
"Legenda mengenai scholomance serta solomonari sering dikaitkan dengan Raja Salomo," sahut Rolan, menceritakan risetnya. "Kisah tentang Raja Salomo dari literatur Ibrani dan Yahudi mengisahkan bahwa dia adalah raja yang bijak, yang bisa bicara dengan binatang, bisa mengendalikan cuaca, membangun Bait Allah dalam waktu tiga hari, dan keajaiban-keajaiban semacam itu."
"Yang kutahu, dia bisa melakukan itu semua karena HaShem memberinya cincin bermeterai sigil," Jose menimpali.
HaShem bermakna Sang Nama yang merujuk pada Tuhan, karena dalam kebiasaan Yahudi adalah terlarang untuk menyebut nama Tuhan sebagaimana adanya. Ada tujuh nama Tuhan yang suci, tetapi tidak satu pun boleh diucapkan. Dalam doa nama-Nya akan dirujuk sebagai Adonai dan dalam diskusi menggunakan HaShem.
Jose bukan seorang Yahudi, tetapi ia menggunakan kebiasaan mereka sesuai topik bahasan sebagai bentuk penghormatan. Marco sendiri tidak percaya pada agama dan tuhan atau dewa mana pun, tetapi pria itu memaksa Jose mempelajari semua literatur agama serta banyak mitologi dengan alasan bahwa seorang Argent hanya boleh menolak atau menerima memercayai apa yang sebelumnya sudah mereka pelajari. Jose sendiri tidak terlalu ambil pusing soal percaya dan tidak percaya, tapi segala pelajaran itu masih diingatnya dengan jelas.
Rolan mengangguk pada keponakannya. "Dalam legenda, cincin itu berfungsi untuk memanggil para malaikat sesat, para nefilim, djinn, iblis, atau semacamnya. Legenda menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda. Aku sendiri tidak yakin mengenai kebenaran ceritanya, tapi aku baru saja menemukan info bahwa Charles pernah tinggal di Rumania."
Tuan Stuart mengangguk membenarkan. "Lima tahun dia berada di sana. Menurut Dokter itu ada hubungannya? Apa Anda curiga Baron Hastings adalah solomonari juga?"
"Tentu saja bukan." Rolan menggosok telapak tangannya dengan puas. "Dugaanku adalah: Charles mendapatkan kalung itu, yang adalah milik Sir William, ketika berada di sana. Entah bagaimana caranya menemukan benda itu, mungkin juga dia mendapatkannya dari orang lain lagi. Lalu dia membawanya pada Wallace."
"Wallace?" Jose mengerutkan kening. Ia belum mendengar lebih detail tentang keterlibatan Wallace. Yang ia tahu hanya sejauh pria itu mengenali kalung yang dibawa Marco. "Direktur Pusat Arsip? Tuan Wallace juga berhubungan dengan ini semua?"
Hans dan Gerald saling melirik, tetapi mereka tetap diam. Rolan mengibaskan tangan dengan santai. "Aku sudah cerita padamu kan bahwa Wallace terlibat. Dia tahu keberadaan kalung itu, dan kurasa sudah membukanya. Dia tahu apa isinya, karena itu ketika Sir William datang, dia mengira pria itu akan menyelamatkannya. Dia bahkan menyebutnya beliau. Kurasa Wallace tahu bahwa Sir William adalah solomonari."
Tuan Stuart kebingungan, begitu pula dengan Jose. Rolan dengan sabar menceritakan kembali apa yang terjadi dengan Wallace, bagaimana Marco memancingnya di Gedung Diskusi, bagaimana pria itu datang dan menyerang Marco kemudian ditangkap, serta bagaimana pria itu mati dan dikuburkan di peternakan Argent tanpa nisan.
Jose mendengarkan dalam diam, tetapi makin lama makin muak. Ia merasa terperosok makin dalam ke hal-hal paling gelap, lumpur di Bjork. Berapa orang mati di rumah ini? Berapa mayat dikubur oleh pamannya? Berapa yang menghilang karena monster atau hantu hitam dan berapa yang dihilangkan oleh Marco? Jose merasa ini semua salah. Banyak hal terasa salah di sini.
