BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 234


__ADS_3

Clearwater segera bergabung dengan Marsh dan Robert di sudut Bjork begitu angin ribut berhenti dan tidak ada suara-suara lain. Ia melihat semua orang kebingungan. Lady Chantall pingsan dalam gendongan Marsh.


Marsh menangkap arah pandangnya dan segera mengangguk mengakui, “Aku yang membuatnya pingsan. Lady Chantall pikir Lord Argent masih hidup.” Dia menggeleng dengan wajah pucat. Suaranya gemetaran. “Aku tahu bagaimana cara membunuh orang, Luke. Ditusuk di situ tidak mungkin masih hidup. Darahnya membanjiri Bjork. Dia pasti sudah di alam lain. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Atur ulang pasukan,” kata Clearwater tenang. Ia mengerutkan kening sedikit menahan sakit. Ia pernah berkelahi dengan seseorang saat masih remaja dan lawannya memberi satu pukulan telak di rahang. Sampai sekarang rahangnya masih selalu sakit setiap kali ia mencoba bicara. Orang mengenalnya sebagai pria yang irit bicara. Ia memang menghindari banyak bicara supaya tidak membuat kepalanya sakit. Nyeri di rahangnya bisa menjalar sampai ke kepala dan bahkan belakang matanya. Ia bahkan tidak bisa mengunyah dengan benar tanpa merasa sakit. “Inspektur Robert sebaiknya tetap di sini. Lord Greyland sebentar lagi akan datang, kan? Dia bala bantuan yang ditunggu Argent. Sementara itu, aku dan Marsh akan menemui Jose. Kita bagi pasukan sama banyaknya. Aku takut kalau dia akan menyerang salah satu yang lebih lemah.”


Robert setuju. Ia menoleh ke belakangnya, menatap sedih pada orang-orang yang tidak ada lagi bentuknya. Hanya ada sisa abu. Namun setidaknya mereka tidak akan jadi mayat hidup. Hanya itu yang ia syukuri.


Bjork benar-benar gelap, tapi tidak ada suara apa pun kedengaran. Tidak ada keos seperti yang mereka cemaskan sebelumnya. Semua orang sudah tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan makhluk yang bukan berasal dari bumi. Mereka semua menunggu kabar, menanti dalam rumah, dalam sarang mereka yang aman.


Semua lampu jalan dan obor-obor sudah padam. Mereka membuat obor baru dan meminta lampu minyak dari rumah-rumah yang mau membuka pintu, kemudian membagi-bagi orang.


Dari dua ratus tujuh puluh orang yang ada, sekarang tinggal tiga puluh dari Marsh, dua puluhan dari Clearwater, dan sepuluh dari Argent yang dimpin oleh Gerald. Harold dan dua pertiga pekerja berubah jadi serpihan abu begitu mencoba menyerang Sir William, tapi ia tetap selamat. Totalnya masih ada enam puluh tiga orang. Mereka membaginya jadi tiga puluh-tiga puluh. Gerald ingin bertemu langsung dengan tuannya lagi, jadi ia ikut dengan Clearwater dan Marsh ke Selatan.


“Dia jalan kaki lewat jalan utama Bjork,” kata Clearwater sambil mengawasi sekitar. “Kita punya kuda. Kalau cepat, kita bisa mendahuluinya lewat jalan pintas.”


Marsh langsung bersemangat lagi mendengarnya. “Ayo!” Ia menoleh pada Lady Chantall yang tidur beralas mantel Clearwater dan diselubungi mantel lain dari Marsh dan Robert. “Bagaimana dengannya? Kita harus membawanya?”


“Dia cuma beban,” sahut Clearwater. “Tinggalkan di salah satu rumah. Jika dia bangun nanti, biarkan dia menentukan nasibnya sendiri dan apa yang akan dilakukannya. Kita tidak membutuhkan bantuannya.”


“Brr dingin,” komentar Marsh meledek. Ia menyelipkan kedua tangannya ke bawah tubuh Lady Chantall dan mengangkat wanita itu dengan gampang. Ia kelihatan ingin melontarkan lelucon, tapi kemudian menahannya karena tahu bahwa situasinya tidak tepat. “Aku akan menyusulmu, Luke. Kau sebaiknya duluan.”


