BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Extra 3: Oath


__ADS_3

Musim semi datang begitu cepat bagi Lady Chantall yang disibukkan urusan pekerjaan, memilih gaun, undangan, serta Kursus Pernikahan dari gereja. Meski tumbuh sebagai seorang Katolik, Marco tidak peduli soal agama, tapi Lady Chantall peduli. Ia ingin pernikahan mereka dilakukan di gereja supaya bisa menerima sakramen pernikahan. Ia ingin mereka mengucapkan ikrar di hadapan altar suci. Marco tidak keberatan.


Awal April tahun ini, akhirnya ia bisa mengenakan gaun putih impiannya.


Lady Chantall memakai gaun putih mengembang berimpel seperti putri-putri di negeri dongeng saat pernikahan pertamanya. Kali ini ia bahkan tidak melirik gaun semacam itu. Sama seperti cincinnya, gaun pernikahannya juga dibuat khusus. Ia memilih model yang lebih sederhana dengan bagian punggung terbuka dan kain lembut yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya.


Keluarga Chantall di Skot tidak ada yang keberatan dengan penyatuan Chantall dan Argent. Paman-pamannya bahkan dengan mudah jadi akrab dan menyukai Marco. Hal yang aneh bagi Lady Chantall karena ia ingat Marco tidak terlalu banyak bicara saat kunjungan mereka ke Skot. Kedua orang tua Lady Chantall sudah tiada, jadi yang mengantarnya kepada Marco melewati lorong gereja adalah pamannya yang paling tua selaku pemimpin di Chantall saat ini.


Dari selubung kerudung pengantin, Lady Chantall memandang samar-samar pada calon suaminya. Pria itu mengenakan jas biru gelap. Ekspresi wajahnya tidak terlalu kelihatan.


Sabar, batin Lady Chantall begitu sampai di tempatnya di sisi Marco, aku toh bisa melihat dia sepuasnya setelah ini.


Misa berlangsung cepat bagi Lady Chantall. Tahu-tahu saja bagian Penyerahan Mempelai sudah selesai dilakukan, Injil selesai dibacakan, dan mereka sampai pada Ikrar Pernikahan. Ia dan Marco berdiri bersisian di hadapan altar, di depan Imam, didampingi oleh dua saksi perkawinan yang berdiri di sebelah kiri dan kanan. Jemaat yang hadir juga bangkit berdiri dari kursi mereka. Lady Chantall merasa punggungnya panas karena gugup, tapi ia tetap menegakkan bahu.


"Marco Argent dan Jeanne de Chantall, sungguhkah kalian dengan hati bebas dan tulus iklas hendak meresmikan pernikahan ini?" tanya Imam.


"Ya, sungguh," jawab keduanya serempak.


"Bersediakah kalian dengan penuh kasih sayang menerima anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan mendidik mereka sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya?"


"Ya, saya bersedia," keduanya menjawab berbarengan, tapi Lady Chantall agak tercekik. Ia sudah membaca berkali-kali panduan ritus pernikahan yang akan mereka jalani, tapi baru sekarang menyadari ada anak-anak pada bagian ini. Mereka belum melakukan pembicaraan soal anak. Apakah akan ada atau tidak? Apa Marco menginginkan kehadiran anak di antara mereka?


Selagi Lady Chantall disibukkan begitu banyak pertanyaan baru di kepalanya, Imam sudah melanjutkan, "Untuk mengikrarkan perkawinan kudus ini, silakan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepakatan kalian di hadapan Allah dan Gereja-Nya."


Lady Chantall menggigit bibir, menahan getaran hati dalam dadanya ketika mereka berjabat tangan. Bahkan dari balik sarung tangan satinnya, ia bisa merasakan telapak Marco yang hangat, kasar dan berkalus. Jemarinya sendiri dingin karena tegang. Imam meletakkan stola di atas tangan mereka. Marco mengucapkan ikrarnya dengan lancar dan tenang. Suara beratnya menjangkau sudut-sudut gereja.


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya—Marco Argent, dengan niat yang suci dan iklas hati memilihmu, Jeanne de Chantall, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."