Wallace memang tidak dibunuh oleh Marco, tetapi bagaimana paman-pamannya bisa tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa padahal seseorang secara misterius mati di rumah sendiri? Bagaimana mereka bisa tidur dengan nyenyak selama ini? Semua orang di ruangan ini, selain dirinya, sudah terlalu sering melihat orang mati dan dibunuh, Jose menyadari itu. Mereka semua terlalu sering membunuh atau melihat orang mati sehingga hati mereka berubah sedingin es. Karena itu semuanya tetap bergeming meski baru saja mendengar kematian Direktur Pusat Arsip.
Apakah ia juga akan seperti itu ke depannya? Apakah ia juga akan jadi dingin dan kehilangan nuraninya, menyelesaikan semua hal dengan pembunuhan? Apakah Marco selama ini mendidiknya untuk jadi seperti itu?
Jose menghentikan dirinya sendiri agar tidak berpikir lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan itu sebaiknya ia simpan untuk ditanyakan ketika Marco kembali. Sekarang ada hal yang lebih penting.
__ADS_1
"Jadi," kata Jose setelah Rolan selesai bercerita, "maksud Paman, kalung ini punya semacam sihir seperti milik cincin Salomo?"
Rolan mengangkat bahu. "Bisa jadi. Tapi sayangnya aku tidak melihat ada sigil di sana."
Jose menggeleng pelan. Ia membuka kembali medalion tersebut, kemudian dengan hati-hati menggunakan ujung kukunya untuk melepas foto yang terpasang di keping bagian atas. Ia meletakkan foto tersebut di atas meja, membiarkan Tuan Stuart mengamatinya lebih saksama.
"Aku menemukan ini waktu mengutak-atik kalungnya semalam," kata Jose, ia memutar medali di tangannya agar Rolan dan Tuan Stuart bisa melihat apa yang ia maksud.
Di permukaan keping medalion bagian atas, tepat di tempat foto tersebut tadinya terpasang, terukir beberapa pola simbol. Yang paling besar adalah lingkaran dalam garis ganda. Dalam lingkaran tersebut terdapat empat heksagram kecil yang diletakkan sesuai arah mata angin. Baik lingkaran luar maupun dalam dipenuhi huruf-huruf Ibrani. Dan di atas lingkaran paling luar terdapat lingkaran lain yang dikurung dalam segitiga. Pada tiap sisi luar bangun segitiga, secara urut tertulis: TETRAGRAMMATON, ANAPHAXETON, PRIMEUMATON. Dan di dalam segitiga tersebut tertulis nama malaikat Michael yang dibagi jadi tiga suku kata.
Baik Tuan Stuart maupun Rolan segera bangkit dari kursi dan membungkuk ke meja untuk melihat lebih jelas ukiran tersebut.
Jose menyerahkan kalungnya.
"Kau tahu apa artinya ini?" tanya Rolan, matanya menatap Jose tajam. "Kenapa tidak bilang sejak semalam?"
"Semalam Paman sudah tidur, aku tidak mau mengganggu," Jose memberi alasan. Ia memang tidak bisa tidur semalaman dan iseng mengutak-atik kalung tersebut karena penasaran dengan denyar panas yang sempat ia rasakan sebelumnya. "Aku tidak tahu itu apa. Tapi melihat huruf-hurufnya, kurasa itu berhubungan dengan mistik kabbalah?"
"Tidak juga, hanya tahu sedikit," Jose mengakui. Ia membaca-baca soal kabbalah ketika menyelidiki soal Sir William di Pusat Arsip.
"Ini Segitiga Salomo," Rolan berkata. Wajahnya bersemu merah karena bangga dan puas. "Fungsinya untuk memanggil spirit. Jose, ini bukan medalion biasa. Ini talisman."
