
“Aku tidak pernah bilang ada yang mati,” kilah Jose sambil mengusap tengkuk. “Aku bilang, tadinya kupikir Linda sudah mati.”
“Kenapa dengan Linda?” kejar Renata. “Aku tidak mendengar suara mereka! Edgar mau membuka pintu, tapi—“
“Renata bilang, sebaiknya kita tidak membuka pintu.” Edgar menyelesaikan kalimat itu dalam sebuah potongan.
“Kenapa?” Marco mengusap dagunya, mulai tertarik. Ia melemparkan pandangan pada karpet yang tersibak, menampakkan lantai kayu bergaya vintage di bawahnya. Benda-benda berat seperti kursi, bupet, nakas, serta meja rendah bertumpuk di satu sisi tepat pada karpet yang terbuka. “Waktu kau menelepon, kau mengatakan sesuatu, kan?” Pandangannya kini terarah pada Edgar.
Edgar tahun ini berumur empat puluh lima tahun sementara Renata empat puluh satu. Sama seperti Marco yang ramping, tinggi dan berpostur tegak, Edgar punya postur yang kurang lebih sama. Rambutnya hitam keriting. Matanya hitam legam seperti layaknya seorang Argent. Edgar bukan seorang penakut. Dia orang yang realis dan berani menghadapi apa pun. Ketenangan yang merupakan ciri utama keluarga Argent juga mengalir dalam darahnya. Biasanya ia tidak pernah gentar menghadapi bahaya apa pun, tetapi kini wajahnya terlihat sedikit pucat.
Marco mengambil botol brendi di atas meja kopi dan menuangkannya ke dalam gelas. “Sebaiknya kau minum sedikit sebelum cerita,” ujarnya sambil bangkit berdiri dan menyerahkan gelas itu.
Edgar menerimanya, menghabiskan cairan itu dalam sekali tenggak. Wajahnya sudah tidak sepucat barusan, meski begitu ketegangan masih terpancar kuat dari sana. Dia menatap pada istrinya dengan sedikit ragu. “Kau juga mau brendi, Sayang?” tanyanya pelan.
Renata menatap dengan pandangan nanar, kemudian menggeleng pelan. “Tidak, aku sedang tidak ingin minum apa-apa. Kalian semua ada di sini dan selamat, itu saja sudah cukup.”
“Sebenarnya ada apa, Bu?” tanya Jose heran mendengar pilihan kata ibunya. Ia bergeser mendekat, menggenggam kedua tangan ibunya dengan hangat. “Kalian juga melihat penyusup itu?”
“Bukan melihat,” ucap Edgar cepat.
__ADS_1
Marco mengerutkan kening, menyandarkan bahunya pada lemari buku dan menatap Edgar dengan penuh penilaian. “Bukan melihat?” ulangnya.
“Bukan,” Edgar menggeleng. Kalimatnya yang tergantung membuat Jose dan Marco penasaran, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mendesak. Keduanya menunggu dengan sabar sampai Edgar atau Renata berhasil menemukan sendiri apa yang mau mereka sampaikan.
“Kami bukan melihat, tapi mendengar," Renata yang menyelesaikan. Suaranya gemetar dan sedikit pecah. Bibirnya bergetar ketika ia memberi keterangan tersebut. Mata jernihnya menatap pada tiga orang pria yang berada dalam kamar tersebut. “Kami mendengarnya, suara tawa yang ganjil. Suara tawa yang mengejek, dan saat itu juga kami tahu bahwa itu bukan suara manusia. Tidak ada manusia dengan suara menggema yang seperti itu!”
Jose merasa kamar ini seperti berputar. Ia teringat kembali pada peristiwa di selatan Bjork setelah ia menyeberangi jembatan. Waktu itu ia terperosok ke dalam lubang, dilempar dengan lumpur, kemudian mendengar suara tawa yang aneh. Tawa seorang pria.
“Seperti apa tawanya?” Jose bertanya, berharap bisa menemukan petunjuk dalam segala keruwetan ini.
Renata menatap Edgar. Keduanya saling berbalas tatapan dengan wajah bingung.
