BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 106


__ADS_3

Robert mengusirnya, tapi itu tidak menciutkan nyali Rolan. Ia melanjutkan perjalanan ke toko Krip, berusaha mencari tahu di mana kiranya Marco berada.


Toko Krip memang terletak di ujung Bjork, jadi wajar kalau tidak banyak orang berkeliaran. Namun ketika menyadari bahwa di sekelilingnya benar-benar sepi dan tidak ada orang, Rolan tahu ia pasti sudah terkepung. Ia terlambat menyadarinya dan sekarang ada di wilayah musuh.


Rolan mundur perlahan, menjaga agar punggungnya tidak menghadap ke arah yang terbuka, agar tidak dipukul dari belakang. Ia tidak membawa senjata yang mematikan.


Jalanan begitu sepi. Gang-gang kosong. Tapi Rolan tahu hanya menunggu waktu saja sebelum beberapa orang muncul untuk menghabisinya.


Toko Krip masih sekitar setengah kilo lagi.


Rolan menelan ludah. Ia mengawasi sekitar dengan saksama, bersiap menghadapi siapa pun yang menyerbu. Manusia? Hantu? Tak ada bedanya. Rolan tahu ia benar-benar bisa mati pagi ini.


Ada suara tapak langkah. Suara itu mendekat. Seseorang muncul dari mulut di gang depan. Rolan sudah mencabut belati yang selalu dibawanya, tapi itu tidak perlu. Yang muncul adalah Greyland.


Rolan tidak bisa menggambarkan betapa lega dan bersyukurnya ia melihat salah satu tukang culik di Bjork.


Jonathan Greyland adalah tuan tanah di Greyland. Wilayahnya kecil, tapi hampir seluruh manusia yang ada di bawah kendalinya adalah pembunuh sadis dan tukang culik yang handal.


Greyland berusia empat puluhan tahun, memiliki dua orang putra yang sama pendiamnya dengan dia. Sama-sama pendiam dan juga tanpa belas kasih. Rolan jarang berinteraksi dengan Greyland karena Marco memang jarang mempertemukan semua orang pilihannya jadi satu.


Greyland memiliki mata tajam dan raut murung. Tingginya mencapai 180 senti. Ia mengenakan sepatu hitam mengilat yang solnya berketak-ketuk di jalan bata Bjork.

__ADS_1


"Dokter Rolan," sapa Greyland ketika mendekat. Di belakangnya ada lima lelaki muda bermantel panjang dengan tatapan penuh curiga, menjaga jarak konstan dengan Greyland. "Selamat pagi. Tidak biasanya melihat Dokter berjalan sendirian di Bjork. Keadaan Bjork sedang ... bahaya, bukan?"


"Selamat siang, my lord."  Rolan melihat salah satu dari orang di belakang Greyland menyimpan kembali belati bernoda darah ke dalam sarungnya. "Saya tidak menyangka akan bertemu Anda. Saya selalu mendoakan yang terbaik bagi Anda."


Greyland menyipitkan mata, kemudian mengangguk pelan. "Marco menghilang?"


Rolan membeliak keheranan. Namun sebelum ia sempat bertanya, Greyland sudah meneruskan, "Kami membuat perjanjian. Dia akan selalu menghubungiku dua kali di pagi hari, untuk membuktikan bahwa dia baik-baik saja. Aku pun begitu, hanya periodenya saja yang berbeda. Hari ini ... tidak ada kabar darinya."


Rolan mengangguk paham. Ia kemudian memikirkan Robert. Apakah sang inspektur juga tahu Marco menghilang karena kode semacam itu? Rolan meragukannya. "Saya baru saja hendak ke toko Krip untuk mencari sesuatu. Tanda apa pun. Apakah my lord punya ide lain?"


Greyland menggeleng singkat. "Aku ke sini untuk memastikan. Melihatmu di jalan sendirian, aku yakin dia memang hilang. Mungkin dalam bahaya." Ia berbalik untuk pergi, tetapi kemudian menoleh lagi pada Rolan dan berkata, "Dokter, sebaiknya jangan jalan-jalan sendirian. Bjork begitu berbahaya, dan kau begitu lemah sendirian. Marco akan susah kalau kehilangan dokter kesayangannya."


