BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 201


__ADS_3

Pohon-pohon aspen tumbuh renggang di sekitar mereka, ujung-ujungnya bergoyang lembut mengikuti tiupan angin malam. Rolan tidak mengenali rute ini, tapi Jose memimpin jalan dengan yakin seolah memiliki penglihatan malam. Tas kulit hitamnya masih tergantung di bahu, kini mengempis karena sebagian besar isinya sudah dikeluarkan. Hanya tinggal beberapa pakaian di dalam sana.


Di tangan mereka terdapat obor dari ranting-ranting tua yang ujungnya dililit tali tambang kasar. Serat tali tersebut dioles minyak zaitun agar api bertahan lebih awet. Yang menyala hanya obor yang dipegang Jose. Mereka akan menunggu penerangan itu mati sepenuhnya sebelum ganti menyalakan obor yang dipegang Rolan.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di padang rumput terbuka yang jadi halaman depan hutan. Rolan bahkan tidak perlu menyalakan obornya.


"Sebentar lagi kita pulang," katanya letih. Kata pulang terdengar begitu merdu di telinganya. Ia merindukan kamarnya yang hangat di rumah Argent, teh manis panas buatan George, bantalnya, selimutnya. Betapa ia merindukan hal-hal kecil yang kelihatannya begitu remeh dan biasa. Bahkan tidur pun merupakan kemewahan yang tak bisa dinikmatinya dengan total akhir-akhir ini.


Bulan menggantung pucat di langit hitam Bjork, memberi penerangan temaram bagi dua lelaki yang berjalan menyeberangi lapangan rumput dalam bunyi kersak ribut. Jauh dari mereka terlihat pemukiman orang-orang Selatan, dengan pintu dan jendela tertutup rapat dan tanpa lampu. Rolan tergoda untuk mampir ke salah satu rumah meminta air panas, andai saja mereka tidak dikejar waktu.


Angin dingin bertiup dari arah hutan, mendorong punggung mereka dengan lembut, seakan memberi peringatan. Tapi peringatan apa? Rolan merasa dingin itu merasuk sampai ke tulang, membuatnya linu. Ia bahkan sampai menadahkan tangan untuk memeriksa apakah ada serpihan es turun. Malam terasa lebih dingin dari bulan Oktober yang biasa disebut Bulan Beku.


Masih sekitar seratus meter lagi sebelum sampai di jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua bagian Bjork. Semakin mendekati jembatan itu, aroma aneh tercium makin kental di udara. Rolan mengendus dan mengernyit, merasa mengenali bau itu entah di mana. Mereka berjalan menyusuri tepian sungai, jadi awalnya ia pikir itu bau sampah basah yang tersangkut tumbuhan air. Namun baunya makin menyengat hingga Rolan perlu menekan telapaknya kuat-kuat ke hidung agar tidak terganggu.


Di sisinya, Jose membuang tongkat obor yang sudah mati dan berhenti berjalan untuk membuka tas. Rolan dengan bodoh berpikir mungkin keponakannya lapar dan ingin makan. Ia ingat masih ada beberapa kerat roti dan lapisan ham terbungkus kertas dalam tas. Namun alih-alih makanan, Jose mengeluarkan empat buah belati dan menyerahkan dua bilah pada Rolan. Gagang belati terasa dingin di tangannya, mengirim denyar geli ke jantungnya, membuat organ itu berdegup lebih kencang.


Bahkan saat itu pun Rolan masih belum sadar. "Untuk apa ini?"


"Paman tidak mencium aromanya?" Jose berbisik serak. Angin bertiup kencang melewati mereka, mengacak-acak rambut hitamnya yang kusut. "Aroma bangkai berjalan."


***

__ADS_1


Sudah lewat beberapa jam sejak tengah malam. Lady Chantall masih belum tidur. Ia berbaring miring di atas ranjang, di sisi Marco, sebelah tangan dikepalkan menumpu pelipis sementara yang sebelah lagi sibuk membelai kepala berambut putih keperakan di sampingnya. Sesekali ia mendaratkan kecupan, berusaha melakukannya selembut mungkin agar tidak mengganggu tidur pria itu.


Tidak pernah ada yang memberitahunya bahwa memandangi seseorang yang sedang tidur bisa semenyenangkan ini. Lady Chantall yakin ia tidak akan pernah bosan meski melakukannya setiap hari.


Seandainya kau tidak pernah menghilang, apa aku akan sadar kalau aku jatuh cinta? Lady Chantall tersenyum sendiri mengingat kejadian seharian ini. Syukurlah aku memberanikan diri mendesakmu.


Ia baru mau menjatuhkan kecup sekali lagi di kening ketika pintu diketuk dari luar.


Marco membuka mata dengan otomatis seakan sebelumnya tidak tertidur.


"Kau di sini saja," Lady Chantall berbisik, agak jengkel dengan gangguan yang datang. "Biar aku yang buka pintu." Ia beringsut turun dari ranjang, memakai mantel tidur yang tersedia di gantungan, dan beranjak ke pintu tanpa merapikan diri. Ia membiarkan rambut ikalnya tergerai masai sebagai tanda kemenangannya, tanda bahwa ia telah berhasil menaklukkan pemilik kamar sekaligus rumah ini.


Ketika membuka pintu, yang berada di baliknya adalah sang nyonya rumah. Renata Argent. Di belakang wanita itu berjajar rapi empat dayangnya serta dua tukang pukul berwajah keras.


