
“Kau sudah melihat makhluk itu dua kali—“
“Tiga."
Rolan memutar kepala pelan-pelan, menatap ponakannya dengan mata membulat. “Kata Marco—“
“Tiga,” ulang Jose. “Aku baru saja melihat yang ketiga kalinya barusan tadi.”
Jose menarik napas. Sebenarnya ia tidak ingin buru-buru menceritakan soal hantu yang dilihatnya sampai semua hal berubah lebih jelas. Ia masih ingin menyelidikinya dulu sendirian. Namun Rolan jelas tahu sesuatu lebih banyak dari yang ia duga. Pria itu menyembunyikan banyak informasi dan tidak mau membaginya karena berpikir bahwa Jose masih terlalu naif. Itu adalah hal yang tidak disukai oleh Jose.
Lebih lagi, bercerita soal apa yang dilihatnya bersama Nolan berarti juga menceritakan soal kegiatannya bersama gadis itu. Padahal kalau Rolan tahu, maka Marco sama saja sudah tahu juga. Marco tidak menyukai Nolan. Kombinasi apa lagi yang lebih buruk dari semua itu?
Namun Jose merasa tidak punya pilihan. Rolan punya mata yang awas dan tajam. Jose menyadari bahwa jika ia masih bersikeras untuk tutup mulut tentang yang terjadi, pamannya juga tidak akan mau membuka diri.
“Kau barusan bilang apa? Kapan yang terakhir?” Rolan melangkah sejengkal lebih dekat. Sebelah tangannya mencengkeram bahu Jose.
Jose tidak mengalihkan wajah sekejap pun dari Rolan. Matanya menatap lurus seperti dua bongkah batu permata. Permata berwarna kelam. Sekejap, Jose terlihat dingin dan menakutkan, membuat Rolan tanpa sadar menarik tangannya.
Apa itu barusan? Kurasa darah Argent memang mengalir kuat dalam dirinya, pikir Rolan. Kesan yang didapatnya barusan begitu persis dengan Marco. Tidak seperti Edgar, Marco memiliki sorot mata yang membekukan serta ketenangan luar biasa. Rolan sama sekali tidak menyukai hal itu. Sisi yang memimpin dunia gelap pada diri Marco sama sekali tidak kelihatan manusiawi bagi Rolan. Segala hal yang tidak manusiawi adalah hal yang ganjil. Tidak bisa diterima.
Tadinya Rolan bersyukur bahwa anak-anak dari kakaknya, Renata, sama sekali tidak memiliki darah Argent yang dingin. Ia terutama paling suka pada Jose yang lincah dan selalu melakukan apa yang hanya dikehendaki oleh hati kanak-kanaknya. Rolan benar-benar berharap bisa mempertahankan sisi murni keponakannya.
__ADS_1
Namun ia salah. Barusan ini, Jose benar-benar terlihat memiliki aura seorang Argent yang sejati; dingin, mengintimidasi, mendominasi. Padahal hanya karena satu cengkeraman di bahu.
Rolan menelan ludah. Bibirnya bergetar ketika ia bertanya dengan hati-hati, “Kau tidak salah lihat? Di mana melihatnya?”
“Aku tidak salah lihat,” Jose menggeleng. Wajahnya kembali berubah lembut seperti semula. Ia sendiri sama sekali tidak sadar sudah membuat takut pamannya. Ia hanya tidak senang karena diperlakukan seperti anak kecil dalam sangkar dan disangka penakut. Karena itu ia memberi Rolan keheningan yang agak lama, berharap bisa membuat pamannya menyadari bahwa tanggapan yang sok dewasa adalah hal yang sama sekali tidak ia inginkan saat ini.
“Sosoknya sama dengan dua kali aku melihat di rumah ini.” Jose menatap ke sekeliling kamar dengan waspada, seolah mencurigai tiap sudut barang sebagai tempat persembunyian makhluk itu. “Aku melihatnya di Bjork sebelah selatan.”
“Kapan? Waktu kita mengantar Nolan? Kenapa tidak bilang apa-apa padaku?”
“Bukan.” Jose mengangkat sebelah tangannya dengan pose menyabarkan. “Aku ke sana lagi siang tadi, setelah makan siang. Nolan dan aku berteman, oke? Dia mau mengajariku memancing, jadi kami pergi ke sungai di hutan—“
“Kau pergi ke sungai di hutan sebelah selatan?!” Rolan hampir berteriak histeris, tetapi ia menahan diri. Sebagai gantinya, ia meloncat-loncat di tempat untuk mengekspresikan luapan emosinya. Perasaannya sekarang campur aduk. Marah, kesal, penasaran, cemas, lega, segalanya teraduk jadi satu.