Itu kalau dia masih hidup, pikir Rolan. Tapi ia tidak mengatakannya. Rolan membungkukkan tubuh dengan hormat. "Terima kasih sudah berbaik hati memberi nasihat pada saya, my lord."


Rolan teringat pada salah satu anak buah Greyland yang belatinya bersimbah darah, kemudian pada peringatan pria itu. Jelas bahwa insting Rolan yang memberinya tanda bahaya memang tidak salah. Ia sempat terancam bahaya, dan bisa saja mati. Mungkin saja ada lebih dari satu mayat semacam ini tersebar di sekelilingnya, mayat dari orang-orang yang tadinya ingin membunuhnya. Itu akan terjadi seandainya Greyland tidak datang.


Aku benar-benar beruntung, pikir Rolan.


***


Ketika Jose mengembalikan kudanya ke istal, ia masih diserang rasa bingung yang hebat. Kepalanya sedikit pusing. Perutnya sakit dan agak kram karena ia berkuda sangat kencang. Begitu menyusuri lantai batu yang menghubungkan istal dengan taman rumah, Jose segera diserbu oleh Gerald dan Hans.

__ADS_1


"Tuan Kecil, kami perlu bicara sebentar," Gerald segera memohon.


Jose menoleh, matanya menatap pekerja itu dengan tatapan mengawang. "Oh. Kau Gerald. Dan Hans," ia menoleh pada Hans. "Kenapa?"


"Tuan Marco menghilang, kami harus mencarinya. Jika Tuan memerintahkan, kami akan segera pergi membalik tiap rumah di Bjork untuk menemukannya," Hans berkata langsung karena sudah senewen. Mereka berdua mencari-cari Jose di segala penjuru tempat, tetapi tidak bisa menemukan pemuda itu sejak pagi. "Kalau tidak segera diatasi, semuanya akan terlambat. Bisa-bisa Tuan Marco tidak bisa kita temukan lagi!"


"Kalau hilang, cari saja gantinya," sahut Jose ling-lung. Ia menggaruk rambut hitamnya yang berantakan terkena angin. "Mungkin kalian lupa dan menaruhnya di suatu tempat. Minta pada George untuk membelikan yang baru."


Pemuda itu melangkah gontai melewati dua pekerjanya, meninggalkan Hans dan Gerald saling berpandangan dengan bingung.


Jauh di ujung lorong, Jacob memperhatikan mereka dengan kening berkerut. Ia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan ketiga orang tersebut, tetapi ia bisa melihat bahwa para pekerja gelisah. Mereka kelihatan ingin melakukan sesuatu, tapi terkekang sesuatu.


Pamannya, Marco, tidak kelihatan sejak pagi. Itu tidak membuat Jacob heran. Marco memang sering bepergian. Namun kondisi rumah saat ini kelihatan seolah mereka kehilangan penyangganya.


Dan yang membuatnya tambah heran adalah, para pekerja mencari-cari Jose.


Jose dalam ingatan Jacob adalah anak bandel yang suka membolos pelajaran karena merasa paling pintar. Tidak seperti ketiga kakaknya, Jose sulit diatur. Tapi adiknya itu adalah tipe orang yang bisa melakukan apa pun kalau mau.


Jose bisa melakukan apa pun dengan baik, kalau saja mau berusaha sedikit. Anak itu bisa berkuda dengan mahir tanpa diajari, mampu mempelajari bahasa Perancis dengan cepat begitu Marco mengancam tidak akan mengizinkannya bermain dengan Maria kalau gagal dalam ujian. Jose juga sejak kecil mendapat limpahan perhatian dari banyak orang karena tingkah bebasnya.


Jacob menyayangkan sikap Jose yang seolah tak memedulikan semua itu dan tetap bermain sesuka hatinya. Ia barusan tahu dari ibunya bahwa Jose jarang berangkat ke kampus dan malah sibuk bermain dengan anak perempuan nakal dari Bjork Selatan.

__ADS_1


Jacob menghela napas keheranan.


***


__ADS_2