
"Jika Jose berhasil menemukan informasi ini dari kepalanya sendiri atau dari usahanya sendiri, kau boleh saja membantunya. Tapi selama dia tidak tahu apa pun, biarkan saja. Itu berarti kasus ini bukan urusannya."
Krip masih ingat perintah Marco tersebut. Ia bimbang. Sekarang ia tahu kenapa keluarganya selalu memutuskan hanya melayani satu orang Argent saja, satu tuan. Kalau ada dua matahari dalam hidupnya dan perintah mereka bertentangan, ia akan sebingung ini.
Jose menangkap keraguan Krip. "Itu bukan Maria. Ya kan?" tanyanya. "Tapi lelaki di situ memang William Bannet."
"Tuan benar," Krip menjawab senang. "Saya tidak mengenal mereka secara langsung. Yang perempuan ini namanya Arabella. Saya tidak tahu nama keluarganya atau dari mana dia berasal. Saya bahkan hanya melihatnya satu kali ketika Tuan Bannet membawanya ke luar kota."
"Huruf A itu berarti Arabella, kalung itu memang milik perempuan." Rolan mengangguk-angguk pelan.
Kemudian hening. Jose menatap bergantian pada Krip dan Rolan yang membisu. Kedua orang itu masih mengunci mulut mereka, tidak mau memberi tahu apa yang mereka ketahui. Jose merasa jengkel, tapi ia tahu bahwa keduanya pasti tutup mulut karena perintah Marco. Kalau ia tidak membuka mulut duluan dan meyakinkan mereka bahwa ia tahu apa yang terjadi, keduanya tidak akan mau bicara. Sudah gaya Marco untuk membiarkan orang yang tidak tahu tetap tidak tahu. Hanya yang mengetahui kebenaran dengan usaha sendiri saja yang berhak mendapat seluruh kebenaran.
Jose menghela napas. "Aku menduga ...," ia berhenti sejenak untuk menyusun kata. Dugaannya benar-benar konyol dan ia tahu bahwa ia tidak punya bukti, tapi ia perlu mengutarakannya kalau ia ingin mendapat kepercayaan Krip. Ia perlu menunjukkan bahwa ia juga tahu inti masalahnya. Ini adalah taruhan. "Aku menduga ... Sir William Bannet yang sekarang sama dengan yang ada di foto tersebut," ucapnya, menyembunyikan rasa malu. Kalau ia salah, ia akan kehilangan muka. "Entah bagaimana caranya, dia ... dia bisa hidup sampai hari ini, tanpa bertambah tua."
__ADS_1
Gerald dan Hans membeliak kaget, mulai mengerti kenapa mereka dilarang mati-matian untuk langsung mengobrak-abrik Bjork demi mencari Marco. Lawan mereka kemungkinan bukan manusia. Kini mereka mengerti apa maksud pembicaraan mengenai firasat aneh dan ketakutan Krip pada Sir William. Kalau seseorang bisa hidup sangat lama dan malah bertambah muda, berarti orang tersebut sanggup membengkokkan kematian. Yang berarti pula, mereka pasti akan kesulitan melawannya.
Rolan dan Krip saling melempar pandangan.
"Kenapa kau pikir begitu?" tanya Rolan kalem.
Jose merasa ujung-ujung jarinya dingin. Baik Krip maupun Rolan terlihat biasa saja. Itu bisa berarti dua hal. Ia salah, atau ia benar. "Dia bukan manusia. Kita sepakat soal itu. Ini belum ada buktinya, kita cuma mengandalkan insting binatang kita, tapi baik Paman dan Krip tahu bahwa dari Sir William ada aroma aneh yang sepertinya tidak bisa dicium orang biasa. Ada aroma mawar dan darah. Aku tidak tahu apa asal aroma itu, yang jelas aromanya terasa bahaya. Dia bahkan bisa muncul tanpa terdeteksi hawa keberadaannya." Jose teringat pada arsip yang dibacanya. "Dave ... curiga pada kebangsawanan Sir William. Ia tidak mengenal ada ksatria ataupun Earl yang bernama Bannet."
Jose berhenti agak lama. Ia memejamkan mata. Mengakui hal ini selalu menyakitkan baginya. Ialah yang mengajak Dave diskusi di rumah pria itu sendiri. Ia yang membahas mengenai Sir William di telepon dengan Dave. Gara-gara kecerobohannyalah kawannya itu menghilang, dan mungkin sudah mati sekarang.
Rolan mengangguk pelan. "Kau benar," katanya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan kalau Jose sudah bisa menduganya sampai sejauh ini. "Kami memang belum yakin apakah mereka adalah orang yang sama. Tapi kurasa Marco sudah membuat keputusan sendiri, meski dia tidak mengatakannya secara langsung padaku."
"Tuan Marco yakin bahwa mereka adalah orang yang sama," sekarang Krip menyahut. Suaranya jernih. Ia merasa bebas dari beban mental menyembunyikan informasi. Jose jelas sudah mengetahui segalanya. "Tuan Marco melarang saya memberi tahu Tuan Kecil kalau Tuan tidak mengetahuinya sendiri."
__ADS_1
Jose memutar bola mata. Ia bangkit dari kasur. Serempak, semua orang juga bangkit mengikutinya dengan takzim. Sudah merupakan etiket dasar bahwa ketika seorang tuan bangkit dari duduk, semua pelayan tidak boleh ada yang duduk. Rolan merasa bodoh sendiri karena ia ikut-ikutan bangkit padahal tidak perlu. Ia terbawa suasana.
"Aku mengantuk," kata Jose. "Aku tahu bahwa kalian ingin cepat-cepat mencari Paman Marco. Percayalah, aku juga ingin. Tapi saat ini tahan semua gerakan. Kita perlu tahu bagaimana kondisinya dulu sebelum terjun ke dalam situasi tersebut. Dan aku benar-benar ingin tidur." Ia menoleh pada Rolan, memberinya tatapan sayu. "Aku melihat hal yang sangat mengerikan siang tadi."
"Aku akan menungguimu," kata Rolan. Jose belum menceritakan apa yang membuatnya syok sampai tidak bisa bicara. Tapi ia tahu bahwa keponakannya mungkin harus selalu ditemani. "Kau butuh diawasi dokter untuk sementara."
Jose mengangguk patuh. "Aku akan bicara pada Ayah soal Krip," katanya. Ia tidak bisa memasukkan orang begitu saja ke dalam rumah tanpa izin ayahnya. "Ayah pasti akan lebih mudah diyakinkan kalau Paman bersamaku. Krip, kau menunggu di kamar pelayan. Datanglah hanya kalau dipanggil."
Krip mengiyakan dengan sopan. Jose menyelipkan buku catatan dari Krip ke dalam salah satu kamus di rak bukunya, kemudian mengembalikan kamus tersebut ke tempatnya. Ketika membuka pintu kamar, ia hampir terlonjak kaget melihat siapa yang ada di baliknya.
Jacob.
"Ramai sekali di kamarmu," kata Jacob tanpa senyum. Matanya menatap orang-orang di belakang Jose.
__ADS_1
***