Air mata Lady Chantall merebak dan menetes-netes tanpa bisa dikendalikan. Genggamannya mengerat di balik stola sementara menahan isak. Masih jelas di benaknya awal dari semua ini. Marco menghilang dan ia gelisah, panik, kemudian memutuskan untuk mencari pria itu sendirian. Ia masih bisa merasakan dengan jelas kelegaan yang menyelubunginya di Puri Ashington begitu pria itu muncul, merebut dan mereguk cawan berisi anggur bius yang mau dicekokkan untuknya; kemudian ia nekat menyatakan cinta, nekat mendesak pria itu berulang kali meski ia sebenarnya sangat gugup dan malu dalam hati, nekat mencari pria itu tengah malam meski lawan mereka jelas-jelas iblis. Mereka beberapa kali hampir dipisahkan maut. Namun Tuhan tidak berpaling darinya. Kini semua kenekatan dan harapannya berbuah sangat manis hingga ia bahkan masih sulit percaya ini bukan mimpi.


"Jeanne?" bisik Marco.


Lady Chantall mengangkat wajah, baru sadar bahwa ini gilirannya mengucap janji. Ia menarik napas panjang dan berdehem pelan, berusaha keras menjaga agar suaranya terdengar mantap dan yakin.


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya—Jeanne de Chantall, dengan niat yang suci dan iklas hati memilihmu, Marco Argent, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."


Ikrar sudah terucap, tapi misa masih panjang. Imam kembali meneruskan ritus, "Atas nama Gereja Allah, di hadapan para saksi dan umat Allah yang hadir di sini, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Katolik yang sah. Semoga bagi kalian berdua Sakramen ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia."


"Amin," sahut seluruh umat.


"Marilah memuji Tuhan," kata Imam.


"Syukur kepada Allah."


Imam memerciki cincin mereka dengan air suci, kemudian memberi doa pemberkatan dan mempersilakan kedua mempelai untuk secara bergantian mengambil cincin pasangannya dan mengenakannya di jari manis kanan satu sama.


"Jeanne de Chantall," Marco meraih jemari Lady Chantall dan meremasnya singkat sebelum meneruskan, "terimalah cincin ini, tanda cintaku dan kesetiaanku. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus."


Lady Chantall tersenyum saat gilirannya memakaikan cincin untuk Marco. Ia mengucapkan pernyataan yang sama.


Jemaat duduk ketika upacara berlanjut pada bagian pembukaan kerudung pengantin.


Bersamaan dengan saat Marco membuka kerudung pengantin, Imam tersenyum dan membuka kedua tangannya sambil berkata, "Semoga kalian berdua selalu saling memandang dengan wajah penuh cinta. Semoga ikatan cinta kasih kalian berdua yang diresmikan dalam perayaan ini menjadi sumber kebahagiaan sejati."


Segala hal terlihat lebih jelas sekarang setelah selubungnya dibuka. Ia bisa melihat wajah Imam, altar, hiasan-hiasan bunga di pilar dan altar gereja, para tamu, pola damaskus pada waistcoat dan jas biru Marco, ekspresi suaminya.


Senyum yang terulas di wajah pria itu membuat Lady Chantall ikut melengkungkan bibirnya dalam kegembiraan penuh. Ia menaikkan kedua alis dengan heran ketika Marco melangkah mendekat.


Apa ada yang salah? Lady Chantall membuka mulut untuk bertanya. Marco membungkamnya dengan ciuman di bibir. Itu hal yang sebenarnya tidak ada dalam upacara pernikahan. Lady Chantall masih tertegun selama dua detik, kemudian ia memejamkan mata dan balas mencium. Seisi gereja bertepuk tangan dan bersorak. Imam hanya tersenyum dan memberi waktu.

__ADS_1


***


"Lady Chantall kelihatan cantik sekali," bisik Maria ketika upacara sampai pada penandatanganan berkas perkawinan.


"Kau lebih cantik," sahut Jose pendek, terkekeh ketika mendapat cubitan di lengan. "Omong-omong, dia bukan lagi Lady Chantall."


Maria mengangguk. Wanita itu sudah menjadi seorang Argent: Jeanne Argent. Pipinya memanas sedikit membayangkan tak lama lagi ia juga akan menyusul.


Beberapa orang mengusulkan agar pernikahannya digabung dengan pernikahan Marco dan Lady Chantall agar praktis, tetapi baik Maria maupun Lady Chantall menolak keras. Mereka ingin pernikahan mereka spesial dan hanya milik mereka sendiri. Lagi pula Jose masih sibuk mengurus kepindahannya ke Redstone, menstabilkan posisinya di sana. Orang-orang Redstone tidak peduli pada marquis baru mereka dan tidak antusias melihat kedatangan Jose. Bagi mereka, Jose hanya anak orang kaya, tidak ada bedanya dengan semua tuan tanah mereka sebelumnya yang akan menutup diri di kastil bergelimang madu dan wanita.


