
Begitu keduanya mencapai depan jembatan penyeberangan, Rolan segera mengerti apa bangkai berjalan yang dimaksud oleh Jose. Itu bukan kiasan, tapi benar-benar bangkai. Dan bangkainya memang berjalan, membuat Rolan ingat pada mitos tentang Kunarpa. Kunarpa artinya mayat dalam bahasa arkais, tapi di Bjork ada kisah tentang manusia yang hidup meski sudah mati. Mayat itu berjalan seperti orang biasa meski membusuk. Tidak ada yang tahu apakah kisah tersebut sungguhan terjadi atau tidak, tapi ceritanya diturunkan dari mulut ke mulut dengan judul Kunarpa.
Rolan menggigil. Yang ada di depan mereka saat ini jelas Kunarpa.
Awalnya bentuk-bentuk itu hanya siluet, kemudian makin lama jadi makin jelas. Ada wanita dan lelaki, beberapa masih muda. Mereka semua berjalan pelan terkedek-kedek dari arah belokan kantor pajak, beberapa kadang berhenti untuk mengendus udara, seperti mencari sesuatu. Uap putih mengepul dari tubuh beberapa sosok, menjadikan mereka persis kereta uap mini.
Ada kehangatan di sana, pikir Rolan melihat uap itu. Beberapa dari mereka adalah daging baru, masih panas dan beruap. Apakah masih bisa diselamatkan?
"Pasti Sir William yang membuat mereka!" Ia mengesah keras. "Bagaimana kalau kita sembunyi di hutan?"
"Jangan. Aku setuju bahwa Sir William yang membuat ini. Dia bisa membuatnya lebih banyak karena kalungnya sudah kembali. Jadi mereka pasti akan tetap mengejar kita, mereka diperintahkan untuk itu. Hutan lebih bahaya daripada tempat terbuka," Jose bicara tersendat seolah setiap kata membuatnya kesakitan. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengangkat kedua belati di tangan dalam posisi bersiap. Kini matanya bersinar penuh tekad. "Lagi pula, mereka tidak bisa dibiarkan berkeliaran."
"Tapi mereka ada sepuluh, sebelas, lima belas," Rolan berhenti menghitung. Mulutnya terasa kering. Perutnya mulai melilit. Ini semua terasa seperti mimpi buruk yang nyata. Kadang ia masih berharap bahwa di saat berikutnya membuka mata, ia akan bangun di kamar, di rumahnya, di Delton, di sisi Yvone. Namun itu mustahil. "Mereka ada lebih dari dua puluh, Jose," katanya parau. "Dan aku dengar keributan sayup-sayup. Mungkin ada lebih banyak lagi di belakang sana."
"Kita punya belati."
"Ya, alat yang bagus. Tajam, pendek, hmmm kelihatannya berguna untuk mengoles mentega atau mencukur kumis." Rolan memperhatikan bilah tajam di tangan kanan. Tidak seperti Jose yang ambidextrous, ia hanya menggunakan tangan dominannya untuk bertarung. "Tapi apa berguna untuk menghadapi mayat hidup? Aku tidak yakin."
"Memangnya Paman pernah yakin pada sesuatu?"
"Aku yakin kita harus pulang," sahut Rolan bosan, seolah mereka menghadapi mayat hidup ratusan kali dalam sehari hingga membuatnya jemu. "Mayat berjalan. Marco harusnya istirahat total di tempat tidur, tapi kalau ada makhluk seperti ini muncul, dia pasti ingin menangkap dan memeriksanya sendiri. Kadang aku tidak yakin apakah dia itu benar-benar sudah tua atau masih anak-anak."
Jose tertawa. Matanya mengawasi mayat-mayat yang makin dekat. "Katakan itu di depan wajahnya, aku ingin tahu apa jawaban Paman Marco."
__ADS_1
"Tidak mau. Aku sayang nyawaku." Rolan juga mengawasi dengan cermat. Kecepatan para mayat berbeda. Ada yang sangat lambat, ada yang lebih cepat dari yang lainnya, tapi mereka semua bau. Percakapannya dengan Jose mampu membuat Rolan sedikit teralihkan dari rasa ngeri. Meski begitu tetap saja jantungnya berdebar kelewat kencang dan punggungnya panas-dingin. Angin dingin berembus sepoi-sepoi, kali ini bertiup ke arah hutan, seakan meminta mereka berlindung di sana.
Satu mayat yang paling cepat akhirnya berhasil mencapai depan jembatan, kini berjalan terkedek-kedek mendekati mereka sambil mengerang sesekali. Mayat wanita. Tubuh itu bertelanjang dada, berbercak kelabu dan hitam di sana sini persis seperti buah kelewat matang. Pada bagian dadanya ada luka terbuka, dagingnya memutih. Aroma sampah basah menguar kental dari mayat itu.