“Kalau kau tanya seperti apa, aku tidak yakin bisa menjelaskannya,” Edgar berkata ragu. “Perasaan bukan sesuatu yang bisa dijelaskan, bukan?”
“Tentu saja kami mendengarnya dengan telinga,” bantah Renata cepat. Ia mengusap kedua lengannya yang gemetaran. “Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Suara itu seperti berasal dari dalam kepalaku, tapi di saat yang sama aku tahu bahwa orang itu ada di luar sana, mungkin tepat di depan pintu kamar ini.”
Bayangan akan sesosok bayangan hitam mengendus-endus di depan pintu membuat Jose merinding. Punggungnya terasa panas dingin dan lehernya terasa seperti akan dicekik oleh seseorang. Ada rasa geli yang menggelitik bagian rusuknya, mengirim sinyal ngeri ke dalam otak. Ia bisa membayangkan suara tawa itu, kemudian sosok hitam yang dilihat oleh Linda, yang membuat para dayang pingsan dan trauma. Ia seperti bisa membayangkan hal tersebut sekarang, membuatnya tanpa sadar menoleh ke arah pintu dengan penuh tanda tanya.
“Aku tadi melihat sosok itu,” ucap Jose pelan, memberi penekanan pada tiap kata. Ia mengembalikan pandangan ke depan, menelisik tiap wajah yang menghadap padanya. Ia kembali merasakan rambatan dingin menjalar di punggungnya ketika mengingat sosok yang dilihatnya.
__ADS_1
Marco menaikkan kedua alis, memberi tatapan bertanya yang kentara. “Ya, kau melihatnya dari pondok Higgins?”
“Sebentar,” potong Renata pelan, “Jangan loncat dulu ke sana, kita tadi sedang membicarakan anak perempuan yang ditahan di gudang jerami, kan? Mana anak itu? Bawa ke sini sekarang!”
“Renata,” geram Marco.
Jose mengangguk setuju sambil menjentikkan jarinya. “Malam ini dingin, kasihan kalau dia tetap di tempat itu,” ucapnya, kemudian menatap pamannya dengan lekat dan melanjutkan, “Dan kita sedang butuh banyak orang di sini. Untuk apa membuang tiga pekerja demi menjaga Nolan? Sementara itu dia tidak akan macam-macam kalau di sini.”
Edgar menatap pada putranya, kemudian memindahkan pandangan pada kakaknya. “Biarkan saja dia ke sini, akan bahaya kalau tetap di luar sana.”
Marco berpikir sebentar, tidak mau terlihat kalah begitu saja. Maka ia membuat sebuah syarat, “Kalau dia memaki satu kali lagi saja, aku sendiri yang akan melemparnya ke jalan.”
“Dia tidak akan seburuk itu, kan?” Renata melambaikan tangan dengan gaya santai. “Mana mungkin anak perempuan selancang itu.”
Jose bertukar pandangan dengan Marco. Kali ini mereka satu suara soal Nolan. Anak itu sih, mungkin saja bertindak lebih lancang lagi.
Jose menelepon ke bawah, ke tempat para pelayan, dan meminta Jack menghubungi Gerald untuk membawa Nolan ke kamar itu. Ketika ia sudah selesai dan meletakkan gagang telepon pada tempatnya, kembali menghadapi tatapan menuntut dari tiga orang dalam ruangan.
“Coba ceritakan,” Marco membuka sebelah tangannya, memberi tatapan yang berkesan menuntut. “Aku ingat, sebelum terpotong tadi kau bercerita tentang pergi ke selatan Bjork. Dilihat dari gaya bahasa dan penampilannya, anak itu berasal dari sana, kan? Kau pergi ke sana menemuinya?”
__ADS_1
Jose menghela napas pelan, tahu bahwa ia tidak akan bisa lepas begitu saja. Maka ia menceritakan semuanya, mulai dari janjinya dengan Dave yang tidak terpenuhi, kemudian perjalanan mengejar Sir William. Ia memutuskan menceritakan bagian itu juga karena tidak mau pamannya menemukan sendiri hal tersebut dan menggunakan itu untuk menyerangnya. Marco memberi tatapan tak senang sepanjang ia bercerita.
***