
Foto itu tidak berwarna, tapi wanita dalam potret itu memang berwajah seperti Maria. Rambut ikalnya diikat rapat ke belakang dalam sanggul berjaring. Lekuk bibirnya manis. Wajahnya berbentuk hati. Bahkan bentuk alisnya pun sama. Gadis itu menyandarkan bahunya pada seorang lelaki yang senyumnya begitu lebar. Sir William.
"Ini kalung Maria?" tanya Rolan heran. "Dia ... pacaran dengan Sir William?"
"Dia bukan Maria," Jose berkata. Suaranya kaku.
"Dilihat dari mana pun, itu kelihatan seperti Maria. Atau mungkin keluarganya, karena foto ini kelihatannya sudah lama."
Jose menggeleng. "Maria tidak tersenyum seperti ini. Lagi pula alisnya beda. Paman benar, dari kondisi fotonya, ini kertas lama. Kurasa ...," ia diam sejenak sebelum melanjutkan, "kurasa aku mengerti sekarang. Hampir mengerti ..."
Rolan menatap Jose dengan wajah tak percaya. Ia sama sekali tidak mengerti. "Apa yang kau mengerti? Coba jelaskan. Bagaimana bisa kau tiba-tiba mengerti sementara aku yang sejak dulu berkutat memikirkan ini justru jadi tambah bingung?"
"Aku perlu memanggil Krip," Jose tidak menggubris pamannya. "Dia ingin seorang Argent memanggilnya, kan? Kita lihat apakah dia akan datang."
Jose baru saja akan menyuruh Hans membawa Krip, tapi ketukan di pintu mengusiknya. Selama beberapa detik hanya ada kesunyian dalam ruangan.
Jose memberi satu gerakan kepala, membuat Gerald bangkit dari lantai untuk membuka pintu.
Daun pintu membuka, menampakkan George yang berdiri tegak dan sopan tanpa cela. "Tuan, Dokter," sapanya sambil mengangguk. Ia masuk dengan anggun dan sampai ke depan Jose hanya dalam beberapa langkah. "Tuan, Krip datang untuk menghadap Tuan."
"Kebetulan." Jose menghela napas. Ia mengangguk satu kali. "Bawa dia ke sini, George. Lalu pastikan jangan ada yang mendekati kamarku. Meski itu Ayah, Ibu, atau Jacob."
"Tentu, Tuan." George mengangguk, kemudian beranjak pergi dengan sigap.
Tak sampai lima menit kemudian, Krip sudah berada di kamar yang sama, duduk bersila di atas karpet di sisi Gerald. Pria itu masih mengenakan apron putihnya yang bernoda tepung. Ia membawa satu buku catatan bersampul kulit mengilap, buku yang selalu disimpannya baik-baik di bawah bantal setiap kali ia tidur.
__ADS_1
"Melihatmu datang ke rumah utama tanpa diundang, pasti ada hal penting yang ingin kau sampaikan," Jose memulai. Ia duduk di pinggir ranjang, pergelangan kaki kiri diletakkan di lutut kanan. Jose memangku siku, menjadikan kepalan tangannya penyangga kepala. Ia sebenarnya mengantuk, sangat lelah. Kepalanya bahkan masih dipenuhi bayang-bayang Gladys. Namun ia berusaha menguatkan diri.
Krip mengiyakan dugaan Jose. "Sebenarnya saya malu mengatakannya. Lord Greyland berbaik hati mengirim pesan, meminta saya segera pergi dari toko selama Tuan Marco tidak di tempat. Beliau tidak mengatakan hal lain, tapi saya merasa ada peringatan di pesannya. Dan memang benar, saya merasa ngeri sendiri. Istri dan kedua putri saya sudah saya ungsikan ke luar kota sejak kemarin, saya bersikeras tetap berada di toko supaya bisa menjadi berguna bagi Tuan Marco tapi akhir-akhir ini suasana di toko tidak mengenakkan. Jalanan di sekitarnya selalu sepi. Dan puncaknya, setelah Dokter Rolan pergi, saya menciumnya dengan samar ... aroma yang Tuan Kecil bilang waktu terakhir mampir ... wangi mawar, tapi bercampur sesuatu yang sepertinya terbakar."
Rolan bergidik, sementara Jose diam saja.
"Lalu?" tanya Jose setelah menyadari Krip sudah menyelesaikan ceritanya. "Maksudmu, kau ingin pamit mengungsikan diri juga, menyusul anak dan istrimu?"
Krip menaikkan kedua alisnya. Ia menggeleng tergesa. "Saya cuma ingin melaporkan itu ... supaya kalau Tuan tidak menemukan saya, Tuan tahu bahwa kemungkinan saya sudah jadi korban. Tapi sebelum itu terjadi, saya akan melaporkan semua hal yang saya tahu pada Tuan." Krip merogoh saku, memasang kacamatanya dengan tangam gemetaran. Ia kelihatan benar-benar terguncang. Apa pun yang mengganggu Krip di tokonya, pria itu ketakutan setengah mati.
