
Ketika Jose sampai ke kantor polisi, yang bisa dilihatnya hanya ruangan yang berantakan seolah baru saja terjadi gempa. Seorang opsir menemuinya dan dengan sopan mengantarnya masuk ke kantor Inspektur Robert. Gordon sendiri segera ditarik oleh kawannya.
Gerald dan Hans menempel dekat-dekat dengan Jose, tidak ingin kehilangan satu-satunya pemimpin mereka di Bjork saat ini. Tidak semua orang bersikap hormat pada mereka. Nama Argent sering dikaitkan dengan kejahatan dan suap. Seorang polisi membuang ludah ke luar jendela ketika mereka lewat sebagai tanda untuk membuang sial.
Hans sudah mengepalkan tangan hendak memberi orang itu pelajaran, tetapi Gerald melirik penuh peringatan pada Hans. Tidak akan ada habisnya kalau mereka harus mengajari satu per satu semua orang di Bjork tentang kesopanan.
Mereka melangkah masuk ke dalam kamar yang jendelanya berbatasan langsung dengan jalan. Dinding ruangan tersebut dipenuhi piagam, foto, serta pajangan kliping tentang prestasi Kepolisian Bjork. Jose dipersilakan duduk di depan meja kerja Robert, di kursi tamu yang empuk dan mewah. Gerald dan Hans berjaga di ambang pintu, membuat takut opsir yang datang membawakan teh.
Robert adalah pria yang jauh dari menarik pagi ini. Janggut berusia tiga hari menghiasi rahang perseginya. Pipi pria itu lebam hitam dan sebelah matanya merah, agak menyipit dan berair, seperti barusan dipukul. Leher pria itu berkeringat, dan kotor berdebu. Robert mengenakan mantel besar yang menutupi seluruh tubuhnya seolah hendak pergi ke luar.
Jose mengulurkan tangan untuk menjabat, dan Robert membalas sekenanya. Genggaman tangannya terlalu lemah.
Bukan hanya Jose yang sedang mengamati. Robert pun sibuk menilai putra keempat Argent yang dikabarkan akan menjadi pengganti Marco.
Jose Argent yang ia kenal adalah pemuda bengal yang membuat heboh Gedung Diskusi ketika berumur enam belas tahun, membuat seisi Gedung Diskusi mengamuk dan mengejarnya karena menghajar jatuh lima orang yang menghinanya dalam debat. Kemudian pemuda itu melarikan diri dari kejaran dengan meloncat ke atap balai kota, menyuruh siapa pun yang bisa membuktikan bahwa ia berbuat salah untuk menyusulnya naik. Tidak ada yang bisa menyanggupi. Bahkan tidak ada yang tahu bagaimana Jose bisa naik ke sana. Remaja itu turun saat malam hari, setelah Marco datang membubarkan massa—yang separuhnya terdiri dari preman sewaan lima bangsawan yang dihajar jatuh oleh Jose.
Seminggu yang lalu, Jose yang dikenal Robert terlihat tidak jauh beda dari Jose saat berumur enam belas tahun: jahil, bengal, semaunya sendiri, santai, dan sedikit emosional seperti layaknya lelaki muda biasa.
Namun yang ada di hadapan Robert sekarang adalah sosok yang beda. Di hadapannya, duduk dengan gaya tubuh mendominasi, lelaki muda berwajah dingin yang mengawasi sekitar dengan pandangan menyelidik. Seolah seseorang sudah membunuh sisi remaja dalam diri Jose dan menggantinya dengan versi yang lebih buas, lebih kejam.
"Kapan kita terakhir bertemu, Jose?" Robert memaksakan senyum kebapakan. "Kudengar Edgar berangkat ke Aston semalam?"
Jose membalas senyum itu. "Baru empat atau lima hari lalu kita bertemu, Inspektur. Ketika di Bjork Selatan. Saya melihat Anda bersama Paman Marco waktu itu."
__ADS_1
Robert mengangguk pelan. Ia merasa hari itu sudah berlalu sangat lama, seperti sudah bertahun-tahun lalu.
"Anda tentu ingat gadis yang bersama saya, namanya Nolan. Rambutnya pirang, matanya biru, tingginya sekitar seratus lima puluhan senti." Jose mengangkat tangannya ke atas untuk membuat standar ukur.
Robert memicingkan mata. "Entahlah, Jose," katanya. "Ada banyak orang datang dan pergi, banyak wajah kulihat. Dan yang kutahu kau lebih sering bersama putri Garnet."
"Inilah anehnya," Jose mencondongkan tubuh ke depan. Ia menatap ke luar jendela kantor, mengamati lalu-lalang jalan yang terlihat dari tempatnya duduk. "Sersan Gordon melapor pada saya bahwa kalian menahannya di sini. Saya datang sebagai penjaminnya. Apa pun yang telah dia lakukan, saya bersedia bertanggung-jawab penuh atas kerugian yang ada. Saya bahkan akan menggantinya dua kali lipat—itu kalau dia menimbulkan kerugian."
