
Tidak hanya Jose yang menggunakan teman-temannya sebagai tameng, Maria juga bersembunyi di tengah teman-teman perempuannya. Ia agak kewalahan menghindari orang-orang yang mengajaknya bicara, takut akan menyinggung mereka kalau terpeleset ketika menolak. Namun ketika musik berubah lembut dan teman-temannya pergi untuk berdansa, Maria tidak punya pelindung lagi.
Matanya menyapu ruangan dengan gelisah, mencari di mana Jose berada. Ia tahu bahwa lelaki itu pasti sibuk meladeni tamu, tapi Maria tetap saja berharap setidaknya Jose datang untuk mengajaknya berdansa. Sial, matanya justru bertatapan dengan Guy Eastwood. Pria itu segera berbelok menghampiri Maria yang memaki dalam hati. Guy Eastwood bukan orang jahat, hanya saja berisiknya bukan main dan sok akrab. Lagi pula wajah pria itu sedikit merah, sepertinya agak mabuk.
Tepat sepuluh langkah sebelum Eastwood sampai, Marsh muncul dan mengulurkan tangan pada Maria. "Lady," sapanya dengan cengiran di wajah. "Kasihan sekali ... tidak ada yang mengajakmu berdansa sampai-sampai Baron Eastwood melirikmu. Sini kuselamatkan."
"Kasihan sekali memang," sungut Maria sambil meletakkan jarinya di atas tangan Marsh. Mereka berputar ringan ke lantai dansa tanpa canggung sedikit pun. Maria hanya menganggap Marsh seperti adik kecil yang bengal meski ia hanya dua tahun lebih tua dari lelaki itu. "Kau tadi bersama Jose, kan?"
Marsh meringis. "Kenapa tanya-tanya soal dia? Kangen? Padahal ada lelaki gagah seperti ini di depanmu."
"Hmmm ya, gagah sekali. Aku terkesan. Wow."
Nada datar Maria justru membuat Marsh tergelak keras, tak peduli meski banyak orang menoleh ke arah mereka. "Aku tidak melihatnya sejak tadi, Garnet. Mungkin dia di sudut lain, berdansa dengan perempuan lain."
Maria mengedarkan mata dengan cepat. Ia tidak melihat kepala berambut hitam itu di mana pun. Jose cukup tinggi, jadi cenderung mudah ditemukan. "Tidak ada. Mungkin dia kabur. Jose tidak terlalu suka pesta."
"Kontras denganmu, ya." Marsh memutar Maria, membawanya ke seberang ruangan perlahan-lahan. "Kau suka pesta, dia tidak. Kau suka tampil di depan umum, dia lebih suka di belakang. Bahkan nama kalian pun terbalik urutan hurufnya."
"Itu namanya saling melengkapi," sahut Maria. Kakinya melangkah lincah menyamai gerakan Marsh, tapi keningnya berkerut. "Hei, kenapa kita makin ke pinggir?"
Marsh tidak menjawab, malah mengubah posisi tangannya dari menuntun jadi menggenggam jemari Maria, menariknya pergi melewati bukaan ruangan dan turun ke lantai satu.
Maria kelabakan mengikutinya. Begitu mereka mencapai landasan pertama, terlindung dari pandangan mata tamu lain maupun para pelayan, Maria menarik tangannya hingga bebas dari cengkeraman, menendang keras-keras tulang kering Marsh dan menampar lelaki itu.
Marsh mundur dan mengumpat, mengusap pipinya yang kena tampar. "Kau ini lady tapi ringan tangan sekali!"
"Kau ini lord tapi urakan sekali!" balas Maria dingin. Ia mengibas tangannya yang sakit. "Pria terhormat tidak akan menggeret-geret tangan seorang gadis! Aku bukan boneka yang bisa kau seret seenaknya. Tidak lihat tinggi hak sepatuku? Bagaimana kalau aku tergelincir dan patah tulang?"
