BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 181


__ADS_3

"Namanya Nolan," Jose memperkenalkan gadis itu. "Dia temanku dari Selatan. Nolan, yang di kiri itu Adrian Marsh, yang kanan Lucas Clearwater. Kau kenal Maria."


"Nona Garnet," koreksi Maria tajam dengan senyum kelewat manis. Matanya dengan kritis memperhatikan Nolan, yang kini berpakaian sangat rapi dan manis seperti seorang nona dari keluarga terpandang.


Nolan hanya memberi salam hai-halo sekenanya, lalu duduk di sisi sofa Jose, mengabaikan pelototan gemas Maria. Meski sama menyebalkannya bagi Nolan, tetapi ia lebih menyukai Maria daripada Lady Chantall. Setidaknya Maria tidak memandanginya dengan tatapan seolah ingin membunuh.


"Aku tidak ada waktu menjelaskan detail masalah lebih rinci lagi." Jose meletakkan pisau suratnya di atas meja kopi, di sisi cangkir tehnya. Pelayan baru saja datang membawakan makanan kecil dan minuman panas untuk mereka. "Tapi yang jelas aku butuh orang sebanyak mungkin."


"Orang yang bisa membaca?" tanya Clearwater.


"Orang yang siap mati?" Marsh ikut menanyakan kriteria yang dibutuhkan.


Jose menghampiri lemari kabinetnya dan membuka laci pertama, mengeluarkan segulung peta dari sana serta seberkas dokumen. Cepat tanggap, Maria meminggirkan cangkir-cangkir teh dan makanan, dibantu oleh Nolan. Kemudian peta Bjork digelar di sisi meja yang kosong.


"Kalian bisa baca data itu," kata Jose sambil melempar bendelan dokumen yang didapatnya dari Krip ke pangkuan Marsh. Nolan mengenali berkas tersebut sebagai kertas-kertas yang pernah dibahas Jose dengannya, juga di kamar ini. Rasanya seolah baru kemarin ia diseret oleh Maria ke butik dan kemudian mengikuti Jose membahas hantu hitam di kamar ini.


"Ini nama-nama orang yang hilang?" Clearwater membaca lembar demi lembar. Keningnya berkerut melihat kliping koran berisi daftar nama orang hilang. Beberapa nama dilingkari pulpen. "Ini daftar orang hilang yang ketemu?"


Jose mengangguk. "Tidak diumumkan, karena masih dalam penyelidikan," tambahnya dengan rasa bersalah. Ia mengambil pena yang tersedia di landasan bawah meja, lalu mulai mencoret-coret beberapa tempat di peta. "Count Albert hilang di sekitar Jalan Perdamaian di dekat Gedung Kesenian. Lady Ester di kamarnya. Madam Vethoria di cottage Moss Creek."


Tidak ada yang heran melihat Jose menuturkan nama-nama dan tempat orang yang hilang dengan detail, kecuali Nolan. "Kau hapal semuanya?" ia bertanya heran.


"Ingatanku lumayan bagus," sahut Jose. Tangannya tidak berhenti mencoret peta.


Clearwater memutar bola mata. "Kalau ingatanmu yang seperti itu dinilai lumayan, berapa nilai untuk Adie? Parah?"


"Kok jadi aku?" Marsh tertawa. Matanya masih tertuju pada Nolan, yang dianggapnya anomali di kamar ini. Menurutnya, gadis itu kelihatan terlalu rapi dan bersih untuk ukuran orang Selatan. "Jose memang gampang menghapal hal-hal tidak penting, Miss. Taruhan, dia pasti hapal berapa jumlah bintik di mukamu dan letak-letaknya."


"Mengomentari fisik seorang gadis tidak akan membuatmu jadi lebih menarik, Marsh," Maria menegur tajam.


"Semua orang marah padaku. Aku selalu salah di mata kalian," Marsh mengeluh sambil mengusap pipinya yang tergores cincin Maria. Tangannya pindah mengelus dada, seolah barusan ada yang menancapkan panah ke sana. "Maaf kalau menyinggungmu, Miss. Teman Jose adalah temanku juga."


Nolan hanya tertawa. "Wajahku memang berbintik, dan aku suka."


"Bagus, jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu Nona Bintik."

