
Jose selesai menerangkan apa yang dilihatnya di rumah Sir William. Rolan mendengarkan tanpa memberi interupsi sedikit pun. Mereka berdua kini ada di kamar Jose. Krip, Gerald, dan Hans juga di sana—Rolan sekarang menggunakan Gerald dan Hans sebagai pelindung. Ia tidak mau lagi melihat makhluk aneh berasap yang bisa mematikan lampu dan menciptakan gempa buatan. Keempatnya ada dalam posisi yang sama dengan siang tadi. Jose duduk di bibir ranjang, Rolan duduk di kursi, Krip, Hans dan Gerald bersila di bantal duduk, di hadapan Jose.
"Jadi, Sir William adalah ... monster?" Gerald masih sulit memproses apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia sudah melihat mayat-mayat kering tanpa darah, jadi Gerald tetap berusaha menerima semuanya dengan pikiran terbuka. "Dan apakah dia monster yang sama dengan hantu hitam yang mengendus?"
Jose membuka telapak tangannya, memandangi luka di sana yang telah diobati Rolan. Saat bertemu para hantu di rumah Sir William tadi, ia mencengkeram tangannya sendiri terlalu kuat hingga terluka. "Kurasa beda. Kita menghadapi dua pihak yang beda di sini, tapi yang jelas, keduanya sama-sama punya hubungan dengan kalung emas ini."
"Tapi mayat pelayan itu, Tuan?" Hans bertanya tak mengerti. "Apa dia bukan makhluk yang mengendus itu?"
Jose bergidik membayangkan Gladys. Ia ingat bahwa mayat hidup itu mengendus udara ketika mereka bertemu di Tebing Curam. "Bukan. Aku yakin bukan. Gladys bilang aku menyelamatkannya satu kali. Menurut Sana, Gladys ketakutan pada orang-orang yang ada di gunung. Itu ketika Sana bertemu dengan Gladys yang sudah jadi hantu. Kurasa, dengan aku memindahkan mayat Gladys dari hutan Bjork, aku menyelamatkannya dari orang-orang yang ia takuti itu. Tapi dia masih minta diselamatkan lagi. Hantu ... ah, tidak, tidak sopan menyebut mereka hantu. Roh-roh itu bilang, mereka ingin berhenti berpesta. Mereka pasti ada di sana di luar keinginan mereka."
Krip mengangguk pelan, merasa penjelasan itu masuk akal. "Dan mereka minta tolong pada Tuan Kecil? Tapi kenapa Tuan yang dipilih?"
Jose mengelus bandul kalung yang masih terpasang melingkar di lehernya. "Benda ini terasa panas waktu aku bertemu dengan Arabella. Mungkin semuanya ada hubungannya dengan pengaruh kalung ini." Ia menoleh pada Rolan, yang sejak tadi mendengarkan dalam diam. "Aku minta Clearwater ke sini karena dia bilang dia melihat Dave. Aku belum sempat mendengarkan lebih lanjut ceritanya, tidak baik mengobrol di rumah monster itu."
Rolan mengangguk setuju. "Kau ingat aku pernah cerita bahwa aku dan Marco curiga bahwa Charles terlibat dalam okultisme Bjork?"
"Yang sempalan Katolik itu? Aku ingat."
"Kurasa, aku salah soal itu. Kami salah. Sebenarnya ini masih perlu penyelidikan lebih lanjut, tapi dugaan yang ini akan menjelaskan banyak hal—bahkan soal kepentingan kalungmu itu." Rolan melihat tiga orang di hadapannya memberi perhatian dengan serius. Ia menengok sekitar dengan waspada, menatap pintu dan jendela-jendela di kamar tersebut. "Kamarmu kedap suara?"
"Mau pindah ke kamar Paman Marco?" Jose menawarkan. Ia tidak yakin kamarnya kedap suara, tapi ia tahu kamar kerja Marco kedap suara.
__ADS_1
Rolan melirik jam. Sudah pukul satu dini hari. Ia sebenarnya sangat lelah, tapi pembahasan ini sangat penting. Siapa yang tahu apakah besok pagi ia masih ada di sini atau lenyap ditelan misteri Bjork. Rolan mengangguk, kemudian menghela tubuhnya bangkit.
Jose mengira keluarganya pasti sudah tidur, karena itu ia heran melihat Edgar, Renata, serta Jacob dan istrinya masih bangun. Mereka berempat bicara sahut menyahut dengan tergesa di lantai satu. Renata kelihatan cemas. Pemandangan itu kelihatan dari landasan di lantai dua. Jose batal melangkah ke kamar Marco. Ia melihat Rolan juga penasaran.
Krip, Gerald dan Hans menunggu di landasan tangga sementara Rolan dan Jose berjalan turun.
Ketika melihat mereka datang menghampiri, Edgar berkata ringan, "Kebetulan. Aku baru saja mau memanggil kalian!"
"Ayah mau pergi?" Pandangan Jose jatuh pada kopor hitam kecil di samping kaki ayahnya.
Edgar mengangguk. "Aliansi perdagangan milik Spencer membuat ulah," katanya. "Mereka menyebarkan kabar bahwa Marco hilang, dan bergerak memprovokasi serta melobi sana-sini. Aku akan pergi ke ibukota untuk memberi keterangan bahwa Marco hanya sedang melakukan investigasi pribadi. Banyak yang tidak akan mau mendengar kalau aku hanya mengirim utusan."
