
"Maksudmu?"
"Kau tahu maksudku." Jose berusaha keras untuk tidak memalingkan mata. Maria sama sekali tidak mengintimidasi, juga tidak memasang wajah galak, tapi ada sesuatu dalam mata biru itu yang selalu membuatnya merasa takut. Takut jika menatap terlalu lama, ia akan melakukan atau mengatakan hal-hal bodoh. Takut mata itu akan berubah menatapnya dengan dingin dan asing. "Aku menyukaimu sejak lama."
Nah. Ia sudah mengatakannya. Jose menunduk, kemudian cepat-cepat mengangkat kembali wajahnya begitu sadar bahwa gestur barusan membuatnya kelihatan lemah. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya terasa seringan kapas. Bunyi detik jarum jam mengisi keheningan, menggerus waktu.
Oh dia akan menolakku, pikir Jose putus asa setelah menunggu agak lama dan tidak ada tanggapan. Harusnya aku tidak mengatakan ini. Tidak di sini. Tidak sekarang. Sial.
"Kalau kau tidak bisa menjawabnya, tidak apa," ucapnya pelan, mendadak ingat bahwa Maria pernah menertawakan ide bertunangan dengannya. Pipinya memanas. Harusnya aku sadar diri. Sekarang semuanya akan rusak. "Maaf membuatmu bingung."
"Sejak kapan?"
"Hm?" Jose memberanikan diri menatap Maria, mendapati iris biru safir itu tidak berubah jadi dingin atau asing. "Apanya?"
"Kau bilang kau menyukaiku sejak dulu," ulang Maria tenang. Namun suaranya agak bergetar di ujung ketika meneruskan pertanyaan kedua, "Sejak dulu itu sejak kapan?"
Jose berusaha memikirkan sejak kapan, tapi kepalanya berkabut, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak relevan dengan topik mereka saat ini. Ia malah membayangkan mayat, membayangkan puri Ashington, permainan matrak, Dave, entitas purba yang ditemuinya ketika hampir mati, ayah Nolan. Jose tidak bisa berpikir.
"Sudah lama," jawabnya pelan, mencoba mengulur waktu untuk mengingat. "Kurasa sekitar dua tahun lalu aku baru menyadarinya. Sulit menarik garis batas apakah yang kurasakan adalah rasa sayang pada teman ... atau lebih dari itu. Tapi aku baru mulai yakin dua tahun lalu."
Maria mengerutkan kening. "Kenapa dengan dua tahun lalu?"
"Yah, kau kan menolakku secara tidak langsung." Jose mengangkat bahu, bangga karena bisa mengatakannya dengan tenang meski mengingat cerita itu masih membuatnya sakit hati. Ia tidak ada di sana. Ia tidak mendengar apa yang dikatakan pamannya dulu pada Maria. Ia juga tidak melihat ekspresi Maria. Yang ia tahu hanya sekadar cerita. Namun rasanya ia seperti berada di tempat itu, ditolak sebelum sempat menyatakan perasaannya, sebelum ia bahkan sempat menyadarinya. "Lalu aku jadi berpikir ... banyak hal. Dan aku juga jadi menyadari ... aku ingin bersamamu lebih lama dari orang lain."
"Kenapa tidak pernah bilang padaku?"
__ADS_1
"Bilang? Setelah kau menolakku?"
"Aku kan tidak tahu kau suka padaku! Paman Marco tiba-tiba memberi isyarat soal pertunangan. Sikapnya berputar-putar dan sangat hati-hati, dan aku sendiri tidak tahu kenapa, aku jadi tertawa. Ide itu kedengaran menggelikan!"
Jose memusatkan perhatian pada motif gorden kamarnya, sedikit tersinggung. "Maaf kalau begitu," gumamnya. Belum pernah ia benar-benar berharap meteor datang menghantam bumi seperti sekarang. Ia ingin ada gempa bumi supaya bisa sembunyi dalam rekahannya. Ia bahkan agak berharap ada mayat hidup datang supaya bisa melarikan diri dari situasi ini dan tidak perlu merasa malu seperti sekarang. "Bersamaku memang pasti menggelikan."
"Maksudku bukan begitu. Maksudku ... dulu aku merasa itu ide yang lucu."
"Dulu?"
Giliran Maria yang mengalihkan pandangan. Gadis itu memilin ujung hiasan satin di pinggang dengan sangat khusyuk, seolah itu adalah benda paling menarik di dunia ini. Kedua pipinya yang pucat merona pelan tapi pasti. “Dulu,” gumamnya pelan.
“Lalu sekarang?” Jose seperti menemukan napasnya kembali, mengerti bagaimana caranya menarik napas tanpa merasa sakit. Ia berjalan maju, hati-hati supaya tidak mengejutkan Maria. Gadis itu masih menunduk, kuku-kukunya memainkan benang longgar pada jahitan satin.
Maria melangkah mundur tepat sebelum jemari Jose menyentuh tangannya. Gadis itu membuang muka. “Sekarang aku yang tidak pantas untukmu,” katanya serak.
Jose mendekat selangkah lagi. Maria tersentak seperti kelinci kecil, tapi tidak mundur, juga tidak menolak ketika dirangkul mendekat dan direngkuh dalam dekapan lembut. Mereka sudah sering tiduran bersama di bawah pohon tilia, di Danau Brich. Mereka sering bersepeda bersama dan saling merangkul. Namun sentuhan fisik yang mereka lakukan sebelumnya tidak bisa mengalahkan keintiman dekapan canggung ini.
