BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 152


__ADS_3

"Kau ... melihat arwah?" Rolan menatap Jose yang saat ini sedang berganti setelan kering—pakaiannya sebelumnya basah kuyup karena keringat. "Di rumah ini?"


"Di mana-mana. Aku melihat banyak hal." Jose mengancingkan kemeja dengan cepat, memakai waistcoat dan melapisinya dengan jas pendek hitam. Di luar begitu dingin, apalagi kalau mereka masuk ke dalam hutan Bjork Selatan nanti.


Rolan sendiri hanya mengenakan jas untuk melapisi kemejanya. Ia tidak terlalu suka mengenakan pakaian berlapis-lapis. "Kau pingsan," katanya hati-hati. "Aku mengawasimu sepanjang hari, merekam tanda-tanda vitalmu. Kau yakin itu bukan mimpi?"


Jose menarik sarung tangan hitam dari laci dan memakainya. Ia menoleh pada Rolan, menatap wajah penuh keraguan itu. "Aku melihat Higgins dan Tuan Wallace sebelum pingsan."


"Nah, itu dia! Kau tiba-tiba sakit kepala dan minta dipukul sampai pingsan. Kenapa?" Rolan mengusap-usap lengannya sendiri, masih merasa seram membayangkan apa yang ia lalui seharian ini. "Renata hampir membunuhku begitu tahu aku yang membuatmu pingsan. Kau harusnya lihat bagaimana George menenangkan para pekerja. Syukurlah kalian punya butler kompeten seperti itu."


"George memang bisa diandalkan. Omong-omong, di mana Xavier dan Nolan?"


"Aku mengurung Xavier di kamar pelayan. Nolan tidur, aku memberinya obat tidur. Dia ingin menendang Xavier dengan kakinya sendiri padahal untuk berjalan saja masih selalu limbung. Anak itu benar-benar liar."


Jose terkekeh. "Liar dan kuat," katanya. Ia mematut diri di depan kaca, menyisir rambut hitam berombaknya dengan jemari. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat sekarang. Itu bagus. Ia tidak boleh kelihatan lemah. "Kuharap Gerald sudah selesai mengumpulkan orang. Aku harus memberi pengarahan dulu pada mereka."


Rolan menangkap lengan Jose ketika lelaki itu lewat. Matanya menatap serius. "Kalau kau salah, kau akan kehilangan kepercayaan para pekerja. Posisimu akan jadi susah. Jangan bergerak kalau kau cuma menebak-nebak di mana Marco berada."


"Aku tidak menebak. Aku melihat Paman."


"Dalam mimpi."


Jose menepis tangan Rolan. Ia menyentuh dada, di tempat talismannya menggantung di balik kemeja. Ditariknya rantai kalung itu hingga bandulnya keluar dari kerah. "Paman ingat ini?"

__ADS_1


"Kenapa dengan kalung itu?"


"Aku sudah cerita kan bahwa ketika aku ke pesta Sir William kemarin, aku juga menyelidiki rumahnya?"


"Ya, keputusan yang gegabah. Kau juga cerita kalau melihat pemilik kalung itu, Arabella."


Jose mengangguk. "Dia membawaku ke pesta lain. Pesta para arwah. Ada begitu banyak arwah, dan Gladys juga ada di antaranya."


"Dan mereka minta tolong padamu, aku masih ingat. Kenapa dengan itu?" Rolan merasa bisa menangkap ke mana arah pembicaraan, tetapi ia membiarkan keponakannya menjelaskan.


"Sebelum aku bertemu dengan Arabella, aku merasa kalung ini berubah panas. Badanku juga terasa tidak enak. Bukankah Paman bilang, sigil yang terukir dalam kalung ini adalah Segitiga Solomon, pemanggil arwah?"


Rolan diam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk. "Pemanggil iblis dan arwah. Pada ukiran di talisman itu, segitiganya juga dikonjungsikan dengan Lingkaran Solomon, lingkaran magis. Lingkaran itu berfungsi sebagai pelindung sementara segitiganya adalah untuk memanggil dan memerintah iblis atau malaikat atau arwah yang datang."


Rolan mengerjap sekali. Dua kali. Kemudian ia terkesiap dan mengumpat. "Aku mengaktifkannya? Karena itu kau kesurupan?"


