BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 131


__ADS_3

Greyland datang menjemput dengan menggunakan kereta yang ditarik dengan enam kuda. Kuda memang lebih cepat dari mobil-mobil keluaran paling baru yang hanya bisa mencapai kecepatan maksimal empat puluh kilo per jam. Apalagi ini enam kuda.


Bersama Greyland juga ada sepuluh lelaki muda bertubuh jangkung dengan tatapan tajam yang berfungsi sebagai pengawal. Tidak ada satu pun dari sepuluh orang itu yang bicara sejak mereka datang ke rumah Argent.


Greyland menatap Rolan sekilas, memberinya pandangan yang seolah berkata, "Ternyata kau masih selamat."


Rolan membalas tatapan itu dengan anggukan sopan.


Selagi menunggu Edgar mengucapkan salam perpisahan pada Renata dan Rolan, Greyland menghampiri Jose. "Tuan Stuart ingin bertemu," katanya. Nada suara dan sikap pria itu mengingatkan Jose pada salah satu teman karibnya, Lucas Clearwater. Kedua orang ini punya tatapan tajam yang sama, yang mengatakan bahwa mereka adalah tipe orang yang serius dengan tiap ancamannya.


"Aku juga sudah mendengarnya dari Krip, tapi aku belum sempat menghubungi Tuan Stuart," balas Jose.


"Aku bisa membantumu soal itu. Besok dia akan datang. Kalau kau bersedia."


"Aku akan berterima kasih kalau Tuan Stuart bersedia datang," sahut Jose tenang, menangkap bahwa Greyland menambahkan bagian kalau kau bersedia hanya sebagai tempelan demi sopan santun belaka. Ucapan Greyland barusan bentuknya lebih mirip desakan. Greyland sudah memutuskan bahwa besok Tuan Stuart akan datang. Jose tidak keberatan. Ia memang ingin menemui pria itu.


Greyland mengangguk puas. Ia mengalihkan wajah, melihat bahwa Edgar sudah siap berangkat. "Sampai bertemu lagi, Jose Argent."


"Semoga jalanmu diperluas, Lord Greyland," Jose membalas salam itu dengan khidmat.


Greyland beranjak pergi darinya untuk berpamitan dengan Renata. Ia mengangguk sekilas pada Jacob sebagai salam, kemudian bersama dengan Edgar melangkah masuk ke dalam kereta. Sepuluh pengawalnya memisahkan diri jadi dua. Lima di kereta Greyland dan lima lagi di kereta kuda yang lain.


Mereka pergi dengan suara derap dan ringkik kuda yang ribut.


***

__ADS_1


Susan, Edna, dan Dale keluar rumah hanya dengan pakaian seadanya yang ditambah mantel luar.


"Sebaiknya kita jangan berpencar," kata Dale saat Susan mengusulkan gagasan tersebut. Sang butler membetulkan letak kaca matanya yang merosot. "Bjork di malam hari sangat bahaya. Polisi patroli sudah pulang, jadi kita tidak bisa mengandalkan siapa pun selain satu sama lain. Lagi pula akan repot kalau kita berpencar karena kita akan sulit berkomunikasi kalau mendapat kesulitan."


Edna setuju. Ia merasa tak nyaman berada di jalanan selarut ini. Tidak ada suara, tidak ada bayangan manusia. Bahkan gelandangan dan wanita penghibur pun bersembunyi pada saat polisi pratroli menyelesaikan rotasi terakhir mereka. Mereka seperti berada dalam kota mati.


"Ke mana Nona biasa bepergian?" tanya Edna.


"Di Danau Brich. Nona biasanya ke sana untuk menemui Tuan Jose Argent."


Dale mengangguk. "Kita coba ke sana."


Ketiganya berlari cepat menyusuri jalan, dengan mata awas memandang sekitar. Uap putih melayang dari hidung dan mulut ketiganya setiap mereka bernapas. Udara malam begitu dingin menggigit kulit, merasuk sampai ke tulang-tulang. Mereka sampai di danau tak lama kemudian, tetapi tidak menemukan sosok Maria.


Saat itu angin bertiup dingin dan awan berarak pelan menyingkir dari bulan. Sinarnya yang keperakan seperti memberi warna pada malam hari. Susan berhenti. Ia membuka mata lebar-lebar. Barusan saja, ia merasa seperti melihat bayangan sosok bergaun putih duduk bersandar di balik pohon tilia yang berada di depan danau.


