BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 119


__ADS_3

"Baik, aku tidak akan bilang kalau kau percaya," kata Nolan, yang mulai bisa meraba-raba bagaimana cara bicara dengan Marco. "Apa yang membuatmu yakin kalau orang tadi berkata benar?"


Marco melengos. "Percaya dan yakin itu dua hal yang sama, Nak. Aku mengambil kesimpulan bahwa dia tidak berada di pihak lawan karena beberapa hal. Satu, dia kooperatif. Kelihatannya saja dia memaki dan mengutuk barusan, tapi dia sengaja memberi kita informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sini. Robert ada dalam situasi di mana ia tidak bisa mengatakan hal jujur. Dia di sini bukan karena dia menyukainya. Dia menyebut makhluk itu monster, itu sudah garis yang jelas bahwa ia tidak berada di pihak mereka. Dan seperti yang kau katakan tadi, dia tidak bertuan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima bahwa ia harus mematuhi orang lain. Bahkan ketika denganku pun ia bersikeras menekankan bahwa kami hanya bekerja sama. Tidak ada atasan atau bawahan."


"Kalian bekerja bersama?" tanya Nolan. "Pantas saja kau percaya padanya."


Marco tahu Nolan sengaja ngotot menggunakan kata percaya untuk membuatnya jengkel. "Dan yang kedua," lanjut Marco sambil berbalik, kini menatap Nolan lurus-lurus. "Dia tidak menembakmu. Dia bisa menembakmu tadi, Nak. Tapi dia tidak melakukannya, makanya aku bisa merebut kembali senjataku dari tangannya. Padahal kalau dia menembak, apa ruginya bagi dia? Tidak ada. Tapi dia tidak menembakmu. Dia membiarkan dirinya diterjang jatuh, bahkan meski dia mendengarku menertawakannya. Kau tahu kenapa dia tidak menembakmu?"


Nolan tidak tahu. Ia menggeleng kaku.


Marco menyunggingkan senyum dingin. "Karena dia masih Robert yang baik dan berhati baja, pembela kebenaran. Dia tidak akan tega melukai anak tak bersalah. Kebaikan hati adalah duri dalam daging."


"Maksudnya?" Nolan tidak mengerti.


"Maksudku, dia ada di sini untuk investigasi pribadinya," Marco menyahut muram, kembali mengetuk-ngetuk dinding di sekitar elevator. "Dan kemunculan kita jelas memberi perkembangan tak terduga dalam investigasinya. Nah, sekarang biarkan orang tua ini memberi satu nasihat padamu."


Nolan mengusap-ngusap kedua lengannya berapa kali dan memeluk dirinya sendiri. Ia tidak ingin nasihat. Ia kedinginan. Pipinya juga sakit karena ditempeleng, rasanya kebas. Besok pasti memar. Ia ingin pulang, tapi Nolan tidak mau mengatakan itu karena takut kedengaran cengeng. Ia menggerak-gerakkan kaki dengan gelisah, mencoba tetap hangat. Marco melihatnya. Ia melepas jas mantel panjang yang dikenakannya, kemudian menyelimutkannya pada Nolan dengan gerakan luwes. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih yang dilapis waistcoat hitam sebagai atasan.


"Jangan pernah gegabah lagi seperti tadi," kata Marco serius. "Apa kau tidak bisa bergerak sesuai rencana? Kenapa menerjang orang yang membawa senjata? Untung Robert tidak menembak. Memangnya kepala kecilmu ini cuma hiasan?"


Otak Nolan lambat memberi respons karena emosinya masih campur aduk. Mantel yang disampirkan ke bahunya terasa hangat, dan ia tersentuh dengan kebaikan Marco, tapi ia juga jengkel mendengar berondongan pertanyaan retoris barusan yang diucapkan dengan nada begitu menghina.


"Kan kau yang menyuruhku menerjang?" tanyanya, akhirnya memberi jawaban dengan suara parau. "Kau memberiku tanda menyerang, aku melihatnya!"

__ADS_1


Marco melotot. "Itu tanda untuk merunduk sembunyi, bodoh! Bukan menyerang!" desisnya. Ia tidak bisa memutuskan apakah Nolan adalah anak yang terlalu percaya diri atau justru terlalu percaya padanya.


"Aku kan tidak tahu," sahut Nolan sebal, tapi alisnya tidak berkerut sedalam tadi. Kini matanya bahkan berkaca-kaca. Ia segera memalingkan muka, menyembunyikan wajahnya ke kegelapan.


Marco memaklumi emosi Nolan. Gadis itu menyaksikan peristiwa yang aneh, dikejar monster, dan dalam kondisi terikat di penjara tanpa mengetahui apa duduk perkara masalah. Nolan terlibat dalam semua hal ini hanya karena pernah kebetulan menampung Jose dan kemudian mengantarkan kalung ke rumah Keluarga Argent. Menurut Marco, seharusnya Nolan tidak terlibat dalam hal ini.


