
Rasa takut mencekam Jose ketika ia sadar bahwa tubuhnya tidak mengambang. Bahkan meski ia berenang dan berenang, permukaan air justru terasa makin jauh dan ia tenggelam makin dalam.
Namaku Jose, pikirnya kuat-kuat sambil mencengkeram talismannya kuat-kuat. Tekanan air mendesaknya, membuat dadanya sakit sehingga paru-parunya memaksa ia menarik napas. Gelembung udara keluar dari mulut dan hidungnya, digantikan air dingin yang menusuk.
Namaku Jose Argent. Aku datang untuk melakukan penawaran. Jangan lupakan itu, Jose. Jangan lupakan namamu sendiri!
Detik berikutnya membuka mata, Jose mendapati ia berada di ruangan serba putih. Segala hal begitu putih hingga ia tidak tahu apakah ia sedang mengambang atau berada di daratan. Ini tempat yang ia kenal, tempat yang pernah ia datangi sebelumnya. Perbatasan antara yang hidup dan yang mati.
Jose tahu ia benar-benar hampir mati sungguhan tadi. Ada alasan kenapa sungai Bjork disakralkan. Dulu abu-abu jenazah dilarungkan ke laut melalui Sungai Bjork. Yang dilaluinya barusan memang memang sungai penyeberangan alam baka seperti dalam legenda. Tidak hanya Bjork. Bahkan orang Yunani dan Jepang juga punya mitologi mengenai sungai penyeberangan, meski bentuknya berbeda dengan yang telah ia lalui. Semua cerita itu memang benar, pikir Jose. Seluruh tubuhnya masih gemetaran. Atau apakah yang dialami disesuaikan dengan orang yang mati?
Apa pun itu, ada satu yang Jose tahu jelas: andai ia tidak segera mengingat nama dan tujuannya menyeberang, ia pasti sudah benar-benar mati sekarang.
Jose mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menata pikiran. Ruangan begitu sunyi hingga ia bisa mendengar setiap tarikan napasnya dengan jelas, mendengar aliran darahnya, mendengar kemerosak kain yang dia kenakan. Pakaiannya kering kerontang, begitu pula kulit dan rambutnya. Tidak ada tanda-tanda ia pernah tenggelam. Namun kalung talisman yang sebelumnya ia genggam sudah lenyap. Ia sudah mencari di saku-saku mantel, jas, dan celana. Kalung itu menghilang.
"Kau berhasil menyeberang lagi," ucap sebuah suara.
Jose berbalik cepat, membeliak kaget ketika melihat Rolan. Pria itu kelihatan sekuyu dan selusuh terakhir kali ia melihatnya. "Paman?" bisiknya pelan.
"Harusnya kau tidak menyeberang ke sini, Jose," Rolan berkata ketus sambil melangkah mendekat. "Aku dan Marco bahkan sudah membuat perjanjian bahwa kami bakal mencegahmu kalau kau berusaha menyembuhkan luka kami! Karuniamu itu pedang bermata dua! Kau tahu hukum pertukarannya, kan?!"
Jose menelengkan kepala dengan waspada. "Kau ... memang Paman?"
"Siapa lagi?" Rolan berteriak. Suaranya bergema di kejauhan, membuat pria itu bergidik ngeri.
"Kenapa Paman di sini?"
"Mana aku tahu? Begitu membuka mata aku sudah di sini. Aku berputar-putar tapi semuanya sama, lalu aku bertemu dengan ..." Rolan berhenti, kelihatan kesusahan. Kedua tangannya bergerak memeluk diri sendiri, mengusap-usap lengan seolah kedinginan.
"Diri Paman yang lain?" tebak Jose, teringat pengalamannya sendiri.
Pamannya menjentikkan jari dan mengangguk. "Dengar, aku tahu kita di mana. Aku tahu apa yang terjadi." Kedua tangannya direntangkan. "Aku tahu banyak hal. Kau mau tahu apa lagi yang kutahu?"
"Apa?" tanya Jose, terbawa suasana.
