
Ruang makan didesain dengan gaya klasik. Rolan ada di kursi makan yang menghadap langsung ke jendela taman. Dia mengangkat cangkir teh di tangannya dan membuat gerakan bersulang ketika melihat kedatangan Marco.
"Kupikir sarapan sudah siap, ternyata aku kepagian. Kau belum lapar, Marco?"
“Mana Jose?”
“Katanya ada kelas, dia berpisah denganku di persimpangan jalan. Dia rajin ke kampus?"
“Lumayan. Mau jalan-jalan sebentar? Di luar ada tanaman baru yang datang dari Afrika.”
“Aku sedang minum teh,” tolak Rolan dengan halus, membaca bahwa yang ditawarkan padanya bukan sekadar ajakan jalan-jalan.
“Bawa saja gelas tehmu,” sahut Marco tak mau kalah. “Melihat taman sambil minum teh pasti akan menyenangkan.”
“Wow, dan selama ini kupikir kau tipe orang yang taat pada aturan!”
Marco tidak menanggapi, hanya berbalik luwes dan berjalan duluan melewati koridor samping yang berdinding kaca. Rolan ada sepuluh langkah di belakangnya, benar-benar mengikuti sambil membawa cangkir tehnya.
Mereka melangkah ke taman di samping rumah. Rolan menapak turun melalui tangga batu warna hitam, langkahnya bergemerisik melindas rerumputan teki yang masih basah.
“Dayang yang satu sudah bisa bicara sedikit, yang berambut merah terang dan bermuka bintik itu,” katanya sambil menjajari langkah Marco. Dia menyesap pelan-pelan teh hitamnya, kemudian berkata lagi dengan cengiran di wajah, “Yang satu masih belum sadar.”
“Yang rambut merah itu Anna, yang belum sadar Linda. Kupikir dokter seharusnya mengetahui nama-nama pasien.”
__ADS_1
Rolan mengabaikan celaan itu. Ia meniup lembut sisa tehnya yang masih panas, tetapi belum menyesapnya. Mata cokelatnya yang lembut menatap pada deretan pakis hias yang memenuhi dinding batu buatan. “Sepertinya kau bicara banyak pada Jose.”
Marco berbalik, mata elangnya memberi tatapan tajam. “Apa yang dia katakan padamu?”
“Tidak, aku yang bertanya di sini. Apa yang kau katakan padanya?”
“Bukan hal yang besar,” sahut Marco setelah diam beberapa saat. Nada suara dan sikap tubuhnya masih seangkuh biasa. Ia menggeleng pelan, kemudian mengulang kembali, “Bukan hal yang besar. Aku cuma tidak mau dia menyelidiki sendiri dalam ketidakwaspadaan.”
“Kau membiarkannya menyelidiki soal ini?” Rolan tidak menyebunyikan kekagetannya.
“Aku bukan membiarkannya, tapi jelas sekali dia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi. Daripada membiarkannya mengendus dalam ketidaktahuan, bukankah lebih baik memberi tahu sedikit dari hal yang penting? Lagi pula Renata juga tahu hal itu. Aku cuma memberi tahu apa yang perlu mereka berdua tahu.”
Rolan mengangguk pelan, menuang sisa tehnya ke atas rumput. Teh itu sudah tidak panas lagi, tidak nikmat. “Yang penting jauhkan saja dia dari Sir William itu.”
“Kau juga curiga padanya?” Marco mengerutkan kening.
“Kau pernah bertemu dengannya?”
“Tiga atau empat kali. Dia mengundangku ke pesta yang pertama, kemudian kami bertemu lagi di suatu tempat yang sekarang aku lupa letaknya. Entahlah, ingatanku tentang dia sedikit samar-samar.”
Marco menoleh cepat, tangannya bergerak kasar menarik kerah kemeja Rolan. “Kau yakin tidak apa-apa?!”
“Tidak, hey, jangan kasar begitu! Kalau ada yang lewat, kita bisa-bisa dikira sedang berantem!” Dokter itu tertawa keras. Ia menepis tangan Marco, kemudian menepuk-nepuk pakaiannya sambil menyisir kondisi sekitar dengan waspada.
__ADS_1
Hanya ada tumbuh-tumbuhan, bunga, kaktus hias, bonsai, serta tanaman hias lain. Suara gemericik kolam buatan terdengar merdu, bersambut dengan cericit burung. Setelah yakin bahwa tidak ada orang di sekitar mereka, Rolan memalingkan wajahnya kembali ke depan dan kembali bicara dengan gaya santai, “Seharusnya kita tidak membicarakan hal semacam ini di taman, kan?”
“Aku harus memastikan apakah yang sedang bicara denganku sekarang memang manusia atau bukan.”
“Tentu saja manusia, bahkan seandainya makhluk itu sudah mengincarku pun, aku akan tetap jadi manusia. Manusia kering.”
Rolan tertawa, kedengarannya seperti baru saja menceritakan lelucon yang sangat lucu dan hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri. Marco tidak tertawa. Begitu pun dengan Jose.
Jose berada di tikungan tembok, bersandar merapat pada tanaman rambat yang menjalar ke dinding, tidak sengaja mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua pamannya tersebut. Ia memisahkan diri dari pamannya dengan alasan ada kelas, tetapi ia sebenarnya cuma ingin kembali ke jembatan dan memeriksa lebih detail struktur tanah di sana. Sayangnya polisi patroli sedang mondar-mandir di perbatasan Bjork.
Jose ingat dua polisi tersebut adalah para petugas yang membawanya pulang kemarin. Untuk menghindari rasa malu, Jose berbalik pulang dulu, berpikir ingin mencuri makanan kecil dari dapur dan membawanya untuk bekal penelusuran. Toko-toko makanan dan restoran tidak akan buka atau menyediakan makanan sampai pukul sebelas nanti. Bjork adalah tempat yang terlalu taat pada aturan—berkat Marco.
Jose tidak ingin terpergok oleh Marco atau Rolan sedang bolos kelas sehingga ia mengendap-endap lewat taman. Ia tidak pernah membayangkan justru akan mendengar pembicaraan dua pamannya saat sedang berjalan menuju belakang dapur.
Soal Sir William?
Apa maksud Paman?
Dia memang ada hubungannya dengan semua ini?
Paman Rolan juga mencium bau mawar dan darah!
Jadi, memang ada lebih banyak hal yang mereka sembunyikan dariku!
__ADS_1
Berbagai pertanyaan datang mengusik kepala Jose. Ia masih berdiam dan mendengarkan agak lama, menunggu informasi lain muncul atau didiskusikan.
Namun Rolan malah membahas soal angin dan juga cuaca panas yang semakin membakar. Kemudian gemerisik langkah dua orang tersebut jadi makin dekat.