Marsh membuka mulut untuk menjawab, tapi segera sadar bahwa ia yang salah. "Maaf," gerutunya. "Aku cuma ingin membawamu keluar cepat-cepat sebelum orang lain meminta berdansa denganmu. Karena Jose—" Marsh berhenti, menutup mulut dengan kedua tangan.
Maria menatap lelaki itu dengan curiga. "Kenapa dengan Jose? Dia baik-baik saja, kan? Terlibat masalah lagi?"
"Emmm, masalah? Iya, kurasa ... bisa dibilang begitu. Dia kena masalah ... masalah besar. Butuh bantuanmu secepatnya." Marsh mengangguk.
"Masalah apa? Dia terluka?"
"Eh, tidak luka ... tapi sakit. Tunggu, tunggu," kata Marsh buru-buru begitu Maria hendak berbalik lagi ke lantai dua. "Dia sakit keras, kau temani dia dulu, biar aku yang cari bantuan!"
Maria menatap Marsh tajam. Matanya menyipit. "Sakit apa? Sudah panggil dokter?"
Clearwater muncul sebelum Marsh sempat menjawab. Pria itu datang dari sisi koridor yang mengarah ke taman.
"Ah, itu Luke! Bagaimana kondisi Jose?" Marsh melambai gugup. Keringat menitik dari pelipisnya. "Dia masih sakit?"
Clearwater menatap Marsh, kemudian beralih pada Maria yang jelas-jelas curiga. Ia menghela napas dan berjalan mendekat. "Jose bilang dia tidak perlu dokter," katanya begitu sampai. Ekspresinya sedingin biasa. "Kami gagal membujuknya untuk masuk. Dia sedang istirahat di taman, di gazebo."
Yang itu memang kedengaran masuk akal. Jose lebih suka menyendiri dan tidak mau merepotkan banyak orang saat sedang sakit. Maria mulai cemas, takut ada efek dari perang dengan iblis sebulan lalu. Tidak seperti Marsh, Clearwater tidak mungkin main-main, jadi Maria tidak meragukannya sama sekali. "Gazebo mana? Aku akan ke sana. Kalian sebaiknya panggil dokter! Ah, andai Dokter Rolan di sini!"
"Ikuti saja fairy's lamp," Clearwater memberi petunjuk dengan jarinya. "Dia duduk di gazebo, dekat topiari malaikat."
Maria mengangguk, lalu menuruni tangga dengan tergesa sambil berhati-hati pada ujung gaun, meninggalkan Clearwater dan Marsh di belakang.
Begitu sosok Maria hilang dari pandangan, Clearwater menoleh pada Marsh. "Sakit, heh?" Alisnya berkerut.
"Aku tidak bohong." Marsh mengangkat bahu. "Dia sakit cinta."
"Garnet akan menamparmu karena mempermainkannya."
"Dia sudah menamparku!" Marsh menunjuk pipinya yang merah.
Clearwater tertawa. Ia melangkah duluan menuju lantai dua. "Aku mau ke ruang orkestra. Kau bisa main biola?"
__ADS_1
"Simbal, biola, timpani; sebut saja namanya, aku bahkan bisa mainkan sisir supaya bunyi!" Marsh menepuk dadanya dengan bangga.
***
Sebulan lalu, Jose ditemukan paling akhir. Lelaki itu tidak muncul dari sungai dengan dramatis seperti halnya Marco, tapi hanyut bermeter-meter jauhnya dari jembatan perbatasan. Maria yang menemukannya ketika menyusuri sungai, kemudian Greyland membantu menarik tubuh Jose dan memberi resusitasi jantung paru-paru.
Detik-detik menunggu Jose sadar adalah saat paling menakutkan bagi Maria. Ia benar-benar takut teman masa kecilnya itu akan pergi ke tempat yang tak terjangkau. Bahkan kata takut pun kedengaran terlalu sepele untuk menggambarkan apa yang dirasakan Maria saat itu. Rasanya dunia seperti berhenti berputar, meninggalkannya sendirian di sudut gelap. Ia seperti memandang dari balik sehelai kain tipis yang memisahkannya dengan dunia. Maria yakin ia akan ikut mati kalau Jose tidak bernapas lagi.