***
Ketika Nolan bangun, hari sudah pagi. Matahari menyiramkan cahayanya ke sungai, membuat airnya tampak keperakan. Seluruh tubuh Nolan terasa nyeri sampai ia sulit untuk bergerak. Sendi-sendinya sakit, lengannya perih dan ngilu sampai ke tulang. Nolan bahkan tidak kuat bangun.
Ia tidak tahu kapan ia tidur, mungkin rasa lelah menguasai tubuhnya sehingga ia jatuh tertidur saat istirahat. Begitu menemukan sungai dan mengenal rutenya, Nolan jadi lebih tenang dan sebentar-sebentar berhenti untuk istirahat, dan semalam ia jelas ketiduran ketika sedang istirahat memejamkan mata sebentar.
__ADS_1
Nolan memaki dirinya sendiri yang terlalu lemah. Padahal kalau ia menguatkan diri, sekarang ia pasti sudah sampai di rumah. Namun tidak ada gunanya menyesal. Ia menghitung dalam hati, memberi aba-aba pada dirinya sendiri untuk bangun.
Pada hitungan ketiga, Nolan berguling bangkit dan jatuh lagi ke tanah. Lututnya nyeri. Kepalanya pusing. Lengannya tidak bisa digerakkan. Ia mencoba bangun lagi untuk kedua kalinya, kini lebih hati-hati dan lembut.
Berhasil. Ia berhasil duduk.
Nolan membuka mantelnya hati-hati untuk melihat kondisi luka di lengannya. Ia sudah mencuci lukanya semalam dengan air sungai, tetapi gagal melilitkan kembali sapu tangan Marco ke lengannya. Ia lupa bahwa akan sulit membuat simpul hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Luka itu sudah tidak berdarah, tapi sekarang berair dan membengkak merah. Sapu tangan biru milik Marco yang bernoda darah dan keringat ia lipat dengan rapi dan ia simpan di saku bajunya. Benda itu akan ia kembalikan dalam keadaan bersih.
Dan kau harus masih hidup untuk menerimanya, Marco, pikir Nolan. Aku tidak mau memberikannya di makammu.
Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mendongakkan wajah, mencegah air matanya yang siap menetes keluar lagi.
Keluarga Argent benar-benar membingungkan bagi Nolan. Yang muda selalu berhasil membuatnya jengkel dan yang tua selalu saja membuatnya meneteskan air mata.
Nolan berusaha mengalihkan rasa sedihnya dengan menggantinya jadi marah. Ia mencoba mengingat saat pertama kali bertemu dengan Marco, mengingat bagaimana ia diikat di gudang jerami dan ditampar. Nolan memainkan kenangan itu pelan-pelan dalam kepala untuk membuat dirinya marah, tetapi gagal. Saat ini ia tidak merasakan emosi apa pun kecuali lelah. Kepalanya kosong. Tubuhnya sakit. Ia ingin tidur dengan nyaman.
Nolan menggeleng pelan, mengenyahkan perasaan melankolis yang hendak menelannya. Ia menggeram kuat ketika memaksa dirinya untuk bangkit dan berjalan.
Orang-orang yang mencarinya punya aksen dan gaya bicara Bjork Selatan. Jadi bahaya baginya untuk kembali ke rumah. Ia akan langsung saja ke Bjork Utara, menemui Jose.
Nolan sudah membulatkan tekad.
"Enak saja menyuruh-nyuruh aku pulang karena ini bukan pertarunganku!" gerutu Nolan sambil menggeret kaki. Ia diam sebentar, kemudian melanjutkan dengan nada congkak, "Aku Nolan. Aku tidak bisa disuruh-suruh orang Utara!"
Setelah mengucapkannya, Nolan tertawa sendiri karena merasa malu sekaligus terhibur. Kalimat tadi enak diucapkan, tapi rasanya memalukan. Bahkan semalam ketika mengulang-ulang menyebut namanya sebagai Nolan da South pun ia agak malu. Ia heran bagaimana Jose dan Marco bisa mengucapkan pernyataan seperti itu tanpa merasa rikuh.
__ADS_1
Nolan menyeret langkahnya menyusuri sungai Bjork, menuju ke Utara.
***