
Bentuknya seperti jilatan api. Robert tidak pernah melihat yang seperti itu. Tadinya ia pikir tubuh pria di tandu itu berasap karena gosong kena tembak. Namun setelah diperhatikan baik-baik, itu bukan asap. Bentuknya lebih mirip api. Api hitam itu membubung naik ke langit, berkumpul seperti awan mendung tanpa petir.
Marco tidak percaya bahwa ada makhluk yang abadi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki tubuh fisik pasti akan mati jika fisiknya dihancurkan. Karena itu dia membuat rencana ini. Giliran menembak dilakukan untuk menghancurkan tubuh Sir William hingga jadi serpihan daging dan tulang kecil, tapi anehnya pria itu tetap utuh. Tidak ada yang bisa melihat bagaimana persisnya bentuk luka pria itu. Pada tubuh dan wajahnya yang menganga, asap hitam menutupi menghalangi pandangan, rasanya seperti melihat para pekerja Argent menembaki bara api yang barusan disiram air.
Robert hendak mendekati Marco untuk memberi peringatan agar lebih hati-hati, tapi segera dibatalkannya. Marco masih dalam mode waspada penuh dan fokusnya terpusat pada Sir William. Mendekat tanpa disuruh malah akan mengganggu. Akhirnya Robert memberi kode pada salah satu opsir untuk mengikuti pasukan itu dengan pedati berisi amunisi dan senjata. Tuan Stuart secara tegas melarangnya mendekat supaya tidak mengganggu jalan pergantian baris tembak dan baris yang mengisi ulang.
Suara tembakan menggema keras dengan teratur di Bjork. Bau mesiu memenuhi seluruh gang yang dilewati oleh para pekerja, membuat polusi udara.
Dari balkon beberapa rumah yang berada di jalur ke Selatan, juru foto milik beberapa koran sudah disiapkan oleh Lady Chantall. Sekarang pukul sembilan malam, tapi kota sengaja dibuat terang benderang demi bisa mendapatkan gambar yang bagus. Lampu-lampu jalan dinyalakan dan obor-obor disiapkan. Rasanya seperti tampilan Bjork pada saat festival. Hanya saja tidak ada warga sipil di jalanan.
Lady Chantall sendiri ada di salah satu balkon hotel miliknya di Bjork, mengamati kedatangan Marco dengan jantung berdegup cemas campur bangga. Kedua tangannya saling bertautan di depan wajah, masih dalam pose yang sama saat ia mati-matian berdoa sejak tadi. Doanya dikabulkan. Marco masuk kembali ke Bjork tanpa luka sedikit pun. Memang, monster yang diseretnya ke Selatan tidak segera musnah, tapi mereka hampir setengah jalan menuju Selatan. Lady Chantall mulai optimis pada keberhasilan rencana mereka. Ia rasanya ingin berteriak mengumumkan pada semua orang bahwa pria yang dengan berani melawan iblis di bawah sana itu adalah miliknya. Kesayangannya.
Begitu rombongan yang gaduh itu hampir melewati hotelnya, Lady Chantall segera sibuk menata rambut dengan jari. Marco tidak mungkin melihat ke arahnya, tapi siapa tahu? Kalau lelaki itu kebetulan mengangkat wajah, ia ingin bersiap melambai dan memberi senyum paling manis. Setelah ini selesai, pikirnya penuh harap. Ia merapikan lipatan gaunnya. Aku harus memastikan maksud kata-katanya.
Marco mengatakan padanya bahwa mereka akan terus bertemu besok dan besoknya lagi dan terus besoknya lagi. Awalnya Lady Chantall tidak terlalu memikirkan apa arti kata-kata tersebut. Namun setelah beberapa jam merenungkan, ia baru sadar bahwa mungkin saja itu sebuah lamaran. Kedengarannya memang seperti sebuah lamaran. Lagi pula mereka sudah beberapa kali tidur bersama. Meskipun Marco belum memberi jawaban pasti apa yang dia rasakan, tapi Lady Chantall yakin mereka saling mencintai. Ia harap begitu. Ia harap mereka berdua bisa bersama seterusnya. Pasti menyenangkan bisa melihatnya selalu setiap kali ia bangun tidur dan tidur lagi, kemudian Marco akan kembali memasuki tubuhnya lagi dan lagi setiap hari, mengisinya hingga ia terlalu penuh untuk menerima apa pun lagi.