Rolan menyelipkan satu belati di ikat pinggang sementara yang satu lagi ia acungkan dalam posisi bersiap. "Aku akan menghadapi ini," katanya sambil merentangkan satu tangan yang bebas ke depan Jose dalam sikap protektif. "Pokoknya kau sembunyi di tempat aman, oke? Mundurlah."
"Aku yang mundur? Siapa tadi yang bilang bahwa dia sayang nyawanya?"
Mayat itu mencapai ujung jembatan dengan suara merengek. Jalannya makin cepat, meski terpincang.
"Ya aku. Dan aku masih konsisten. Edgar dan Renata akan membunuhku perlahan kalau pangeran kecil mereka sampai terluka. Lalu Marco akan memotong mayatku kecil-kecil."
"Itu tidak lucu."
"Aku tidak sedang bergurau dan kau tahu itu."
"Astaga Tuhan ... " gumam Rolan gemetar. Ia merasa roti kering dan sosis yang dimakannya tadi seperti mendesak naik ke kerongkongan. Tangannya begitu lembap hingga ia takut belatinya akan tergelincir jatuh. "Tetap di sini, Jose."
"Dan membiarkan Paman bersenang-senang sendirian? Tanpaku? Tidak usah ya."
Rolan tidak sempat menarik napas. Seiring dengan meluncurnya kalimat barusan, Jose memelesat maju dan memutar tubuh kuat-kuat seperti gasing lepas. Memanfaatkan daya putar, tangannya menebas tajam. Belati mengoyak leher wanita itu, membuat tenggorokannya robek. Ada suara derak tulang beradu dengan bilah dingin belati. Namun tidak ada darah. Aroma nanah merebak. Lalat beterbangan menjauh dalam suara dengung ribut, kemudian hinggap lagi dengan bandel.
"Dia tidak mati!" pekik Rolan ngeri.
__ADS_1
"Dia sudah mati," koreksi Jose sambil meloncat mundur, kembali ke sisi pamannya.
Mayat itu terpincang maju dengan kepala hampir putus.
"Kita bisa mengalahkan mereka, Paman." Senyum yakin terulas di bibir tipis Jose. "Dengan cara Argent."
"Bagaimana?" Rolan berseru untuk mengatasi rasa paniknya. Napasnya terengah. Kekuatannya seperti terkuras habis melihat mayat itu masih berjalan. "Kalau aku bilang permisi memangnya mereka akan mempersilakan kita lewat?!"
"Bukan cara yang itu. Tapi yang ini!" Jose berlari maju sekali lagi, menumpukan seluruh berat tubuhnya di kaki untuk menendang perut mayat. Wanita itu membuka mulut dan mengeluarkan suara sentak yang mirip saluran mampet. Tubuhnya terlontar ke tepi sungai, hilang keseimbangan, kemudian jatuh tercebur dengan suara kencang.
"Kekerasan!" Rolan mendesah keras. "Akhirnya! Cara yang juga bisa kulakukan."
Mayat itu terseret arus sampai beberapa meter ke arah hilir, tapi dengan keras kepala berkecipak untuk naik ke permukaan. Setelah mengamati beberapa lama, Jose berjalan tegas menghampiri sungai, mencabut seberkas rambut dari kepala, kemudian mengulurkannya ke atas sungai. Wajahnya begitu teduh ketika berbisik lembut dalam cara yang rendah hati, "Kiranya Tuhan mengampuni dosa-dosamu, menerima jiwamu dalam pancaran kasih wajah-Nya."
Mayat itu masih berkecipak selama beberapa saat, kemudian angin bertiup kencang dari arah hutan, menimbulkan suara kemerosak ribut daun beradu dengan daun. Hutan berbisik, pikir Rolan. Matanya membeliak lebar ketika melihat helai rambut di jari Jose hangus dilalap api magenta. Di saat bersamaan, di bawah uluran tangan keponakannya, seluruh anak sungai menyala dalam sinar keunguan. Nyala itu hanya bertahan satu kerjapan mata. Detik selanjutnya air kembali menghitam dalam gelap. Permukaannya tenang tanpa riak, menyembunyikan arus deras di bawahnya.
Suara erangan-erangan mayat terdengar sahut menyahut, makin mendekat, tapi tidak ada lagi suara mayat wanita bertubuh koyak barusan. Bahkan tak ada gelembung udara muncul ke permukaan sungai. Mayat tadi seperti lenyap ditelan malam.
Jose masih berdiri diam di tepi sungai dengan mata terpejam selama hampir semenit. Ketika pemuda itu akhirnya menoleh, Rolan refleks menodongkan ujung belati ke arahnya.
"Paman ...? Apa maksudnya ini?"
"Siapa kau?!" hardik Rolan.
__ADS_1
**
¬ambidextrous: orang yang bisa menggunakan tangan kanan dan kiri sama baiknya.