__ADS_1


"Dan aku akan memanggilmu Gorila Mulut Besar mulai sekarang," sahut Nolan tangkas, secara insting tahu bahwa ia sedang mengalami semacam proses inisiasi.


Marsh memicingkan mata, sekilas kelihatan seperti akan tersinggung. Kemudian tawanya lepas dengan ramah. Ia mengangkat kedua tangan dalam posisi menyerah. "Aku kena. Baiklah Miss Nolan, aku tidak akan usil lagi."


Jose berdehem pelan untuk menarik perhatian, mengembalikam fokus mereka kembali ke peta. "Nah, yang diketahui pasti di mana posisi hilangnya hanya sedikit, tapi ini pun sudah cukup. Aku minta orang sebanyak yang kalian bisa untuk menyebar di titik-titik ini, cari dan hapus tanda apa pun yang mencurigakan."


"Tanda semacam apa?" Marsh memperhatikan peta yang penuh tanda silang hitam. "Standar mencurigakan buatmu yang bagaimana?"


Jose memutar pena di tangannya dengan saksama, mengatur ketebalan tinta yang akan ia buat jadi 2 pt, dua kali lebih besar dari ketebalan semula. Kemudian dihubungkannya titik-titik pada peta dengan garis-garis panjang. "Selama ini kita tidak sadar," katanya. "Tapi titik di mana orang-orang hilang ini kalau dihubungkan akan membentuk gugusan sihir."


Sebuah bentuk muncul di atas peta Bjork. Sebuah lingkaran dengan pola heksagram di dalamnya. Lingkaran transmutasi. Maria bergidik melihatnya, sesuatu dalam dirinya bereaksi melihat bentuk itu.


Clearwater sejak tadi masih mencocokkan tempat di peta dengan daftar pada berkas di tangannya. Pria itu mengamati dengan kerut makin dalam di kening. "Ada orang-orang yang tidak kau hitung," katanya.


"Orang-orang itu mungkin cuma pengalih untuk mengacak pola." Jose mengetuk ujung pulpennya. "Kalian tahu tujuh dosa pokok manusia? Aku hanya menghitung orang yang punya satu kriteria yang sama di sini. Satu dosa yang sama."


"Pride," kata Maria pelan, menemukan polanya dari nama-nama yang disebut. Matanya terbuka lebih lebar begitu melihat apa yang ada di tengah gugus sihir tersebut. "Ini rumahmu, kan?"


"Ya, Paman Marco adalah kunci penentunya besok. Penutupnya." Jose menarik napas perlahan. "Karena itu ada banyak golem menyusup masuk sini."


"Golem?" Marsh makin heran.


"Untukku," Maria yang menjawab. Nadanya pahit. "Dia membutuhkanku sebagai wadah untuk menampung jiwa orang lain. Dan untuk melakukan ritualnya, harus ada tumbal dikurbankan. Dia sudah melakukannya sejak dulu, pada orang-orang lain juga."


Clearwater menganga. Ia menatap Jose dengan pandangan bertanya, memastikan kebenaran pernyataan itu.


Jose mengangguk, menjelaskan lebih detail, "Dia ingin menggunakan tubuh Maria untuk menampung jiwa pacarnya. Untuk melakukan pemindahan jiwa harus ada portal yang dibuka. Dan membuka portal tersebut butuh biaya, butuh ganjaran." Ia mengetuk pola yang digambar di atas peta. "Ganjaran darah dan nyawa."


"Romantis," sahut Marsh, masih terheran-heran. Ia buru-buru minta maaf begitu Maria memelototinya.


Nolan menatap Maria agak lama. Ia barusan ingat mimpinya. "Apa kau kenal Arabella?" tanyanya. "Kalian agak mirip."


Jose dan Maria menoleh bersamaan. "Apa?" tanya mereka serempak.


Nolan jadi ingat bahwa Marco juga bereaksi aneh mendengar nama itu. Tahu bahwa kemungkinan mimpinya bukan sekadar mimpi, Nolan menceritakan penglihatannya. "Tapi cuma itu," katanya begitu selesai. "Cuma bilang pada Argent. Aku tidak tahu maksudnya bilang apa."

__ADS_1


"Tapi aku tahu." Jose tersenyum puas. Ia menepuk pundak Nolan dengan penuh penghargaan. "Aku jadi lebih yakin lagi keberhasilan rencana ini, berkat kau."


"Apa rencanamu?" Maria ikut antusias.


