BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 54


__ADS_3

“Karena lebih praktis baginya mengenakan celana untuk berlari ke sana kemari,” jawab Jose cepat. Ia melirik Maria, mendapati gadis itu mengerutkan kening tidak mengerti. “Dia memang begitu. Sejak kapan tahu dia perempuan? Awal bertemu dengannya, kupikir dia laki-laki.”


“Mananya yang laki-laki? Dari pemilihan katanya, sorot matanya, kecemburuannya, jelas-jelas dia perempuan.”


“Kecemburuan?”


“Kau tidak melihatnya? Dia jelas-jelas cemburu pada hubungan kita.”


“Tahu dari mana?”


“Pertanyaannya! Tantangannya! Dia kelihatan penasaran sekali ada apa di antara kita. Dia marah karena melihat sepertinya kita dekat. Itu kecemburuan!”


Jose tergelak. “Kau bercanda. Dia sama sekali tidak memikirkan itu, anaknya memang gampang terpancing dan selalu mengatakan hal yang kasar. Paman Marco saja sampai menyerah.”


Maria lagi-lagi membelalak kaget. “Dia sudah bertemu dengan Paman Marco? Sial. Jujurlah, Jose. Ada apa sebenarnya? Apa hubungannya denganmu?”


“Haha, sekarang kau juga cemburu, nih?”


Maria mengayunkan tas tangannya mengenai punggung Jose. Cukup keras. Lelaki itu mengaduh.


***


Menyusahkan rasanya memiliki dua keinginan sekaligus dalam satu waktu yang sama.


Nolan tidak bisa menjelaskan kenapa ia merasa sangat marah hari ini. Ia mendapat hadiah alat pancing, mendapat sejumlah besar ikan segar yang mahal—bisa dipastikan makan malam nanti pasti akan mewah—ia juga senang karena ditraktir crepes. Jose adalah teman bicara yang menyenangkan dan lelaki itu jarang marah padanya seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain di sebelah selatan Bjork.


Meski begitu, Nolan menemukan bahwa dirinya tetap saja merasa kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba saja rasa marah itu datang, menabrak Nolan tepat di jantung, membuat dadanya terasa nyeri. Rasanya menyebalkan. Terlebih, Nolan masih tidak tahu apa yang membuatnya merasa semarah ini. Ia sampai ingin segera angkat kaki, pergi dari sebelah utara dan kembali menjejakkan kaki di tanah lembap Bjork Selatan. Namun di saat yang sama, ia juga tidak ingin pergi. Ia masih ingin berada di bawah sinar matahari yang hangat dan wangi makanan yang meriah. Ia juga ingin mengobrolkan banyak hal, termasuk monster mengerikan yang dilihatnya mengintip semalam.


Nolan ingat.


Ia harusnya membicarakan itu, bukannya marah-marah.


Setelah menerima dua buah crepes lagi dari penjual menyebalkan yang menatapnya dengan wajah curiga, Nolan segera berbalik kembali ke arah Jose—hanya untuk menemukan lelaki itu sedang tertawa dengan Maria.


Maria memukulkan tas tangannya pada punggung Jose, kemudian mereka berdua tertawa, kelihatan akrab sekali. Nolan menggigit bibir. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram crepes kuat-kuat, membuat crepes panas di tangan kanannya jadi remuk dan isinya hampir meloncat ke luar.


Ia baru pertama kali bertemu dengan orang seperti Maria. Para perempuan di tempatnya tinggal hanya ada dalam beberapa kategori. Yang pertama, pemalu. Kedua, nyinyir dan penggosip. Tiga, cantik tetapi bodoh. Maria tidak termasuk dalam kategori mana pun dari wanita yang dikenal Nolan. Mata Nolan dan Maria sama-sama biru, tetapi warna biru pada iris mata Maria terlihat lebih terang. Pinggangnya kecil, kakinya panjang, wajahnya mungil, bahkan dadanya berisi. Lebih dari segalanya, wanita itu sama seperti Jose, orang yang menatap lurus ke dalam mata lawan bicara. Nolan menoleh, menatap pantulan dirinya pada kotak logam penjual eskrim.


Anak gadis di bayangan itu terlihat sangat jelek dan kumuh. Pakaiannya kotor, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya buram. Kalau soal buramnya, itu karena Nolan berkaca pada logam alumunium. Berdiri di samping Maria akan menjadikannya terlihat seperti badut. Karena itulah Nolan mengambil tempat di samping Jose ketika dia kembali.