Clearwater mengangguk. Ia dan lima belas orangnya segera menaiki kuda yang tersedia kemudian mencangklong pergi melewati jalan pintas Bjork menuju ke Selatan.


Begitu Clearwater tidak kelihatan lagi, Marsh segera membawa Lady Chantall ke salah satu rumah terdekat yang dikenalnya. Ia menendang pintu bernomor 22A itu, yang langsung menjeplak terbuka. Simon Rutlan ada di depan pintu, menunggunya dengan wajah tegang.


“Apa itu tadi Adie?” bisik pria itu ngeri. “Wanita itu Lady Chantall kan?”


“Dia pacar Marquis Argent.” Marsh meletakkan tubuh Lady Chantall dengan hati-hati di atas sofa, memperhatikan wajah cantik wanita itu yang cemong karena air mata. “Kau jaga dia,” katanya pada Simon dengan wajah sangat serius. “Kalau dia bangun nanti, katakan bahwa aku dan Clearwater sudah duluan menyusul ke Selatan untuk menghadang Sir William.”

__ADS_1


Simon mengumpat pelan. “Ini semua memang ada hubungannya dengan orang baru itu?”


Marsh mengangguk. “Kalau Lady Chantall ingin menyusul kami, kau siapkan saja apa pun yang dia perlukan. Sebenarnya aku lebih suka dia tetap berlindung, tapi perempuan-perempuan di Bjork tidak pernah suka disuruh berlindung, jadi dia pasti akan menyusul.” Ia tersenyum tipis.


Simon menghela napas. Matanya memandangi Adrian Marsh dengan sendu. “Aku tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan, Adie … tapi kuharap kalian berhasil. Aku selalu berdoa untuk kalian.”


“Eh sialan, jangan malah kasih pertanda buruk!” Marsh tergelak. Ia menepuk keras punggung Simon. “Aku tidak akan mati,” katanya keras-keras, setengahnya untuk meyakinkan diri sendiri. Ia menggeleng pelan, masih ingat dengan jelas bagaimana iblis itu mendekati Marco, mencekiknya di udara dan menusuknya. Sir William memandangi kejadian itu dengan rasa puas yang mengerikan. Ekspresi itu tidak manusiawi.


Tadinya ia yakin bahwa kedua kunci: Maria Garnet dan Marco Argent tidak akan diusik oleh Sir William. Tapi bagaimana kalau Sir William sudah putus asa? Bagaimana kalau pria itu ingin menghabisi mereka semua?


Marsh menghela napas. Ia menggeleng pelan dan menampar pelipisnya sendiri. “Aku tidak mau berpikir,” katanya kesal. “Berpikir adalah bagiannya Luke dan Jose.”


“Adie?” Simon, masih mengenakan pakaian tidurnya dan mantel wool lusuh, menatap kawannya dengan heran. “Kau mau minum dulu?”


Itu tawaran yang menggoda, tapi Marsh tahu kalau ia duduk di rumah yang hangat dan minum di sini, ia tidak akan mau pergi ke luar lagi. “Aku akan pergi. Pokoknya kau jaga wanita itu. Awas, jangan macam-macam!”


Simon menyumpah dan tertawa, tapi suaranya getir. “Semoga jalanmu diperluas, Adie!” serunya dari ambang pintu.


***


Marco berada di ruang yang serba putih. Ia berjalan jauh, tapi tidak ada ujung yang ditemukannya. Yang aneh adalah ia tidak tahu kenapa ia berada di situ dan untuk melakukan apa. Ia ingat harus melakukan sesuatu, tapi tidak tahu apa.


Ia mengamati pakaian yang dikenakannya. Ada noda hitam besar di bagian dada, noda yang tidak bisa hilang.


Aneh, pikirnya, tidak biasanya George teledor seperti ini.


“Noda itu bukan dibuat oleh kepala pelayanmu.”


Marco mengerutkan kening. Ia memutar tubuh, menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi ketika melihat ada cermin di belakangnya.

__ADS_1


Tidak, itu bukan cermin.


Sekali lihat saja, Marco segera mengerti bahwa sosok yang ada di hadapannya ini adalah sesuatu yang asing. Bukan berasal dari bumi. Dan dalam sekejap segala ingatan mengenai apa yang baru saja terjadi meluncur ke dalam kerlap-kerlap ingatan dalam kepalanya. Ah, Marco menyentuh noda di dadanya, aku sudah mati.