"Pertama," Jose berkata. Matanya kembali menatap peta. "Hapus tanda yang dibuat Sir William supaya lingkaran transmutasinya bubar. Aku menduga dia membuat tanda itu dengan darah. Darah adalah medium yang bagus untuk melakukan sihir. Terutama, dia pasti menggunakan darah korbannya." Ia memejamkan mata, mengusir bayangan mayat kering Higgis dalam benaknya. "Tapi siapa tahu ada yang lain. Jadi apa pun yang kelihatan janggal, geser atau hancurkan saja."


"Kalau ada darah berceceran, pasti polisi sudah menemukannya, kan?" sergah Maria heran. "Dan kalau mengikuti ceritamu, berarti gugusan ini sudah dibuat sejak lama? Minimal sejak tiga atau empat bulan yang lalu karena Sir William baru datang sekitar bulan Oktober."


"Yah, itu bagian sulitnya. Jejak darahnya pasti hilang dan pudar," Jose menyahut. "Mungkin darah yang diteteskan hanya sedikit makanya tidak dihiraukan orang-orang sejak dulu? Mungkin hanya setetes."


"Kau bermaksud mencari tetesan darah di kota seluas ini?" tanya Nolan heran.


"Kita masih punya waktu maksimal empat hari." Jose masih menampilkan wajah tenang, seolah segala hal ada di bawah kendalinya. Ketenangan lelaki itu menular pada kawan-kawannya. "Dan karena itu aku butuh banyak orang. Aku tahu kita bukan mencari sesuatu di kamar, tapi di kota. Itu jelas sulit. Tapi setidaknya kita punya gambar rute di mana harus mencarinya. Tidak harus membalik setiap batu di Bjork, hanya pada titik gugus tertentu saja."


"Soal darah," Clearwater menyela. "Itu bisa ditemukan lebih mudah dari perkiraanmu."


Marsh menoleh. Mulutnya membuka dalam bentuk lingkaran. "Kau benar!" serunya, menepuk paha keras-keras. Ia menoleh kembali pada Jose dengan penuh semangat. "Kemarin, aku dan Luke diskusi soal ini dengan Simon! Kami bicara soal jejak pembunuhan, dan Simon memberi tahu ada cara polisi untuk mencari jejak darah. Bahkan meski sudah lama atau dihapus pun, tetap akan kelihatan."


"Caranya adalah?" tanya Jose.


"Luminol," jawab Clearwater. "Cairan atau bubuk luminol. Jejak darah akan sedikit bercahaya di tempat gelap kalau terpapar zat itu. Makin lama bekasnya, makin jelas cahayanya. Kita bisa beli atau buat sendiri sebenarnya, tapi jelas butuh banyak kalau kau mau menyemprotkan itu ke seluruh dinding Bjork. Banyak biaya juga."


"Oh, dompetku cukup tebal." Jose menyeringai, mulai menemukan titik terang. Ia menoleh pada Nolan. "Omong-omong, kau kabur dari siapa sih? Cewek yang mana maksudmu?"


"Cewek itu." Nolan memutar bola matanya. "Cantal cantal siapa itu. Dia menyebalkan sekali."


"Lady Chantall?" Jose mengoreksi. Ia tertawa. "Karena kau memeluk Paman, kan?"


"Marco tidak keberatan, jadi kenapa dia marah-marah?" sungut Nolan.


"Marco?" seru Marsh, Clearwater, dan Maria bersamaan.


Nolan menghindari tatapan Maria. Ia sebenarnya hanya meniru cara Maria yang sengaja memanasinya dengan mencium pipi Jose tempo lalu. Entah kenapa Nolan merasa waswas sekarang, tidak mau Maria tahu ia mengimitasi gadis itu. "Aku boleh memanggil namanya saja. Dia sudah mengizinkan, kok."


Jose menaikkan sebelah alis, tak percaya. "Kalau kalian seakrab itu, tolong bantu aku bikin alasan," katanya. "Paman pasti marah karena aku kabur dari rumah diam-diam."

__ADS_1


"Marco tidak terlalu marah," sahut Nolan sambil mengangkat bahu. Ia mendekatkan kepalanya pada Jose dan berbisik, "tapi pamanmu yang satu, yang sedang menguping di balik pintu, dia mungkin marah."


***


__ADS_2