Maria juga perlu waktu untuk belajar banyak hal—terutama tentang keluarga macam apa yang ia masuki serta hal-hal apa yang ditangani mereka. Ia tidak mau sekadar menjadi istri pendamping yang tidak tahu apa pun. Jose tidak keberatan sama sekali dan itu membuat Maria senang karena merasa dipercaya.


Pernikahan mereka akan dilaksanakan pertengahan April tahun depan, saat bunga-bunga mulai bermekaran.


Aku tak sabar. Maria meletakkan kepalanya di bahu Jose. Jemari mereka saling terkait.


***


Begitu pasangan pengantin sudah pulang kembali ke Argent barulah pesta dimulai di halaman belakang manor. Pintu dibuka dan para tamu dipersilakan untuk makan. Meski pernikahan dilakukan di Argent, pesta perayaan juga diadakan di Bjork dan Aston. Gerbang manor dibuka lebar-lebar, makanan disiapkan melimpah, dan tong-tong anggur dikeluarkan. Semua orang diundang datang tanpa peduli soal status. Ini pesta pernikahan, jadi makin banyak yang hadir merayakan makin baik.


Para bangsawan tentu saja hadir pada perayaan yang ada di Argent. Adrian Marsh datang bersama keluarganya, tapi ia memisahkan diri ketika bertemu dengan Clearwater. Ia bersiul pendek melihat orang-orang di sekitar mereka. Kebanyakan yang datang bukan sekadar utusan keluarga, tapi benar-benar kepala keluarganya. Sepertiga hadirin adalah bangsawan yang bercokol di kegelapan. Ia menoleh untuk melontarkan komentar pada Clearwater, tapi matanya menangkap sosok lain. Sosok yang dikenalnya.


"Nolan?!" serunya heran. Gadis itu mengenakan gaun panjang semata kaki. Topi hias lebar menutupi rambut pirang jagungnya yang digerai sebahu. Bintik di wajah gadis itu memudar hingga hampir tak terlihat.


Nolan menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Ia mengerutkan kening, seperti berpikir, matanya melebar ketika mengenali Marsh. "Oh, hai," katanya sambil berjalan mendekat. "Aku tidak mengenalimu. Kalian juga ke gereja tadi?"


Marsh masih tercengang, jadi Clearwater yang menjawab, "Ya, kami juga hadir tadi. Aku tidak melihatmu."


"Aku di depan, di sebelah kanan pilar." Mata biru Nolan bergeser ke sisi Clearwater, menatap keheranan pada gadis kecil yang menempel di lengan pria itu. Nolan menaksir umur anak itu sekitar delapan tahun. "Adikmu?"


Clearwater tertawa. "Putriku," koreksinya. "Grace, mana salammu?"


"Ya?" Clearwater menaikkan sebelah alis. "Tentu saja. Tahun ini akan ada satu lagi," ucapnya sambil tersenyum ke belakang.


Nolan tersentak kaget, baru menyadari kehadiran orang lain satu langkah di belakang Clearwater, seorang wanita cantik berambut kemerahan. "Maaf, maksudku bukan ... eh, kukira kau ... yah, aku tidak menyangka saja. Maaf kalau tidak sopan."


"Umurnya dua tujuh, justru aneh kalau dia belum punya anak setelah sepuluh tahun menikah," celetuk Marsh yang sudah sembuh dari kagetnya.


"Aku sedang bicara dengan Lord Clearwater," sahut Nolan dingin. Ia selalu sebal mendengar nada sok menggurui dari Marsh. "Dia selalu jalan-jalan sendirian, makanya aku tidak menyangka!"


Clearwater terkekeh. "Lucas," katanya lembut. "Kau boleh memanggilku Lucas atau Luke." Ia menoleh ke samping, menyentuh punggung wanita di belakangnya dengan sopan. "Dia istriku, Ashley. Ashley, ini Miss Nolan, temanku."


Nolan memberi salam dengan sopan, tapi tidak sempat bercakap-cakap lebih lanjut karena Clearwater segera pamit begitu melihat Jose lewat. Ia punya urusan penting yang harus dibicarakan dengan kawannya itu.


