
Sir William berhenti sejenak. Matanya menyorot dingin. "Aneh sekali, apa kabar demikian cepat tersebar di Bjork? Padahal aku sudah berpesan pada Inspektur Robert agar berita ini jangan sampai tersebar."
"Tuan-tuan," potong Krip cepat. Wajahnya masam dan galak. "Kalau tidak ingin beli sesuatu, sebaiknya keluar saja."
"Perlakuanmu berbeda dengan Tuan Argent," tukas Sir William.
"Yah, tentu saja, pelanggan memang harus dibedakan!"
Jose menatap kilasan benci dan merendahkan di mata Sir William. Lagi-lagi pandangan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Perutnya bergolak mual. Ia memutuskan untuk mengalah. "Tuan Bannet, kalau ada yang kau inginkan di sini, bawa saja. Anggap sebagai tanda persahabatan."
"Harga persahabatanmu murah sekali," sindir Sir William setelah melihat sekilas pada isi toko. "Anak keempat sih, apa boleh buat."
Seluruh tubuh Jose mulai dingin, meski telinganya terasa panas. Ia memberi senyum lebar saat berkata dengan manis, "Harga selalu berbanding lurus dengan hal yang ditawarkan, bukan?"
"Kau menawarkan hal yang murah padaku?"
"Bukan aku yang menganggap murah apa pun yang ada di antara kita, bukan?"
William tertawa. "Sepertinya kau salah paham soal sesuatu. Memangnya pernah ada sesuatu sampai kau berani menyebut 'kita'?"
"Aku merasa heran," Jose tersenyum masam. "Sir William, Tuan Bannet yang sangat populer itu mau jauh-jauh datang ke toko kelontong murahan, untuk menghina putra keempat yang tidak berarti. Membuatku berpikir, jangan-jangan jadi putra keempat tidak seburuk itu."
Krip menangkap gelagat dingin di antara dua pria itu. Ia sendiri biasanya tidak hilang kendali, selalu bisa bersikap luwes menghadapi 'pelanggan' seperti apa pun. Namun sejak Sir William datang barusan tanpa bisa ia ketahui kehadirannya, sesuatu bangun dalam diri Krip. Rasa ngeri yang tinggi. Kini ia merasa mengerti bagaimana perasaan kucing pada saat terancam bahaya.
Sir William menggerakkan tangannya, membuat Jose dan Krip sedikit tersentak, tetapi lelaki itu hanya mengusap rambut pirangnya yang keemasan, lalu tertawa kecil. "Kau benar, Tuan Argent, aku memang tidak datang ke sini untuk itu. Waktuku tidak seluang itu. Hanya saja, siapa teman yang bersamamu saat datang ke pesta tempo hari? Maria? Maria dari keluarga Garnet? Wanita yang cantik, bukan?"
Darah Jose seperti membeku. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke depan, merenggut kerah baju William yang ternoda, lalu mengguncangnya. "Aku tidak tahu kau ini sebenarnya siapa atau apa," bisiknya dingin, "kalau macam-macam padanya, kuremukkan kau. Kuremukkan sampai lebur jadi abu."
__ADS_1
Sir William mengerjap-ngerjap kaget. Bahkan Krip pun merasakan keseriusan dan rasa dingin yang menjalar lewat ancaman Jose. Majikannya serius.
"Kenapa kau ini? Memangnya dia tunanganmu atau apa?" Sir William tertawa, menepis tangan Jose dari kerahnya. "Aku tidak datang untuk bertengkar, sudah kubilang barusan. Cuma menyampaikan salam dari Nona Garnet yang manis. Dia akan bersamaku malam ini, tidak bisa memenuhi janji denganmu untuk bermain di festival."
Jose mengerutkan kening. Ia tidak punya janji dengan Maria. Ia bahkan lupa bahwa hari ini ada festival kota. Tetapi Jose sadar, inti yang mau dikatakan Sir William bukan itu. Pria itu hanya ingin menyampaikan ancaman, bahwa Maria ada bersamanya. Mata Sir William menyalurkan rasa dingin yang menakutkan. Rasa dingin yang sama dengan yang dirasakan Jose setiap kali melihat Marco pulang membawa para pekerja sewaktu kecil.
Jose mengetahui arti pandangan mata itu.
