
Marquis Garnet ingin putrinya segera pulang. Susan mengabari Maria begitu ia kembali ke kamar. Kegemparan semalam dengan mayat-mayat dan juga Jose sudah sampai ke telinga Marquis Garnet.
"Tuan dan Nyonya Besar sudah mengirim kereta, meminta Nona pulang hari ini. Utusan juga sudah datang untuk bicara dengan Lord Argent," Susan meneruskan sembari mengepak barang.
Maria menggigit bibir bawahnya, merasa kesal. Kepalanya sakit dan matanya lengket, ia ingin segera memejamkan mata di bawah selimut, membayangkan kembali apa yang barusan diucapkan Jose padanya pagi ini dan bagaimana lelaki itu memeluknya. Ia sedang ingin mencoba menggunakan semua itu untuk mengusir dengung psikis yang ia rasakan. Namun tidak ada waktu istirahat untuknya.
"Nona," Susan mendekat, meraih satu tangan Maria dan meremasnya. "Mungkin lebih baik kita pulang. Di sini rasanya menggelisahkan. Ada banyak orang lalu-lalang dan ada senjata-senjata juga, saya melihatnya dari jendela. Apa tentang mayat itu benar?"
"Kalau Ayah meminta, kita memang tidak mungkin tidak pulang." Maria mengesah, tidak tahu seberapa jauh ia harus menjelaskan inti permasalahan pada orang lain, jadi tidak menjawab pertanyaan mengenai mayat. "Aku mau bertemu Paman Marco dulu. Carikan topi lebar. Kau bawa kan?"
Susan mengangguk, sudah berjalan ke arah lemari pakaian. "Nona juga akan ganti pakaian?"
"Ya, tentu saja. Ambilkan pakaian yang lebih tebal, rompi, mantel, pokoknya bungkus aku seperti kepom—"
"Nona?" Susan menoleh heran begitu nonanya berhenti tiba-tiba.
Maria berjalan perlahan ke ranjangnya dan menghenyakkan tubuh di sana. Gadis itu tertawa lirih. "Kepompong," katanya geli. "Ya, tentu saja. Harusnya aku sudah menebak apa yang terjadi padaku." Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. Wajahnya ditolehkan pada Susan. "Sue, kalau aku ketiduran siang ini, kau harus langsung bangunkan aku. Jangan sampai aku tidur. Mengerti?"
Susan menyerahkan topi berpinggiran lebar pada nonanya. Gadis itu mengangguk patuh, meski kebingungan. "Mengerti, Nona."
Maria menghela napas panjang, dalam hati berdoa lebih tekun, lebih tulus. Ia tidak ingin ini semua berakhir. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Jose.
"Kyrie, eléison," bisiknya pelan. Sangat pelan. Jemarinya ditautkan di pangkuan. Mata gadis itu menatap lurus ke lantai. "Christe, eléison. Kyrie, eléison."
***
Rolan menangkap lengan Nolan sebelum gadis itu sempat menerjang Marco, kemudian menyeretnya ke sisi rumah, di lorong panjang dengan pilar-pilar tembok tinggi menopang atap. "Kau jangan ganggu Marco. Dia baru bicara serius."
"Aku juga mau bicara serius!" Nolan berusaha menyentak lengannya, tapi tidak bisa. Cengkeraman Rolan justru mengerat.
"Bilang padaku, nanti kusampaikan padanya."
"Tidak mau! Aku harus tanya langsung!" Nolan tidak menyukai dokter itu. Pria itu mengerikan baginya. Rolan punya wajah ramah dan kata-katanya kadang manis, tapi tatapan mata maupun gerakan tangannya memberi isyarat seolah pria itu siap membunuhnya. Nolan lebih suka pada orang-orang yang terus terang seperti Jose atau Marco.
__ADS_1
"Memangnya kau mau tanya apa?" Rolan masih tidak mau melepaskan Nolan. Ia tahu Lady Chantall mengawasi Marco dari jendela kamarnya, dan ia khawatir kalau Nolan sok akrab berlari menerjang atau memeluk Marco seperti kemarin, wanita itu benar-benar akan membenamkan Nolan ke sungai Bjork. Atau akan ada pertengkaran yang tak perlu di rumah ini. Nolan adalah anak yang tidak bisa ia prediksi gerakannya, jadi ia perlu berhati-hati.