Mata cokelat Rolan berkilat penuh amarah. Jarinya menunjuk ke depan. "Kau ingin membawaku dan yang lainnya kembali! Tidak mungkin, Jose. Kita sudah menyeberang! Kita tidak di dunia lagi! Kau tidak bisa seenaknya keluar-masuk dunia orang mati!"
Jose menggeleng, menepis telunjuk pamannya. "Memang tidak bisa," katanya. "Aku tidak mengorbankan apa pun untuk menyeberang. Kalung Salomo milik Sir William yang jadi biayanya."
Rolan tertawa. "Mana kalungnya?"
"Tidak ada padaku, jadi pembayaran harusnya sudah diterima," sahut Jose dingin. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, bertanya-tanya sendiri apakah mereka akan bertemu dengan yang lain di sini, di perbatasan antara yang mati dan hidup. "Pada awalnya, ini semua bukan salah kita. Kita semua—bahkan Sir William, hanya korban. Intervensi sistem dilakukan oleh iblis dengan memanfaatkan manusia, tapi kekuatan yang mencampuri Bjork jelas bukan kekuatan Sir William. Itu kekuatan Shakran!"
"Shakran?"
Jose mengangguk. "Nama gurunya. Shakran artinya penipu dalam bahasa Ibrani. Iblis yang berkepala banyak itu bilang bahwa dia adalah wujud lain dari dari Shakran. Ketika aku mengusir Shakran, semua setan neraka memang musnah." Matanya menatap nanar ke kejauhan. "Sir William juga sudah lenyap."
Rolan menarik napas panjang. "Tapi kau tahu bahwa di dunia ini semua hal terikat pada aturan sistem yang ada. Manusia tidak bisa hidup kembali dari kematian seenaknya saja. Kau ingin membawa kembali siapa? Marco?"
"Semuanya, Paman." Tidak ada keraguan dalam nada suara Jose. "Semuanya. Aku ingin Krip, Higgins, Jack, Gladys, kalian semua, juga orang-orang yang mati kering atau dijadikan golem atau mayat hidup. Pokoknya semua korban iblis itu sejak awal!"
"Kalau Marco adalah pride, kau pasti greed," kelakar Rolan. Pria itu kelihatan pesimis. "Kita sama-sama tahu bagaimana hukum pertukaran setara itu. Kau hanya punya satu nyawa untuk ditukar."
"Aku tidak akan menukar dengan nyawaku," Jose menjawab tenang. "Kan ada hal lain yang setara dengan begitu banyak nyawa manusia."
"Apa?"
"Ini." Jose menunjuk dadanya dengan ibu jari.
"Apa? Mantelmu? Harganya paling cuma sepuluh keping perak!"
__ADS_1
Jose memutar bola mata. "Karuniaku. Aku akan mengembalikan semua pengetahuan ilahi yang dianugerahkan kepadaku oleh Yang Kuasa. Aku ingin menukarnya dengan hidup semua orang sesuai dengan garis hidup mereka awalnya."
Keduanya diam sejenak. Hanya ada suara napas mereka dalam ruangan putih yang luas itu. Baik Rolan maupun Jose hanya bintik hitam kecil di tengah jagat warna putih.
"Itu gila," komentar pamannya datar.
Jose justru tersenyum penuh percaya diri. "Pasti bisa dilakukan. Itu sepadan. Bagaimanapun juga, karunia ini adalah hal yang sangat besar. Masa tidak lebih berharga daripada nyawa sedikit manusia? Tidak mungkin."
"Kau berusaha mencurangi Tuhan." Rolan mengerutkan hidung, matanya menatap sekitar dengan waswas seolah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Itu tidak sopan."
"Aku tidak curang. Ini masih di jalur pertukaran setara."
"Kalaupun sukses, berarti kau tidak akan bisa menyembuhkan orang lain lagi, Jose," Rolan berbisik. "Jika orang yang kau cintai terluka, kau tidak bisa menyembuhkan mereka."
"Aku akan mencegah mereka terluka kalau begitu."
"Kau tidak akan bisa menyucikan makhluk mati atau membuat keajaiban. Misteri surga akan terlupakan olehmu. Kau hanya akan menjadi manusia biasa."
