BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 88


__ADS_3

Ketika kabut datang, semua orang harus cepat-cepat mencari rumah perlindungan dan bersembunyi dalam ruang yang tertutup rapat. Itu aturannya. Mereka tidak boleh membuka pintu pada siapa pun yang mengetuk jika kabut menebal, jadi Bibi Henna buru-buru mencari rumah terdekat selagi kabut masih tipis.


Ketika berjalan, Bibi Henna mendapati ia tidak sendirian. Ada orang lain yang juga tergesa mencari perlindungan. Ini juga hal biasa di Bjork Selatan, jadi Bibi Henna merasa lega karena ada orang selain dirinya di kabut. Orang itu menawarkan diri untuk menuntunnya melewati kabut karena matanya bisa melihat lebih jelas. Bibi Henna yang senang mendapat teman seperjalanan tentu saja menerima tawaran tersebut. Sialnya, dia bukan dituntun melewati kabut tetapi malah dituntun terjun ke dalam sungai.


Berkat beberapa pedagang yang juga pulang dari pasar, Bibi Henna berhasil diselamatkan. Namun sejak saat itu ia tidak pernah mau lagi pulang pasar sendirian. Apalagi setelah ditelisik dan diselidiki oleh beberapa orang, wajah dari lelaki yang menuntun Bibi Henna adalah wajah orang yang dikabarkan meninggal karena tenggelam di sungai saat hujan badai.


Cerita itu dibahas ulang lagi oleh Nolan dan ibunya, membuat adik-adiknya seketika diam dan menyimak. Mereka sudah sering mendengar cerita itu, tetapi tetap saja selalu berbisik-bisik tegang di sela cerita.


"Menurut Ibu, sebenarnya itu bukan roh orang yang mati," ibunya berkata, ia melipat kedua tangan di depan dada. Sebelah kakinya mengetuk-ngetuk lantai tanah dengan pelan. "Mungkin saja itu makhluk lain yang jahat. Seperti, semacam siluman. Makhluk seperti itu kadang menyamar jadi manusia. Mereka juga bisa disentuh dan bisa dibunuh, tapi jelas bukan manusia."


"Memangnya ada siluman di Bjork?" tanya Nolan, menoyor kepala-kepala adiknya yang ribut bertanya apa artinya siluman.


"Entahlah, mungkin ada. Cerita-cerita semacam itu selalu muncul, dan tidak mungkin ada asap tanpa api, kan? Lagi pula kita di dekat hutan." Ibunya mengedikkan bahu. "Alam memberi banyak energi. Air juga. Makanya kehidupan sering berkumpul di dekat air mengalir. Air yang mengalir juga menyalurkan banyak energi, baik positif ataupun negatif. Kadang, orang bilang, roh-roh manusia sering berkumpul di dekat sungai. Kalau tidak salah, di beberapa tempat, persinggahan kematian juga berbentuk sungai. Dewa kematian mengayuh sampan. Semacam itu. Dalam agama Bjork lama, sungai kita adalah sungai sakral tempat berlalunya jiwa yang sudah mati."


"Kalau gunungnya?" pancing Nolan pelan, teringat kembali pada cerita Sana soal Gladys. "Ada cerita apa tentang gunung Bjork?"


"Nenek lebih tahu soal itu. Setahu ibu dulu ada bangunan di sana. Ada banyak cerita. Katanya bangunan itu kuil, tapi ada juga yang bilang semacam sinagoga atau malah gereja. Ada cerita tentang imam yang sangat baik dan bijak mengajar di sana, tapi Ibu juga dengar cerita bahwa mereka mengorbankan manusia untuk kehidupan kekal. Ibu tidak tahu mana yang benar, mungkin nenekmu tahu. Itu sudah lama."

__ADS_1


Nolan menatap ibunya dengan kagum, bertanya-tanya dari mana semua pengetahuan itu. "Ibu tahu banyak hal, ya."


Ibunya tertawa, bersamaan dengan meletusnya satu kembang api lagi. Mereka semua menatap ke atas langit dengan wajah merona karena pantulan cahaya.


