
Rolan sudah pernah bercerita sebelumnya bahwa Robert selalu menggunakan publik sebagai tameng. Inspektur itu pasti berpikir bahwa hal-hal rahasia tidak akan mungkin dibahas di depan publik karena memang itulah etika Argent: tidak melibatkan pihak yang tidak tahu. Dan Robert menggunakannya dengan piawai, bermaksud mendesaknya mundur dengan cara melibatkan sekalian semua telinga publik, berpikir bahwa Jose tidak mungkin mau keributan dunia bawah terangkat naik ke atas dan membuat masyarakat curiga. Sebab yang Robert tahu, Marco memang tidak suka kalau kondisi Bjork tidak stabil.
"Nah, Jose?" Robert mengusap belakang lehernya, menghapus keringat yang membuatnya gerah. "Aku akan minta anak buahku mengantarmu pulang, aku benar-benar minta maaf soal ini."
Jose mengabaikan Robert. Ia mengangkat wajah, menatap Gordon yang mati-matian berusaha tidak membalas tatapannya, kemudian beralih pada Robert yang sekarang sedang menyalakan rokok.
Ia diremehkan, Jose tahu itu. Robert menganggapnya sama seperti Rolan yang bisa diusir dengan mudah. Jose merasa sudah berusaha tetap sopan dan kooperatif, tetapi Robert justru membuka arena bagi mereka dengan membuka pintu lebar-lebar dan berteriak-teriak, menarik spektator untuk membantu mengusirnya dari kantor. Itu jelas sebuah tantangan.
Seorang Argent tidak pernah menampik tantangan yang datang, dan Jose tidak pernah melenggang pergi dari pertarungan tanpa menghajar lawannya sampai jatuh. Jadi ia hanya mengangguk sopan pada Robert. "Saya mengerti, jadi semua ini hanya salah paham."
"Itulah yang kukatakan tadi!" Robert berseru puas sambil menepuk paha kirinya. Asap rokok mengepul dari celah bibir. Kini ia tampak lebih tenang. "Aku tahu kau bisa diajak bicara baik-baik, Jose. Kau cerdas, jadi pasti mengerti maksudku."
Jose bangkit dari kursi dan berjalan ke luar ruangan. Ia bisa merasakan Robert maupun Gordon menghela napas lembut di belakang punggungnya.
Hans dan Gerald mengikuti Jose, kelihatan tak puas, tapi tetap percaya penuh pada apa pun yang dilakukan tuan mereka. Jose tidak berniat mengkhianati kepercayaan itu. Prinsipnya adalah mengembalikan penuh apa pun yang diberikan padanya.
Ketika ia keluar dari kantor Robert, semua personel di ruangan tersebut menghentikan kegiatan mereka dan mengamati Jose diam-diam. Jarang bagi mereka melihat dari dekat seperti apa rupa putra bungsu Keluarga Argent.
Kereta kudanya masih menunggu di depan pintu kantor polisi, Jose bisa melihat kendaraan itu dari tempatnya berdiri. Ia menghentikan langkah tepat di tengah ruangan, kemudian berbalik pada Robert dan Gordon yang masih berada di belakangnya.
Gordon sedang berjalan ke arah pantry, tetapi kemudian berhenti karena merasa tak nyaman. Suasana terlalu hening. Ketika menoleh, ia baru tahu sebabnya. Jose sedang memandanginya lekat-lekat. Seketika itu juga, tengkuk Gordon meremang. Keringat dingin bergulir satu-satu membasahi punggung, merembes menembus seragam birunya. Kakinya membeku seperti menginjak ter panas.
__ADS_1
"Kenapa, Jose?" Robert bertanya. Suaranya menggelegar.
"Sersan," panggil Jose, mengabaikan pertanyaan inspektur itu. "Anda tahu apa yang membuat Keluarga Argent begitu ditakuti?"
Gordon menoleh ke kanan dan ke kiri dengan kaget, mati-matian berharap bukan ia yang diajak bicara. Lututnya melemas.
Robert membuang puntung rokoknya ke lantai dan menggilasnya dengan sepatu. Ekspresinya mengeras. "Apa maksudmu, Jo—"
"Karena," Jose tidak membiarkan dirinya diinterupsi. Ia menyeringai. "Seorang Argent selalu membalas berkali lipat apa pun yang mereka terima. Jika seseorang membantu kami, kami akan membantunya lebih baik lagi ketika ia susah dan melindunginya. Anda bisa lihat pada para penyewa tanah di Argent, pada serikat dagang yang bekerja sama dengan kami yang merajai Aston dan Bjork, juga pada orang-orang di Bjork sendiri. Tapi bagi orang yang mengkhianati kami, menusuk kami dari belakang, berdusta pada kami," Jose mengucapkan setiap katanya hati-hati dengan penuh penekanan, membiarkan gemanya mengendap dalam ruang sunyi tersebut, kemudian menyelesaikan kalimatnya dalam bisikan rendah, "kami juga akan membalas dua kali lipat."