"Bukan urusanmu. Lagi pula kau tidak akan tahu!" Nolan menoleh, baru membuka mulut untuk berteriak memanggil Marco, tapi Rolan langsung membekapnya erat dan menyentaknya mundur. Punggung Nolan membentur keras dinding rumah. Ada rasa metal dingin menyentuh kulit lehernya. Pisau, pikir Nolan kaget. Ia tidak melihat kapan pria itu mengeluarkan senjata.
"Dengar, bocah berandal," kata Rolan jengkel. "Kami diburu waktu. Kami benar-benar perlu merencanakan semua hal dengan matang. Aku tidak mau kau mengganggu mereka. Jadilah anak baik dan kembali ke dalam rumah sana."
Bukannya takut, Nolan justru tersenyum. Gadis itu mencondongkan kepala ke depan, menekan lehernya pada pisau Rolan, yang justru buru-buru memundurkan senjatanya agar tidak menggores kulit Nolan.
"Nah! Kau tidak bisa menyakitiku," Nolan tertawa. "Nyonya Argent sudah bilang aku ada dalam lindungannya, dan kau sayang pada kakakmu itu. Jadi tidak mungkin kau melukaiku."
Rolan mengangkat sebelah alis, sedikit terkesan karena gadis itu dengan mudah bisa menangkap bagaimana sistem dalam rumah ini bekerja. Ia menyimpan kembali pisaunya ke balik jas. "Aku tidak akan menyakitimu," ia mengakui. "Tapi aku memang serius bahwa sebaiknya kau tidak ganggu konsentrasi mereka. Katakan saja padaku apa yang ingin kau tanyakan, aku tahu banyak hal yang Marco juga tahu."
"Kau tahu soal ayahku?" tantang Nolan.
Rolan mengerutkan kening. "Kenapa dengan ayahmu?"
"Aku rasa Marco kenal siapa ayahku," kata gadis itu akhirnya, sadar bahwa ia harus benar-benar menjelaskan maunya kalau ingin dilepaskan. "Aku tetap diam di sini karena ingin bertanya padanya. Aku sudah menunggu-nunggu kesempatan, tapi dia selalu sibuk ke sini atau ke sana, atau bersama cewek mengerikan itu."
"Cewek mengerikan yang mana? Lady Chantall?" Rolan jadi tertarik. "Wow jadi mereka memang sudah sedekat itu?"
Rolan terkekeh. "Kenapa kau pikir Marco kenal ayahmu? Siapa namanya?"
"Namanya Titus," kata Nolan, baru saja terpikir bahwa Rolan mungkin juga mengenalnya. "Rambutnya pirang sepertiku. Matanya juga biru. Dia menghilang sejak satu setengah tahun lalu. Ibuku bilang, dia kecelakaan. Tapi tidak ada tubuhnya. Kami mengubur peti kosong. Dia menghilang di Utara."
Rolan mengamati wajah gadis itu dengan cermat, bisa melihat bahwa Nolan menceritakan hal yang sebenarnya. Tidak ada kebohongan. "Baik, aku mengerti. Kau mencari ayahmu. Tapi kenapa kau pikir Marco akan tahu di mana dia berada? Kau harusnya melapor polisi."
"Aku ingat bahwa aku pernah ketemu Marco sebelum ini," Nolan berkata. Ia kembali membayangkan apa yang dirasakannya saat berada di dalam menara, saat ia menyentuh pundak pria itu di tangga, saat ia melihat sosoknya dari belakang. "Tadinya aku tidak terlalu mengerti apa yang kurasakan," jelasnya. "Di beberapa kesempatan, tiap melihatnya aku jadi ingat ayahku. Kupikir itu karena sifat Marco mirip ayahku dan karena itu aku jadi bernostalgia. Mungkin aku cuma kangen ayahku. Tapi setelah kupikir-pikir beberapa hari ini, aku merasa aku pernah bertemu dengannya, dengan Marco. Waktu itu aku bersama ayahku, karena itulah saat melihatnya aku jadi ingat kenangan waktu aku bersama ayahku. Aku ingat bahwa aku bertemu dengannya waktu bersama ayahku, jadi ... "
"Jadi kau pikir Marco akan tahu di mana ayahmu berada?" Rolan mengerutkan kening.