Itu mata yang tidak memiliki belas kasih. Tidak ada empati. Tidak ada cinta.
Itu mata yang kosong.
Mata seorang pembunuh.
***
Selagi Jose pergi ke toko Krip, Marco sudah memanggil Rolan untuk mendiskusikan kembali apa yang sebaiknya mereka lakukan dengan mayat Tuan Wallace.
Marco berdiri di samping Rolan. Alis tebalnya berkerut mendengar pertanyaan dokter itu. "Tentu saja kita akan panggil polisi. Lalu, menurutmu apa yang sebaiknya kita katakan? Bahwa kita mengikat Tuan Wallace di kursi, meninggalkannya, lalu tahu-tahu dia mati sementara dua pekerja kita pingsan?"
"Maksudku bukan polisi sembarangan tapi Robby," sahut Rolan sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot. "Orang akan ribut mengetahui Tuan Wallace menghilang."
"Setiap hari selalu ada orang hilang di Bjork. Tidak akan ada yang curiga."
"Tentu, tapi dia hilang setelah datang menemuimu." Rolan melirik. "Itu jelas membuat perbedaan."
Marco mendengus, tapi tidak menjawab. Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, tapi bukan berarti ia benar-benar tak terjatuhkan. Masalah dengan Wallace membuatnya sangat kesal.
__ADS_1
"Dia mati sendiri, jadi kenapa kau harus menguburnya?" Rolan bertanya. "Kau bisa memanggil ambulans. Memanggil polisi. Kan bukan kau yang membunuhnya?"
Marco menggeleng. "Sejujurnya ada hal yang ingin kubuktikan, karena itu dia kutanam di dekat rumah. Lagi pula mendatangkan polisi ke sini akan merepotkan. Selama tidak ada yang bertanya, sebaiknya kita tutup mulut soal Wallace."
Rolan tertawa. "Tapi lelaki itu tahu Tuan Wallace ke sini. Sir William tahu."
Marco diam agak lama, kemudian menggeleng. "Dia tidak akan mengatakan apa pun."
Rolan menatap Marco, melihat bahwa pria itu sudah tenggelam dalam pikirannya. Ia menggeleng pelan, lalu menghela napas, mengembalikan pandangan pada foto-foto di atas meja. "Sayang sekali, ruangannya sudah dibersihkan. Aku benar-benar ingin tahu seperti apa keadaannya."
"Kau punya foto dalam genggamanmu."
"Itu beda. Ada banyak hal yang bisa ditemukan kalau menyaksikan secara langsung. Foto bisa memberi impresi palsu. Foto tidak bisa memberi aroma." Rolan mengusap rahangnya. "Kau tahu, inilah yang membedakan antara ilmu pasti dengan agama, kan? Agama membuat orang percaya sebelum melihat secara langsung. Sementara fakta mengharuskan kita melihat dulu sebelum percaya."
Marco memutar bola matanya. "Setahuku, yang namanya percaya itu ada karena tidak tahu. Karena tidak tahu kepastian, maka yang bisa dilakukan manusia hanya percaya. Kalau sudah melihat secara langsung, kau tidak bisa lagi berkata soal percaya, melainkan tahu. Jadi kalimat sebenarnya adalah: fakta mengharuskan kita melihat dulu sebelum tahu."
"Semantik," tukas Rolan tak peduli.
"Bahasa memang soal semantik," cetus Marco.
"Kau bilang, suara-suara justru bertambah keras ketika George mengetuk pintu?"
"Begitulah menurut George. Hanya dia saksinya," Marco menghela napas.
"Jadi, menurutmu kenapa dia malah memperkeras suara bantingan dan penghancuran pada saat George mengetuk pintu?" Rolan menggali informasi. Ia membolak-balik foto yang tersebar, melihat bahwa tiap foto dinomori secara urut. Matanya memperhatikan posisi pecahan vas pada foto nomor satu.
"Dia mencari sesuatu, itu jelas." Marco mengusap kumis. "Suara-suara itu hasil dari keadaan yang coba ia ciptakan. Kamuflase. Dia pasti mau menyamarkan apa yang sedang dia cari."
__ADS_1
"Dan yang dia cari adalah ...?"
"Tentu saja kalung itu."