Sehari penuh telah lewat sejak mereka ditangkap. Keduanya belum makan atau minum, tapi rasa tegang memang membuat mereka tidak nafsu makan. Namun Marco tahu Nolan pasti sudah sampai pada batasnya, semua ini jelas terlalu berat untuk anak seusianya.


"Permisi sebentar, aku akan bersikap tidak sopan," kata Marco sambil memutar pundak Nolan hingga menghadapnya, membuka mantelnya yang kini melingkupi tubuh Nolan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku ganda di mantel tersebut. Ia mengeluarkan sebatang kecil cokelat dari sana dan meletakkan makanan itu ke tangan Nolan. "Makan," perintahnya.


"Huh?" Nolan menatap cokelat di tangannya dengan bingung. "Memberiku makanan adalah sikap tidak sopan bagimu?"


"Merogohkan tangan ke mantel yang dipakai orang lain itu tidak sopan," sahut Marco dengan nada bangsawannya. "Bahkan meski itu mantelku, tetap saja tidak sopan. Dan kau harusnya bicara padaku dengan sopan. Ck, anak zaman sekarang."


Nolan tidak bisa memahami kenapa mendadak Marco memutuskan untuk bersikap menyenangkan padanya, tapi ia tidak akan memprotes hal itu. Ia tidak lapar, tapi cokelat itu kelihatan enak. "Kau selalu menyimpan makanan dalam mantel ... Tuan?"


"Kau bisa diabetes," komentar Nolan. Ia melirik Marco. "Ya, ya, aku tahu kau mau bilang apa. Kau Marco Argent, kau tidak mungkin kena diabetes. Ya kan?"


Marco menatap Nolan dengan dahi berkerut, tetapi kemudian mengerti dari mana referensi pendapat itu. Ia hanya tertawa, kemudian membungkuk untuk memungut hal yang menarik perhatiannya. Robert membawa lampu minyak. Ketika Nolan menabraknya, lampu itu jatuh dan untungnya benda itu tidak rusak atau pecah dan terbakar. Lampu minyak itu hanya padam. Minyaknya tercecer sedikit, tapi isinya masih banyak.


Marco membetulkan kap lampunya yang peyok dan miring, kemudian menyalakannya kembali dengan bantuan obor.


Nolan sudah membuka bungkus cokelatnya. Ia mematahkan cokelatnya jadi dua, kemudian menyerahkan separuh bagiannya pada Marco, yang menolak dengan sopan.

__ADS_1


"Kau barusan menggunakan otakmu ... Tuan," Nolan masih berusaha untuk sopan, meski ia tidak terbiasa. Ia sedikit sakit hati karena ditolak. Sejak tadi ia merasa melakukan banyak hal dengan salah. "Katamu, kalau menggunakan otak, kau butuh asupan gula."


"Bersikap sopan tidak cukup cuma dengan menambahkan kata tuan di setiap akhir kalimat. Ganti kau dengan Anda. Kita tidak sepantaran, baik secara umur maupun status sosial."


Nolan memutar bola mata. "Ya sudah kalau kau tidak mau. Cokelatnya kumakan sendiri," katanya jengkel, sengaja menolak menggunakan kata Anda. Ia benci dikritik saat sedang berusaha melakukan sesuatu.


Ketika ia melihat sudut bibir Marco terangkat dalam senyum kecil, Nolan baru sadar bahwa ia dimanipulasi. Marco hanya memainkan trik untuk bisa menolak tawaran cokelat tadi tanpa membuat Nolan kehilangan muka.


***


"Tidak, aku tidak sering menemuinya," kata Maria heran. "Kenapa?"


Jose tidak menjawab. Ia justru menoleh pada Susan, yang masih menunggu dengan sabar di sisi Maria. "Akhir-akhir ini dia sakit tidak?"


Susan mengangguk, kini terlihat cemas. Semua orang tahu bahwa Keluarga Argent berkecimpung dalam hal-hal gelap. Jadi ia pikir mungkin Jose tahu sesuatu mengenai penyakit Maria. "Nona selalu tidur setiap siang hari, tidak mau kena sinar matahari, dan tadi sempat muntah."


"Sue!" tegur Maria keras. Pipinya merona dalam semburat kemerahan. Matanya berkilat jengkel. "Beraninya kau menjawab tanpa izinku!"


"Saya takut ini ada hubungannya dengan bintik merah itu," kilah Susan. Ia menoleh kembali pada Jose. "Apakah ada hubungannya, Tuan?"


"Apa kata dokter?" tanya lelaki itu.


Maria melotot pada Susan, kemudian berpaling ke depan. "Dokter bilang, aku tidak apa-apa. Cuma kelelahan. Nah, sekarang ayo pergi! Kita bisa terlambat kalau ngobrol di sini terus! Waktu kan tidak menunggu kita."

__ADS_1


Jose masih ingin mendesak, tapi Maria benar. Mereka harus segera berangkat sebelum hari terlalu gelap dan polisi patroli berkeliaran.


***


__ADS_2