"Kau tidak harus berangkat tengah malam!" Renata menyergah. "Perjalanan ke sana begitu jauh, dan Bjork sedang tidak aman!"
"Aku bisa menemani Ayah," Jacob menawarkan diri.
Edgar menggeleng. "Kau di sini, temani dan jaga ibu serta adikmu. Lagi pula, aku akan ditemani Greyland. Dia akan mengawalku pulang dan pergi, jadi kalian tidak perlu cemas."
Renata mengenal Greyland sebagai kaki tangan Marco yang bisa diandalkan. Ia terlihat sedikit lebih tenang, meski tetap gelisah.
Jose merasa semua ini seperti disengaja. Keluarga Argent seperti sengaja dipisah-pisah. Edgar dipaksa pergi meninggalkan rumah, tentu saja Greyland akan menemaninya. Kalau Greyland yang dikenal sebagai pengawal Argent pergi dari Bjork, kekuatan mereka hilang lagi separuh.
__ADS_1
Edgar menatap Jose, mengerti apa yang dipikirkan putra bungsunya. Ia melepaskan Renata, kemudian merangkul Jose dan menggeretnya menjauh. Yang lain memberi privasi dengan tidak mengikuti atau menatap ke arah mereka. Ayah dan anak itu berhenti di balik dinding yang memisahkan antara ruang tamu dengan ruang rekreasi.
"Ayah tahu ini jebakan, kan?" tanya Jose.
"Aku tahu. Mereka bermaksud melemahkan kita. Tapi kita sudah disekak. Kalau aku tidak pergi, Spencer dan aliansinya akan berhasil memengaruhi banyak orang melawan kita. Mereka sudah menunggu kesempatan ini sejak lama. Mereka tahu bahwa kalau aku pergi, otomatis Greyland pasti ikut dan itu berarti kita kehilangan separuh kekuatan di Bjork. Sementara kalau aku pergi sendirian tanpa Greyland—“
"Jangan!" Jose cepat-cepat mencegah. Ia mencengkeram lengan Edgar, matanya memohon. Banyak yang menunggu kejatuhan Argent dengan suka ria. Mereka pasti tidak akan diam saja kalau melihat Edgar benar-benar sendirian di saat kondisi begitu labil seperti sekarang. Jose menggeleng, suaranya bergetar. "Jangan. Kalau Ayah pergi, Greyland harus ikut. Jangan sendirian. Itu bahaya ..."
Edgar tersentuh melihat mata Jose basah. Ia memeluk dan menepuk-nepuk punggung putranya. "Kupikir kau sudah besar. Sebentar lagi umurmu dua puluh empat," katanya geli. "Tapi ternyata kau masih Jose yang sama. Masih putra kecilku yang cengeng."
"Aku tidak mau kehilanganmu," Jose menenggelamkan wajah di bahu kokoh ayahnya, mendadak merasa sangat lelah. Mengurus begitu banyak hal membuatnya sangat lelah. Ia bertanya-tanya bagaimana Marco bisa tetap santai dan dingin meski setiap harinya menghadapi semua misteri ini, semua rahasia ini, serta semua masalah di Bjork.
"Kau tidak akan kehilangan ayahmu ini," sahut Edgar tenang, menahan supaya suaranya tidak bergetar karena emosi yang ia rasakan saat ini. Ia juga tidak ingin pergi. Ia ingin tetap di rumahnya, bersama anak dan istrinya, menunggu cucu dilahirkan. Namun Edgar tahu ia tidak boleh lembek. Ia harus menyelesaikan urusan ini agar bisa menyambut Marco tanpa merasa malu saat kakaknya pulang nanti. Ia harus bisa menjaga martabat mereka sebagai seorang Argent. "Aku tidak mungkin pergi tanpa melihatmu menikah. Kau mengerti itu, kan?"
Jose tertawa. Ia melepas pelukan ayahnya. "Aku memukul William Bannet tadi," lapornya tiba-tiba. Ia mengerling. "Aku ingin memberi tahu duluan sebelum ada yang mengadukan itu pada Ayah."
"Kenapa kau pukul dia? Di mana kejadiannya?"
"Di pesta tadi," jawab Jose tanpa rasa bersalah. "Dia bersikap tak sopan pada Maria, aku meninjunya dua kali di wajah. Hidungnya pasti patah."
Edgar terbahak, tidak keberatan sama sekali. Jacob membakar rumah orang yang menghinanya sebelum meninggalkan Bjork dan kedua putranya yang lain melakukan hal-hal yang sama mengerikannya ketika diusik orang lain. Bagi Edgar, apa yang dilakukan Jose sama sekali bukan masalah dibanding apa yang dilakukan putranya yang lain. Edgar tidak tahu apa pun mengenai masalah utama dengan Sir William, jadi ia hanya menganggapnya perkelahian biasa.
__ADS_1
Edgar mengacak-acak rambut hitam Jose dengan penuh kasih sayang. "Garnet lagi, Garnet lagi. Baiklah kalau itu jawabanmu, akan kubantu kau menolak kenalan-kenalan Ayah di sana besok."
***