Susan tidak tahu apakah matanya memainkan ilusi atau tidak. Mereka tadi sudah memeriksa sekitar danau dan tidak menemukan Maria. Tidak masuk akal rasanya kalau mendadak gadis itu muncul di sana.


Namun Susan bersedia bergantung pada apa pun, bahkan pada ilusi, kalau itu berarti ia bisa menemukan tuan putrinya.


"Itu Nona!" Susan berseru gemetar. Tanpa menunggu jawaban baik dari Dale maupun Edna, Susan berlari kembali ke danau. Kepalanya seperti balon yang ditiup hingga maksimal. Ia merasa pening tapi juga ringan. Dadanya terbakar karena ia lari begitu kencang. Sisi perutnya ditusuk-tusuk kram.


Ia tersengal begitu mencapai rerumputan yang menyelimuti daerah sekitar danau. Matanya menangkap sosok bergaun putih dengan rambut cokelat madu. Tak salah lagi, itu memang Maria.


"Nona!" seru Susan. Suaranya pecah karena ketakutan. Ia merasa seperti melihat Maria bersama seseorang. Ada sosok lain di sana, siluetnya jangkung, sedang membungkuk di samping Maria. Orang pertama yang muncul dalam bayangan Susan adalah Jose, mengingat tempat di bawah pohon tilia itu adalah tempat kesukaan Jose dan Maria. Namun tidak mungkin anggota keluarga Argent yang ketat pada tata krama menemui gadis keluarga terhormat malam hari secara diam-diam di tempat sepi. Susan makin kalut. "Nona! Nona!"

__ADS_1


Maria tidak menjawab. Beberapa helai rambut cokelatnya terbang ditiup angin. Susan berlari lebih kencang. Ia mendengar suara langkah Edna dan Dale di belakangnya. Suara itu menguatkan hati Susan.


Angin bertiup lagi lebih kencang. Kali ini bulan kembali tertutup awan. Sekejap, Susan merasa melihat siluet hitam itu bergerak sedikit, tetapi ia tidak bisa melihat terlalu jelas karena pandangannya kabur karena air mata.


Begitu Susan sampai di tempat tersebut, bulan kembali muncul, menampakkan Maria yang tidur bersandar pada pohon tilia. Gadis itu hanya sendirian.


Susan menengok ke kanan dan ke kiri dengan bingung, melihat bahwa tidak ada siapa pun di sana. Edna dan Dale sudah menyusul. Keduanya terlihat bingung.


"Sejak kapan Nona di sini?" Dale membuka mantelnya dan menyelimutkannya pada tubuh Maria.


"Tadi kita sudah memeriksa tempat ini!" Edna berseru heran, tapi juga gembira.


"Yang penting sekarang, kita bawa Nona kembali," kata Susan gemetar, tidak berani mengatakan apa yang dilihatnya barusan. Mungkin ia hanya salah lihat. "Lebih lama lagi di sini, saya takut Nona masuk angin."


Dale mengangkat tubuh Maria dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkannya. Mereka berjalan beriringan meninggalkan danau. Suara rumput yang diinjak membuat musik tersendiri malam itu.


"Mungkin Nona berjalan sambil tidur," kata Edna pelan, masih tak bisa memahami apa yang terjadi. Namun ia bersyukur tuan putrinya tidak menjadi salah satu dari orang-orang hilang di Bjork. "Besok kita harus memanggil dokter."


"Ada untungnya Bjork begitu sepi," Susan menimpali pelan, tidak begitu menyukai kesunyian jalan yang mereka lewati. "Setidaknya, tak ada yang melihat Nona kita dalam kondisi begini. Syukurlah tidak ada seorang pun berani keluar selarut ini."


Begitu kata terakhir selesai meluncur dari bibir Susan, mereka mendengar suara derap begitu banyak sepatu kuda dan geradak ribut roda kereta, kedengarannya mirip badai lewat. Seolah takdir sengaja mengejek Susan, sebuah kereta kuda lewat di hadapannya begitu kencang disusul satu kereta kuda lain yang sama kencangnya.


Kereta kuda itu hitam mengilat, dengan lambang kuda emas berdiri gagah pada kedua kaki belakang milik keluarga Greyland diterakan pada pintunya. Sais dari kedua kereta kuda sama sekali tidak melihat ke arah mereka. Jendela kereta ditutup rapat hingga tak mungkin ada yang bisa mengintip siapa yang berada di dalam sana. Dalam sekejap saja, kedua kereta kuda tersebut sudah berjalan menjauh, menghilang di ujung jalan, hanya menyisakan gema gulir roda melindas paving batu.


***

__ADS_1


__ADS_2