Dalam detik-detik singkat yang terasa berdekade lamanya, Maria memahami penderitaan yang dirasakan Sir William.
Rasanya seperti bernapas dalam api, tapi tidak mati.
Maria tidak mau merasakannya lagi. Ia berlari mengikuti arah cahaya fairy's lamp yang menyala dalam warna-warna cerah, tak peduli meski beberapa kali hampir jatuh karena hak sepatunya melesak ke dalam tanah. Jantungnya berdegup sangat kencang dan ia hampir menangis karena panik.
"Jose!" serunya keras-keras begitu melihat topiari malaikat dan puncak atap gazebo. Ia berlari di atas lantai batu taman, menghindari tanah supaya tidak jatuh. "JOSE!"
Yang dipanggil segera muncul dari arah gazebo dan bergegas lari menghampirinya. "Mary? Kenapa? Ada apa?"
Maria tidak menjawab. Ia menghambur, menubrukkan diri ke pelukan Jose. Napasnya habis. Tenggorokannya sakit. Sisi pinggangnya perih karena berlari tiba-tiba. Ia menangis tersedu, setengahnya karena lega melihat Jose masih hidup dan bernapas, setengahnya karena jengkel begitu sadar Marsh dan Clearwater pasti mengerjainya.
Jose mengedarkan pandangan curiga ke sekeliling taman, menyesal karena tidak membawa belati. Dalam hati ia mencatat untuk selalu membawa senjata kapan pun dan di mana pun berada ke depannya.
"Mary, kenapa?" tanyanya lembut setelah memastikan tidak ada bahaya di dekat mereka. Ia membelai hati-hati rambut Maria, takut merusak tatanan kepang di kepala gadis itu. "Ada yang mengganggumu? Kau terluka?"
Maria menggeleng. Ia melepas pelukan, mencari sapu tangan untuk menghapus air matanya. "Marsh bilang kau sakit," katanya, masih sesenggukan. "Aku takut sekali."
Jose mendecak. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, kemudian mengusap basah di pipi Maria dengan lembut. "Aku tidak seringkih itu. Mana mungkin tiba-tiba sakit."
"Awalnya aku tidak percaya, tapi Clearwater bilang—" Maria diam. Ia baru sadar Clearwater sama sekali tidak berkata apa-apa soal sakit. "Mereka mempermainkanku," gumamnya. Rasa panik dan takutnya mereda, berubah jadi gusar. Ia merebut sapu tangan Jose. "Kau yang meminta mereka? Ini tidak lucu!"
Jose menggeleng cepat, kelihatan kaget. "Aku memang minta tolong Adrian untuk membawamu ke sini," ia mengakui, "tapi tidak ada pembicaraan soal sakit."
"Kenapa bukan kau sendiri yang menemuiku? Kenapa harus minta Marsh? Kau tahu dia konyol!"
Maria masih ingin marah, tapi ia tidak bisa mengeraskan hatinya. Setelah dilihat lagi, taman dihias berbeda dengan yang dilihatnya ketika datang tadi. Fairy's lamp bertambah banyak dan sepertinya membentuk pola tertentu yang kemungkinan hanya bisa dilihat dari atas, bunga-bunga menghiasi gazebo, dan topiari malaikat di samping mereka dihiasi bunga tulip—lambang cinta sejati.
Begitu menyadari semua ornamen itu, jantung Maria berdegup makin kencang. Namun bukan karena takut. Ini debar yang berbeda dari yang barusan ia alami. Pipinya bersemu panas. Maria berharap ia tidak kelihatan berantakan. Matanya terangkat, bertatapan langsung dengan iris hitam arang milik Jose.
"Kau ingat apa yang kukatakan sebulan lalu?" Jose bertanya. Senyum terulas mesra di bibirnya ketika tangan mereka bertaut, saling menggenggam. "Aku ingin pergi ke Cantana, mengurus daerah perdikan Argent di sana."