"Kakakku sudah bangun?" Renata melewatinya, melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Dua pekerjanya tetap tinggal di belakang, tapi empat dayangnya ikut masuk. "Marco, maaf mengganggu istirahatmu."


Marco sudah turun dari ranjang, membungkus dirinya dengan mantel tidur tipis. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. "Kalau kau sampai bersikap tidak sopan berarti ada hal menarik?"


Renata mengangguk. Ia berjalan beberapa langkah lebih dekat. "Ada telepon dari Stuart. Dia bilang melihat banyak orang berjalan ke Selatan." Ia menoleh ke belakang dan mengedikkan kepalanya sedikit. Salah satu dayangnya melihat itu dan menutup pintu kamar.


"Orang-orang Jorm?" tebak Marco. "Atau anggota Scholomance?"

__ADS_1


"Orang-orang yang hilang itu, Kak," ujar Renata tenang, tapi tidak berhasil menyembunyikan ketegangan dalam sorot matanya. Wanita itu menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Mereka yang hilang muncul kembali. Banyak. Hanya saja ... sudah mati."


Kesunyian mengisi ruangan dalam cara yang paling menyesakkan. Rasanya seolah ada kabut Selatan merayap memenuhi kamar, membuat mereka membeku kedinginan.


"Maksudmu mungkin golem?" Lady Chantall angkat bicara. Ia mengusap kedua lengannya pelan-pelan, punggungnya barusan dirambati rasa dingin yang mengganggu.


"Bukan, milady." Renata tidak menoleh, matanya masih menatap Marco lurus-lurus, memberi tanda dalam setiap kerjapan mata dan tarikan napas. "Aku tahu apa golem yang kalian maksud. Ini bukan golem. Orang-orang menyebutnya Kunarpa. Makhluk ini sudah mati, tapi berjalan dengan dua kaki. Beberapa orang melihat keluarga mereka dari antara yang mati dan berusaha membawanya masuk, tapi malah diserang dengan keji oleh mayat-mayat itu." Ia berhenti untuk menata napas. Kecemasan membayang jelas di wajahnya, di bawah matanya. "Di luar kisruh. Tidak ada Kunarpa yang berjalan ke sini, semuanya berada jauh di Selatan. Tapi untuk berjaga-jaga, aku sudah menyiagakan pekerja. Gerald dan Hans mengurus segalanya di luar, mereka akan segera melapor setelah memastikan situasi."


"Berapa jumlah mayat-mayatnya?" Marco memindah berat tubuhnya ke kaki lain, barusan pinggangnya mulai nyeri lagi. Efek obat pereda rasa sakitnya mulai memudar. "Ada contoh mayatnya? Aku ingin melihat satu. Suruh pekerja—" Ia diam sebentar, baru sadar bahwa Rolan tidak ada di sana untuk diperintah. Ia berjalan ke samping cermin dan menarik tali lonceng, meminta George datang. "Apa lagi yang dikatakan Stuart? Dan kenapa dia menghubungimu?"


"Maaf Kak, aku yang memintanya," Renata menjawab dalam kesopanan yang dingin. "Rolan tidak ada dan kau sakit, jadi aku minta dia menghubungiku kalau ada sesuatu yang mencurigakan di luar sana. Apa harusnya tidak kulakukan?"


Marco tersenyum samar. "Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau, Dik." Meski begitu, dalam hati ia mencatat untuk memperingatkan Tuan Stuart agar tidak melibatkan Renata lagi. "Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanyanya, merasa bahwa tidak mungkin Renata datang dengan dayang lengkap dan pekerja kalau tidak ada hal genting. Alisnya berkerut dalam ketika melihat Renata melangkah maju, menengahi tempat di antara ia dan Lady Chantall, yang masih berdiri diam di dekat pintu.


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa ada pengkhianat di rumah ini, kan?" Renata menyeringai. "Aku sudah melakukan investigasi dan berhasil mendapatkan ekornya. Ular itu ada di sini. Dia bersama kita sekarang."


Lady Chantall tidak menyukai perkembangan ini. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Cara Renata menatapnya sejak tadi terasa janggal, dan nada suara wanita itu menusuk-nusuk dalam cara yang menyakitkan hatinya. Ia hendak beranjak ke sisi Marco, tapi dihalang-halangi para dayang. "Minggir! Siapa kalian?" desisnya dalam kemarahan yang angkuh. Sebelah alisnya yang tipis naik dengan tajam. Pipinya memanas. Ia mulai bisa meraba ke arah mana semua ini berjalan, tapi mati-matian berharap ini tidak terjadi. "Renata, apa kau tidak mengajari pelayanmu tata krama?"


Renata menoleh padanya melewati bahu. Bibir wanita itu terangkat dalam lengkung tipis yang agak miring. Lady Chantall bersumpah ia benar-benar ingin menyobek mulut itu. Matanya berair. Ia menatap Marco dan menggeleng pelan dengan wajah memelas, melantunkan permohonan tanpa suara.


"Apa maksudmu, Dik?" Marco mengencangkan rahang, menatap kedua wanita itu bergantian.

__ADS_1


"Kau tidur dengan ular, Kak," suara Renata mengalun pelan dan dingin, tanpa belas kasihan. "Pengkhianatnya Lady Chantall."


***


__ADS_2