil yang sama dengan tato di tubuh Gerald di kamar tamu. Ia tidak tahu apakah benda itu akan bekerja seefektif tato aslinya, tetapi mencoba tidak pernah ada salahnya.
Setelah memeriksa kembali kondisi luka di pinggang Marco dan memastikan pria itu tidak demam, mereka kembali membicarakan hal yang lebih serius.
Marco menimang talisman emas milik Arabella yang masih disimpannya, memandangi ukiran halus pada katup bandul tersebut. "Katamu, Jose bisa pergi ke alam kematian karena kau tidak sengaja mengucapkan mantra yang benar dan mengaktifkan kalung ini?"
Mereka berdua ada di kamarnya di lantai dua. Ia tiduran di ranjang sementara Rolan mengawasi dari kursi di samping nakas. Marco sebenarnya tidak terlalu suka berdiskusi sambil berbaring di ranjang. Berbaring membuatnya terlihat lemah. Namun lukanya memang nyeri lagi, dan kalau ia tidak menurut untuk istirahat, Rolan sudah bersumpah akan gantung diri di kamar itu.
"Ya, aku tidak tahu bagaimana mekanismenya," Rolan berkata, "tapi yang jelas memang karena itu. Jose membuat keputusan dengan cepat dan meminta aku membuatnya pingsan. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan akan jadi bagaimana."
"Apa mantranya?" Marco menoleh. Matanya bercahaya seperti anak-anak mendapat mainan baru.
Rolan tahu arti tatapan itu. Ia menggeleng tegas. "Kau gila kalau mengira aku akan mau mengucapkannya untukmu! Jose bisa kembali hanya karena keberuntungan, kebetulan belaka! Tidak ada yang bisa menjamin kau akan mendapat pengalaman yang sama!"
"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya."
Rolan menyipitkan kedua matanya dengan penuh kecurigaan. "Kau cuma main-main, kan? Kau tidak pernah percaya hal-hal semacam ini sebelumnya."
"Aku orang yang fleksibel," sahut Marco tenang, menyembunyikan medalion emas itu dalam genggaman tangannya. "Setelah melihat golem dan melihat sendiri bagaimana makhluk itu dibuat, bebal namanya kalau aku tidak memikirkan adanya kemungkinan-kemungkinan berlakunya sihir lain."
"Kupikir kau akan mencari kemungkinan untuk menyangkal fakta bahwa kita berhadapan dengan ... sesuatu yang gaib."
"Aku memang tidak pernah suka jika kesimpulan berakhir pada usul tentang adanya hal gaib, karena biasanya itu tidak membantu. Misalnya, menyimpulkan bahwa petir adalah fenomena yang dihasilkan oleh kemarahan Tuhan adalah hal bodoh." Marco memejamkan mata, merasakan obat pereda sakitnya mulai bekerja. "Pada umumnya, hal-hal gaib hanya karangan yang digunakan untuk mengisi ketidaktahuan manusia. Kenapa hujan muncul? Tak tahu, tak peduli, mungkin Tuhan bersedih. Kenapa manusia mati? Tuhan berkehendak demikian. Bukankah itu jawaban dungu? Tapi kita bicara soal hal beda sekarang. Kita bukan mengisi ketidaktahuan kita dengan karangan soal hal gaib. Kita sudah tahu lebih dulu bahwa ada semacam sihir di Bjork, jadi kita akan menghadapinya."
Rolan mengerti maksud pria itu. Ia menghela napas. "Dan kau bermaksud menghadapi sihir dengan bunga."
"Itu cuma jaga-jaga saja." Marco merasa kelopak matanya makin berat, ia tidak kuat membukanya lagi. Kegelapan yang melingkupinya terasa nyaman. "Dia punya tubuh fisik. Asal kita hancurkan tubuh fisiknya, dia harusnya ikut hancur."
Rolan tak yakin. Yang mereka hadapi bukan golem buatan manusia, melainkan sesuatu yang lebih kuat. Orang-orang yang pernah melihat sosok asli Sir William menyebutnya sebagai iblis. Bagaimana mungkin caranya mengalahkan iblis sedangkan mereka hanya manusia biasa?
Namun Rolan tidak mendebat Marco. Ia membiarkan pria itu tidur.
__ADS_1
***
"Sir William bukan iblis," kata Jose pada ketiga kawannya. Handuk putih melingkar di lehernya.
Mereka sudah sampai di manor Argent, di kamar Jose. Marsh dan Clearwater meminjam pakaian Jose karena tidak membawa baju ganti. Keduanya bahkan tidak membawa pelayan karena tadinya hanya berniat mampir ke kantor Simon untuk mengobrol.
Maria memeluk bantal duduk, mengamati Jose dengan saksama. "Maksudmu bagaimana?"
"Tunggu, kenapa jadi soal Sir William?" Marsh memotong heran.
Jose menyadari kedua kawan lelakinya tidak tahu menahu soal apa yang mereka hadapi. Ia memutar otak, mencari cara yang tepat untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Clearwater mengusap-usap handuk ke rambut cokelatnya yang masih lembap. Wajahnya kelihatan muram seperti biasa, seolah baru saja menghadiri pemakaman. "Aku ingin bilang," katanya pelan, "aku menolongmu bukan karena ingin dengar rahasiamu. Kalau kau tidak ingin mengatakannya, jangan katakan."