Gerald tersenyum bangga dan Hans mendengus penuh semangat. Mereka mengawasi sekitar dengan pandangan penuh ancaman, bersiap menggepengkan siapa pun yang akan diperintahkan oleh Jose.
"S-saya tidak mengerti," Gordon berhasil mengumpulkan suaranya untuk bicara. Ia menoleh ke sekitar dan tertawa lirih, wajahnya kelihatan begitu kesusahan seperti orang ingin menangis. "Saya tidak mengerti ..."
Jose mengabaikan Robert sepenuhnya. "Kalian tentu tahu maksudku. Kalian pasti mendengar kisah kami dalam cerita-cerita di pub, di depan pendiangan, di ruang gosip. Cerita yang membuat kalian sampai membuang ludah untuk mengusir sial setiap kami lewat," ia menyindir, membuat opsir yang sempat meludah tadi berwajah kecut. "Banyak orang menyebut pamanku jahat dan keji, dan aku tidak menyalahkan mereka."
"Jadi?" sembur Robert, berhati-hati mendekat dengan mempertimbangkan dua raksasa yang mengawal Jose. "Sudah selesai kotbahnya, Nak? Haruskah aku bertepuk tangan?!"
"Aku merasa perlu mengingatkan bahwa dalam tubuhku juga mengalir darah Argent yang sama." Jose menyapukan ujung jarinya pada keliman jas, merapikannya selagi bicara. Suaranya sedingin biang es. "Aku bisa lebih keji dari Marquis Argent jika diperlukan."
Semua orang tahu seperti apa kawanan yang mengekor di belakang Marco. Banyak rumor dilebih-lebihkan tentang pria itu, tetapi hampir separuh Bjork pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Marco menginjak remuk leher seorang pria yang menyerangnya di bank hingga mati lalu membakar rumah pria itu hingga habis. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu, tetapi cerita tentang kegilaannya masih selalu diceritakan seolah Marco baru melakukannya pagi ini.
__ADS_1
Belum ada yang pernah melihat Jose bersikap kejam, tetapi ada sesuatu dalam nada suara lelaki itu yang membuat semua orang percaya bahwa Jose memang serius.
Hawa dingin merayap menyelimuti ruangan, menyergap satu per satu manusia di sana, seolah pemuda tanggung yang berdiri di tengah mereka itu bisa menguarkan hawa dingin dari tubuhnya.
Jose menjatuhkan kepala ke satu sisi ketika menatap Gordon dengan pandangan menuntut. "Sersan?"
Gordon terperanjat. Ia masih di tempatnya semula menuju pantry. Ujung-ujung jari kakinya terasa dingin dan sulit dirasakan. Ia menatap Robert dan Jose bergantian.
"Jangan takut. Kalau Anda berkata jujur, tidak ada yang perlu dicemaskan. Hanya saja, Nolan adalah kawan baikku. Aku menyayanginya seperti adik sendiri."
"Gordon!" bentak Robert kalap begitu melihat tubuh pria itu bergetar hebat seperti diserang epilepsi.
"Anak itu di sel!" raung Gordon akhirnya. Ia menatap ke sekitarnya dengan mata basah, kemudian menjatuhkan pandangan. Kedua alisnya bertemu dalam kernyitan jijik. "Anak itu di sel!! Aku tidak peduli meski aku dipecat! Anak itu di sel!"
Robert menganga. Rasanya ia benar-benar merasa seolah wajahnya dicoreng dengan arang. Belum pernah ia merasa malu dan sakit hati seperti ini. Anak buahnya takluk pada ancaman seorang bocah yang baru beberapa tahun jadi dewasa.
"Jadi cuma segini loyalitasmu?" geramnya.
Gordon menggertakkan giginya yang bergemeletukan. Ia menatap ke sekitar, pada banyak pasang mata yang mengawasinya, mengasihaninya, menuduhnya. "Persetan dengan kalian semua! Aku cuma orang biasa! Apa kalian tidak tahu siapa orang ini, ha?! Dia bahkan bisa menyula tubuhmu di jalan dan tidak akan ada yang bisa mencegahnya!“ jeritnya, sebelah tangan terentang menunjuk Jose, yang memberi tatapan muak seperti melihat kecoa.
Gordon tidak menunggu tanggapan. Pria itu berjalan tergesa ke arah Jose, mengabaikan makian Robert, kemudian memohon dengan suara tercekat gemetar, "Saya tidak terlibat! Saya yang pertama memberi tahu Anda, karena saya tidak terlibat!! Saya diancam akan dikeluarkan kalau mengiyakan Anda tadi!"
__ADS_1
Jose memiringkan kepala untuk memandang ke belakang Gordon, matanya menatap Robert tajam.
***