
“Jose,” Maria menyapa heran. “Kupikir tadi siapa.”
“Halo,” Jose memberi senyum pada perempuan di samping Maria. Ia mengenali gadis itu sebagai Lady Lidya Jewel, pacar Dave. “Selamat siang, Lady. Aku menyesal soal Dave, apakah sudah ada perkembangan lebih lanjut?”
Lidya tersenyum getir, mengucapkan terima kasih, kemudian menggeleng. “Apakah Marquis Argent terlibat dalam penyelidikan?” tanyanya penuh harap.
“Pamanku Marco cuma pengusaha biasa, Lady,” sahut Jose diplomatis. “Penyelidikan biasanya diurus oleh kepolisian. Aku percaya mereka akan bergerak cepat. Dave pasti ditemukan.”
Lidya menunduk malu karena teguran itu dan cepat-cepat pamit pergi tanpa memberi kesempatan pada Maria untuk mengejar.
“Kenapa kau berkata seperti itu, sih!?” bentak Maria kesal.
“Berkata seperti apa?” Jose bertanya kalem.
“Setidaknya kau bisa coba menenangkan dia dengan berkata bahwa Paman Marco ikut serta dalam penyelidikan! Itu kan tidak ada salahnya! Lagi pula kita sudah membicarakan ini!”
“Kau membicarakan ini, bukan kita,” Jose meralat. “Dan tidak ada kesepakatan, kau kan cuma bicara pada paman, tapi dia sendiri tidak memberi kepastian apa-apa. Lady Lidya sebaiknya tahu apa yang akan dia hadapi. Tidak baik membiarkannya terus berharap.”
“Memangnya apa yang salah dengan harapan?” tukas Maria. Mata birunya berkilat marah. “Harapan membantunya mampu untuk melewati hari demi hari.”
“Itu harapan palsu,” bantah Jose. Ia sendiri bukannya santai menghadapi situasi ini. Dave hilang saat mereka hendak bertemu. “Sama seperti keluarganya, aku juga sangat berharap Dave kembali. Tapi Lady Lidya tidak bisa terus-terusan hidup dalam harapan. Kondisinya akan memburuk dengan drastis kalau keadaan jadi tidak sesuai dengan harapannya. Sebaiknya persiapkan dia dengan segala kemungkinan yang ada.”
Maria membuka mulut untuk membantah, tetapi matanya menangkap kehadiran orang lain di antara mereka. Seorang anak kecil dan kurus yang makan crepes dengan suara keras. Maria mengerutkan kening pada ketidaksopanan itu.
“Siapa kau?” tanyanya, tiba-tiba merasa tidak nyaman pada kehadiran anak itu. Terlebih ketika melihat sinar lembut di mata Jose.
__ADS_1
Gadis itu membalas tatapannya dengan berani.
“Ngapain nanya-nanya?” balas Nolan ketus.
“Namanya Nolan,” Jose cepat-cepat menengahi. Dia menoleh pada Nolan dengan sorot mata memperingatkan, berharap anak itu tidak bersikap kasar. “Nolan, dia Maria Garnet, temanku.”
“Peduli amat!”
Reaksi yang sudah diduga oleh Jose, tetapi tidak dengan Maria. Ini pertama kalinya Maria bertemu dengan anak perempuan setengil dan sekasar itu. Bahkan Nolan tidak berhenti mengunyah saat bicara.
“Siapa dia?” Maria bertanya pada Jose, kali ini pertanyaannya menuntut jawaban lebih dari sekadar nama. Ia bisa melihat Jose berubah. Ada perubahan pada diri lelaki itu, sesuatu yang membuat Maria merasa jauh darinya. Jose seperti menyembunyikan sesuatu, mungkinkah soal anak bernama Nolan ini?
“Siapa ... dia?” Jose melirik Nolan dengan bingung. Meski pada Marco, ia memperkenalkan Nolan sebagai teman, hal itu tidak akan bisa diterima oleh Maria. Lagi pula dia dan Nolan memang tidak benar-benar punya hubungan pertemanan. Hubungan yang tidak berhubungan ini membuat Jose sulit memberi jawaban, yang ditanggapi Maria dengan penuh kecurigaan.