"Kau cantik dengan rambut panjang," komentar Marsh begitu Clearwater menjauh dari jarak dengar. Pandangan matanya masih melekat pada Nolan yang mengenakan topi lebar. "Kenapa dulu rambutmu dipotong pendek?"


"Demi keamanan." Nolan mengangkat bahu. "Tidak semua lelaki di dunia ini sebaik kau, my lord."


Marsh mengerutkan hidung mendengar kesopanan dalam nada suara Nolan. "Aku lebih suka kau bicara dengan logat selatanmu!" katanya. "Aneh sekali mendengarmu bicara dengan gaya utara."


Ucapan itu justru membuat Nolan tersinggung karena merasa direndahkan. "Kenapa aku harus peduli dengan kesukaanmu, my lord?" tanyanya penuh penekanan. Ia berbalik cepat, membuat rambut pirangnya terayun lembut, dan melangkah panjang-panjang menuju meja prasmanan.


Marsh terkesiap, baru menyadari kesalahannya. "Maksudku bukan kau yang aneh, tapi aku! Aku yang merasa aneh!" serunya sambil berlari mengejar. "Hey, tunggu!"


***


Selain Clearwater, di ruangan itu juga ada dua bangsawan lain: Earl Hugo Blackwood dan Earl Thomas North. Mereka bertiga memberikan surat yang sama untuk dibaca Jose. Surat sumpah untuk mendevosikan diri.


Banyak yang bisa menebak apa alasan Jose dijadikan Marquis Redstone. Beberapa keluarga segera datang menyatakan sumpah setia padanya, menawarkan diri menjadi pagar—seperti Greyland yang menjadi penjaga Argent. Posisi itu menguntungkan karena juga akan mendapat santunan dari istana serta mendapat kekuasaan, tetapi juga posisi yang terancam bahaya. Mereka harus selalu sedia dan siap membantu, bahkan mengorbankan nyawa untuk junjungan yang dilindunginya.

__ADS_1


Jose akan sering menitipkan keluarganya pada pagar yang dipilihnya, jadi ia sangat berhati-hati memilih orang. Ia tahu akan ada banyak yang datang menawarkan diri, tapi tidak menyangka tiga kawannya juga akan mengajukan diri. Blackwood dan Clearwater relatif dekat dengan Redstone sementara North lebih dekat ke Aston. Ketiganya adalah orang yang ia percayai, tapi yang jelas teruji kesetiaannya adalah Clearwater. Namun Clearwater tidak lebih kuat dibanding North.


Ini pilihan yang sulit, Jose menimbang-nimbang sambil membaca surat ketiga orang itu dengan cermat. Teman-temannya mengajukan diri bukan demi status, kekuasaan, atau uang. Ia tahu itu. Justru karena itulah makanya memilih salah satu jadi lebih sukar.


"Apa kau harus memilih salah satu saja?" tanya Blackwood begitu Jose membaca sekali lagi surat Clearwater. "Bukankah lebih banyak lebih baik?"


"Ya, itu benar!" North menyahut cepat, wajahnya kelihatan cerah. "Kau bisa menerima kami bertiga. Kita bisa saling menguatkan!"


Jose menggeleng. "Aku akan serakah sekali kalau sampai punya tiga keluarga besar sebagai pengawal."


"Lalu apa salahnya?" tukas Clearwater yang mulai merasa ide Blackwood sangat bagus. "Kalau bicara soal serakah, bukan kau yang bersalah dalam hal ini."


"Kamilah yang serakah." North mengangguk dan tertawa. "Setelah mendengar apa yang terjadi di Bjork, kami memutuskan dengan lancang bahwa harus ada orang yang siap membantumu supaya kau tidak membunuh dirimu sendiri."


"Bahkan tanpa menjadi penjaga keluargaku pun kita tetap akan berteman, Tom. Aku juga akan memberi tahu kalian kalau butuh bantuan," kata Jose heran. "Kalian tidak perlu membahayakan diri seperti ini."


"Bicaramu manis sekali." Blackwood terkekeh. "Tapi memangnya kau minta bantuan kami kemarin, Redstone?"


"Kalian hampir mati, keadaan genting, tapi kau cuma minta bantuan Adrian dan Luke," North menimpali pahit. Ia menepuk lengan kursi satu kali. "Argent tidak pernah mau minta bantuan orang yang tak terlibat. Itu prinsip kalian, kan? Kau pikir kami bakal repot-repot bikin surat kalau kau semudah itu minta bantuan orang lain?"