Lelaki itu menyambutnya dengan senyum ramah seperti biasa dan menerima crepes dengan wajah gembira. Maria kelihatannya tak senang, membuat Nolan jadi semakin panas dan jengkel.


Jose menatapnya dengan wajah tertarik, tetapi Nolan tahu lelaki itu tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang ia ucapkan; maka Nolan melanjutkan, “Soal makhluk aneh yang merayap menyeberang sungai, yang kemarin kita lihat itu. Aku melihatnya lagi.”


Ia sengaja menggunakan kalimat yang samar untuk membuat Maria kesal. Ia bermaksud menunjukkan bahwa ada rahasia yang tidak diketahui Maria, bermaksud membuat gadis itu cemburu. Namun wajah Maria tenang-tenang saja. Justru Jose yang kelihatan kaget.


“Kau pergi ke hutan lagi? Bukannya sudah kubilang, jangan ada yang ke sana?”


“Memangnya siapa kau, sok memerintah? Kepala desa kami?” balas Nolan cepat, otomatis. Ia selalu secara refleks menghardik orang yang berani memerintahnya. “Maksudku bukan gitu,” ralatnya buru-buru. “Aku tidak ke hutan, kok. Adik-adikku juga tidak. Ini masalah kabut itu, semalam waktu kabut muncul, aku melihatnya.”


“Di mana? Kau keluar rumah lagi waktu kabut datang?”


“Lagi?” Maria mengerutkan kening mendengar keterangan waktu tersebut.

__ADS_1


Nolan, untuk pertama kalinya, merasa sangat puas karena reaksi barusan. Dia menggeleng dua kali pada Jose. “Aku tidak ke luar. Waktu itu kan kabut sudah datang! Aku tidak bisa tidur, lalu ....”


Nolan menghentikan kalimatnya. Barusan ia merasa sangat kedinginan dalam sekejap. Punggungnya merinding. Ia mengenal sensasi ini, insting alaminya yang tumbuh bekat hidup di jalanan.


Seseorang tengah mengawasinya.


Seseorang yang berbahaya.


Nolan bergidik. Ia menatap sekeliling dengan cepat, memeriksa satu demi satu orang di jalanan itu. Terlalu banyak. Ada terlalu banyak orang, dari pedagang sampai pejalan kaki atau orang kantoran. Semua orang berjalan sambil mengobrol atau tertawa, hanya beberapa yang menatap ke arah mereka secara sekilas, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Yang berwajah seram pun tidak ada—setidaknya, tidak menyeramkan bagi Nolan.


“Kenapa?” tanya Jose heran begitu melihat Nolan melirik sekitar dengan waswas. “Apa yang mau kau ceritakan tadi?”


Nolan mengembalikan pandangan ke depan. “Kau tidak merasakannya?”


“Merasakan apa?” Jose tidak mengerti. “Kan kau yang bercerita.”


“Kalian sedang berbagi cerita seram atau bagaimana, sih?” Maria ikut menimpali. Wajahnya kelihatan tertarik.


Nolan merasa sebaliknya, sama sekali tidak tertarik kalau gadis itu sampai ikut mendengarkan ceritanya. Ia tidak menanggapi pertanyaan Maria dan berpaling pada Jose, meneruskan ceritanya tentang malam yang penuh kabut serta penampakan mengerikan yang mengintip lewat jendela. Wajah gelap itu masih melekat kuat dalam kepala Nolan, membuatnya bergidik seketika.


“Lalu?”


“Lalu?” Nolan mengulang pertanyaan Jose barusan dengan penuh tanda tanya. “Lalu ya tidak ada apa-apa. Aku memejamkan mata rapat-rapat sambil berdoa dalam hati. Waktu membuka mata, dia sudah tidak ada.”


Maria menyunggingkan senyum dengan geli. Menurutnya, Nolan cuma sedang bermimpi saja atau cerita barusan adalah salah satu triknya untuk mencari perhatian Jose. Ia sama sekali tidak heran, kawan masa kecilnya itu memang gampang menarik perhatian perempuan. Setiap kali Maria menggodanya, Jose selalu beralasan, banyak yang mendekat karena nama Argent yang ia sandang. Namun Maria tahu jelas, memang ada pesona tersendiri pada lelaki yang suka main-main itu.


***

__ADS_1


__ADS_2