BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 208


__ADS_3

Ada yang aneh dengan hutan sakral di Bjork Selatan. Hubbert memang mendengar bahwa ada gerakan-gerakan mencurigakan di sana, tetapi tidak pernah benar-benar terdorong untuk masuk menyelidiki. Rumor mengenai adanya sekte Scholomance dari Rumania-lah yang membuatnya tergerak menyelidiki. Ia membawa kameranya karena ingin memotret reruntuhan puri sekaligus kapel Ashington yang melegenda. Ia pikir bangunan itu sudah runtuh. Namun ia salah. Puri sang duke berdiri dengan gagah menentang langit. Bentuknya aneh, dengan menara-menara yang tidak simetris serta proporsi bangunan yang tidak seimbang. Namun yang lebih aneh lagi adalah manusia-manusia yang berkumpul di sana, yang kelihatan seperti orang gila. Ada mayat, ada ceceran darah, ada tangisan dan jeritan, juga ada potongan tubuh aneh di pelataran puri.


Hubbert mendengar nama Argent disebut-sebut dalam teriakan dan pertengkaran, tapi ia tidak mendekat untuk mencari tahu lebih lanjut. Ia bahkan tidak memotret. Hubbert langsung berbalik pergi.


Hutan Bjork membuatnya merasa tak nyaman. Jantungnya berdegup kencang seakan ia baru saja menyaksikan memasuki wilayah tabu. Ia masuk ke dalam hutan siang hari. Hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk kembali ke jalan setapak yang mengarah pada mulut hutan, tapi Hubbert memutar jalan karena merasa diawasi. Ia bermaksud pura-pura memotret burung atau semacamnya agar tidak dicurigai oleh siapa pun yang mengawasinya, tapi rasa tak nyaman yang menempel di punggungnya justru makin menguat, membuat Hubbert berpikir bahwa bukan manusia yang mengawasinya, melainkan keseluruhan hutan Bjork.


Hari sudah gelap ketika akhirnya ia menemukan jalan kembali ke mulut hutan, dan yang dilihatnya benar-benar aneh. Beberapa orang setengah telanjang menyerang Jose Argent dan Dokter Rolan Orlov, dan orang-orang itu menghilang setelah dilempar ke sungai. Hubbert juga melihat nyala keunguan yang berasal dari sungai, tapi ia pikir itu hanya khayalannya saja.


Ia pikir ia hanya capek, sampai ia melihat kilau itu sekali lagi.


Anak sungai menyala dari ujung sampai ujung, membuat malam menjadi siang dalam sekejap. Dan yang membuat sungai memancarkan kemilau keunguan tersebut adalah Jose Argent, yang menopangkan tangan ke atas sungai sambil memejamkan mata. Di ujung jari lelaki itu terdapat sehelai rambut yang segera lenyap dilalap kobaran api magenta bersamaan dengan mulai bersinarnya sungai.


Seolah itu tidak cukup aneh, Hubbert melihat orang-orang yang sempat disangkanya gelandangan atau tuna wisma ternyata adalah mayat. Mayat-mayat dengan tubuh membusuk bermunculan, jumlahnya puluhan, dan mengerubuti Jose serta Rolan seperti tikus mengerubuti sisa makanan.


Aroma busuk memualkan yang tadinya ia kira berasal dari perkampungan Selatan atau limbah sungai ternyata dibawa oleh makhluk-makhkuk itu.


Kunarpa. Hubbert ingat mitos itu, cerita mengenai seorang kuli yang mati terlindas kereta tetapi masih berjalan-jalan seperti biasa hingga tubuhnya membusuk habis.


Namun yang lebih membuatnya ngeri saat ini bukan kunarpanya, melainkan dua lelaki di depannya. Baik Rolan maupun Jose sama sekali tidak terlihat gentar. Hanya dengan menggunakan belati mini serta tangan kosong, mereka menebas dan menusuk, menghajar dan menendang, mendorong mayat-mayat hingga tercebur ke dalam sungai. Hubbert sendiri masih tertegun di tengah kericuhan.


Salah satu mayat berlari ke arahnya, tapi Hubbert hanya sanggup melotot ngeri. Ia masih melotot ketika mayat itu menabraknya jatuh. Tasnya terbanting ke tanah, begitu pula kepalanya. Untuk sesaat yang bisa dirasakan Hubbert hanya pusing. Kemudian ada rasa dingin. Tangan yang mencakar wajahnya terasa dingin dan keras seperti batu pualam. Muka yang menatapnya tak bisa lagi disebut wajah, hanya gelembung rata tanpa bentuk, mendengkur aneh dari celah kecil yang menyerupai bibir. Hubbert menjerit, mendorong mayat itu dengan ngeri dan berguling mundur. Ia menjerit, menjerit, dan menjerit panjang tanpa henti.


