BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 228


__ADS_3

Orang-orang Argent sudah disebar tersembunyi di balik semak dan rumput tinggi sabana. Orang harus mencari dengan saksama baru bisa melihat mereka. Kereta kuda dikembalikan ke Bjork agar tidak membuat curiga. Marco ikut berbaring di tanah, menunggu. Rumput kering menusuk-nusuk punggung dan kepalanya, membuatnya gatal, tapi itu hanya gangguan minor dari apa yang sedang mereka nanti.


Kuharap dia memang secepat itu, pikirnya, kalau keretanya cepat, dia tidak akan melihat kami yang sembunyi.


"Kau seharusnya ada di barisan belakang atau tengah," komentar Tuan Stuart, yang juga berbaring telentang di sisi Marco, memandang langit luas di atas mereka. Ia meraba-raba saku mantelnya dan menemukan bungkusan rokok yang ia cari. "Kalau Sir William mendapatkanmu, bukankah dia jadi bisa melakukan ritual yang dia mau?"


"Pemimpin harus selalu ada di depan. Kepercayaan diri mereka penting untuk kesuksesan rencana ini." Marco menoleh, menerima satu batang rokok yang ditawarkan, mengamati tulisan merek pada kertasnya. "Lagi pula, tidak mudah mendapatkanku."


"Salut pada Lady Chantall kalau begitu," Tuan Stuart terkekeh. Ia membakar ujung rokok dan mulai mengisapnya. "Kau berjanji untuk kembali padanya, kan?"


Marco mengerutkan kening. Ia yakin ketika menjanjikan itu pada Lady Chantall, Tuan Stuart sudah pergi dan tidak ada orang di sekelilingnya. "Dari mana kau tahu?"


"Aku Raymond Stuart," sahut pria itu heran. "Aku bahkan bisa membuat rumput bicara kalau mau. Mana mungkin hal semacam ini saja aku tidak tahu."


Marco tersenyum simpul. Ia masih belum berminat menyalakan rokok. Matanya mengamati langit, bertanya-tanya apakah ada tempat lain di atas sana, jauh di atas langit yang mengurung mereka seperti kubah. "Aku menandatangani kontrak darah dengan dinasti," katanya. "Dengan sang ratu sendiri."


Tuan Stuart diam. Ia tahu bahwa Keluarga Argent punya backing di istana karena selama ini semua sepak terjang Marco bahkan yang paling brutal sekalipun tidak pernah mendapat teguran atau hukuman dari istana. Ia juga sudah mendengar rumor bahwa Marco dan Ratu pernah punya hubungan khusus di masa lalu. Namun Tuan Stuart tidak menyangka kedua hal itu akan berkaitan. "Kontrak darah?" tanyanya heran.


"Sebutannya begitu karena kami bersumpah atas darah keturunan kami," kata Marco tenang. "Yang kulakukan sebenarnya hanya melanjutkan apa yang sudah dimulai pendahuluku. Kami membangun Albion, melindunginya dari bawah. Dan perjanjian ini akan terus diperbaharui oleh keturunan kami."


"Maksudmu, keturunan langsung?"


"Ya, anak pertama pada anak pertama." Marco berpikir agak lama, mengingat-ingat. "Ketika tahu bahwa selama ini aku dilatih dan disiapkan untuk menggantikan apa yang dilakukan Lord Argent sebelumnya, yang kupikir hanyalah bahwa aku harus menghentikan ini. Aku ingin membuat keluargaku lepas dari rantai dingin kontrak yang mengutuk kami." Ia menghela napas. "Sayangnya, aku malah melakukan hal yang sama pada Jose. Pada akhirnya aku sama saja dengan pendahuluku."


Tuan Stuart mengembuskan asap rokoknya ke langit, bertanya-tanya sendiri kenapa tiba-tiba Marco mau membuka rahasia itu. Ia mendengarkan dalam diam, menunggu.

__ADS_1


"Pada saat memperbarui perjanjian dengan dinasti—dengan Ratu, aku sudah mendapat peringatan yang dingin. Orang-orang seperti kami akan tenggelam dalam lumpur darah serta air mata orang lain, banyak orang akan mengutuk dan menyumpahi kami mati. Tidak akan ada yang mencintai kami. Tidak mungkin ada." Marco menyalakan rokoknya, mengisapnya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya jauh-jauh dalam kepulan kelabu. "Tapi Jeanne bilang dia mencintaiku."


Ada nada aneh dalam suara pria itu yang membuat Tuan Stuart terganggu sejak awal mendengar. Sekarang ia baru sadar apa artinya. "Dan meski begitu, meski kau akhirnya mendapatkan orang yang mencintaimu, kau tetap akan meninggalkannya."


"Cepat atau lambat memang itu akan terjadi," sahut Marco tenang. "Semua orang akan mati."


"Tapi tidak perlu hari ini! Kau berjanji untuk kembali padanya! Setahuku Argent tidak pernah ingkar janji."


"Selalu ada yang pertama untuk segalanya."


"Kau sama saja mempermainkannya," kata Tuan Stuart dingin, tidak mengerti kenapa ia mendadak jadi marah. Seharusnya hubungan orang lain bukan urusannya, tapi ia tidak bisa menghentikan diri sendiri.


