
"Kita harusnya pulang, sebentar lagi makan malam," kata Rolan. Ia merapatkan mantel dan membenamkan kedua tangannya dalam-dalam ke saku celana. "Lihat, polisi patroli sudah mulai berkeliaran. Tapi apa yang kita lakukan di sini, di depan toko kue?"
Chester mengambil salah satu donat panas dari kantung kertasnya dan dengan santai mengunyah. "Kita menunggu Argent membelikan oleh-oleh untuk istrinya. Kan kau sendiri yang bilang. Mau satu? Ini enak."
"Aku tadi sedang mengeluh, bukan sungguh-sungguh bertanya," sahut Rolan sambil meraih satu donat cokelat dan menggigit. "Enak."
"Ya kan?" Chester menoleh ke arah Toko Pierre di belakang mereka. Ia menghela napas. "Aku mau menikahi perempuan yang bisa bikin donat seenak ini."
"Aku sih mau menikahi donat seenak ini," Rolan menyahut.
Chester tertawa. Ia adalah pengganti Robert, seusia dengan Rolan. Tubuhnya ramping, atletis. Kumis cokelat tipis melintang di bawah hidungnya, memberi kesan ramah. Chester memang lebih ramah daripada Robert, juga lebih fleksibel. Begitu Marco datang mengetuk pintu rumahnya dan mengajak bekerja sama, Chester mengiyakan dengan mudah. Ia sudah mengenal nama Argent sejak dulu dan cukup menyukai keluarga itu, terlebih setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya setahun lalu.
"Bahkan Argent pun akhirnya menikah. Kau tidak mau menyusul?" tanya Chester. Ia membuntal kantung kertasnya jadi remasan bola kecil kemudian melemparnya ke tong sampah terdekat. "Aku bisa mengenalkanmu pada perempuan cantik."
"Perempuan cantik yang sudah jadi mayat dan masih bagus untuk dibedah atau perempuan cantik gila dalam penjara yang ingin membunuh salah satu Argent?"
"Yang normal, Orlov. Yang normal dan hidup."
"Sayang sekali, padahal aku bakal suka yang pertama." Donatnya sudah habis. Rolan menoleh begitu mendengar suara lonceng pintu toko. "Lama sekali, Marc. Kupikir kau belanja sepuluh lusin atau sekalian membeli toko Pierre. Tapi apa ini? Hanya satu kotak?"
"Pierre bercerita banyak soal Eastwood," Marco menukas. Ujung-ujung rambut peraknya beterbangan ditiup angin dingin. Ia melesakkan topinya lebih dalam. "Besok aku ingin bicara dengannya."
"Bicara?" Rolan mengerutkan kening. "Dengan Baron Eastwood?"
"Apakah bicara di sini maksudnya adalah membunuh? Kalian memakai kiasan karena ada aku?" Chester menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Maksudku memang bicara. Mungkin melibatkan sedikit patah tulang dan jeritan, tapi hanya bicara." Marco mengedikkan bahu. Ia berjalan ke arah mobil dengan hati-hati supaya kotak yang dibawanya tidak goyang. "Aku sudah menunda terlalu lama menemuinya karena tidak punya cukup bukti, tapi Pierre membantu banyak. Ada yang mau bergabung?"
"Tidak mau," Rolan menukas cepat sambil membukakan pintu. "Aku tidak suka ikut campur urusan rumah tangga orang lain."
"Aku ada urusan besok," Chester ikut mengelak, bisa menebak bahwa menangani Eastwood pasti akan merepotkan. "Urusan penting seharian. Urusan dinas."
Marco mengangguk singkat dan duduk di kursi samping kemudi. "Senang sekali mendengar kalian antusias ingin membantu. Besok bawa dia ke rumahku setelah sarapan."
__ADS_1
Chester mengerang. Rolan mengesah pelan, sudah terbiasa.
***
Kenapa Baron Eastwood perlu menebarkan banyak fitnah seperti ini? Jeanne berpikir sambil membaca laporan yang datang. Olivia sudah bergabung dengan Alice dan Cecile yang sudah pulang dari belanja. Edgar dan Renata juga sudah pulang. Ia diajak bergabung dengan semuanya di ruang santai, tapi Jeanne menolak dengan sopan. Ia perlu membaca surat-surat hari ini dan membalas sesegera mungkin.
Apa harga dirinya memberontak karena diacuhkan oleh Jose yang waktu itu tidak punya status? Validasi macam apa yang dikejar Baron Eastwood? Apa dia termasuk kaum yang iri melihat orang lain sukses? Bukankah harusnya dia juga tahu soal jatuhnya shelédbolis?
Jeanne menggeleng pelan, menolak semua perkiraan itu. Ia sudah sering melihat orang seperti Eastwood. Pria itu adalah jenis manusia yang menikmati menggosipkan orang lain tanpa dasar hingga orang tersebut jatuh. Banyak yang bergabung dengan Eastwood dan ikut-ikutan terbawa emosi menghujat meski tidak tahu apa ujung pangkal masalah. Mereka hanya suka kericuhan. Makin tinggi orang yang digosipkan berada, makin puas mereka melihatnya jatuh. Jika korban meledak, semua orang akan cuci tangan dan ramai-ramai menunjukkan simpati, balik menuding satu sama lain tanpa merasa dirinya yang salah. Masyarakat tempat mereka hidup memang sebusuk ini, penuh drama dan saling jegal.
"Kau harus tumbuh kuat, Sayang," kata Jeanne sambil mengusap perutnya. "Setangguh ayahmu, sebaik sepupumu."