"Yang Mulia Ratu pasti tidak keberatan kau punya tiga pagar," celetuk Clearwater. "Redstone lebih bahaya daripada Bjork."


Jose tersenyum geli. "Aku tidak pernah dengar ada orang yang punya tiga keluarga bangsawan penjaga," ia masih mencoba menolak dengan lembut.


"Aku tidak pernah dengar soal mayat hidup disucikan," sahut Clearwater tangkas. "Tapi itu ada."


"Aku tidak pernah dengar anak keempat diangkat jadi marquis padahal para pendahulunya masih hidup," ucap North. Ia mengangkat bahu dan menyeringai. "Tapi dia di depanku sekarang."


Blackwood meringis. Ia mencondongkan tubuh ke depan dengan tangan tertaut di pangkuan. "Kau tidak pernah dengar karena sebelumnya tidak ada yang mau melakukan itu untuk siapa pun, bahkan pamanmu hanya punya Greyland. Tapi di sini ada tiga keluarga yang mau mendevosikan hidup mereka untukmu, Redstone. Kau masih ingin menghindar?"


Jose memandangi ketiganya satu per satu untuk mencari secercah keraguan di mata mereka. Namun semua kawannya balas menatap dengan penuh tekad. Jose menghela napas dan menggeleng keheranan, memijit pangkal hidungnya selagi berpikir. Mereka tidak akan mundur, Jose menyadari bahwa ketiga orang di depannya ini serius. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju perapian, lalu membuang ketiga surat di tangannya ke dalam kobaran api.


North tergelak lega. Ia segera bangkit diikuti Blackwood dan Clearwater. Mereka berbaris bersisian di hadapan Jose dengan kepalan tangan diletakkan mantap di dada kiri.


Jose menyiapkan pedang di pinggang. Ia sudah menyiapkan senjata itu karena memang berniat memilih orang hari ini. Rasanya aneh harus mendengar sumpah prajurit dari teman-teman dekatnya sendiri, tapi ini bagian dari tradisi. Jose membuang jauh-jauh rasa canggungnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan demi menghormati devosi yang diberikan Blackwood, North, serta Clearwater. Mereka tidak memanggil saksi atau Imam karena ini adalah sumpah rahasia.


Jose mengangkat satu tangannya sekilas sebagai isyarat bahwa ia sudah siap.


"Dalam nama Tuhan dan segala yang kudus di dunia," ucap Blackwood, Clearwater, dan North serempak dalam suara yang berkelindan. Mata mereka menatap lurus ke depan, tak goyah, tak gentar. "Biarlah nyawa kami dikorbankan bagi kesehatanmu dan harta kami bagi keberhasilan jalanmu. Lidah kami hanya akan mengatakan hal yang jujur! Jika kami meninggalkan jalanmu, biarlah kami mati di ujung pedangmu!"


Jose mengangguk, menyentuh gagang pedang di pinggangnya dengan khidmat. "Biarlah sumpah yang kalian ucapkan hari ini menyandera jiwa kalian."


"Biarlah kami terbunuh oleh pedang kami sendiri, terinjak rata dengan tanah, dan musnah terbawa angin jika ingkar!"


Sumpah yang diucapkan merambat melalui dinding batu yang dingin, menggema dalam lorong-lorong manor Argent yang sudah menyaksikan banyak hal.


***


Catatan:


¬Oath: sumpah/ikrar.


¬stola: selendang yang dikenakan pastor sebagai kelengkapan pakaian liturgi.


¬kursus pernikahan: dalam pernikahan Katolik Roma, sebelum menikah maka pasangan diwajibkan mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan yang kurang lebih isinya semacam pendalaman dan pembekalan hidup berkeluarga secara Kristiani.


¬sumpah yang diucapkan Marco dan Lady Chantall memang sesuai di liturgi perkawinan. Sumpahnya memang bukan "Yes I do, Yes I do" kayak di film 😂


¬sumpah yang diucapkan Jose dkk diadaptasi dari sumpah yeniçeri (pasukan elit Ottoman).

__ADS_1


Btw, yang sejak kemarin nanya foto ilustrasi Rolan yang sendirian, udah aku update di Notes 4: Images ❤️


__ADS_2