"Tadinya aku memang hanya manusia biasa," Jose menyahut tangkas. "Dan aku tidak keberatan menjadi biasa lagi. Segala masalah akan kuhadapi sebagaimana mestinya. Tuhan tidak akan memalingkan wajah dari hamba-Nya yang menderita, aku yakin itu."
Rolan tersenyum tipis mendengar keyakinan Jose. Ia menghela napas. "Tetap saja tidak bisa semuanya, Argent."
Jose melebarkan kedua matanya. Yang barusan itu bukan suara pamannya. Ia mundur selangkah begitu menyadari bahwa yang diajaknya bicara sejak tadi bukan Rolan.
Di sekelilingnya mendadak muncul banyak serat benang dan juga rantai-rantai raksasa yang matanya patah. Mata-mata rantai tersebut perlahan pulih dalam suara kerincing dan gemeretak logam.
Rolan sudah lenyap menjadi bintik-bintik putih di udara.
"Tidak bisa semuanya."
***
Malam bergulir menjadi pagi. Maria bermimpi berada dalam pesta topeng, pesta yang meriah dan aneh. Tapi tidak ada yang mengajaknya berdansa, itu membuatnya sedikit jengkel. Maria menempelkan punggungnya di dinding, menatap semua pasangan yang menari riang di area dansa. Beberapa saat kemudian semua orang berhenti berdansa dan segera bubar, pulang sambil tertawa dan bercanda. Maria menatap orang-orang itu dengan heran. "Pestanya sudah selesai?" ucapnya heran.
Tunangan? Maria menoleh, memekik kecil ketika gadis bertopeng hias itu tiba-tiba memeluknya erat. "Selamat tinggal, Maria."
Ia tersentak bangun dan mendapati segala hal tampak buram. Seseorang memekik dan menarik tangannya, meremasnya lembut. Maria menoleh, pandangannya perlahan kembali fokus. Itu ibunya, Winona Garnet.
"Kau membuat kami cemas!" seru wanita itu dengan nada marah campur lega.
Maria mengerutkan kening, perlahan bangun dengan bersandar di siku. Dada kirinya masih terasa nyeri. Ia ada di karavan, tidur berselimut selimut wol tebal di salah satu tempat tidur lipat yang menempel pada dinding. Di sampingnya ada Winona, Renata, Susan, juga Albert Garnet.
"Kami mengira kau benar-benar terluka," Renata mengesah pelan.
"Maaf," gumam Maria otomatis, masih kebingungan. Ia mengusap leher dengan gelisah. Segala hal terasa kabur di kepalanya. Ia merasa ... bebas. Ia merasa lega, seolah ada ikatan yang diurai dari tubuhnya. Arabella sudah pergi. Kesadaran itu datang bersama dengan ingatan-ingatan mengenai apa yang baru saja terjadi serta apa maksud ucapan Renata barusan. Dipandanginya orang-orang di karavan itu dengan rasa bersalah. "Peluru yang digunakan Paman Marco sudah dimodifikasi," ia menjelaskan agak tersendat. "Peluru itu bahkan tidak akan bisa membunuh anak-anak. Untuk berjaga-jaga, aku sudah memakai korset dengan logam tanam." Tangannya menyentuh noda merah di dada. "Darah ini darah buatan. Susan menaruh darah merpati dalam kantung kulit dan aku meletakkannya di dada untuk efek dramatis saja. Itu cuma untuk mengalihkan perhatian Sir William."
"Kami tahu itu!" geram Albert. "Susan sudah mengatakannya. Tapi kau tidak pernah mengatakan pada kami bahwa kau akan melakukan hal berbahaya seperti itu! Kau tidak cerita apa pun pada orang tuamu!"
Maria meminta maaf sekali lagi. "Apa yang terjadi di luar?" bisiknya cemas. "Apa rencananya berhasil? Mana Jose? Paman Marco?"
Tidak ada yang menjawab. Sekarang Renata yang tertunduk gemetar. Maria menoleh pada Susan, menatap dayangnya dengan pandangan memohon. "Semua baik-baik saja kan, Sue? Kumohon?"