Ah, impian. Lady Chantall menggigit kecil bibir bawahnya. Pipinya memanas.
Seolah mendengar harapannya, Marco mengangkat wajah. Jantung Lady Chantall seperti berhenti berdetak ketika mata mereka bertemu. Ia tidak melambai atau tersenyum. Ia terlalu kaget dan senang sampai tidak bisa bergerak. Kemudian Marco melambai padanya kuat-kuat.
__ADS_1
Ah, bukan. Lady Chantall menyadari dengan ngeri. Punggungnya merinding. Pria itu bukan melambai, tapi mengusirnya pergi. Ia baru sadar sekarang bahwa keadaan di bawah sudah kacau. Beberapa pekerja Argent jatuh di tanah, diam tak bergerak. Matanya bergeser ke arah lain, melihat beberapa orang menembak Sir William—yang kini sudah bangkit dari tandunya dan ikut mengangkat wajah ke atas.
Lady Chantall mengikuti arah pandang pria itu, terkejut ketika melihat tepat di atas hotelnya, awan hitam menggantung membentuk rupa iblis. Itu wajah manusia, tapi begitu aneh, begitu lembek, wajah itu terasa begitu akrab seolah ia pernah melihatnya dulu di suatu tempat. Mulut Lady Chantall ternganga melihatnya. Ia tidak bisa mengalihkan wajah, bahkan meski rupa itu seolah merasuk dan membajak kesadarannya. Matanya panas. Suara orang-orang berteriak panik di bawah adalah satu-satunya hal yang menyadarkan ia dan membuat Lady Chantall bisa mengalihkan wajah.
"Marco!" Ia terkesiap melihat pria itu sudah turun dari kuda, mungkin jatuh karena Marco sedang bangkit dari jalan. Senjatanya tidak ada di tangan. Imbrue juga sudah tidak ada di sana. Lady Chantall segera memutar tubuh dan berbalik turun, suara sepatunya berketak-ketuk di lantai granit yang dingin. Bagaimana ini bisa terjadi? Tadi semuanya baik-baik saja! Kenapa Sir William bisa pulih?
Air mata membuat pandangannya buram. Lady Chantall mengerjap kuat-kuat dan menggeleng, berusaha bertahan agar tidak jatuh. Keributan di luar tidak bisa didengarnya dari koridor hotel, tapi ia bisa merasakannya seolah berada di luar sana. Ia merasa sesuatu seperti dicerabut paksa dari rongga dadanya, membuatnya tidak bisa bernapas. Firasat buruk menggerogotinya.
Ini tidak boleh terjadi! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!
Lady Chantal berlari menuruni tangga. Hak sepatunya patah di tangga kedua yang ia lalui, membuatnya terguling jatuh dengan kepala membentur dinding. Seseorang membantunya bangkit, ia tidak tahu siapa. Setelah mengucapkan terima kasih sekenanya, ia kembali berjalan. Rasanya pusing. Ia melepas satu per satu sepatunya sambil terus menuruni tangga, melemparnya sembarangan ke belakang. Sepatu itu mahal, hiasannya bertahtakan batu opal. Ia tak peduli. Yang ada di kepalanya saat ini hanya Marco. Sekat ingatannya seolah jebol, membuat segala ingatan dan kenangan mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Lady Chantall menyapukan telapaknya ke dinding koridor, menarik napas banyak-banyak selagi mengayunkan langkah, suara kesahnya bergema di langit-langit lengkung yang tinggi.
