
Ketika sampai di manor Argent, jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Jose bisa melihat lewat pelayan yang hilir mudik lewat jalan ke rumah kaca, bahwa anggota keluarganya pasti sedang berkumpul di sana untuk mengobrol sambil makan snack. Hal yang melegakan karena itu berarti Nolan tidak perlu berpapasan dengan Marco.
Ia membawa Nolan ke kamarnya dan menyerahkan salinan berkas yang ia terima dari ayah dan paman-pamannya. "Sebentar," katanya, menarik lagi berkas itu dengan wajah menyesal. "Aku lupa, kau bisa membaca atau tidak?"
"Sedikit," sahut Nolan enteng. Ia duduk di atas sofa empuk, kali ini kelihatan benar-benar seperti orang dari Bjork Utara. "Aku bisa membaca abjad, dan beberapa kata. Yang mau kau tunjukkan adalah buku itu?"
"Ini bukan buku, tapi berkas." Jose lupa menghitung kemungkinan Nolan tidak bisa membaca. Ia duduk di seberang Nolan, kemudian membacakan satu demi satu kertas-kertas salinan yang berisi kesaksian-kesaksian orang yang pernah melihat Hantu Hitam.
Nolan mendengarkan dengan tenang kali ini, tidak memotong atau menyergah sedikit pun. Ketika Jose selesai membacakan, gadis itu mengedikkan bahu.
"Mirip dengan yang kita lihat. Jadi intinya makhluk itu sudah lama berkeliaran?" tanya Nolan. Ia berpikir sebentar. "Rasa-rasanya sudah lama sekali tempatku diselimuti kabut."
Jose mengusap lehernya tak nyaman, menoleh ke arah pintu, sebelum berbisik dengan suara pelan pada Nolan. “Aku ingin membicarakan sesuatu. Pintunya boleh kukunci?”
Nolan menatap dengan waspada, tetapi kemudian mengangguk pelan. Ruangan ini besar dan luas, membuatnya tidak merasa terkurung meski pintu masuk dikunci. Lagi pula banyak barang yang bisa dijadikan senjata kalau Jose coba macam-macam. Nolan menertawakan pikirannya sendiri. Kalau mau macam-macam, Jose pasti akan melakukannya dengan orang seperti Maria.
“Jadi,” katanya setelah lelaki itu kembali, “Kau kelihatan serius waktu makan crepes tadi, sebelum kita bertemu Nona Garnet. Apa yang mau kau ceritakan sebenarnya?”
Jose tadinya tidak mau bercerita terlalu banyak, tetapi mengetahui Nolan malah didatangi oleh makhluk itu membuatnya jadi waspada. Apa yang diinginkan sosok itu sebenarnya? Nolan masih selamat, tidak hilang atau habis darahnya, jadi mungkin ada hal lain yang diinginkannya selain darah.
“Katamu, orang-orang juga banyak yang hilang di Bjork sebelah selatan,” mulainya perlahan.
Nolan mengangguk sebagai jawaban.
“Dan selalu pada saat kabut datang?” Jose menyelidik.
__ADS_1
“Entahlah soal itu. Desas-desus soal kabut ... kurasa cuma, yah, satu cara bagi para orangtua untuk membuat anak-anaknya tidak pergi waktu gelap. Maksudku, ada sungai mengelilingi tempat kami. Ada penculik atau entah apa. Anak-anak memang bisa hilang waktu kabut sewaktu-waktu.” Nolan mengerutkan kening, menyadari satu hal. “Kau bertanya soal kabut, apakah ....”
“Aku menduga, ada hubungan antara sosok itu dengan kabut di tempatmu,” Jose berkata. “Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di Hutan Bjork. Setahuku, polisi dulu pernah menyelidiki tempat itu untuk mencari orang yang hilang, tetapi tidak ditemukan apa-apa di sana.”
“Aku juga berpikiran sama,” Nolan menyela. “Maksudku, soal hubungan antara Hantu Hitam dengan kabut itu. Kalau kita ke hutan itu lagi dan menyeberangi sungai, apa kita akan dapat sesuatu? Monster pasti punya rumah, kan?”
“Rumah?” Jose hampir tertawa. “Menurutmu sosok yang seperti itu akan punya rumah untuk apa?” Dia menggeleng cepat. “Sebaiknya jangan ke hutan. Jangan pernah, Nolan. Bahkan sebaiknya kau juga jangan memancing di sungai perbatasan sebelah selatan.”
“Enak saja! Lalu aku makan dari mana? Lagi pula, sebelumnya aku juga sudah sering memancing di sana. Orang-orang yang lain juga.”
“Keadaannya sekarang beda,” tukas Jose, mulai tak sabar. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu sangat keras kepala. “Apa biasanya kau melihat makhluk itu? Apa kau didatangi olehnya malam-malam? Jelas-jelas dia menemuimu karena ingin melakukan sesuatu! Ada sesuatu yang perlu dilakukannya!”
