BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 32


__ADS_3

Maria ikut menoleh sopan, tersenyum anggun ketika melihat sosok di samping Rolan. Ia mengenali Marco, pria tua yang tinggi dan angkuh. Dagu pria itu selalu diangkat tinggi, membuat kelopak matanya turun setengah ketika menatap orang lain.


Maria masih ingat kenangan buruknya dengan Marco. Waktu itu Marco menyinggung rencana untuk menjodohkannya dengan Jose. Sayangnya ide itu terdengar begitu tiba-tiba hingga ia tak sadar tertawa kecil. Baginya, Jose sudah seperti saudara sendiri.


Maria tidak bermaksud buruk, tetapi bagi keluarga Argent yang menjunjung tinggi etika di atas segalanya, tawa Maria adalah sebuah penghinaan. Bahkan meski keluarga Garnet sudah minta maaf dengan sangat rendah hati dan Edgar selaku kepala keluarga Argent juga sudah memaklumi, kelihatannya Marco sama sekali belum melupakan penghinaan itu.


Kini keduanya saling bertukar senyum dan sapa dengan sopan. Maria membungkuk hormat dan Marco membalas dalam kesopanan yang dingin.


“Makan siang sudah disiapkan, kan?” Jose berkata cepat, membuat perhatian semua orang teralih kepadanya.


“Ayolah, Maria baru saja datang! Masa kau mau menyuruhnya makan lalu mengusirnya pergi?” Rolan mengeluarkan jam saku dari kantung celana.“Masih ada waktu untuk ngobrol.”


“Kita masuk dulu ke kamar santai,” putus Marco. Keningnya mengerut dalam. Ia jelas tidak senang melihat tamu dan tuan rumah mengobrol sambil berdiri di depan pintu.


Dipimpin oleh Marco, keempat orang itu berjalan beriringan menuju ruang santai. Letaknya ada di sayap timur rumah. Mereka melewati koridor kaca yang menampilkan rumah kaca Renata. Maria mengekspresikan kekaguman dengan tulus, berharap bahwa itu akan melunakkan kekerasan hati Marco, tetapi hanya Rolan yang memberi reaksi. Bahkan Jose yang biasanya menanggapi dengan ramah hanya diam saja di sisi Maria.


“Kenapa denganmu?” bisik Maria pada Jose ketika Rolan sedang bicara dengan Marco tentang jenis tumbuhan tertentu yang hanya hidup di daerah tropis.


Jose menoleh kaku, menatap Maria dengan sorot heran di matanya. “Kenapa memangnya?”


“Jangan balas tanya, deh! Kelihatannya kau tidak suka aku datang. Apa aku mengganggu atau ... apa? Kalian sedang ada pertengkaran internal?” Maria menangkap seulas senyum tipis di bibir Jose, membuatnya berharap bahwa lelaki itu akan menepuk punggungnya dengan ringan seperti biasa dan berkata bahwa tidak ada masalah yang terjadi.

__ADS_1


Namun sepertinya memang ada masalah. Jose justru balas menatapnya dengan serius untuk beberapa saat, kemudian berkata dengan bisikan pelan, “Setelah makan aku akan mengantarmu pulang. Kau ada kelas kan jam dua nanti.”


Maria mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung. Sekarang ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Jose. Tepat ketika ia membuka mulut untuk memperjelas rasa herannya, Rolan kembali berpaling kepada mereka.


“Jadi, apa yang kalian bicarakan?”


“Cuma soal pelajaran,” Jose menanggapi dengan cepat, membuat kedua bola mata Maria menyorot heran.


Tentu saja mereka memang mengungkit soal kelas dansanya, tetapi rasanya itu tidak bisa masuk kategori pembicaraan yang dimaksud Rolan.


“Bagaimana kabar Nyonya Argent?” tanya Maria, berusaha mengganti topik ke arah yang bisa digapainya.


