
"Mana Garnet?" tanya Marsh langsung begitu melihat Jose muncul sendirian.
"Di kamarnya, istirahat. Kenapa?" Jose sudah menggunakan mantel bepergiannya, menandakan bahwa ia akan segera keluar rumah. Di belakangnya, berdiri dalam jarak aman, dua orang pekerja Argent yang bertubuh besar dan bercambang lebat.
Marsh hendak menjawab, tapi Clearwater menggerakkan sepatunya menyentuh tulang kering lelaki itu sebagai teguran supaya tidak bicara sembarangan. Marsh mendengus pendek.
"Kami pikir dia akan ikut kita," Clearwater mengambil alih. "Sekalian mencoba keluar Bjork setelah gugusan dirusak."
"Tidak. Dia agak kurang sehat." Jose memiringkan kepala. Matanya menemukan Nolan, yang duduk menenggelamkan diri di sofa dengan wajah cemberut. Anak itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. "Nolan, Lady Chantall mencarimu. Kalau kau sedang tidak sibuk, temui dia di kamarnya."
Nolan menoleh, wajahnya terpilin dalam raut tak senang. "Aku tidak tahu di mana kamarnya."
"George bisa mengantarmu. Kurasa dia membutuhkan bantuanmu untuk mengatur persebaran informasi untuk orang-orang Selatan."
"Marco sudah selesai dengan teman-temannya belum? Aku mau bicara dulu dengannya."
"Paman masih bersama dengan Inspektur Robert dan Tuan Stuart. Kalau kau mau menemuinya, dia sudah turun. Sekarang di halaman depan." Jose berpikir sebentar. "Kau tahu di mana ibuku?"
Nolan sudah bangkit dari sofanya, kali ini kelihatan lebih bersemangat. "Setelah sarapan, aku tidak melihatnya lagi. Perempuan-perempuan yang selalu mengikutinya itu juga tidak kelihatan lagi."
"Ya, dayang-dayangnya tidak kelihatan di mana pun. Eh, mau ke mana? Kamar Lady Chantall di lantai dua, sayap timur."
"Siapa bilang aku mau menemuinya?" sahut Nolan tanpa berpaling. Gadis itu bergegas pergi sebelum ada yang sempat mencegah, hanya meninggalkan suara gema langkah kaki kecil. Jose menggeleng-gelengkan kepala memandangnya. Ketika menoleh kembali ke depan, Marsh sudah bangkit menghampirinya.
"Bagaimana kondisimu, Jose? Nolan bilang kau muntah darah. Dia juga cerita bahwa kau menyucikan mayat hidup."
"Aku sehat." Jose mengadu ringan kepalan tinjunya dengan Marsh. Ia menoleh pada Clearwater, yang juga sudah beranjak dari sofa dan kini berada agak di belakang Marsh. "Waktu itu kau bilang padaku kalau kau melihat Dave, kan?"
__ADS_1
"Ya. Di dekat kantor pajak. Tapi mungkin aku salah lihat."
"Tidak. Yang kau lihat memang Dave." Jose mengangguk dengan senyum riang. "Dia pasti akan senang melihat kalian. Kita bisa menemuinya dulu sebelum pergi. Aku akan cerita apa yang terjadi sambil jalan. Kalian bakal kaget."
***
Nama gadis itu Alma. Begitu melihat Renata memasuki bilik, dia menyatukan kedua tangan ke depan tubuh dan menunduk dengan lutut ditekuk dalam salam hormat.
"Nyonya," gumamnya dengan bibir pecah dan muka bengkak.
"Alma, Alma ..." Renata mengesah. Hanya Margie yang ia bawa masuk. Dayang-dayangnya menunggu di luar. "Kami memperlakukanmu dengan baik, membayarmu dengan baik, tapi kau menggigit tangan orang yang memberimu makan."
Alma tidak menjawab. Dia masih menundukkan kepala.
Renata menarik napas. "Kenapa kau melakukan ini, Alma? Apa yang kurang dari yang kami berikan?" bisiknya sambil mendekat, mengangkat dagu gadis itu dengan satu jari. "Bicaralah."
Alma mengangkat wajah, tapi matanya masih menatap ke bawah. "Mereka ... membawa ibu dan adik saya, Nyonya ..." bisikannya pecah jadi tangisan.
"Baron Spencer dan istrinya, Nyonya."
"Ah, tentu saja. Memangnya bisa siapa lagi?" Renata menarik tangannya, menyatukannya di depan tubuh. "Dan kau memutuskan untuk bekerja sama dengan mereka ketika sebenarnya ada pilihan lain," lanjutnya. "Kau bisa bicara padaku, apa kau pikir aku tidak akan menolong orang-orang yang setia padaku? Apa kau pikir aku akan membiarkan orang-orangku menderita? Tapi tidak, kau tidak percaya padaku. Kau pikir bisa menghancurkan keluargaku dengan tangan kecilmu untuk menyelamatkan keluargamu."