“Kau!” seru Rolan, sekarang keras-keras, tidak peduli kalau didengar oleh orang lain di luar kamar. “Kau! Ke sana! Kau melihat! Astaga! Demi Tuhan, Jose! Kenapa kau tidak bisa diam sebentar di rumah?!”
“Sekarang, Paman benar-benar kelihatan seperti Paman Marco,” komentar Jose. Awalnya ia masih sedikit ngeri membayangkan sosok yang menceburkan diri ke dalam sungai di selatan Bjork, tetapi reaksi histeris pamannya membuat segala horor yang ia alami menjadi kabur.
Rolan melotot padanya dengan marah, kemudian menggeretnya dan mengempaskan tubuh Jose ke sofa sementara dia sendiri duduk di tempat semula. Tubuhnya dicondongkan ke depan, mata Rolan kini menatap sangat serius pada ponakannya. “Ceritakan! Ceritakan semua yang terjadi!”
Jose menceritakan dengan patuh, mulai dari ia menghampiri Nolan di gudang kayu, perjalanan mereka ke sungai untuk memancing, suara tawa yang aneh, hutan yang mendadak sepi, kemudian kemunculan hantu yang mengendus, lalu saat ia lari dengan menggendong Nolan. Jose juga menceritakan bahwa tidak ada yang percaya padanya soal hantu yang ia lihat—Rolan mendengus dan berkata, “Tentu saja! Dasar bodoh!” ketika Jose sampai di bagian itu—serta Nolan yang juga tidak melihat hantu mengendus di seberang sungai. Jose menutup ceritanya dengan mengatakan bahwa kabut turun dan ia harus pergi.
__ADS_1
Meski menceritakan pola dan urutan kejadian secara kronologis, Jose tidak menceritakan isi percakapannya dengan Nolan. Sekarang, ia memandangi pamannya dengan wajah penasaran, berusaha menebak apa yang akan dikatakan Rolan terkait dengan penampakan hantu mengendus untuk yang ketiga kalinya. Ia menebak, Rolan akan melarangnya mendekati Nolan atau pergi ke wilayah Bjork sebelah selatan lain kali. Namun Jose salah.
Hal pertama yang ditanyakan oleh Rolan kemudian adalah kesannya tentang hantu tersebut.
“Kau yakin itu hantu yang sama?”
“Paman sudah menanyakan itu tadi, tentu saja aku yakin.”
“Kalau begitu, makin tidak mungkin hantu itu suruhan Charles,” gumam Rolan. “Dia kan tidak bisa menebak kau akan pergi memancing dengan Nolan.”
“Charles siapa maksud Paman? Charles Hastings? Saingan Paman Marco?” selidik Jose.
Rolan mengangguk perlahan, menimbang-nimbang sejenak apakah dia akan menceritakan semuanya pada Jose. Hatinya menolak. Jose lebih baik tetap dibiarkan seperti sekarang, tetapi ada baiknya ia memberi cerita dari sisi lain.
“Marco berpikir, hantu yang datang ke rumah kita malam tadi adalah ninja suruhan Charles. Menurut Marco, ini semua cuma permainan kotor antara mereka.”
Jose mengerutkan wajah, membuat ekspresi tidak percaya. “Serepot itu cuma demi hasil yang tidak jelas? Kalau aku jadi Baron Hastings, sudah kubakar sekalian separuh rumah ini.”
“Hush,” tukas Rolan cepat, mengulum senyum geli karena pikirannya sama dengan Jose. “Mungkin itu memang benar. Siapa yang tahu? Kadang kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran orang-orang licik seperti mereka.”
“Itu konyol,” Jose mengibaskan tangan sambil memutar bola mata. “Bahkan meski hanya itu satu-satunya jawaban yang mendekati nalar, tetap saja terasa konyol.”
__ADS_1
Rolan tertawa renyah. Ia menatap arlojinya, teringat bahwa masih ada tugas yang harus dilakukan. “Oh ya, aku hampir saja lupa,” ucapnya. “Aku tadi datang ke sini untuk bilang, kakakmu mungkin akan datang.”
***