Maria mengangguk. "Katamu, kau akan pergi selama beberapa tahun ..."
"Ya, untuk mencari nama." Jose mendehem pelan. "Tapi ternyata ada perubahan rencana ... dan alih-alih Cantana, aku malah mendapat tempat di Redstone."
"Itu tempat yang berbahaya." Maria merasakan genggaman tangan Jose mengerat. Suara debur jantung yang ribut membuat ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. "Tapi kau pasti bisa mengatasinya."
"Tidak mungkin bisa kalau hanya sendirian," sahut Jose, masih dengan kelembutan yang stabil. "Aku sudah mendapatkan apa yang kuperlukan ... jadi, aku ingin—"
"Marquis Redstone!" satu seruan menyela. Bunyinya menggelegar bak halilintar, mengatasi musik orkestra yang terbang sampai ke taman.
Maria dan Jose mengangkat wajah bersamaan ke arah lantai dua manor. Di salah satu sisi balkon, seseorang melambai ke arah mereka dengan satu tangan memegang gelas anggur setengah isi. "Aku belum mengucapkan selamat! Kau di situ ternyata!"
Maria menganga, mengenali sosok itu. Guy Eastwood. "Dia mabuk," erangnya.
Jose mengesah berat. "Abaikan dia. Pura-pura tidak lihat. Ayo sembunyi."
"Mana bisa!" Maria balas berbisik. "Lihat, sekarang semua orang ke balkon karena dia teriak-teriak!"
Memang benar, makin banyak orang muncul. Tidak hanya di satu sisi balkon, tapi juga balkon panjang yang satunya lagi. Jose melihat Marco dan Lady Chantall ada di sana, keduanya mengobrol santai seolah tidak ada apa pun yang terjadi sementara Guy Eastwood masih berteriak-teriak dari tempatnya berdiri.
"Aku dengar cerita tentang Argent dan undead! Aku datang untuk lihat keajaibanmu sekali lagi, Redstone!" Baron Eastwood menoleh ke sekitarnya, memprovokasi orang-orang. "Kalian juga ingin lihat kilau apa yang di cerita, kan? Tunjukkan, Redstone! Tunjukkan! Tunjukkan! Tunjukkan!"
__ADS_1
"Tunjukkan!"
"Tunjukkan!"
Bersama dengan Eastwood, beberapa orang juga ikut menuntut karena menganggap ini kejadian menarik yang menghibur. Dave dan Simon menarik Baron Eastwood, berusaha menggeretnya mundur, tapi pria itu malah mengamuk. "Aku cuma berniat baik meramaikan suasana! Harusnya kalian berterima kasih! Nanti kalau tidak ada yang datang ke pestamu, baru kau merengek!"
Maria menarik napas panjang. Ia tahu ini situasi sulit bagi Jose. Kalau lelaki itu menghardik atau mengancam, posisinya akan buruk. Masyarakat tak peduli soal siapa yang salah atau benar. Dalam kasus seperti ini, yang kalah adalah yang menunjukkan kelemahan duluan. "Jose, abaikan saja. Dia cuma orang mabuk," bisik Maria lembut, khawatir Jose terpancing.
Jose tidak kelihatan marah. Wajahnya setenang biasa. "Baron Eastwood!" serunya lantang. Suaranya jernih, menghentikan lantunan orkestra. Semua orang ikut diam menunggu. Eastwood sudah membebaskan diri dari cekalan Dave.
Maria menggenggam erat tangan Jose, berniat mendukung penuh apa pun yang dilakukan lelaki itu. Meski Jose menjatuhkan Eastwood atau mengarang sesuatu, ia bertekad tidak akan memperlihatkan wajah kaget atau penolakan sama sekali.
"Kau orang yang tahu segalanya, tentu juga tahu bahwa keajaiban itu cuma gosip belaka," Jose meneruskan. Meski banyak saksi mata, soal keajaiban di Sungai Bjork serta soal Sir William memang tetap harus disangkal dan disembunyikan dari publik. Yang boleh diketahui masyarakat hanya sekte Scholomance sebagai kambing hitam. "Tapi kalau kau segitu inginnya melihat keajaiban, aku punya satu yang kusiapkan khusus untuk Nona Garnet!"