Sebelum Susan sempat membuka mulut, pintu karavan menjeplak terbuka. Edgar menghambur masuk dan menghampiri Renata, meraih tangan wanita itu. "Ikut aku sekarang!" serunya tergesa.
Renata bangkit dengan cepat. Wajahnya tegang. "Apa? Ada apa?"
"Mereka menemukan sesuatu!" Edgar mengumumkan dengan senyum lebar dan wajah memerah gembira. "Utusan Greyland meminta kita ke sungai! Sekarang banyak orang berkumpul di sana, aku sendiri belum lihat karena ingin menjemputmu dulu. Ayo!"
"Jose?" Renata mengangguk gembira. Ia mengayunkan tangannya pada semua orang di karavan. "Ayo ikut!"
__ADS_1
Maria tidak membuang waktu. Ia segera bangkit berdiri dan berlari mengikuti pasangan Argent yang sudah duluan lari menuju lapangan rumput.
***
Hal pertama yang dilakukan Greyland adalah menyuruh orang-orangnya menarik Tin Lizzie dari sungai. Kemudian pasukannya disebar untuk mencari kalau-kalau Jose hanyut. Masyarakat sekitar juga membantunya. Mereka semua membuat obor, mengambil lentera, membawa tali dan menceburkan diri ke sungai untuk mencari Jose.
Lady Chantall duduk memeluk lutut di pinggir sungai, memandangi semua itu dengan tubuh berselimut handuk besar tebal. Di sampingnya, Nolan juga duduk bersila di tanah.
"Aku melihat ayahku tadi," bisik gadis itu. Suaranya agak serak. "Maksudku arwahnya. Dia membantu Jose."
"Aku turut berduka," balas Lady Chantall tulus.
"Jangan. Aku tidak berduka," sahut Nolan tenang. "Aku senang akhirnya bisa bertemu Papa. Bahkan meski cuma hantunya."
Air mata bergulir turun dari kelopak mata Lady Chantall. "Aku juga ingin bertemu seseorang," ucapnya, mempererat pelukan di kaki. "Bahkan meski cuma hantunya, tak masalah."
Begitu kalimat terakhir meluncur dari bibirnya, gelembung udara pecah di permukaan sungai di depan mereka, mencipratkan air ke mana-mana. Nolan memekik kaget, tapi Lady Chantall terdiam. Matanya membelalak lebar. Bibirnya meloloskan kesiap kecil.
"Greyland!" serunya keras, memanggil. Ia bangkit berdiri dan melambai. Handuk di pundaknya jatuh ke tanah.
Greyland segera berlari menghampiri rekannya itu. "Suara apa tadi?" tanyanya begitu sampai.
"Aku melihat manusia! Maksudku, ada manusia di dasar sana, masih hidup!" Lady Chantall berkata sambil menunjuk sungai dengan agak panik. "Itu pasti Jose!"
Greyland sudah menyuruh orangnya untuk menyelam di daerah ini tadi, tidak ada yang menemukan apa-apa di sana selain lumpur dan tumbuhan air. Namun ia tidak pernah meragukan rekannya. Beberapa orang segera ia suruh terjun sekali lagi untuk mencari.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang menolak dengan alasan bahwa mereka sudah melakukan pencarian di situ. Orang-orang Greyland dilatih untuk mengerjakan apa yang diperintahkan tuan mereka dengan kepatuhan mutlak. Kepala pasukannya memilih orang. Sebentar saja, sudah ada sepuluh pria membuka pakaian untuk terjun ke dalam Sungai Bjork yang dingin. Tali tambang disiapkan untuk menahan agar tidak ada yang terbawa arus.
Sekarang pukul tiga dini hari, bulan makin mengecil, tapi penerangan cukup jelas karena banyak obor dan lentera dibawa oleh masyarakat yang berkerumun ingin melihat temuan apa yang ada. Greyland sudah mengutus orang untuk memanggil Edgar.
