
“Sedang apa, Paman?” tanya Jose heran ketika melihat Rolan sedikit mengubah posisi duduknya jadi sedikit miring.
Rolan menoleh, memberi seulas senyum ceria dan justru balik bertanya, “Kenapa jendela kamarmu ditutup? Memangnya tidak panas?”
“Aku tidak bisa tidur siang kalau terlalu terang.” Jose kembali duduk di seberang Rolan. Matanya memperhatikan dengan lebih awas. “Semalam melelahkan. Memangnya Paman tidak mengantuk? Kita semua tidak sempat tidur, kan? Aku baru saja berbaring dan hampir bermimpi waktu Paman datang.”
“Oh.” Rolan mengangguk pelan. Tangannya bergerak lincah mengetuk-ngetuk bantalan sofa seperti sedang bermain piano. “Oh, kau tidur tanpa ganti pakaian?”
Nada suara itu masih ramah dan terdengar seperti sedang menggoda, tetapi Jose tahu bahwa pamannya sedang melakukan interogasi. Ia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang ketika memikirkan buku bersampul kulit yang barusan ia sembunyikan di balik bantalan sofa di belakangnya.
“Kurasa Paman sudah mulai ketularan Paman Marco, meributkan soal piama segala.” Jose merasakan dengung kecurigaan dari pamannya, tetapi ia yakin bisa mengantisipasi hal itu. “Apa yang mau Paman bicarakan? Soal ... di taman?”
Rolan memutar bola matanya. “Yaa, Marco bilang kau sudah diberitahu soal kondisi Higgins.” Ia berdehem pelan sebelum melanjutkan, “Serta keadaan 'yang lain'. Aku cuma mau memastikan kau tidak membocorkan hal ini ke luar. Hal ini masih dalam proses penyelidikan dan sebaiknya tidak diketahui oleh masyarakat umum.”
“Aku tahu soal itu.” Jose mendengus. Kedua tangannya mencengkeram lutut dengan lebih kuat. Ia mengangkat wajah, menatap Rolan lurus tepat pada manik matanya. “Aku tidak akan berpura-pura, Paman. Paman bilang padaku untuk datang lagi saat berhasil mendapatkan pengetahuan dengan cara sendiri. Aku sudah mendapatkannya. Terus terang, aku mendengar nama yang kalian bicarakan waktu di taman. Nama orang baru itu.”
Rolan mendesis cepat, matanya melotot kesal. “Kau tahu? Rahasia disebut rahasia karena tidak boleh diucapkan keras-keras!”
“Hah? Apa? Aku bahkan tidak menyebut nama seorang pun!” Jose tertawa. “Ceritakan padaku, Paman. Apa hubungan semua ini dengan Maria?”
“Kenapa dengan Garnet?”
“Jangan berputar-putar.” Jose menghela napas. “Paman tiba-tiba mengundangnya datang ketika tahu aku mendengar apa yang kalian bicarakan. Apa hubungan Maria dengan semua ini?”
__ADS_1
Rolan melengos. “Aku cuma kangen padanya. Kenapa kau harus curiga seperti itu? Sudah lama kami tidak bertemu, kan?”
“Tidak, aku bisa melihat ada yang aneh dari cara kalian menatap.” Jose bersikeras.
“Memangnya bagaimana caraku menatap? Bukannya biasa saja, ya? Kalau Marco, dia sih memang selalu menatap orang lain dengan mata jijik.”
Jose mengerjap, menyadari bahwa keterangan itu ada benarnya. “Lalu, ada apa itu soal Sir ... maksudku, soal orang itu. Apa hubungannya dengan semua ini? Aku mendengar kata-kata bahwa dia berbahaya. Dan bahwa Paman ... Paman juga mencium bau anyir darinya.”
Kalimat terakhir diucapkan dengan lirih oleh Jose. Namun kamar itu sunyi, Rolan bisa mendengarnya dengan jelas.