Maria terkejut mendengar namanya disebut. "Jose?"
Jose menoleh ke arahnya, memberi satu senyum jenaka yang sangat dikenal Maria, kemudian mengangkat tangan menunjuk langit dan menjentikkan jari. "Lihat!"
Dari arah yang yang ditunjuk Jose, satu desing panjang muncul disusul bunyi ledakan keras. Maria menoleh ke arah suara dengan waspada. Bola matanya melebar.
"Apa yang ... wah!" Maria menahan napas menatap warna-warni yang terciprat mewarnai langit malam.
Itu kembang api paling besar yang pernah ia lihat, bukan ledakan kecil-kecil seperti yang dilihatnya setiap festival. Ini lebih besar, dengan warna-warni beragam dan ledakan lain yang berantai. Bunyi gemeretak panjang menyusul letusan-letusan indah tersebut. Di sela-selanya, Maria bisa mendengar desah dan seruan kagum dari arah manor. Semua tamu berdesakan muncul ke balkon. Ada juga yang turun ke halaman dan taman untuk bisa melihat lebih jelas.
Begitu kembang api tersebut menghilang, malam kembali jadi gelap. Semua orang mengira pertunjukan keajaiban telah usai, tapi Jose belum selesai. Ia menunjuk lagi ke arah lain, memunculkan satu lagi ledakan kembang api yang lebih besar dari sebelumnya. Ledakannya lebih keras, menggetarkan semua orang sampai ke dalam dada. Kembang api yang ini seolah menggantung di langit, di antara bumi dan bulan. Maria yakin pemandangan ini pasti terlihat sampai Bjork. Tatapannya melekat ke langit. Semua ledakan, dentum, dan cipratan warna itu membuat emosinya campur aduk.
"Dan ini!" seru Jose sambil menjentikkan jari dua kali ke langit, tepat di atas kepalanya.
Maria mengira akan melihat satu lagi yang lebih besar, tapi ia salah. Suara desing panjang memelesat di udara, membelah langit malam, meledakkan bentuk hati di langit, susul menyusul tanpa jeda dalam bentuk-bentuk besar dan kecil, beragam warna.
"Jose!" Maria menutup bibir dengan kedua tangan. Suaranya tenggelam dalam bunyi letusan kembang api. Ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Ia bahkan tidak tahu kembang api bisa dibentuk seindah itu. Selama ini yang diketahuinya hanya bentuk bulat biasa. Ia berusaha menatap Jose, tapi matanya yang buram berkaca-kaca menghalangi pandangan. Bagaimana kau bisa melakukannya? Pertanyaan itu tidak bisa terucap.
"Kau suka?" Jose berbisik di telinganya. "Ledakan ini, keindahannya, ini semua tidak ada apa-apanya dibanding yang kurasakan padamu."
Maria tidak tahu harus merespons apa. Semua kata menghilang dari kepala, percuma mencari bentuk saat pikirannya demikian kosong. Ia menarik napas, menahannya sambil mengawasi bagaimana Jose mundur selangkah menjauhinya, mengeluarkan kotak beledu merah mungil dari saku jas, kemudian membukanya di hadapan Maria. Isinya hanya satu. Sebuah cincin. Kilaunya mengalahkan kembang api yang masih meletus ribut di atas mereka. Cincin itu dari emas, dengan satu mata berlian mungil terbenam di sisi luar dan ukiran dalam bahasa Albion di sisi bagian dalam. Nama mereka berdua terpatri di sana.
"Aku sangat mencintaimu," Jose mengatakannya dalam bisikan lembut, tapi Maria merasa kalimat itu bergema sangat keras di dalam kepala, membuatnya tak sanggup bernapas. Kotak cincin itu sedikit bergetar. Jose menarik napas panjang, menatapnya penuh harap. "Aku bersumpah akan selalu membuatmu bahagia, Mary. Menikahlah denganku."