Udara dingin menerpanya dengan kencang, mengacak-acak rambut ikalnya ke belakang. Mantel cape-nya berkelepak menampar punggung. Ia menoleh ke sana-kemari, menyapukan pandangan ke sekitar. Matanya mencari dan menemukan Marco. Pria itu menghadap ke arahnya jauh di seberang jalan, tertutup tubuh Sir William.
"Jangan," bisik Lady Chantall, tidak bisa menemukan tenaga untuk berteriak. Ia berlari tapi seseorang merangkul pinggangnya, menahannya. Lady Chantall menyikut dan menendang.
"Kau bisa kena peluru nyasar!" seru sebuah suara kasar dan berat. Suara Robert.
Lady Chantall mendengar kengerian dalam nada suara pria itu. Ia menjerit memanggil Marco. “Lepaskan aku, lepaskan aku, aku harus ke sana.” Ia berbisik begitu cepat dan lirih, menghiba pada Robert. Asin air mata mengalir masuk ke sudut bibir ketika ia bicara, “Akan kuberikan apa pun, lepaskan aku Rob.” Sudah terlambat. Matanya melihat bagaimana sesosok monster berkepala gajah keluar dari partikel hitam yang menyelubungi Sir William bak kabut pelindung. Monster itu melayang di udara, bagian pinggang ke bawah menghilang dalam asap seperti menguap. Dia menggunakan belalainya sebagai senjata, menusuk Marco hingga menembus tubuhnya.
__ADS_1
Lady Chantall bersumpah ia bisa mendengar suara tusukan itu, suara sesuatu yang tajam menusuk tubuh manusia. Setelah itu semua suara lain hilang dari telinganya. Ia melihat Marco jatuh ke tanah dengan cepat. Darahnya mengalir begitu deras. Sangat banyak.
Sir William mengedarkan pandangan ke sekeliling, ke arah para polisi patroli yang mulai menembak. Para pekerja Argent mengamuk melihat tuan mereka jatuh. Semuanya berlari menerjang.
Satu tatapan. Hanya dengan satu lirikan saja, semua orang yang mendekati Sir William berubah menjadi serpihan hitam yang hilang diterbangkan angin. Itu serpihan hitam yang sama dengan yang bergulung di langit. Namun kini langit begitu bersih. Tidak ada lagi wajah iblis di sana.
Iblisnya sudah pindah, Lady Chantall menyadari.
Sir William membungkuk, melepas paksa mantel yang dikenakan Marco dan mengenakan untuk dirinya sendiri, menutupi pakaiannya yang koyak karena serangan tembakan. Kulitnya sendiri semulus bayi. Tidak terlihat ada luka.
Tidak, tidak, Lady Chantall masih melawan, membuat mantelnya lepas jatuh ke trotoar. Robert menyeretnya masuk ke sebuah gang karena pintu hotel di belakang mereka tidak mau terbuka.
Jangan, Lady Chantall ingin menjerit. Tidak, kumohon, jangan, jangan ambil dia, jangan. Ketika membuka bibir yang keluar hanya suara tercekik. Keringat membanjiri tubuhnya, membuat kulitnya licin dan berkilat basah. Ia berhasil meloloskan diri dari Robert dan berlari tersaruk-saruk untuk menghampiri tubuh Marco di jalan.
Seseorang kembali menangkapnya. Adrian Marsh. Ia mengenal pemuda itu. Lord muda itu lebih kuat dari Robert.
"Maaf, milady, kita harus berlindung dulu!"
Tidak! Kenapa kalian diam saja? Dia masih hidup. Marco masih hidup, Lady Chantall berteriak. Tidak ada yang menanggapi. Mungkin ia tidak benar-benar bersuara barusan. Segala hal masih sunyi di kepalanya. Ia diseret paksa menjauh, hanya bisa mengawasi tak berdaya bagaimana Sir William menarik tubuh telungkup Marco dari kerah bajunya, menyeretnya pergi seperti karung beras. Kepala berambut perak itu terkulai di dada. Darahnya membasahi jalanan batu Bjork, membentuk jejak seperti lintah. Lampu-lampu jalan padam seiring kepergian keduanya.
__ADS_1
***