
Jose tahu bahwa Rolan sedang diam mendengarkan dari balik pintu kamar. Setelah beberapa kali hampir mati, ia merasa inderanya makin menajam. Namun Jose tidak menyangka Nolan juga bisa menyadari kehadiran Rolan, padahal dokter itu begitu ahli menyamarkan hawa keberadaan.
"Dari mana kau tahu?" bisiknya.
"Ah, dia pergi sekarang." Nolan tersenyum geli. Ia mengetuk ujung hidungnya sendiri dengan ibu jari. "Hidungku lumayan bagus."
Jose tertawa, mengerti Nolan sedang membalasnya. Ia mengembalikan pandangan ke depan, ke arah Maria. "Kau bisa menginap di sini, kan? Aku akan mengirim orang ke mansion Garnet, sekalian menjemput Susan."
Maria mengangguk, tahu bahwa keluarganya akan memberi izin dengan mudah. "Akan lebih baik kalau kau menelepon juga."
"Pasti. Memang itu niatku."
Marsh tidak menggoda kali ini karena tahu betapa berat situasi yang mereka hadapi. "Simon akan dilibatkan?" tanyanya. "Kau akan cerita semua padanya?"
Jose berpikir sebentar, kemudian menggeleng. "Keahlian Simon bukan di sini. Orang yang benar di tempat yang salah justru bisa merusak banyak hal." Ia memikirkan soal urusan dengan Baron Spencer dan Hastings bersaudara, lalu meneruskan, "aku akan membutuhkan bantuannya untuk urusan lain."
"Kalau begitu kami sebaiknya segera pulang dan bersiap," Clearwater mengesah. "Mengumpulkan orang sebanyak yang kau mau jelas butuh waktu."
Marsh mengangguk. "Kau bisa serahkan soal luminolnya padaku. Akan kubeli sebanyak mungkin sampai bisa menenggelamkan Bjork."
"Kirimkan tagihannya padaku," Jose mengingatkan, yang dibalas dengan dengusan tak peduli oleh kawannya.
"Berapa sih harganya? Kalau cuma karena berapa keping perak saja aku sampai mengirim tagihan pada Argent, namaku pasti bukan Adrian Marsh!"
Jose tidak mendebat, tahu bahwa Marsh serius. Ia bangkit, diikuti semua orang yang ada di situ. "Besok akan kuhubungi lagi. Ada sigil pelindung yang harus kuserahkan."
"Besok sore," Clearwater setuju. "Aku akan bawa sebanyak yang kubisa."
Jose menggeleng. "Jangan bawa serombongan. Polisi patroli akan mengusir kalian karena menimbulkan keresahan. Pecahkan jadi beberapa unit. Aku butuh setidaknya ... sembilan kali sepuluh ditambah lima puluh ... seratus empat puluh."
"Aku bisa kumpulkan lima puluh," Clearwater berpikir. "Kau akan memecahnya jadi sepuluh per unit?"
__ADS_1
Jose mengangguk. "Aku akan menyiapkan dua ratusan sigil pelindung. Tapi kualitasnya mungkin tidak akan terlalu bagus. Jujur saja, itu juga belum diuji."
"Lebih baik daripada tidak ada pelindung sama sekali," Clearwater menenangkan. "Aku juga akan menyiapkan senjata. Apa senjata perak akan mujarab?"
"Aku tidak tahu," Jose mengakui. "Lady Chantall membawa rantai besi, tapi itu pun belum diuji juga efektivitasnya."
"Siapkan jimat yang banyak, karena aku pasti bawa dua kali lipatnya orang Luke." Marsh meringis. "Senjata perak kedengaran mahal, tapi kalau itu ampuh, harganya bakal pantas."
Jose tersenyum simpul. "Kirimkan saja tagihannya padaku."
Marsh hanya tertawa. Ia menonjok main-main bahu Jose sebagai salam perpisahan dan membungkukkan punggungnya dengan sikap hormat pada Nolan dan Maria. Clearwater sendiri memberi salam secara adil dengan hanya menganggukkan kepala.
Tanpa perlu disuruh sebelumnya, George sudah menyiapkan dua kereta untuk mengantar Clearwater dan Marsh pulang ke manor mereka. Kendaraan itu sudah menunggu di depan pintu rumah, siap digunakan. Jose mengantar kedua kawannya sampai halaman, memberi mereka kertas sigil berpola tato Gerald dan Hans sebagai azimat.
"Semoga rumahmu diberkati," kata Clearwater dan Marsh berbarengan sebelum masuk ke kendaraan masing-masing.
"Semoga jalan kalian diperluas," Jose menjawab khidmat, menyembunyikan rasa cemasnya dalam-dalam. Ia berdoa sepenuh hati untuk keselamatan kedua kawannya itu.
***
Hanya satu hal yang bisa membuatnya tenang, yaitu ketika sedang melakukan riset. Hari ini ia menyempitkan fokus pencarian pada daftar bencana.
Jika Sir William memang selalu mengulang ritual berdarahnya, pasti ada jejak, pikir Krip. Pasti ada banyak catatan bencana.
Bjork adalah kota sumber segala informasi di Albion Raya ini. Segala arsip yang tidak ada di Aston bahkan tersimpan di Bjork dengan adanya Pusat Arsip. Banyaknya loji semacam Gedung Kesenian maupun Gedung Diskusi juga memicu munculnya bangunan-bangunan serupa, yang justru jadi mendukung derasnya suplai informasi ke Pusat Arsip sebagai bahan penyokong kultur Bjork.