Krip beringsut maju, menyerahkan bukunya pada Jose.
"Aku akan membacanya," sahut Jose, tahu bahwa catatan itu pasti berisi informasi yang sangat penting. "Kalau kau tidak berniat mengungsi, tidak perlu khawatir soal tempat tinggal. Kau bisa tidur di sini, aku akan minta pelayan menyiapkan kamar untukmu."
Krip membeliak. "Apa? Terima kasih, Tuan. Saya tidak ingin merepotkan Tuan!"
Gerald dan Hans mengangguk penuh persetujuan, siap menaati perintah apa pun dari Jose.
Kedua mata Krip berkaca-kaca. Pipinya yang gembung merona merah karena menahan tangis haru. Ia merasa lega, dan perasaan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pundak dan punggungnya melemas.
Ia datang ke rumah ini untuk berpamitan, kalau-kalau ia akan mati malam harinya. Krip tidak menyangka ia akan diberi tempat perlindungan. Para bangsawan biasanya memperlakukan bawahan sebagai alat yang bisa diganti sesuka hati, dan Krip sebenarnya tidak keberatan. Itu hal yang wajar. Memang semestinya begitu. Apalagi ia berulangkali menolak membuka mulut ketika Jose membutuhkan bantuannya. Cara Jose memperlakukannya sebagai manusia membuat Krip makin yakin ia tidak salah memilih Tuan.
"Ada banyak hal terjadi minggu ini," Jose berkata lelah. Matanya terasa berat. "Uraikan misterinya satu persatu, Paman. Kepalaku terasa ruwet."
Rolan menatap ke sekelilingnya, kemudian memulai. "Misteri pertama kita, yang melibatkan dirimu, adalah ketika kau menemukan Higgins dalam kondisi kering."
__ADS_1
Jose mengangguk. "Mayat-mayat yang kering. Itu dia. Pelakunya tidak diketahui. Aku melihat bayangan hitam mengendus beberapa kali di rumah ini, tapi masih belum menemukan bukti bahwa makhluk itu ada hubungannya dengan mayat kering."
Rolan mengangguk. "Kemudian ada Sir William."
Jose memejamkan matanya lama-lama, menikmati rasa gelap yang menyelubungi. "Dia ... bukan manusia." Jose membuka mata, kini menatap Krip. "Benar, kan?"
Krip menggeleng pelan. "Bukan, Tuan. Saya yakin bukan."
"Dan dia mungkin ada hubungannya dengan lenyapnya Dave." Jose berpikir. "Aku ingat kami membicarakannya. Dave bilang dia sedang menyelidiki Sir William karena merasa tidak mengenal seorang Sir Bannet. Dia minta bantuan kawannya. Siapa kawannya? Kau bisa membantuku mencari tahu, Krip? Mungkin kita bisa menemukan titik terang."
Krip menggeleng lagi. Matanya sedih. "Dari kabar yang saya dengar, Lord Dominic meminta bantuan Tuan Philips Raynor. Tuan Phillips Raynor juga menghilang."
Jose mengepalkan tangannya dengan gemas. "Semakin mencurigakan. Apa boleh buat, aku akan mengutus orang memeriksa buku Baronetage serta daftar lain. Seharusnya aku melakukan ini sejak lama."
Baronetage adalah buku dari istana yang berisi daftar silsilah para bangsawan.
"Sebenarnya, Tuan Stuart sudah melakukannya," kata Krip pelan, masih sedikit bingung apa yang sebaiknya ia katakan dan tidak katakan. Namun ia memutuskan untuk memercayai instingnya. "Tuan Stuart juga menyelidiki tentang itu. Setahu saya, Tuan Stuart meminta agar dipertemukan dengan Tuan Kecil, tapi Tuan Marco keburu menghilang sebelum sempat melakukannya."
"Bagus," sahut Jose senang. Ia menoleh pada Rolan. "Ingatkan aku untuk mengirim undangan pada Tuan Stuart, Paman."
Rolan mengangguk kaku, memperhatikan bagaimana keponakannya yang ceria berubah jadi makin mirip dengan Marco. Pemuda itu bahkan begitu terbiasa memerintah orang lain sekarang.
"Ah, aku sebenarnya ingin membahas ini dulu." Jose mengulurkan tangan ke depan dan membuka kepalan tangannya, menunjukkan medalion yang membuka. "Ini bukan Maria. Kau tahu dia siapa?"
Krip menerima medalion itu dengan hati-hati. Matanya membeliak mendapati foto di sana. "Apakah Tuan Marco tahu isinya?" ia bertanya.
__ADS_1
Jose menggeleng pelan. Ia bisa menebak, Krip akan memberinya cerita menarik.
***