"Aku tidak kesurupan," sahut Jose masam. Ia memasukkan kembali kalungnya ke balik pakaian. "Ketika mendengarnya di ruang baca, aku jadi bisa melihat banyak arwah di rumah ini, di Bjork. Tadinya kupikir aku melihat mereka, tapi aku salah. Aku bukan melihat mereka, tapi nyawaku yang pindah ke dunia mereka, atau semacam itu. Dan instingku mengatakan, kalau aku tetap sadar dalam kondisi itu, aku pasti akan mati. Tubuhku tidak akan kuat merasakan sakitnya."


Rolan mengerti sekarang. "Karena itu kau minta aku memukulmu sampai pingsan?"


Jose mengangguk. Ia beranjak ke laci meja di kamarnya, mengambil dua pisau belati dari dalam laci. Gagang dan sarungnya terbuat dari karbon. Terasa ringan, tetapi juga kuat. Ia menyelipkan satu ke pinggang sementara yang satu lagi ke balik sepatu boot yang ia kenakan. "Awalnya, aku melihat arwah-arwah itu berbentuk seperti manusia, hanya saja begitu pucat dan dingin, begitu transparan. Kemudian jika diperhatikan lebih baik lagi, mereka semua seperti bola sinar, seperti kunang-kunang. Bjork begitu dingin dan gelap, begitu sunyi dalam dunia mereka." Ia diam sebentar, seolah setengah jiwanya masih ada di sisi lain Bjork, di dunia orang mati. "Kemudian aku melihat berkeliling Bjork. Aku tahu di mana Paman Marco berada. Dia didudukkan di kursi, di tengah lingkaran magis. Aku merasa tidak nyaman mengingatnya sekarang."


Rolan tidak bisa mengatakan apa pun. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, kebingungan. "Maafkan aku," katanya pelan. "Aku benar-benar lupa kau masih membawa kalungnya. Aku seharusnya hati-hati mengucapkan mantera itu—aku tidak tahu. Kupikir itu hanya akan berpengaruh kalau diucapkan semacam orang suci atau solomonari."

__ADS_1


Jose menggeleng. "Paman hanya mengucapkan beberapa kata, tapi aku merasakan efek demikian besar, kurasa itu karena kalung ini asli. Media yang benar memang membawa pengaruh yang kuat. Kalau Paman mengucapkannya di depan coretan sigil yang sama di kertas, mungkin tidak akan berpengaruh. Tapi benda ini memang benda sihir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku mendengar—kalau kalung ini mendengar mantra yang tepat saat kukenakan."


"Dan apa kau masih melihat semua itu? Arwah itu?" Rolan meraih mantel panjang Jose di gantungan, lalu menyerahkannya sebagai bentuk persetujuan, bahwa ia tidak akan meragukan atau menghalangi Jose lagi.


"Tidak. Aku tidak melihat apa-apa lagi sekarang."


"Syukurlah kau bisa kembali pulih. Sungguh, aku benar-benar bersyukur." Rolan membukakan pintu kamar untuk mereka.


"Mereka menyelamatkanku, mengembalikanku ke sini," kata Jose sambil berjalan keluar. Ujung mantelnya berkibas lembut di belakang kaki setiap ia melangkah.


"Mereka?" Rolan menutup pintu, menjajari langkah Jose menyusuri koridor sayap timur.


"Aku tidak tahu siapa mereka, tapi suaranya banyak, dan aku merasa tenang setiap mendengarnya. Rasanya seperti mendengar suara yang sudah lama tidak kudengar, seperti mendengar kerabat jauh yang pulang kembali." Jose menoleh pada Rolan, melihat bahwa pamannya mulai percaya pada ceritanya. "Suara itu juga memintaku membawa satu orang lagi, sayangnya aku tidak tahu siapa orang yang mereka maksud. Aku juga tidak tahu harus membawa orang itu ke mana."


"Lalu?"


"Ada satu suara lagi yang lain, yang ini berbeda dengan suara-suara barusan. Dia minta aku menyelamatkan seseorang ... lagi-lagi, aku tidak tahu siapa yang dia maksud. Kenapa para arwah tidak mau menyebut nama sekalian, sih?" gerutunya. "Aku bingung mereka ini minta apa."


"Kau baru pergi ke sana setengah hari saja sudah dimintai banyak oleh-oleh," seloroh Rolan. "Bagaimana jadinya kalau singgah lebih lama di dunia orang mati?"


Jose tertawa. "Hati-hati, Paman. Kalau Ibu sampai mendengarnya, Paman akan ditenggelamkan ke Danau Brich."


Rolan tertawa hambar, tahu bahwa itu benar.

__ADS_1


***


__ADS_2