
“Bagaimana pendapatmu sendiri?” Jose bertanya ketika mengantar Nolan pulang. Mereka sudah berpisah dengan Sana, yang bersikeras bahwa ia sudah tidak apa-apa dan tidak perlu lagi merepotkan majikannya. “Kau serius berpikiran ada siluman di sana?”
Nolan hanya mengedikkan bahu. “Aku jadi makin penasaran ada apa di sebelah selatan sungai. Kau juga, kan? Siapa tahu di sebelah sana ada sesuatu yang menarik. Orang-orang macam apa yang dibicarakan cewek itu barusan?”
“Aku tahu pikiranmu, Nolan,” gumam Jose cepat. “Sebaiknya jangan coba-coba menyeberang ke sana. Apa lagi sendirian.”
“Ibuku saja tidak sebegitunya, lho!”
“Makanya, aku menggantikan dia.”
Nolan menoleh, mata birunya membeliak lebar. Kemudian, gadis itu tertawa keras. “Memangnya kau punya hak apa menggantikan ibuku?”
Tentu saja tidak ada. Jose mengikuti Nolan agak di belakang, sedikit merasa heran kenapa ia begitu keras kepala dan selalu saja ingin menemui Nolan meski tidak ada perlu. Padahal gadis itu benar-benar urakan dan selalu berkata-kata kasar, juga selalu melempar pandangan sengit padanya. Meski begitu, Jose tetap saja menemukan dirinya ingin bertemu dan bicara dengannya. Kadang celetukan sederhana dari Nolan bahkan bisa membuatnya mempertanyakan lagi segala prinsip yang selama ini dipegangnya, dan itu yang menarik.
Mereka sampai di samping gedung pajak. Nolan berlari dan berhenti di tengah-tengah jembatan pembatas, menengok ke kiri dan kanan dengan tatapan penuh minat. Air sungai sedikit keruh. Ada juga beberapa kain serta sampah yang tersangkut pada tumbuhan air.
“Kau mencari apa?” tanya Jose heran melihatnya celingukan.
“Putih-putih itu. Menurutmu, benda itu apa? Benar-benar sampah yang hanyut?”
“Kau mengharapkan itu apa?”
“Sesuatu yang mistis. Sesuatu yang seperti... ” Nolan memberi senyum jahil saat berbisik, “hantu.”
Punggung Jose meremang. Matanya otomatis melirik pada mulut hutan tempat di mana ia menemukan Sana tadi.
__ADS_1
Ia sendiri waktu itu baru saja berhasil membujuk Nolan untuk membatalkan niatnya menyeberangi sungai. Mereka ada di pinggir sungai di hutan, sebelum bertemu Sana. Nolan benar-benar seperti bola pejal, bergerak ke sana kemari sesuai dengan keinginan hatinya. Kalau Jose tidak menemukan gadis itu di saat yang tepat, Nolan pasti sudah berenang menyeberang. Saat berjalan kembali sambil berdebat tentang bahayanya arus sungai itulah, mereka berdua mendengar suara teriakan seorang gadis, yang ternyata adalah Sana.
“Kupikir kau sudah kapok saat melihat sosok hantu itu melewati rumahmu," Jose mengingatkan, membuat wajah Nolan berubah cemberut. Gadis itu sepertinya menyesal sudah bercerita bahwa dia merasa takut melihat hantu hitam yang lewat ketika ia tidur.
“Justru karena itu,” Nolan berkata. Bola matanya bersinar penuh tekad. “Aku akan ke sana dan mencari tahu. Aku harus tahu makhluk apa yang hidup di dekat tempatku tinggal.”
Jose melirik Nolan, mengetahui bahwa gadis itu sedang sungguh-sungguh. Percuma mencegahnya. Yang harus ia lakukan hanya mengawasinya agar Nolan tidak melakukan hal yang membahayakan.
***
Marco baru saja merapikan letak buku di atas meja ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. George datang, menginformasikan bahwa ada seseorang menunggu di bawah.
“Aku tahu, Wallace, kan?” Marco tidak bisa menahan senyum. Ia baru saja dihubungi oleh Krip, yang menyampaikan bahwa Wallace keluar rumah dengan wajah pucat dan menyetir seperti dikejar setan.
George sendiri tidak kaget melihat majikannya tahu siapa tamu yang datang. Marco selalu penuh kejutan. “Benar, Tuan,” ucapnya. “Tuan Wallace menunggu di bawah. Saya sudah menyampaikan padanya bahwa Tuan sedang istirahat, tetapi Tuan Wallace bersikeras menunggu Tuan.”
Seperti laporan Krip, Wallace memang terlihat gelisah.