“Akhirnya kita bertemu,” kata pria itu, yang begitu mirip dengannya. Suaranya terdengar seperti ratusan orang sedang bicara sekaligus, tapi cukup jelas dan jernih didengar. Sosok itu menapak mendekat, membuka kedua tangannya dalam sambutan hangat.


“Akhirnya kita bisa bicara lebih jelas, M̶̭̞̺̬̼͌̒́̍̕͝a̸̧̡̭̪̘͈͝ŗ̴̞̱͕̩͖̈͌̾̏͘c̶̝͇̹̈ơ̷͖̺̳̑͂̀̇ ̶͍̦͍͚̠̺̭̲̻̽̏̉̂̌͋̚͘͜Ǎ̷̮̟͍͚̯̩͈͍̙̉̉̎̈́̍̊͋̋́ͅr̸̮̠̞͓͝g̷̖̓̆́͌͝e̶͓̓̐̑̓͌̉͑̽n̵̡̡͇̥̻̲̾̎̂̊͜ͅt̴͍̻̗̳͈̖̟̔̈́͛.̷̲̥̙̦̗͖̘̜̼̊͛͛̃̍̂̓̔͝”


Marco menatap sosok itu dengan wajah datar, sama sekali tidak kelihatan terkejut atau heran. Malahan, ekspresinya justru kelihatan terganggu. “Siapa kau?”


“Kami adalah kau,” sahut sosok itu, kini berubah menjadi Marco saat muda, dengan mantel panjang semata kaki dan cara berjalan yang cenderung lancang. Lelaki itu mengitarinya, menatapnya dengan congkak. “Kami adalah adikmu, keponakanmu, rumahmu, semua hal yang kau sentuh, kami juga adalah yang kau hirup.”


Ketika mereka kembali bersemuka, sosok itu menggunakan penampilan Marco yang sekarang. “Kami adalah Yang Satu. Yang Esa.”


Marco tak terkesan. Ia tahu bahwa sosok di hadapannya adalah perwujudan segala hal yang sakral di Bjork, bahkan mungkin di bumi. Ia bisa merasakannya. Seluruh sel yang bergetar dalam tubuhnya mengenali entitas tersebut, mengenali penciptanya, memaksanya untuk jatuh tersungkur dan berlutut. Namun Marco memerangi dorongan itu kuat-kuat. "Kalau kau memang Tuhan,” katanya dingin, “harusnya kau bisa lenyapkan Sir William.”


Sosok itu menggeleng pelan. “Di bumi ada aturan, dan segala hal harus terjadi menurut aturan tersebut. Intervensi terhadap aturan akan memberi luka yang lain pada nasib banyak orang.” Jarinya bergerak ke atas dan dalam sekejap muncul banyak rantai di sekitar mereka yang berderak pecah. “Banyak ikatan akan terpengaruh.”


Penjelasan itu begitu menggelikan hingga Marco tertawa. “Bukankah yang dilakukan Sir William sendiri adalah intervensi? Jadi dia tidak masalah melakukan intervensi aturan?”


Entitas itu mendekat. “Kami selalu mencoba bicara d̸̗̠͚̖̖̦͓̽̈ę̵̨̨̭̼̜̥͖̉͌͛̅͝n̶̩̺͓̋́̏͊̂͜g̵̨͔̪͕͉͍̞̟̕ä̵̬̘͓̳̱̯͙͚͓̈͝͠n̵̤̎̐̏̀̈́̓͆̍͠m̷̞̈́ư̶̟̣̖͇̭̘͈̙̈́̅́̈̐̏̚͘, Marco Argent,” katanya dengan suara terdistorsi.


Citranya memudar, menyebar dalam bentuk bintik kabut. “Kami mencoba bicara dengan satu-satunya Yang Menolak Percaya. Kami senang kau menyeberang, kau bisa membantu kami sekarang. Satu menit. Satu menit untukmu!”


Marco melangkah mundur ketika sosok itu mendekat, tapi yang ada di hadapannya saat ini bukan bayangan dirinya sendiri melainkan sesuatu yang lain yang lebih besar, sesuatu yang menelannya bulat-bulat.


Satu menit!


Suara seruan itu mengambang jauh, melempar Marco ke dalam kegelapan pekat.

__ADS_1


***


__ADS_2