“Juga?” Dia mengerutkan kedua alisnya ke dalam, memberi Jose tatapan tajam yang menuntut. “Kau bilang juga? Kudengar kau sudah bertemu dengannya, kan? Bagaimana kesanmu?”
“Lho, kenapa jadi Paman yang bertanya?” Jose melotot kesal.
“Ya.” Jose menelan ludah. Punggungnya tiba-tiba meremang dan ia merasa ingin melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada orang berdiri di balik sofa yang ia duduki. “Ya, dan bau mawar yang sangat kuat. Menjijikan.”
Rolan mengusap hidungnya sendiri, kemudian tertawa getir. “Kau bisa mencium aroma itu. Itu sudah cukup. Di mana pun kau menciumnya, kapan pun itu, menjauhlah. Pergi. Lari sekencang-kencangnya kalau bisa.”
Jose mengerjap-ngerjapkan matanya dengan heran. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Rolan menegang dalam rupa yang serius. Ia bahkan tidak bisa mendengar suara napas Rolan, seolah pamannya bernapas tidak dengan hidung atau mulut melainkan dengan pori-pori di seluruh tubuh.
“Kenapa?” akhirnya hanya bisikan itu yang keluar dari bibir Jose.
Bukannya memberi penjelasan, Rolan hanya menggeleng pelan sambil bangkit dari sofa. “Aku tidak akan menjelaskan lebih banyak. Kau memiliki talenta dan bakat untuk menghindar dari bahaya. Pokoknya itu saja sudah bisa diandalkan. Lebih baik tidak tahu dan terlindungi daripada tahu tapi celaka.”
__ADS_1
Kalimat terakhir Rolan mengingatkan Jose pada hal yang pernah diucapkan Marco padanya. Kalimat soal membiarkan orang lain hidup dalam ketidaktahuan.
“Tidak, aku lebih suka tetap tahu dan bisa melindungi diri sendiri.” Jose ikut berdiri. Matanya menantang tatapan Rolan. “Beri tahu aku apa yang sedang terjadi. Apa yang sedang dihadapi kota ini.”
“Kau gemetar,” komentar Rolan saat melirik kaki Jose. “Dan suaramu juga terbata-bata.”
Kedua pipi Jose sontak merona.
“Kau takut,” sahut Rolan lagi. “Kita baru membicarakannya berdua, tapi reaksimu sudah seperti ini.”
“Kalau aku tahu apa yang terjadi, aku pasti bisa mengontrol emosi dan mengatasinya,” Jose menukas cepat, tetap tidak mau kalah.
Rolan tertawa pendek, menampakkan ekspresi pahit ketika berkata, “Kau belum tahu betapa ngerinya menjadi seseorang yang tahu sebuah rahasia, Jose. Aku lebih suka kau tidak mengetahuinya, demi keselamatanmu sendiri.”
Ia mengulurkan tangan ke atas, menepuk pelan pipi kiri Jose dua kali, kemudian mengacak-acak rambut hitam pemuda itu. “Jauhi Sir William. Jauhi aroma mawar berdarah itu. Patuhi nasihatku ini, dan tunggulah sampai Marco menyelesaikan penyelidikannya.”
“Aku bukan anak kecil,”
“Aku tahu,” Rolan mengangkat tangan, memotong kalimat Jose dengan sigap. “Kau sudah dewasa, tentu saja, aku bisa melihatnya. Tapi kadang ada hal-hal yang tidak bisa diatasi hanya dengan mengajukan nominal umur.”
Dalam ingatan Rolan kembali terbayang rasa ngeri sekaligus antusiasme yang timbul saat melihat mayat yang hanya tinggal tulang dan kulit.
Para polisi yang bekerja di bawah Marco tidak bisa menahan diri dan langsung muntah saat melihat mayat-mayat yang diantar kepadanya. Linda dan Anna, dua dayang yang sempat melihat pemilik tawa di luar kamar, sampai sekarang masih belum sadar dari trauma. Keduanya meracau dan menangis. Rolan tidak akan tahan kalau melihat keponakannya mengalami nasib yang sama.
__ADS_1
***