Pasukan penyelam sudah siap terjun ketika lagi-lagi gelembung udara muncul dari dasar sungai dan pecah ketika sampai di permukaan. Kini gelembungnya tidak hanya satu melainkan banyak, kecil dan besar, seolah tanah merekah di dasar sungai dan ventilasi bumi terbuka.
"Mundur! Mundur!" seru Greyland waspada, khawatir gelembung itu adalah pertanda buruk serangan lain.
Namun Lady Chantall tidak mau mundur. Ia justru mendekat, mencermati sungai dengan mata penasaran. Jantungnya berdegup kencang. Ia harap Jose masih selamat. Hanya itu yang diharapkannya. Setidaknya ia ingin memenuhi permintaan terakhir Marco untuk bekerja bersama pemuda itu.
"Milady, mundur!" Greyland mendekati wanita itu dan menarik lengannya ketika melihat gelembung yang muncul bertambah makin banyak dan meluas ke banyak tempat. Semuanya pecah begitu sampai di permukaan. "Kumohon! Ini bisa berbahaya! Mungkin akan ada ledakan!"
Bersamaan dengan selesainya kalimat Greyland, sesuatu menyembul muncul ke permukaan sungai dalam bunyi cipratan yang ribut. Sesuatu yang banyak.
Ada puluhan, belasan, Greyland melongo ketika melihat makin banyak kepala muncul dari permukaan sungai. Semuanya kepala manusia hidup. Mereka semua terbatuk-batuk, berkecipak ribut ketika berenang menyeberangi sungai.
"Gerald!" serunya kaget ketika melihat salah satu wajah yang dikenalinya. Ia mengulurkan tangan membantu pria itu naik ke permukaan tanah kering. "Apa yang kau lakukan di situ?"
"Mai ... mai lod ..." Gerald terengah, terbatuk, memuntahkan air sungai. Air menetes dari sekujur tubuhnya seperti cucian basah. Pria itu kelihatan kebingungan ketika mencoba bicara. "Inif dhi manna ...? Thuan Hose?"
Greyland mengerutkan kening tak mengerti. Ia belum mau memberi penjelasan. Gerald dipinggirkan. Seorang dokter sudah dipanggil untuk memeriksanya. Satu per satu orang muncul dari sungai dan dinaikkan ke atas, mereka semua dalam kondisi yang sama dengan Gerald: kebingungan dan sulit bicara, kebanyakan berpikir bahwa mereka masih ada dalam perang kemarin malam.
Menyusul Gerald dan para pekerja Argent, gelembung lain muncul dan orang-orang Clearwater serta Marsh yang berkeriapan dari sungai. Kedua tuan mereka: Lucas Clearwater dan Adrian Marsh, juga Rolan, ditemukan hanyut agak jauh dari jembatan. Ketiganya tak sadarkan diri, kemasukan air, tapi masih bernapas dan bisa diselamatkan.
"Ini benar-benar gila!" seru Greyland, mengawasi prajuritnya yang bekerja sama dengan penduduk untuk memancing puluhan orang yang terus bermunculan dari sungai seperti ikan salmon. "Tidak masuk akal sama sekali! Mereka muncul dari sungai! Dari mana? Tidak ada apa-apa di situ tadi!"
"Kita menghadapi iblis dan mayat hidup," Lady Chantall mengingatkan. "Masa kau masih terganggu dengan hal yang tidak masuk akal?"
"Yah ... tidak seperti kalian, aku sih menghadapi manusia asli sejak kemarin."
Lady Chantall tertawa lemah. Ia mencengkeram lengan Greyland kuat-kuat. Mata hijaunya basah. "Aku boleh berharap kan, Jon?" bisiknya, agak terisak. "Katakan aku boleh berharap ..."
Jonathan Greyland mengangguk penuh pengertian. Ditepuknya punggung tangan wanita itu. "Aku mengharapkan hal yang sama denganmu, Chantall."
__ADS_1
Ketika gelembung lain pecah di permukaan sungai dan mereka berdua melihat siapa yang muncul sambil terbatuk-batuk, Lady Chantall tidak menunggu lama. Ia langsung berlari menceburkan diri ke dalam sungai tanpa pikir panjang.
***