“Kenapa, sih?” Nolan yang angkat bicara. Ia menantang Maria dengan pandangan mata. Gadis itu wangi dan cantik, dengan gaun sutra berkibar lembut karena angin dan kedua pipi merona ranum. Maria adalah gadis tercantik yang pernah dilihat Nolan, tetapi bukan tipe orang yang disukainya. “Memangnya apa urusanmu tentang apa hubunganku dengan Jose?”
“Itu gunanya nama, kan?” Jose mengangkat bahu dengan heran. Sejak dulu tata etika sama sekali bukan hal yang menarik baginya, karena itu dia sama sekali tidak keberatan dipanggil langsung dengan nama depan.
Namun sebenarnya keadaan sangat berbeda di Bjork Utara. Orang-orang tidak boleh sembarangan memanggil nama orang lain dengan nama depan; terlebih untuk orang-orang kalangan atas seperti keluarga Argent dan Garnet. Panggilan dengan nama kecil adalah ekspresi keakraban yang intim. Bahkan teman karib Jose saja masih selalu memanggilnya dengan nama keluarga.
“Apa urusanmu sih dia kupanggil apa?” Nolan menukas tak senang. Ia menggaruk rambut dengan asal, kemudian meringis lebar saat menambahkan, “Kau kan bukan pacarnya.”
Jose menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi sementara Maria melotot.
“Jose, aku tidak tahu dari mana kau menemukan anak dekil ini,” Maria berkata dingin dengan suara manisnya yang seperti gemerincing lonceng. “Sudah kubilang, jangan memungut apa pun sembarangan, kembalikan dia ke tempat di mana kau pungut!”
__ADS_1
Gantian Nolan yang melotot karena dibicarakan seperti binatang liar.
Jose berjalan ke tengah mereka berdua dengan cepat, menghentikan adu mulut lanjutan yang kelihatannya siap dimulai. “Maria, dia memang temanku, oke? Dan, Nolan, tolong jaga kata-katamu.”
“Memangnya kenapa?” balas Nolan galak. Ia menatap kedua orang di depannya dengan bengis. “Kau tidak berhak menyuruh-nyuruh aku!”
“Tidak, aku tidak menyuruhmu. Cuma memberi saran saja.” Jose menyunggingkan senyum manis. “Kau kelihatan lebih keren kalau bersikap tenang seperti biasa.”
Tentu saja itu bohong. Bagian “bersikap tenang seperti biasa” adalah hal yang sama sekali absurd. Nolan hampir tidak pernah bersikap tenang. Jose hanya mengatakannya untuk membuat gadis itu jadi tenang. Ia mempelajari cara menangani manusia dari mengamati berbagai macam orang yang datang ke rumahnya. Salah satu trik yang paling disukainya adalah persuasi. Bujukan harus dilancarkan dengan menyentuh titik lemah lawan. Nolan adalah tipe orang yang suka dipuji dan juga penuh percaya diri. Jose berhasil membujuknya. Gadis itu segera menutup mulut dan berlagak tidak peduli pada Maria, meski matanya kadang melirik penasaran.
Nolan bisa termakan, tetapi Maria tidak. Dia tahu taktik yang dilakukan Jose karena lelaki itu sering berlatih dengannya, mencari mana kalimat atau nada yang enak untuk diucapkan pada perempuan.
“Kau sedang apa, sih?” bisik Maria sebal ketika Jose berhasil ‘mengusir’ Nolan dengan menyuruhnya membeli crepes lagi. “Anak dari mana dia?”
“Bjork Selatan,” jawab Jose jujur. Ia jarang berbohong pada Maria. “Aku membutuhkan keterangannya. Kau sendiri, habis dari mana?”
“Pusat arsip, menemani Lidya,” Maria memutar bola mata. “Tadinya kami mau belanja bersama, tapi berkat kau, dia jadi kabur!”
“Maaf,” Jose tersenyum kecil. “Apa yang kalian lakukan di Pusat Arsip?” Ia teringat lagi pada buku kliping yang dipinjamnya serta niatnya mencari Nina.
“Lidya cuma mengembalikan buku saja, aku menemaninya. Sekarang, kau mau terus-terusan mengalihkan topik atau menjawab pertanyaanku?”
“Aku tidak mengalihkan apa-apa. Kau sudah makan?”
“Jose! Jangan basi. Aku kenal sekali gayamu.” Maria meniup poni dengan lelah. “Apa yang mau kau lakukan dengan anak dekil itu? Dia perempuan, kan? Kenapa bergaya seperti lelaki?”
__ADS_1
***