Robert mendengus mendengar uang dilibatkan. Ia memandang rendah taktik itu. "Tidak ada orang seperti itu di sini. Kau pasti salah dengar!"
"Gadis itu mengenakan mantel Argent," kata Jose perlahan. Ia kembali menyandarkan punggung, menyatukan ujung-ujung jari tangannya seperti piramida. "Mantel itu punya emblem Argent, yang berarti dia berada dalam lindungan keluarga kami. Anda tahu apa artinya kan, Inspektur?"
Robert melotot. "Apa maksudmu? Kau mengancamku?"
"Memang tidak ada! Jangan menganggapku bodoh! Semua orang tahu apa yang kau maksud dan ke mana tendensimu dari caramu bicara!" Robert bangkit berdiri, membuat Hans dan Gerald refleks mendekat dengan marah.
Jose mengangkat sebelah tangan, mencegah kedua pekerjanya beranjak lebih dekat. Ia masih duduk menyilangkan kaki di depan meja Robert. "Duduklah, Inspektur. Saya minta maaf jika membuat Anda tersinggung, duduklah."
Meski bicara dengan sopan dan lembut, ada sesuatu yang tajam menusuk dari cara Jose bicara, yang membuat Robert merasa ia tidak punya pilihan selain kembali duduk.
Robert melirik ke belakang Jose. Meski dijaga oleh Gerald dan Hans, pintu kantor terbuka lebar dan semua orang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Robert memainkan taktik pertahanan yang sama dengan ketika ia menemui Rolan. Prinsipnya, ketika bicara dengan Argent dan kroninya, jangan pernah menutup pintu.
"Saya hanya datang karena diminta oleh Sersan Gordon, yang sepertinya cemas kalau mereka benar-benar salah tangkap," Jose meneruskan, tidak menganggap pintu yang terbuka sebagai sebuah halangan. Ia tahu taktik Robert. Bahkan meski inspektur itu berteriak-teriak dan menjerit sampai suaranya terdengar di seluruh penjuru Bjork, itu tidak akan mengubah niat Jose. Halangan besar bagi seseorang untuk menjadi pemimpin di tempat orang tersebut dibesarkan hanya satu: orang-orang di sekitarnya sudah terbiasa melihatnya tumbuh besar dalam kondisi terburuk dan terlemah hingga merasa bahwa tidak ada jarak di antara mereka. Jose tahu Robert masih menganggapnya bocah kecil sok tahu yang suka bermain di atap kota. "Sersan Gordon menyebutnya gelandangan, tetapi dari cirinya, sepertinya orang yang kalian tangkap memang sahabat saya. Namanya Nolan."
__ADS_1
Robert menengok ke belakang Jose, melewati dua pekerja berwajah sangar yang seperti siap menelannya hidup-hidup.
"Panggil Gordon!" seru Robert keras.
Yang dipanggil segera datang. Ekspresinya kaku, tetapi tremor di ujung-ujung jari serta getaran dalam suaranya menunjukkan betapa gugupnya pria itu. Gordon memberi hormat pada Robert, kemudian memberi salam pada Jose.
Jose mengangguk kecil sebagai balasan, dengan angkuh tetap duduk di tempatnya.
"Gordon," kata Robert dengan suara beratnya. Ia berdehem. "Tuan Argent di sini bilang kau datang ke rumahnya, melapor bahwa sahabatnya ada di sini?"
"Tidak, Sir!" Gordon berseru sumbang untuk mengatasi rasa takutnya. "Saya bilang: ada gelandangan mengaku sebagai teman Tuan Argent!"
"Dan apakah nama gelandangan itu Nolan?"
"Tidak, Sir! Saya tidak mendengar jelas nama gelandangan itu, tapi saya yakin bukan Nolan! Saya juga mengatakannya pada Tuan Argent!"
Jose mengangguk-angguk pelan karena memang itu yang dikatakan Gordon ketika menemuinya. "Saat saya menyebut ciri teman saya, Anda mengiyakan. Benar kan, Sersan?"
Gordon melirik Jose sekilas, kemudian segera membuang tatapannya ke dinding. "Saya tidak ingat, Tuan. Pagi ... pagi begitu dingin, saya rasa ... saya jadi meracau. Saya siap menerima hukuman!"
Robert mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kau dengar itu? Aku minta maaf sudah membuatmu jauh-jauh ke sini dengan percuma, ini memang salah anak buahku. Aku akan menghukumnya sendiri nanti."
Jose menarik napas panjang, menatap kedua tangannya yang bertaut di pangkuan selagi menimbang langkah selanjutnya.
__ADS_1
***