“Baik,” Rolan yang menjawab, disertai anggukan ringan. “Dia akan bergabung dengan kita nanti. Tapi sekarang sih sedang keluar bersama teman-temannya. Urusan sosial.”


“Aku dengar kalian membicarakan soal Lord Dominic,” Marco berkata ketika mereka memasuki ruang santai. Ia duduk duluan di sofa warna putih yang berada di ujung meja, diikuti oleh Rolan, Jose, kemudian baru Maria searah jarum jam.


Maria mengedarkan pandangan sekilas ke seluruh ruangan sebelum menempatkan pandangannya pada wajah Marco. Ia menelisik rahang tegas dan kumis putih pria itu, tanpa sadar bergidik ketika bertatapan langsung dengan mata hitam dingin yang melekat pada wajah Marco.


“Ya, aku mendengar dari Lady Lidya Jewel. Katanya, Lord Dominic belum pulang sejak kemarin.” Maria mencuri pandang ke arah Jose, memperhatikan kawannya yang sedang menunduk memainkan jari. “Katanya dia ada janji dengan Jose.”


“Tapi dia tidak datang,” ungkap Jose tegas. “Aku menunggunya lama, tapi dia tidak datang. “

__ADS_1


“Ya, aku juga bukan berkata sebaliknya,” kata Maria tergesa, menyadari bahwa Jose sedang tidak dalam suasana hati yang baik. “Aku cuma mengatakan apa yang kudengar dari Lady Lidya. Dia kelihatan sangat cemas, katanya Lord Dominic tidak pernah menghilang tanpa kabar.”


“Ayolah, Dave itu kan memang tukang main.”


“Kita tidak bisa meremehkan orang hilang dalam kondisi seperti ini, Jose,” Maria menyahut kesal. “Orang-orang hilang di Bjork. Kebanyakan dari mereka cuma pergi untuk bertemu dengan teman atau bekerja, lalu tiba-tiba saja mereka lenyap! Aku rasa wajar saja kalau Lady Lidya jadi cemas.”


“Tentu. Aku tidak bilang kalau sikapnya tidak wajar, kan?”


Marco mendehem keras, membuat Jose tergesa menggumamkan maaf pada Maria.


Nah, ternyata memang ada yang tidak beres di sini, pikir Maria heran. Ia sama sekali tidak pernah melihat Jose bersikap seperti itu. Memang, mereka sering sekali bertengkar. Bahkan saat mengantarnya ke pesta yang diadakan oleh Sir William pun, Jose sempat saja mengajaknya bertengkar. Namun yang sekarang terasa aneh bagi Maria. Jose seperti sedang meresahkan suatu hal.


“Mungkin Lord Dominic memang cuma sedang bermain saja.” Maria mengalihkan pandangannya kembali pada Rolan dan Marco. “Tapi menurutku ada baiknya juga kalau polisi secepatnya mencarinya.”


“Keluarganya tidak melapor?” Rolan mengerutkan kening.


“Katanya sudah, tapi mereka disuruh menunggu. Selama belum menghilang sampai dua kali dua puluh empat jam, mereka belum mau bergerak.” Maria menekuri ukiran kayu di atas meja di depannya. Meja itu datar dan berbentuk oval, dengan ukiran etnik di permukaan atas. Lembaran kaca tipis dilekatkan juga di atas meja, membuat hiasan keramik mau pun gelas tetap bisa ditaruh dengan manis.


“Yah, polisi sudah cukup sibuk mengusut banyak orang hilang akhir-akhir ini." Rolan mengedikkan bahu.


“Memang, aku juga paham itu,” Maria mendesah. “Apalagi masih belum ada satu pun korban yang ketemu, itu pasti membuat kepolisian cemas.”

__ADS_1


Jose batuk dua kali, lalu mengangguk menyetujui ucapan Maria. “Memang, kasihan sekali keluarganya. Mereka pasti sangat cemas, ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya pada anggota keluarga mereka yang menghilang.”


***


__ADS_2