Ketekunan Krip membuahkan hasil. Memasuki jam makan sore, ia berhasil menemukan informasi yang dibutuhkannya hingga rasanya ia ingin melonjak gembira. Sayangnya beberapa arsip yang ia butuhkan masuk dalam kategori berkas yang tidak bisa dipinjam. Bahkan meski ia membujuk dan bahkan meminjam nama Argent, Krip tetap tidak diizinkan membawa pergi berkas tersebut dari Gedung Arsip. Kebijakannya memang seperti itu.
Krip menghabiskan tiga jam berikutnya menyalin banyak hal yang ia butuhkan, keterangan-keterangan dan tanggal serta kutipan yang penting.
Saat ia selesai dengan pekerjaannya, malam sudah turun. Krip meletakkan berkas-berkas yang selesai dibacanya ke troli yang disediakan untuk menampung buku yang sudah dibaca untuk dikembalikan petugas ke tempatnya di rak. Setelah melihat ke sekitar dan tidak menemukan ada tanda-tanda pustakawan mengawasi, Krip menyelipkan satu berkas yang paling penting ke balik bajunya.
__ADS_1
Aku cuma meminjam, bisiknya dalam hati dengan sedikit rasa jahil. Besok kukembalikan.
Kemudian ia menyelinap keluar dengan puas. Hari sudah gelap di luar dan tidak banyak orang tersisa di jalanan. Krip berlari kecil di trotoar dengan tangan berada di perut, menahan buku arsip yang diselundupkan olehnya.
Langkahnya bergema di dinding-dinding batu Bjork. Ia beberapa kali berhenti untuk memastikan apakah yang didengarnya barusan adalah suara langkahnya sendiri atau orang lain.
Di sekelilingnya, jendela-jendela rumah sudah ditutup rapat dan lampu-lampu rumah mulai dinyalakan. Beberapa lampu jalan masih mati, tetapi otomatis berkedip dan menyala begitu Krip lewat. Beberapa lampu memang disetel menyala total baru saat tengah malam.
Lima belas menit lagi sampai ke rumah Argent. Krip menengok ke kanan dan kiri, berpikir untuk menyewa taksi atau menumpang gerobak orang. Sial baginya, tidak ada satu pun yang lewat.
Ia mempercepat jalannya, kali ini mendekapkan kedua lengan besarnya di dada. Suhu mendadak berubah jadi dingin. Ia menyesal hanya memakai tunik tipis dan rompi tak berkancing. Krip melesakkan topi kupluknya dalam-dalam hingga menutupi setengah bagian atas telinganya. Ia berencana ke dapur dulu setelah sampai manor nanti, minta minuman panas, lalu baru melapor pada Marco.
Atau aku akan menghadap dulu, pikir Krip. Tuan Marco pasti akan senang mendapat kabar baru. Ya, begitu lebih baik. Lalu kalau beruntung, aku mungkin akan ditawari minuman panas oleh Tuan sendiri.
Ia memastikan arsip dan catatannya tersembunyi dengan aman di balik ikat pinggang supaya bisa menguapi tangannya yang kedinginan.
Krip baru berjalan selama tiga menit saat menyadari ada yang aneh. Hawa dingin ini tak biasa. Sekarang masih pukul tujuh, tetapi dinginnya begitu menggigit sampai ke sumsum tulang seolah sekarang pukul tiga dini hari.
Pukul tujuh, Krip menyadari. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan panik. Tidak ada siapa pun. Tidak ada polisi patroli seperti seharusnya.
Krip adalah pria besar yang sudah lama terlibat dengan hal gelap yang diurus Keluarga Argent, ia bukan orang yang penakut. Namun saat ini rasa ngeri mencengkeram jantung Krip dengan sensasi panas yang menyakitkan. Sekarang ia mengerti seperti apa rasa takut yang sesungguhnya.
Krip berlari tergopoh-gopoh ke rumah terdekat dan mengetuk pintu, berniat mencari perlindungan sementara. Tidak ada jawaban, bahkan meski ia sudah berteriak-teriak memanggil. Ia pindah ke rumah lain yang lampunya masih menyala. Anehnya, begitu ia mendekat, lampu di rumah tersebut langsung padam. Digedornya pintu kayu tersebut dengan kepalan tangan. Ia bahkan menghantamkan bahunya untuk mendobrak, tetapi tidak ada tanggapan. Krip pindah ke rumah lain, menggedor jendela kacanya dan berteriak-teriak minta tolong. Ia menawarkan uang, juga menyebut nama Argent, tetapi tidak ada respons. Bahkan lampu-lampu rumah di sekitarnya padam satu demi satu, mengurungnya dalam kegelapan. Lampu-lampu jalan mengerjap dalam suara gangguan listrik, kemudian perlahan mati.
Ini bukan perbuatan manusia, Krip menyadari dengan putus asa. Ia mengutuk kebodohannya yang mengabaikan segala kejanggalan. Harusnya ia sudah heran sejak melihat Pusat Arsip kosong melompong. Harusnya ia tidak keluar sendirian.
Krip berlari tertatih karena sendi-sendi kakinya terasa kaku. Langkahnya terhenti di persimpangan jalan begitu ia mencium aroma mawar yang kuat. Aroma mawar yang berlumur darah.
Ekor mata Krip menangkap sesosok pria berdiri diam jauh di sebelah kanan simpang jalan. Ia menoleh gemetar, mengenali rambut pirang keemasan itu.
Sir William.
__ADS_1
***
-Loji: gedung/bangunan besar.