Mayat tadi kembali meloncat ke arahnya. Hubbert menahan napas, hanya sanggup menatap ngeri ketika wajah itu makin lama makin mendekat. Suara makin sayup di telinganya dan segala hal berubah begitu lambat sekaligus gelap. Yang bisa ia lihat hanya wajah bengkak yang tak menampilkan mata, mulut, atau hidung. Lalu ia melihat sepatu bot bertali warna hitam muncul dari samping, menendang wajah lepuh itu hingga patah dengan suara gemeratak mengerikan. Tubuh sang mayat berguling jatuh.


Hubbert mengawasi dengan ngeri. Matanya tak bisa lepas dari mayat itu.


"Mr. Decker," sebuah suara kalem dan dua kali jentikan jari berhasil mengalihkan perhatian Hubbert. Ia menatap ke depan, melihat wajah Jose yang menatapnya prihatin. "Mr. Decker," ulang lelaki itu, "kuatkan mentalmu. Ingat siapa namamu. Namamu Hubbert Decker. Siapa namamu?"

__ADS_1


"De-Decker," gumam Hubbert gemetar. Perutnya bergejolak mulas. Seluruh tubuhnya gemetaran hebat. Suara-suara kembali terdengar jelas di telinganya dan segala hal kembali terlihat dalam kecepatan normal. Ia mendengar suara bilah pisau menebas daging, mendengar sumpah serapah Rolan dan bunyi ceburan air. "Hubbert Decker," bisiknya, ingat kembali ia sedang berada di mana dan apa yang dilakukannya seharian ini. Tubuhnya terguncang dalam getar hebat dan ia menangis.


Jose mengangguk, tampak lebih lega. "Bagus," katanya pelan. "Ingat namamu, jangan lupakan itu. Jangan biarkan apa pun membuatmu lupa akan identitasmu. Kau akan pulang ke rumahmu. Ingat-ingat saja itu."


"Jose!" seru Rolan sambil menendang satu mayat yang hampir meloncat ke arah mereka. "Aku agak repot di sini! Apa kau masih lama ngobrolnya?"


"Menunggu adalah salah satu keahlian yang dibutuhkan seorang pria terhormat, Paman," sahut Jose sambil bangkit.


"Aku tidak mau jadi pria terhormat kalau begitu!" balas Rolan, mendorong satu mayat ke dalam sungai.


Jose tertawa kecil, kemudian mengayunkan belatinya mengiris tubuh lunak salah satu mayat yang mendekat. Isi perut mayat itu langsung tumpah ke rumput. Aroma busuk merebak. Hubbert berpaling dan mengeluarkan makan malamnya. Tenggorokannya sakit. Hidungnya pedih. Ia muntah tanpa henti, bahkan ketika akhirnya tenggorokannya sakit dan tak ada lagi yang bisa dimuntahkan, rasa mualnya tetap tinggal.


Lagi-lagi sungai berkerlap singkat seperti dihajar petir tanpa suara. Hubbert mengusap mulut dengan punggung tangan, melihat bahwa mayat-mayat yang mengelilingi mereka masih banyak. Namun baik Rolan maupun Jose sudah bercucuran keringat, kehabisan tenaga.


"Ke Utara!" Rolan menarik lengan Hubbert hingga bangkit berdiri dan menyentakkannya ke arah jembatan perbatasan. Napasnya tersengal. "Lari sana ke manor Argent! Minta bantuan Marco! Bilang kau melihatku di sini!"


Hubbert kebingungan. Otaknya masih belum lancar mencerna apa yang sedang terjadi, tubuhnya tidak bisa digerakkan seperti biasa. Ia berusaha menyeret langkah, tapi gagal dan justru terjerembap jatuh. Jose menoleh, berlari ke arahnya untuk membantu, tapi mayat yang barusan dihajarnya bisa mengembalikan keseimbangan dan meloncat menyerang.


Ada suara kunyahan keras memecah malam.


Rasa sakit itu menyerang cepat dan panas, membuat Rolan tidak bisa bernapas. Ia bisa merasakan gigi mayat itu menekan kulitnya, mengoyak lehernya. Ia merasakan dagingnya ditarik lepas. Ada sengatan sakit dan rasa panas meleleh membasahi kulit, tapi kemudian hanya itu. Ketika kepalanya terbanting jatuh ke tanah, Rolan hanya memikirkan satu kata.


Yvone.


Mayat tadi masih menindihnya, mencakarnya, mengoyaknya. Rolan tak merasakan apa pun. Ia hanya berjuang untuk menarik napas satu-satu. Tangannya menggenggam belati dengan kaku, tapi tak bisa digerakkan. Ia bahkan tak tahu apakah ia masih punya tangan atau tidak. Kemudian dilihatnya Jose berlari mendekat, meneriakkan kalimat yang tidak bisa diproses dalam kepalanya. Ada seru-seruan dan kelebatan hitam yang lewat-liwit. Kaki-kaki banyak manusia.