“Tapi aku masih ada sampai hari ini, aku selamat,” Nolan menyahut kesal. Ia selalu benci didesak dan dibentak.
“Ya, aku bersyukur soal itu, percayalah. Dan justru karena itulah kau harusnya mulai hati-hati!”
Jose mengembuskan napas. Ia berpikir agak lama, kemudian bertanya dengan hati-hati pada gadis itu, “Lalu, apa lagi yang kau alami?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, saat melihat Hantu Hitam-mu itu,” sahut Jose tak sabar. “Apa kau merasakan sesuatu yang jadi pertanda? Maksudku, suara tawa barangkali?”
Nolan bergidik. Ia kembali membayangkan peristiwa saat mereka berdua memancing di sungai sebelah selatan. Waktu itu, sebelum mereka merasa tidak enak, ada suara tawa yang aneh. Tawa yang sebenarnya tidak seperti tawa, kedengarannya justru seperti sesuatu diseret. Kemudian ada rasa ngeri menyergap, mendirikan seluruh bulu roma, lalu tawa panjang itu lenyap. Jose sudah menariknya lari menjauh. Rasanya seperti baru saja ia alami lagi. Nolan merasa punggungnya dingin. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan tidak nyaman, seperti merasa diawasi.
“Nolan?” desak Jose.
__ADS_1
Gadis itu mengangkat wajah dengan kaget, kemudian menggeleng pelan. “Tidak, waktu di rumahku ... waktu ... aku melihatnya ... aku tidak mendengar suara tawa atau apa. Tidak ada.”
“Begitu ....”
“Tapi yang kulihat memang sama dengan makhluk yang di sungai itu," Nolan menyahut cepat. “Persis sama dengan yang itu! Dia juga sosok yang sama dengan apa yang kita lihat di sungai sebelah Selatan!”
“Tentu, tentu,” ucap Jose tergesa. Ia bisa melihat wajah Nolan mulai memerah, mungkin gadis itu takut dirinya dianggap sedang berdusta. “Aku percaya padamu, kok. Aku percaya kau memang mengatakan yang sebenarnya.”
Nolan jadi lebih tenang, meski perasaan tidak nyaman itu tetap saja terasa. Ia mengangkat wajah, menatap bola mata hitam Jose dengan lebih tajam. “Aku merasakan perasaan yang sama.”
“Perasaan apa?” Jose merasa tahu jawabannya, tetapi tetap bertanya.
“Rasanya tidak nyaman. Aku seperti diserang gelombang ngeri dan getaran yang aneh, berkali-kali. Seperti itu waktu dua kali aku melihatnya. Rasa ngeri yang melumpuhkan. Dan leherku sepertu dirambati ribuan serangga. Menyeramkan!”
Jose menatap mata biru gadis itu lekat-lekat. Ada keteguhan di sana, sesuatu yang jarang dilihatnya pada diri orang lain. Krip juga punya keteguhan, tetapi terlihat berbeda. Krip terasa penuh tipu muslihat, penuh lapisan. Keteguhannya diperkuat dengan sesuatu yang kotor. Tidak masalah bagi Jose. Orang-orang seperti Krip justru memang harus memperkuat pondasi dasarnya dengan banyak kekotoran. Namun ia tentu saja lebih menyukai keteguhan pada mata biru Nolan. Iris mata yang sedikit pucat itu terlihat tulus. Kejujuran serta ketaatan ada di dalam sana, dibarengi kepercayaan diri yang tinggi. Jose menyukai orang seperti itu. Tipe orang yang bermulut kasar tetapi pasti setia. Orang yang bisa dipercaya.
“Apa kau juga mencium aroma yang aneh?” tanya Jose pelan.
“Aroma apa?”
Awalnya Jose merasa konyol tiap kali memikirkan soal aroma yang dia cium. Dave tidak bisa menciumnya, Maria tidak, Krip juga tidak mencium aroma apa pun. Mungkinkah itu semua cuma ada dalam kepalanya? Mungkinkah memang benar kata Dave sebelumnya, bahwa ia hanya cemburu? Mungkin ia cuma tidak senang melihat Maria bersama lelaki lain? Kalau ia memang cuma cemburu, kenapa harus pada William? Maria sudah berkali-kali merasa suka, jatuh cinta, bahkan mengalami perjodohan dengan lelaki lain. Jose tidak pernah cemburu atau merasakan ketidaksukaan seperti ini. Tidak, jelas bukan kecemburuan. Ini naluri. Insting tanda bahaya. Dan aroma yang diciumnya pasti juga bukan halusinasi.
“Aroma sesuatu yang wangi, tapi juga busuk.” Jose memberitahu, “Seperti aroma mawar.”
“Oh. Aroma mawar? Ya, aku memang sempat menciumnya. Itu bukannya wangi parfummu, ya?”
__ADS_1
***