Alma jatuh berlutut di lantai tanah, meraih ujung rok Renata dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Maafkan saya, Nyonya! Tolong ampuni saya. Saya tidak punya pilihan! Saya ...," ia berhenti karena tersedak tangisannya sendiri. "Saya takut bicara karena takut kalau ada mata-mata lain di sini ... saya takut mereka akan tahu kalau saya melapor."
Renata menarik roknya dengan kencang, membebaskannya dari tangan Alma. "Tadinya kau bisa menjadikan itu urusanku, tapi kau memilih berkhianat. Kau mengirim orang-orang barbar itu untuk mendatangi rumah ini dan menghabisi isinya. Kau tahu itu akan memukul Marco dan Edgar kalau mereka pulang. Kau tahu kematianku dan rusaknya rumah ini akan menghancurkan keluargaku! Kau ingin membunuhku!"
Alma menggeleng, tangisannya terlalu dalam sehingga tak ada suara yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Aku punya satu kabar baik," Renata berseru keras-keras. "Spencer dan Hastings sudah mati. Suami dan putraku membereskannya. Mungkin kematian mereka akan membebaskan keluargamu," bisiknya. "Mungkin juga tidak. Aku tidak punya jaminan, tapi yang jelas majikanmu sudah mati."
Alma mengangguk, menangis, mengucapkan terima kasih dalam isak.
Renata menoleh pada Margie, yang segera berjalan keluar bilik untuk memanggil pekerja. Dua orang pekerja datang dengan membawa seutas tali.
Jikalau singgasana bisa memaksa orang yang duduk di sana berubah dari manusia menjadi iblis, apakah singgasananya atau orangnya yang jahat?
Bait dalam hikayat itu kembali muncul dalam benak Renata selagi Alma menjerit minta ampun di kakinya, menangis histeris. Dua pekerjanya meraih gadis itu dan menjauhkannya. Margie mengawasi dengan waswas, takut Alma akan berontak dan lari menyerang sang nyonya. Renata tidak takut, ia tahu gadis itu tidak akan bisa lolos. Tali melingkar di leher Alma, yang bengkak berlinang air mata dan kini merentetkan doa dalam gumaman. Semua adegan, semua gerakan, berlalu dalam kebisuan yang lamban bagi Renata. Ia seperti menonton sebuah sandiwara.
Jika sebuah alasan, sebuah harta, sebuah tahta, keluarga yang dicintai—jika untuk meraih atau melindungi hal-hal tersebut seorang manusia berubah jadi jahat, apakah hal yang dilindungi tadi yang salah atau manusia yang bersangkutan yang salah?
"Kita berdua sama, Alma." Renata mendekat selangkah, segala hal tampak nyata dan kembali bersuara di telinganya. "Kita hanya ingin melindungi keluarga kita." Ia mengeraskan hati, tidak mengerjap ketika mengangkat satu tangan, memberi isyarat. "Lakukan dengan cepat. Jangan buat dia merasa sakit terlalu lama."
Alma membisikkan ucapan terima kasihnya yang terakhir. Renata berbalik, tidak menunggu gadis itu meninggal di matanya. Ia tidak sudi memberi gadis itu kehormatan dengan tinggal lebih lama. Begitu ia keluar, dayang yang menunggunya hanya ada dua.
"Ke mana Leah?" Renata tersenyum.
"Perutnya sakit, Nyonya," salah seorang dayang seniornya menjawab dengan senyum penuh makna. "Dia pamit untuk ke toilet, katanya akan segera kembali sebelum kami sempat menyadarinya."
"Begitu kah?" Renata menarik napas panjang, tak mengerti kenapa loyalitas begitu sulit ditemukan pada orang-orang baru. "Mari kita periksa di toilet mana dia bersarang."
Alma bilang dia tidak berani mengadu karena takut akan ada mata-mata Spencer mengawasi. Itu sudah merupakan isyarat. Karena itulah Renata sengaja berteriak ketika mengabarkan nasib Baron Spencer dan Hastings. Ia pikir harus menunggu semalam atau beberapa hari untuk melihat hasilnya, tetapi ternyata penyusup yang mendekam di rumahnya tidak terlalu pintar. Atau mereka tergesa, pikirnya. Kita semua diburu waktu.
Renata mendengar suara rintih orang tercekik di bilik di belakangnya. Ia tidak menoleh, juga tidak goyah. Dagunya terangkat tinggi ketika ia berjalan memimpin jalan.
Apakah singgasananya yang jahat atau orangnya? Itu tidak penting. Renata tahu bahwa yang paling penting adalah tetap melindungi singgasana itu. Jahat atau baik pada akhirnya tergantung pada perspektif. Yang berada di singgasanalah yang akan menentukan perspektifnya.
__ADS_1
Renata tidak peduli ia akan jadi jahat atau baik di mata manusia lain. Ia memejamkan mata, kini memahami apa yang selama dilalui dan dipikirkan oleh Marco maupun Edgar.
***