Nolan mengangguk. "Atau setidaknya, dia tahu siapa ayahku. Nona Garnet mengajakku bicara tentangnya dan aku sadar aku tidak terlalu mengenalnya. Aku cuma ..." Ia memainkan kakinya dengan gelisah. "Ingin tahu dia orang yang bagaimana, semacam itu."
"Bahkan kalaupun memang benar kalian pernah bertemu, kenapa kau pikir Marco akan ingat pada ayahmu? Dia bertemu ratusan orang berbeda tiap bulan."
__ADS_1
"Dia sama dengan Jose," sahut Nolan keras kepala. "Dia tidak pernah melupakan orang lain. Dia bisa membedakan orang. Kalau Arabella memang mirip dengan Maria dan mirip dengan perempuan lain yang dibawa Sir William ke sini tiga puluh tahun lalu, kenapa Marco bisa sampai tidak sadar? Aku tanya itu ke Clearwater dan Marsh kemarin, waktu mereka pertama datang ke sini. Mereka bilang, itu karena mata Marco jauh lebih tajam daripada Jose. Jose bisa langsung ingat wajah tiap orang yang datang padanya karena bagi dia, semua orang beda. Marco juga begitu. Dia bisa membedakan dua kembar identik karena baginya tiap orang terlihat beda. Karena itu dia tidak sadar, karena dia melihat Maria, Arabella, serta gadis lain yang dibawa Sir William sebagai tiga orang yang benar-benar tidak mirip."
Lagi-lagi Rolan terkesan. "Yah ... baiklah, aku mengerti. Tapi bukannya lebih cepat kalau kau tanya pada ibumu?"
"Ibu tidak pernah mau menjawab." Nolan mendengus. "Ibu cuma bilang Ayah pedagang. Tapi makin kupikir, aku heran kenapa tidak ada barang dagangan dibawa ke rumah."
"Baik, baik." Rolan memijat pangkal hidungnya, mengerti kenapa Nolan begitu patuh dan tenang dalam manor. Gadis itu hanya sedang mencari kesempatan bicara. "Tapi kau tahu saat ini bukan waktu yang tepat membahas urusan pribadimu, kan?"
"Kalau begitu kapan waktu yang tepat?" balas Nolan galak. Matanya menatap nyalang. "Bagaimana kalau waktu yang tepat itu tak pernah datang?" Mengucapkan itu membuat Nolan sedih. Matanya basah. Ia cukup menyukai orang-orang Argent dengan segala keangkuhan dan juga sifat dingin yang menyembunyikan kehangatan hati mereka. Berada di rumah ini selama beberapa hari membuatnya kerasan, tapi Nolan tahu diri. Ia tidak mungkin berada di sini selamanya. Tempatnya ada di Selatan. "Kalian semua selalu muncul dalam kondisi hampir mati tiap hari, dan aku tidak tahu apakah aku sendiri akan punya kesempatan untuk hidup besok ini atau apakah aku bisa bertemu kalian lagi. Aku ingin memastikan ini sebelum aku pulang!"
Rolan menggaruk kepala. "Kau sangat egois," katanya. Saat Nolan menunduk malu campur jengkel, ia meneruskan, "Aku suka itu. Kadang kita memang harus bersikap egois untuk mendapatkan yang kita mau."
Nolan mengangkat wajah dengan heran. Rolan sudah menepikan tubuh, mempersilakannya lewat. "Aku akan mengantarmu. Tapi kuperingatkan, pacarnya mengawasi dari lantai dua. Jadi jangan peluk-peluk dia kalau kau masih ingin hidup."
"Tentu!" seru Nolan sambil tersenyum.
Rolan jadi menyesal memberi peringatan begitu melihat senyum jahil itu. Jangan-jangan dia malah akan sengaja melakukannya.
Tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Masalah lain sudah datang. Rolan mengerutkan kening ketika memandang ke depan. George datang menghampiri Marco diikuti pria asing yang tak dikenalnya. Dilihat dari pakaiannya, Rolan menebak pria itu hanya pesuruh.
Pesuruh siapa?
***
catatan:
¬Kyrie, eléison. Christe, eléison. Kyrie, eléison\= Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami. Maria mengucapkan pembukaan doa litani.
__ADS_1