Maria berusaha keras, sangat keras, tapi ia tidak bisa mempertahankan ketenangannya. Sekarang barulah ia sadar bahwa dirinya tidak pernah bisa bersikap tenang setiap kali berada di dekat Jose. Perasaannya selalu jadi tak karuan. Tapi kali ini Maria tidak keberatan. Ia melangkah maju dan memeluk Jose erat-erat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Kehangatan tubuh itu nyata.
"Mary? Ini berarti kau setuju?" Jose tertawa. Jelas-jelas ada suara tawa dalam nada itu. Maria tidak menyalahkannya. Ia juga ingin tertawa gembira.
"Tentu saja setuju!" katanya sambil menenggelamkan wajah ke kemeja Jose, membiarkan air matanya merembes di sana. Ia sudah menunggu ini sejak lama. Meski tahu bahwa mereka akan menikah cepat atau lambat, tapi ia tetap ingin mendengar permintaan itu secara langsung. Ia ingin mendengar Jose melamarnya. "Aku juga mencintaimu, kau tahu itu!"
Jose membenturkan kening mereka dengan ringan. "Aku tahu," balasnya lembut sembari mengangkat wajah Maria. Ia menunduk, menyatukan senyum mereka dalam satu ciuman lekat yang hangat, terkendali. Tangannya merengkuh tengkuk Maria, kemudian perlahan turun menyusuri lekuk di tulang punggungnya hingga ke pinggang, menariknya merapat perlahan tapi pasti.
Maria membalas ciuman yang datang dalam kehausan yang sama. Ia menyukai sensasi yang muncul tiap kali bibir dan lidah mereka bersentuhan. Rasanya seperti kembali pulang, seakan sesuatu dalam dirinya tertambat dengan tenang dan aman, tak lagi terombang-ambing tanpa arah. Kali ini ketika wajah mereka akhirnya terpisah, rasa aman itu menetap.
Jose juga merasakan hal yang sama. Setiap kali ciuman mereka usai dan ia perlahan membuka mata untuk menatap Maria, kehangatan melingkupinya secara menyeluruh, membuatnya seolah kembali ke masa lalu, saat melihat gadis itu untuk pertama kali. Ia masih melihat malaikat yang sama, yang membuat napasnya tersendat dalam cara yang adiktif.
Selagi keduanya saling menata napas, semua orang yang melihat berseru heboh dan bersuit, melontarkan seru-seruan selamat. Lidya dan teman-teman Maria meneriakkan selamat keras-keras meski suara mereka tertelan hiruk-pikuk. Guy Eastwood yang paling keras bersorak, tapi segera diseret menjauh oleh Andrew, Simon, dan Dave. Kerumunan yang menonton dari taman lebih tahu diri. Tidak ada yang mendekat, mereka hanya bertepuk tangan dari kejauhan.
Clearwater dan Marsh menyibak kerumunan di atas balkon dengan membawa biola, keduanya saling mengedip satu sama lain dan terkekeh, mulai memainkan The Four Seasons dari Antonio Vivaldi selagi Jose memakaikan cincin di jari manis Maria. Orkestra mengikuti dengan cepat. Musik kembali memenuhi manor.
Di sisi balkon yang lain, Marco dengan santai menggeser Lady Chantall hingga berada dalam kungkungan tubuhnya, kemudian memagut bibir wanita itu tanpa memedulikan reaksi orang di sekitar mereka. Lagi pula, ini rumahnya sendiri. Apa pun yang dilakukan seorang Argent di manornya bukan urusan orang lain.
Kembang api pecah beberapa kali lagi di langit, menciptakan bentuk-bentuk hati dalam beragam warna bercahaya.
***
¬topiari: pengolahan tanaman jadi bentuk-bentuk tertentu untuk dekorasi taman.
__ADS_1
¬The Four Seasons oleh Antonio Vivaldi biasanya dipakai untuk mengiringi kedatangan pengantin baru.