Setiap surat yang selesai dibacanya ia bakar dengan nyala lilin dan diletakkan di atas tatakan logam lebar di meja, matanya sesekali mengawasi tiap kertas yang hancur menjadi abu.
Jeanne selesai membaca dan membakar semua suratnya. Ia baru mau menulis balasan ketika seseorang membuka pintu kamar. Aroma manis stroberi merebak mengikuti kemunculan orang itu. Kegembiraan menjalari seluruh tubuh Jeanne begitu melihat siapa yang datang. "Kapan kau pulang?" tanyanya heran. "Aku tidak dengar suara mobil."
"Mungkin kau terlalu fokus." Marco meletakkan kotak kue di atas meja kopi, buru-buru menghampiri saat melihat Jeanne beranjak dari meja tulis. Matanya melirik abu surat di atas tatakan. "Ada kabar apa?"
"Membeli kue. Kau bilang ingin shortcake Pierre, kan?"
Senyum mengembang manis di bibir Jeanne. "Itu tadi pagi. Sekarang aku ingin kau," katanya sambil melonggarkan dasi di leher Marco. Pipinya merona dalam semburat halus kemerahan. "Mau, ya?"
Marco mencium keningnya sekilas, tidak ikut duduk. "Nanti. Para keponakan ingin bicara denganku, mereka menunggu di bawah."
"Satu kali saja?" Jeanne memasang wajah mengharap.
Sebentar saja mereka tidak bersentuhan, ia sudah merasa kehilangan. Ini perasaan yang baru baginya. Saat bersama dengan almarhum suaminya dulu, Jeanne tidak pernah antusias. Sentuhan yang diterimanya tidak menimbulkan aliran listrik atau memancingnya untuk membalas, kadang malah membuatnya agak risih. Almarhum suaminya selalu tidur memunggunginya begitu mereka selesai, atau langsung pergi seperti sedang marah, seolah kata-kata cinta yang diberondongkan ketika mereka bermesraan hanya dusta belaka. Itu membuat Jeanne yang masih muda kebingungan. Tidak ada yang bisa dimintainya nasihat karena adalah tabu mengeluhkan apa yang terjadi di tempat tidur. Akhirnya sepanjang pernikahan pertamanya, ia hanya berbaring diam seperti ikan mati tiap malam. Lagi pula semuanya selalu berakhir sebelum ia sempat cukup bergairah.
Namun dengan Marco segalanya berbeda. Jeanne bahkan tidak pernah merasa tak puas. Ia tidak merasa diperlakukan seperti sebongkah daging mentah berlemak, tapi benar-benar sebagai manusia hidup—wanita yang disayang. Itu membuatnya bahagia, membuatnya ingin disentuh lagi dan lagi.
Marco masih memandanginya agak lama dalam diam, lalu akhirnya menyerah. "Kita pindah ke ranjang?"
"Terlalu empuk." Jeanne tertawa menang. Ia merangkul leher suaminya dan mendekatkan diri dengan intim. "Di sini saja."
__ADS_1
***
"Campbell dan Jones," Rolan memberikan nama itu pada empat keponakannya. Mereka semua berkumpul di ruang santai, menunggu makan malam.
Renata mengobrol dengan menantu-menantunya dan bermain dengan cucunya di ruangan lain. Marco bersama Jeanne di lantai dua. Edgar masih membaca surat-surat yang datang di kamar kerjanya. Putranya sudah pulang semua, jadi Edgar mengambil kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat terbengkalai karena menemani Renata.
"Campbell dan Jones?" ulang Juan. "Nama itu ada di Gentry, kan? Campbell dan Jones yang itu?"
Rolan mengangguk. "Tepatnya, Austin Jones dan Liam Campbell. Sebenarnya masih ada banyak yang terlibat. Mereka berkelompok. Tapi pentolannya dua itu. Mereka yang aktif membuat rencana dan memanipulasi Eastwood."
Jose juga mengenal nama yang disebut. Keduanya adalah orang yang langsung maju untuk menyerangnya saat ia menghajar Sir William di pesta dulu. Baik Campbell maupun Jones berasal dari Aston, jadi tidak tahu apa yang terjadi di Bjork. Sir William memang tidak berteman dengan orang-orang Bjork, kebanyakan temannya dari Aston dan Nordem.
"Motif mereka?" tanya Jeffrey.
"Esprit de corps?" Rolan mengedikkan bahu. "Musuh dari teman adalah musuh bersama. Kurasa semacam itu. Sir William cukup populer dan royal. Mendadak dia hilang setelah konflik dengan putra Keluarga Argent yang notabene dikenal mengurus hal-hal gelap, tentu saja semua orang akan membuat kesimpulan termudah."
Jacob mendengus. "Paman Marco tidak akan keberatan ini kami urus, kan?"
"Kurasa tidak. Tapi kuingatkan saja, kau tidak boleh melukai mereka—tidak secara langsung," Rolan merasa perlu mengingatkan. "Kalau kau melukai mereka secara langsung, sama saja membenarkan rumor yang beredar. Segalanya justru akan berakhir buruk bagi kita, terutama Jose."
Jose tersenyum mendengarnya. "Yang penting tidak secara langsung, kan? Beres."
"Uh oh." Rolan menoleh. Matanya menyipit curiga. "Kenapa perasaanku jadi tidak enak kalau kau yang bilang beres?"
***
Catatan:
¬Landed Gentry/The Gentry: buku daftar nama orang-orang kalangan atas (tidak eksklusif bangsawan).
¬Esprit de corps (Perancis): jiwa korsa.
¬Casus belli (Latin): aksi/insiden yang memicu perang atau digunakan untuk membenarkan terjadinya perang.
__ADS_1