"Aku bukan bercerita karena merasa berutang budi," sahut Jose tenang, mengerti ketidaknyamanan lelaki itu. "Seperti yang kubilang sebelumnya, aku butuh bantuan kalian."
Marsh memukulkan kepalan tangannya ke dada sambil tersenyum lebar. "Bilang saja!"
"Kalian tahu misteri soal orang hilang di Bjork, kan?" Jose memulai, berniat membuat penjelasannya seringkas mungkin. "Kami tahu siapa pelakunya. Dia bukan manusia."
"Kau bilang," Clearwater berkata pelan dari balik tudung handuk, "Sir William bukan iblis?"
"Dia bukan iblis," Jose mengiyakan. Kali ini matanya beralih pada Maria. "Tapi dia juga bukan manusia."
"Aku melihat iblis waktu menemuinya, Jose," Maria membantah. Ia masih bergidik setiap kali membayangkan bentuk binatang-binatang bertanduk yang menjijikan di belakang punggung Sir William. Ia ingat merasakan uap napas bau dari makhluk itu. "Dia memang iblis."
"Kau melihat sesuatu di belakang punggungnya," Jose mengingatkan, "makhluk itu menempel di punggungnya seperti parasit. Itu iblisnya. Sir William sendiri bukan."
Maria terdiam, baru menyadari kemungkinan itu.
Marsh tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua kawannya. "Iblis di sini maksudnya kiasan, kan?" ia memastikan dengan bingung. "Hanya metafora?"
__ADS_1
Jose dan Maria menggeleng bersamaan dengam wajah serius.
"Dia akan membunuh lebih banyak orang lagi dalam waktu dekat," Jose melanjutkan. Ia mengedarkan mata ke sekeliling kamar, menyisir tiap sudut dengan heran. Rasanya barusan seperti diawasi seseorang. "Empat hari lagi, pada waktu gerhana. Nah, di sini bantuan yang kubutuhkan."
"Kau butuh berapa orang? Senjata yang bagaimana?" Marsh masih sedikit bingung, tapi ia merasa tak butuh mengetahui detailnya. Ia hanya merasa senang bisa membantu. "Tidak berpikir sebaiknya kau bicara pada gereja?"
Jose menggeleng. "Kita di Bjork. Yang sakral di sini bukan gereja. Kekuatan mereka terlalu lemah. Kita terlalu jauh dari Tahta Suci maupun katedral terdekat." Ia menoleh ke belakang dengan cepat, lagi-lagi merasakan perasaan tertusuk itu, rasa seolah ada yang menatap dan mengawasinya. Jantungnya berdegup kencang.
"Jose?" Maria ikut curiga. "Ada masalah?"
Jose menempelkan satu jari ke bibirnya. Ia bangkit dari sofa dan menyambar pisau surat dari atas bupet ketika mengendap. Memang ada penyusup di kamarnya. Ia barusan melihat sedikit gerakan di balik lemari partisi yang menyekat ranjangnya dengan ruang duduk di kamar. Kakinya melangkah dengan cepat tanpa suara. Kini ia bahkan bisa mendengar napas lembut si penyusup.
Satu detik. Jose memangkas jarak dalam waktu secepat itu dan menerjang ke balik partisi.
Ujung pisau berhenti tepat satu mili di depan kulit leher si penyusup, yang berdiri merapat pada sisi lemari dengan wajah kaget.
"Nolan?" Jose menjauhkan pisaunya dengan cepat. Awalnya ia heran, tetapi kemudian jadi dongkol. "Aku hampir menggores lehermu! Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Nolan di situ?" seru Maria dari tempatnya duduk. Nada suara gadis itu masih semanis biasa, tetapi Jose merasa mendengar ada kejengkelan di sana.
"Aku tidak bermaksud mengintip," kata Nolan cepat, wajahnya memerah. "Maaf sudah masuk tanpa izin, tapi aku bosan dikejar-kejar cewek menyebalkan itu, jadi aku sembunyi di sini. Dia kan tidak berani mendekati kamarmu. Aku barusan kok datangnya. Lalu kau pulang. Aku baru mau keluar dan menyapa, tapi kalian langsung ganti baju, jadi aku sembunyi."
"Aku dengar suara cewek," seru Marsh sambil bersiul genit. "Kau menyimpan gundik di kamarmu sekarang?"
Jose mengulurkan jari tengahnya ke luar partisi ke arah Marsh, yang malah tergelak renyah. Ia kembali menatap Nolan dengan pandangan menuntut. "Lalu kenapa tidak muncul setelah kami selesai berpakaian?"
"Kau bicara soal iblis." Nolan balas menatapnya dengan mata biru yang menyorot keras. Gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah sudah menguping. "Jadi aku benar, lawan kita adalah orang yang sejak awal kau cari di Selatan?"
Warna biru pada pupil mata Nolan membuat Jose ingat kembali pada mayat yang barusan menggeretnya ke dasar sungai. Mayat pria menyedihkan yang berkata bahwa dia tidak ingin mengalami rasa sakit lagi. Jose menelan ludah, merasa mayat itu punya kontur wajah yang mirip dengan Nolan. "Waktu pertama kita bertemu di rumahmu, aku tidak melihat ayahmu."
Nolan mengerutkan alis, heran dengan perubahan topik ini. "Ya memang tidak mungkin. Ayahku kan sudah lama meninggal. Aku tidak pernah bilang?" Ekspresinya berubah waswas. "Kenapa?"
__ADS_1
Jose tidak berani menjawab.
***