BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 27


__ADS_3

Jose menggeleng heran diberondong pertanyaan semacam itu. “Dia cuma ... yah, aku tidak melihatnya agak jelas. Maksudku, itu jauh sekali, Dok—“


“Jangan seperti orang asing begitu, aku kan pamanmu,” potong Rolan cepat. “Kalau tidak mau panggil ‘Paman’, kau bisa panggil aku ‘Kakak’. Itu terasa lebih enak.”


“Panggil dia ‘Paman’, Jose," Marco memerintah.


“Oke, lanjut lagi, kau tidak melihatnya agak jelas. Tapi kau memang melihatnya.” Rolan menepuk pahanya dengan ringan, mengalihkan pembahasan kembali pada topik utama.


Jose mengangguk mengiyakan. “Awalnya aku melihat dia di pondok Higgins, dan dia ... mengendus-endus, rasanya aneh sekali. Lalu aku memberitahu Paman Marco. Dan kali kedua aku melihatnya, dia ada di sayap barat rumah. Melakukan hal yang sama, mengendus.”


Rolan mengusap dagunya yang tercukur rapi, wajahnya terlihat sedang berpikir keras. “Dua sosok yang kau lihat itu memang sosok yang sama? Kau yakin itu bukan dua orang?”


Jose merenung. Setelah Rolan mengatakannya dengan cara seperti itu, kini ia mulai berpikir jangan-jangan memang ada banyak makhluk seperti itu tersebar di rumah ini. Ia mencoba mengingat kembali apa yang dilihatnya. Sosok hitam yang menggerak-gerakkan kepala seperti sedang mengendus. Tidak ada bayangan lain lagi. Semuanya terlalu samar. Terlalu jauh. Maka Jose memberi gelengan pelan yang berarti tidak tahu. “Aku tidak bisa memastikannya.”


“Kenapa beranggapan bahwa itu memang dua orang?” selidik Marco.


“Lho, bukannya kau yang minta penjelasan ilmiah?” balas Rolan ceria. “Kalau mau pemikiran yang logis, tidak mungkin ada orang berpindah tempat secepat itu! Eliminasi saja hal yang tidak mungkin, kita akan mendapatkan dugaan termudah: ada minimal dua orang berkeliaran di tanah ini. Dan mungkin dua dayang kalian melihatnya secara tidak sengaja, lalu entah apa yang dilakukan orang itu, mungkin menakut-nakuti atau apa, sehingga membuat para dayang ketakutan. Tidak ada tanda kekerasan fisik, mereka tidak melakukan kontak langsung dengan penyusup kalian.”


“Tapi kalau itu memang manusia,” Edgar berkata, “harusnya para pekerja bisa menemukan mereka.”

__ADS_1


“Nah, mungkin mereka bisa terbang?” sahut Rolan enteng. “Atau menghilang? Tapi itu bakal menjadikan para penyusup kita sebagai makhluk magis. Marco tidak mau itu, jadi coret imajinasi barusan. Kita asumsikan mereka punya kekuatan fisik di atas rata-rata, mereka bisa berlari sangat cepat.”


“Rasanya tidak mungkin, secepat apa pun itu. Masa tanpa suara?” Jose menyahut.


“Memangnya benar-benar tidak ada suara?” balas Rolan lagi. “Mungkin saja kau tidak dengar. Mungkin suaranya tertutup suara lain. Ada banyak kemungkinan lain yang bisa kusebutkan.”


“Bagaimana kalau opsi lain?” Marco menuntut.


“Baik, ini yang terakhir. Bagaimana kalau orang-orang itu—hantu itu, penyusup itu, atau apa pun kalian menyebutnya—menemukan jalan rahasia di rumah ini? Kau tahu, seperti yang ada di novel-novel misteri. Ruangan di dalam dinding, atau jalan rahasia di balik lemari buku. Hal-hal semacam itu. Berapa umur rumah ini? Sudah tua, kan?”


“Omong kosong! Rumah ini terus-terusan dipugar dan direnovasi, tidak ada jalan seperti itu!” sanggah Edgar.


“Berapa umur rumah ini?” Rolan tidak mau mendengar.