"Tapi, mungkin saja memang ada roh-roh yang tidak tenang," ibunya melanjutkan dengan suara pelan, tidak mau mengganggu keceriaan anak-anaknya yang lain yang masih kecil. "Kadang mereka meminta ditemani. Kadang kematian yang tidak wajar membuat mereka sangat menderita, mereka terjebak dalam dunia yang gelap. Tidak tahu harus pergi ke mana. Beberapa dari mereka bisa menampakkan diri, mengharapkan doa dari kita yang masih hidup di dunia ini."


"Kenapa mereka tidak berdoa sendiri?" tukas Nolan skeptis. "Kalau bisa menampakkan diri sendiri, harusnya bisa berdoa sendiri."


"Kamu pernah melihat sesuatu yang sangat menyeramkan? Sesuatu yang membuat kaget sampai tidak bisa bergerak sedikit pun?"


Nolan teringat pada penampakan Hantu Hitam ketika ia memancing dengan Jose. Waktu itu ia tersandung dan jatuh, dan hanya bisa diam terpaku. Tidak bisa menggerakkan jari sedikit pun. Ia masih merasa malu setiap kali kejadian tersebut terbayang. Harusnya ia bisa bangkit sendiri dan berlari, atau malah menendang hantu itu.


"Lalu?" balas Nolan cepat, "Apa hubungannya?"


"Waktu kamu mengalami kelumpuhan seperti itu, sulit buatmu untuk bicara, kan? Mungkin, roh-roh itu merasakan hal yang sama. Mereka bisa muncul, tapi tidak bisa bicara. Sulit melakukan doa. Makanya, mereka membutuhkan bantuan kita. Ibu tahu, kau kadang tidak berdoa dengan benar. Rasanya malas dan ngantuk, kan? Tapi waktu ada orang berdoa dengan dilafalkan keras, kau jadi bisa ikut membatin dan menyelesaikan doa. Namanya dituntun. Mereka juga butuh tuntunan seperti itu."


Nolan tidak begitu yakin ia memahami apa yang dikatakan ibunya. Terkadang, ibunya memberi penjelasan dengan cara seperti orang-orang Utara bicara, membuatnya penasaran apakah dulu ibunya berasal dari sebelah Utara. Namun ibunya tidak pernah mau membicarakan itu. Orang-orang bahkan bilang ibunya adalah gundik bangsawan di Utara, tapi ibunya hanya tertawa setiap mendengar itu. Dan Nolan tidak pernah bertanya. Ia bisa menunggu sampai ibunya sendiri yang memutuskan untuk bercerita. Yang ia tahu, almarhum ayahnya berasal dari Utara.

__ADS_1


Nolan menatap ke atas, kembang api lain meluncur, membentuk kata Bjork yang indah, disertai bunga-bunga api yang mencolok. Bibir Nolan bergerak lembut, memberi senyum yang manis.


Senyum itu membeku di tempat ketika matanya menangkap ke arah bukaan jalan di hutan, di ujung lapangan hijau. Lapangan rumput tersebut memang kelihatan jelas karena letaknya ada di samping jembatan penyeberangan.


Hutan terletak di sebelah kanan rumahnya. Meski jaraknya jauh, tetapi ia tetap bisa melihat dengan jelas bukaan jalan yang disebabkan masuknya mobil pemadam kebakaran tadi pagi.


Hanya sekilas saja Nolan melihat, karena malam segera gelap setelah kembang api menghilang.


Tetapi ia yakin tidak salah lihat.


Ada sesuatu yang bergerak-gerak di sana, seperti sosok yang bergelenyar, seperti agar-agar yang membal pejal. Nolan mengusap matanya yang sedikit buram karena pengalihan cahaya. Ia mengerutkan dahi, mencoba menatap lebih jelas.


Ya, sekarang ia bisa melihatnya dengan lebih jelas. Makin dilihat, sosok itu jadi makin mewujud. Mata. Hidung. Mulut. Semuanya terbentuk dalam bayang samar hitam.


Seluruh tubuh Nolan menegang. Jantungnya berdegup sangat kencang. Sosok itu kembali membal, tersembunyi di balik sesemakan belukar.


Itu seperti bentuk wanita yang dilihatnya mati di seberang sungai.

__ADS_1


Gladys.


__ADS_2