Maria menyandarkan pelipisnya di bahu Jose, di atas jantungnya yang berdegup dalam detak bertalu-talu. Panas tubuh mereka menular. Sedetik terasa bagai berdekade lamanya. Mudah baginya untuk terlena. Ia bisa saja tetap diam, menyambut uluran tangan Jose dan patuh untuk menunggu dalam perlindungannya. Maria hampir sempat berharap ia dibesarkan dalam keluarga urakan yang seperti itu, yang membuatnya mudah mengingkari kata hatinya sendiri. Namun Maria mengeraskan hatinya sendiri. Jika kebanggaan diri serta kehormatannya ia rusak sendiri dengan mengabaikan nuraninya, mana mungkin ia masih Maria Garnet yang sama dengan yang disayangi Jose?
“Dia sudah menyentuhku,” gumam Maria. Ia ingin mengatakannya dengan ketenangan yang terlatih dan intonasi terkendali, tapi suaranya pecah begitu kalimat itu keluar. “Aku tidak pantas lagi untukmu.”
Pelukan Jose menegang. Lelaki itu melepaskannya dengan cepat. Mata hitamnya menatap menyelidik, membuat Maria menundukkan pandangan. Air matanya kembali meleleh, ia tidak berniat membendungnya.
“Apa maksudmu?” Jose bertanya. “Kalian tidak pernah bertemu, kan? Jangan-jangan saat … kau pergi ke rumahnya?”
__ADS_1
Maria menggeleng lagi. “Aku tidak tahu kapan,” katanya, terisak. “Tapi aku jalan-jalan saat tidur. Tubuhku diambil alih oleh kesadaran lain. Susan … menemukanku malam-malam berbaring di luar dan aku …” Ia berhenti, mendekap dirinya sendiri dengan hati remuk. “Aku melihatnya dalam kepalaku … aku melihatnya berulang-ulang, aku merasakannya begitu nyata … itu menjijikan tapi aku meresponsnya, aku menyambutnya seolah aku benar-benar menginginkan dia. Maafkan aku, Jose … maafkan aku ...”
Meski lututnya terasa lemas, Maria tidak menjatuhkan diri, juga tidak goyah. Gadis itu hanya berdiri diam dengan wajah tertunduk, bahunya gemetar, kedua tangan memeluk lengannya, seperti kuntum bunga yang merapatkan daun untuk melindungi diri sendiri.
Kemarahan yang dingin mendidih dalam diri Jose. Ia tidak pernah begitu ingin membunuh seseorang seperti saat ini, tapi ia menahan diri untuk mengatakannya. Ia tidak boleh tampak marah, tidak saat Maria akhirnya menemukan keberanian untuk mengatakan apa yang terjadi. Ia tidak mau membuat Maria merasa bahwa dirinyalah yang sedang dimarahi. Bisa-bisa gadis itu menutup diri dan tidak mau mengatakan apa pun lagi. Satu langkah yang salah akan membuat Maria merasa terhina dan kehilangan kepercayaan.
Jose sebenarnya berpikir bahwa mungkin saja yang dialami Maria hanya ilusi, tapi ia tahu itu tidak boleh diucapkan saat ini. Menanyakannya hanya akan membuat Maria harus membayangkan kembali apa yang ia lihat, dan itu sama saja menghinanya kembali.
Yang membuat Maria merasa jijik adalah bagaimana ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri—tak ada bedanya meski itu ilusi atau bukan. Maria merasa terhina karena dibuat tidak berdaya, dan gadis itu berniat mengambil kembali kontrol atas dirinya dengan melawan langsung. Jose mengerti sekarang kenapa Maria sebelumnya bersikap sembrono dan membahayakan dirinya sendiri. Bisa saja bagi gadis itu tak ada lagi bedanya antara hidup atau mati.
Jose mengulurkan tangan ke depan, dengan hati-hati menyentuh kedua pundak Maria. Tidak ada sentakan kaget, tidak ada penolakan. Gadis itu percaya padanya.
"Ini bukan salahmu," kata Jose penuh kesungguhan. "Jangan minta maaf. Bukan kau yang harusnya minta maaf."
"Tapi aku ... harusnya ..." Maria menggeleng sedih.
"Tidak ada harusnya, jika tubuhmu diambil alih oleh kesadaran lain saat kau sedang tidak sadar, memang tidak ada yang bisa kau lakukan ..." Jose meneruskan dengan lembut, "bukan salahmu. Jelas-jelas bukan salahmu. Dan kita pasti bisa memulihkanmu setelah ini. Jika ritual itu gagal dilakukan, mereka pasti akan hilang. Kalaupun tidak, kita akan menemukan caranya, pasti."
Maria mengangkat wajah, menatap lelaki di depannya dengan air mata berlinang. "Setidaknya sekarang kau mengerti kan … aku tidak pantas …"
Jose menggeleng tegas. "Mary, kau manusia. Kau bukan barang. Apa yang membuatmu merasa tidak pantas? Aku menyayangimu, dan kalau kau juga merasakan hal yang sama, itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Maria menunduk, terguncang dalam isak lembut. "Aku juga …" bisiknya. Ia menarik napas panjang-panjang dan mengangkat wajah, menatap mata Jose lurus-lurus, kemudian mengulang lebih jelas, "Aku juga sayang padamu."
Rasanya seperti ada ledakan kecil dalam kepala Jose. Untuk sesaat tidak ada yang bisa dipikirkannya. Ia ingin tertawa senang, tapi juga bingung apa yang harus dilakukannya saat Maria sedang menangis seperti sekarang. "Aku boleh memelukmu?" akhirnya ia bertanya.
__ADS_1
Maria menjawab dengan menjatuhkan diri ke depan, menutup jarak di antara mereka dan melingkarkan lengan ke tubuh Jose, memeluknya erat-erat.
***