Mayat tadi hilang.

__ADS_1


Kini ia justru melihat wajah Gerald dan Hans. Rolan menebak dirinya mulai berhalusinasi. Ia merasakan tubuhnya diangkat dan digeser ke tempat lain, dipinggirkan ke bawah pohon. Ada lebih banyak lagi suara teriakan dan tembakan. Segala hal terasa begitu jauh tapi juga dekat dalam saat yang sama. Rolan tak tahu berapa lama waktu berlalu. Ia hanya menatap ke langit malam dengan mata makin buram. Air matanya meleleh panas.


"Paman," panggil sebuah suara muda yang begitu dikenalnya. Suara Jose. Kini wajah pemuda itu muncul, tangannya menggenggam tangan lain yang bernoda darah. "Paman, lihat aku! Kau akan selamat, kau akan sembuh! Kau percaya padaku, kan?"


Sudah terlambat, Jose. Rolan tidak bisa mengatakan itu. Ia hanya memandangi keponakannya dengan tatapan nanar. Sesuatu yang panas dan lengket masih membasahi bahunya, menggenang makin banyak. Luka sebesar ini tidak akan bisa ditolong lagi. Kepalanya sakit.


Ada cerita tentang orang-orang yang melihat kilasan hidup mereka sebelum meninggal. Rolan heran kenapa ia tidak mendapat kilas balik semacam itu. Yang melayang di benaknya sekarang justru sebuah cerita tentang seorang rabi dan dua belas muridnya.


Salah satu murid sang rabi berusaha mengusir setan dari orang yang kerasukan, tapi gagal dan justru dikejar oleh orang yang kerasukan tadi. Setelah sang rabi membereskan kekacauan yang ada, para muridnya datang dan bertanya kenapa mereka tidak bisa mengusir setan tersebut. Sang rabi menjawab, "Karena kamu kurang percaya. Aku berkata kepadamu, seandainya kamu punya iman sebesar biji sesawi ini saja, kamu bisa berkata pada gunung ini untuk pindah, dan pindahlah ia."


Rolan memejamkan mata, merasa geli karena justru baru sekarang ia mengerti kenapa tidak bisa membuat sungai itu menyala seperti yang dilakukan Jose.


"Paman?" Jose berbisik lagi, suaranya kedengaran lebih jelas sekarang. Jernih. "Bangunlah, kita pulang sebentar lagi."


Rolan membuka matanya lebar-lebar dan menoleh ke samping. Dahinya terlipat dalam kerut bingung. Ia merasa seluruh tubuhnya menghangat lagi dari ujung ke ujung. Tidak ada sengatan rasa sakit, tidak ada suhu tubuh yang merosot. Ia menarik lepas tangannya dari genggaman Jose untuk menyentuh lehernya sendiri. Jarinya dengan hati-hati meraba tempat di mana harusnya dagingnya terkoyak. Halus. Ia mencari makin jauh, meraba, membuka mantelnya sendiri yang basah dan lengket karena darah, lalu bangun untuk duduk—kaget sendiri karena punya kekuatan untuk bergerak. Lukanya hilang. Rolan melotot, menatap Jose yang kini bertambah pucat dan kehabisan napas. "Apa yang kau lakukan?" bisiknya. Ia menoleh ke belakang Jose, baru menyadari bahwa bantuan sudah datang.


Agak jauh dari mereka, di sekitaran sungai, Gerald dan Hans mengamuk, menghajar semua mayat yang muncul. Para pekerja Argent yang lain dengan brutal melempar tubuh demi tubuh ke dalam sungai. Hubbert duduk tak jauh dari mereka di dataran yang lebih tinggi, komat-kamit menggumamkan namanya sendiri.


Rolan mengembalikan wajah pada Jose, kini benar-benar merasa ngeri. Tangannya masih menempel di leher, meraba-raba mencari luka. "Kau yang menyembuhkanku?"


Jose menggeleng. "Jangan bilang siapa pun," katanya sambil membaringkan diri. Keringat menitik di leher dan wajahnya. "Jangan bilang."


"Bagaimana kau melakukannya?" Rolan berbisik, meski sebenarnya ingin berteriak. Ia meraih dan meraba pergelangan tangan Jose. Nadinya lemah. "Jose ... apa yang kau lakukan? Kau baik-baik saja? Kau luka?"


"Tidak luka. Aku akan cerita di rumah." Jose masih menata napas. Ia membenamkan wajah ke rerumputan basah yang sejuk dan memejamkan mata. "Bangunkan aku kalau mereka sudah menceburkan semua mayat."


Rolan diam saja. Benaknya kembali melayang ke cerita mengenai rabi yang mengusir setan.

__ADS_1


Karena kamu kurang percaya, teguran sang rabi terasa sejelas seperti dibisikkan langsung ke telinganya.


***


__ADS_2