Pria itu berbeda jauh dengan Direktur Pusat Arsip berwajah congkak yang kemarin bicara dengannya sambil terus mengepulkan asap rokok. Meski kelihatan bahwa dia berusaha berpenampilan rapi, Marco bisa melihat mansetnya tidak dikancingkan, juga rambutnya yang sedikit kusut, seperti habis diacak-acak. Wallace terus-terusan bangkit berdiri, duduk, lalu berjalan lagi dengan canggung ke arah jendela raksasa yang membatasi ruang tamu dengan pekarangan.
Marco masuk sambil berdehem, membuat Wallace tersentak dan berbalik cepat, perut buntalnya sedikit bergoyang di balik pelukan kemeja biru yang ia kenakan. “Tuan Argent! Maafkan saya, mengganggu waktu istirahat Anda, semoga Anda tidak keberatan!”
“Sebenarnya, aku memang keberatan,” tukas Marco tanpa belas kasihan. Ia selalu menikmati menyiksa orang yang membutuhkan dirinya. Melihat ekspresi serta sikap tubuh Wallace sekarang, jelas pria itu membutuhkan sesuatu.
Marco memiliki beberapa dugaan tentang sesuatu itu, tetapi menyimpannya dalam hati. Tangannya terulur dengan gaya mempersilakan, menunjuk kursi panjang berpola Damaskus di ruang tersebut. “Duduklah, Tuan Wallace. George, siapkan skotch.”
__ADS_1
George bergerak alami sesuai perintah, tetapi Wallace cepat-cepat menggeleng. “Saya ... saya hanya ingin bicara, kalau boleh, empat mata saja, sungguh.”
Marco melirik George, dan pelayan itu dengan patuh berjalan ke luar ruangan, setelah sebelumnya menyediakan dan menuangkan minuman sesuai perintah majikannya.
“Jadi?” tuntut Marco ketika Wallace masih diam.
Pria itu menatap ke sekeliling dengan heran. Tangannya sibuk mengusap peluh yang menetes dari kepala bulatnya. “Ap-apa? Maksud Anda, di sini? Kita tidak pindah ke ... ruangan yang lebih ... pribadi?”
“Ruang tamuku tidak akan dimasuki orang lain, George menjaga di luar.”
“Tapi, itu berarti suara saya tetap saja bisa didengar olehnya, kan?”
“Pelayanku tidak suka menguping, apalagi bergosip,” tukas Marco, kini lebih tajam dari sebelumnya. Matanya memicing dengan sorot curiga. “Kalau Anda tidak memercayai rumahku, ruanganku, dan aku sendiri secara pribadi, maka Anda bisa keluar. Tidak ada yang bisa Anda minta ataupun kulakukan untuk Anda.”
Wallace cepat-cepat menggeleng. Lensa monokelnya yang biasa melapisi mata kirinya kini tergantung pada mata rantai, terayun ke kiri dan kanan di dada. “Saya mau bicara soal ... soal kalung itu, tentu Anda mengerti betapa berat masalahnya, kan? Tolong jangan anggap saya bersikap tidak sopan. Ini hanya kehati-hatian belaka.”
Marco mengusap kumisnya yang keperakan karena uban. Ia sudah menduga bahwa kedatangan Wallace semata karena kalung. Ia juga sudah menduga sebelumnya, cepat atau lambat, pasti akan ada yang datang ke rumahnya berkaitan dengan kalung tersebut, tetapi tidak ia sangka akan secepat ini. Dan bahkan Wallace sendiri. Padahal tadinya ia menduga pria itu tidak akan menemuinya untuk beberapa lama demi menghilangkan kecurigaan.
“Kalungnya ... masih berada di tempat Anda?” Wallace mengangkat wajah, menatap dengan sorot mata memelas. Sepertinya antara berharap atau tidak berharap kalungnya masih berada di tangan Marco.
“Silakan diminum dulu, Tuan Wallace. Suara Anda sama gemetarnya dengan jari-jari Anda sekarang,” sahut Marco, sengaja mengalihkan perhatian.
Ketika Wallace mereguk minumannya, barulah Marco berkata dengan suara sekelam malam, “Aku sudah tahu apa arti kalung itu.”
Wallace tersedak. Terbatuk-batuk. Matanya memerah dan penuh airmata karena batuk itu. Hidungnya berair. Pria itu menatap Marco dengan wajah ketakutan, kulitnya bahkan hampir sepucat mayat. “Tu-Tuan bilang apa? Rahasia apa?” Kemudian ia tetawa dipaksakan. Hambar dan kaku.
__ADS_1
Marco tersenyum melihat reaksinya. “Apa Anda pikir aku ini bodoh, Tuan Wallace? Anda pikir, kalau tidak dari Anda, maka aku tidak akan bisa tahu apa makna simbol ini dan apa makna di dalam bandulnya?”