“Aku melihat sosok itu muncul di sayap barat,” Jose mengumumkan hal yang sudah jelas. Wajahnya terkejut. “Mungkinkah di sana ada ...”


“Mungkin saja.” Rolan menjentikkan jari.


Setelah mendapat ide tentang kemungkinan adanya jalan rahasia, Marco memutuskan untuk mencari cetak biru rumah ini. Ia yakin masih menyimpan benda itu di dalam ruang kerjanya. Atas permintaan Renata dan Edgar, Rolan akhirnya setuju untuk tinggal bersama mereka—setidaknya sampai keadaan jadi lebih aman. Sementara itu, Jose dipaksa untuk tinggal di sayap timur rumah. Awalnya Jose menolak. Argumennya adalah, baik sayap barat mau pun timur sama saja. Penyusup itu pernah ada di kedua tempat. Marco dan Renata memaksa, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan kekeraskepalaan Jose. Maka dua orang pekerja ditempatkan berjaga di depan pintu kamar Jose untuk dua malam berikutnya.

__ADS_1


Jose sendiri merasa bahwa hal tersebut berlebihan, tetapi ia tidak lagi menolak. Bayangan tentang sosok yang mengendus-endus dan mengetahui seluk beluk rumah ini membuatnya sedikit ngeri.


***


Nolan merasa risih dikawal pulang oleh beberapa orang pria besar. Ia merasa seperti seorang badut dan sedang diolok-olok. Ia adalah anak tangguh dari daerah yang keras, tidak seharusnya dikawal pulang seperti bayi cengeng yang tak mengenal dunia.


Sayangnya keluarga Argent jauh lebih keras kepala soal kondisi Bjork. Mereka bersikeras bahwa pukul lima pagi masih terlalu bahaya—tanpa tahu bahwa pada jam segini, Nolan sudah keluar sendiri untuk berjualan jamur di pasar.


Orang-orang mulai turun ke jalanan, polisi patroli sudah mondar-mandir sambil menggosok-gosokkan telapak tangan mereka yang beku. Uap dingin keluar dari mulut orang-orang di jalan. Nolan mengendus, mencium bau pai yang baru dipanggang. Ada bau-bau lain seperti kayu basah, jalanan lembap, bau embun, dan segala aroma pagi. Ia menikmati itu. Sangat menikmati. Andai saja tidak dikelilingi tiga orang pria pekerja yang berbadan besar dan berwajah keras.


Seolah itu semua belum cukup buruk, di sampingnya ada tuan muda keluarga kaya yang kadang-kadang meloncati pagar dinding atau kayu gelondongan. Ditambah lagi ada seorang pria aneh yang mengaku sebagai dokter. Nolan tidak percaya. Dokter yang ia kenal semuanya mengenakan jas putih. Jas putih tersebut adalah seragam identitas para dokter.


Pria berambut cokelat dan bermata kacang yang selalu tersenyum di sampingnya sama sekali tidak kelihatan seperti dokter. Lebih mirip ... orang kaya.


“Kau menatapku lagi,” ucap pria itu, memamerkan deretan gigi putihnya yang bersih ketika tersenyum. “Apa ada yang mau kau tanyakan?”


“Cuma kesal. Aku bisa menjaga diri sendiri,” Nolan menyahut tanpa menoleh. “Kau dan orang-orang di rumah itu selalu memaksakan kehendak. Orang kaya memang menyebalkan!”


“Namaku Rolan, dan aku tidak kaya.” Pria itu tersenyum makin lebar. Dia melambai dan mengangguk pada orang-orang yang menyapa mereka.

__ADS_1


“Omong kosong! Tidak ada dokter yang tidak kaya! Semua dokter itu kaya! Kalian menguras banyak uang dari pasien kalian.”


“Tentu saja tidak begitu. Obat-obatan yang harus diberikan, peralatan yang perlu diganti, serum, buku-buku riset, semuanya itu mahal. Kami bahkan sampai tidak bisa makan untuk membayar segala ini itu. Belum lagi soal capeknya.” Rolan membungkuk pada Nolan, memberi bisikan penuh persengkongkolan. “Aku ini dokter keluarga Argent. Karena mereka menganggapku keluarga, aku tidak dibayar. Mengerti?”


__ADS_2