Marco tertawa. Ia berguling telungkup dan mengeluarkan teropong tunggalnya untuk mengintip ke sekitar. Semua orang masih di posisi masing-masing. Tidak ada desertir. Angin bertiup kencang menggoyang ujung-ujung rumput, menerbangkan helai-helai rambutnya. "Aku bisa saja jujur padanya dan bilang bahwa aku berniat membawa iblis itu mati bersamaku hari ini. Tapi apa gunanya mengatakan itu? Dia akan sedih, rencana kami akan rusak, dan semua hal bisa ikut hancur." Mata hitamnya memindai langit di kejauhan, mengamati kecepatan laju gelungan asap hitam ganjil di sana dan menghitung kecepatan kedatangannya. "Dia masih muda, dia akan melupakanku dengan cepat."


Tuan Stuart menggelengkan kepalanya. "Kau meremehkan daya ingat perempuan, Marco," katanya. "Mereka tidak pernah lupa."


***


Jose tertawa. "Biarkan saja dalam gerobak. Kita sudah berhasil merusaknya. Paman Marco sudah keluar Bjork sejak tadi."


Seseorang menawarkan mantelnya kembali. Marsh menerima, tapi tidak memakainya. Ia masih kepanasan karena barusan ikut mencongkel dan menghancurkan tiap paving serta batu di Bjork yang bernoda darah. Kepalanya merinding jijik setiap kali melihat noda-noda dan tulisan mengerikan itu, jadi ia ingin ikut menghancurkannya sendiri. "Lalu sekarang bagaimana?" tanyanya ketika sampai di depan Jose. "Kau akan ke Selatan? Garnet pasti kesepian sendirian di sana."


"Apa tidak perlu mengirim pengawal tambahan padanya?" tanya Clearwater.


Jose menggeleng. "Marsh, kau sebaiknya ke depan kota. Berjaga di muka gerbang, kalau-kalau Paman Marco butuh bantuan. Dia cuma membawa tujuh puluh orang karena sebagian orang kami dibawa ayahku ke Aston."

__ADS_1


Marsh mengangguk mantap. "Lalu Luke?"


"Luke lebih baik berjaga di Bjork. Melihat lambang Clearwater akan membuat orang-orang tenang." Jose mengedarkan pandangan ke sekeliling, melambai ramah pada gadis kecil yang mengintip padanya dari atas balkon. Ibu dari anak itu segera meyeretnya masuk dan menutup jendela rapat-rapat. "Maria akan baik-baik saja. Dia lebih tangguh dari kelihatannya."


Begitu kata terakhir meluncur dari bibir Jose, satu tembakan meletus dari arah selatan. Ketiga lelaki itu terdiam mematung.


"Itu arah Garnet pergi, kan?" Marsh menoleh. Jose tidak ada di sampingnya. Kawannya sudah lari pergi dan meloncat naik ke atas Run. "Kau bilang dia akan baik-baik saja kan, Jose?" seru Marsh menggoda. "Dia lebih tangguh dari kelihatannya!"


"Dia tangguh, tapi kadang nekat!" balas Jose tangkas, membiarkan Run mendoplak sebentar sebelum memacunya pergi ke selatan. "Aku yakin dia tidak apa-apa, tapi akan kupastikan!"


***


Ketika hendak membuat perhitungan sekalian dengan Charles Hastings, William mendapati bahwa mansion pria itu sudah dipenuhi polisi dan orang banyak. Charles Hastings dan orang-orangnya dibantai dengan brutal. Arthur Spencer menghilang tanpa diketahui keberadaannya.


Seseorang sudah mendahuluinya memburu orang-orang tersebut dan William bisa menebak siapa mereka. Argent.


Kenapa mereka membunuh Hastings? William tidak mengerti. Ia sendiri memburu Charles karena pria itu adalah kaki tangan Frederick Ashington, orang yang mencuri kalungnya dan membawanya keluar dari Rumania. Mungkin ada perseteruan sendiri antara manusia, pikirnya. Sekarang bukan waktunya memusingkan itu. Ia merasakan ada hal yang aneh di Bjork. Link-nya, ikatan yang ia buat di Bjork, entah bagaimana terputus.


Ikatan yang dimaksud adalah gugusan sihir yang ia buat dengan darah orang-orang pilihannya. Lingkaran itu hanya pengaman saja supaya tidak ada harga lebih yang harus dibayar ketika muncul penyesuaian saat pertukaran jiwa. Tidak ada lingkaran itu mungkin saja tidak ada masalah, tapi Maria maupun Marco sekarang bisa lari dari Bjork. Para tumbal lain bisa pergi. Itu jelas hal buruk.


Dan lagi, ini apa? William menatap telapak tangannya sendiri, mengamati dengan bingung partikel-partikel hitam yang melesap keluar dari tubuhnya. Partikel ini milik iblis. Ini adalah partikel yang sama dengan yang biasa muncul saat ia memanggil iblisnya. Namun sekarang William sedang tidak memanggil iblis itu muncul, jadi ia heran kenapa begitu banyak partikel hitam keluar dari pori-pori kulitnya.


Warna hitam itu seperti asap lilin padam, meluncur keluar dari tubuhnya dengan lembut melewati sela dan celah pada kereta kudanya, membubung naik sampai ke langit.


Apa yang sebenarnya terjadi? William, untuk pertama kalinya setelah sekian ratus tahun, kembali merasa cemas. Ia mengangkat tongkatnya dan membenturkan ujungnya ke atap kereta. "Lebih cepat!" serunya. Ia harus melihat sendiri apa yang sedang terjadi di Bjork. Terlalu banyak hal ganjil terjadi dalam satu waktu tidak pernah jadi pertanda baik.

__ADS_1


***


__ADS_2