
Ia harus menemui Robert dan bertanya apa maksud inspektur tersebut.
Rolan melirik, melihat Marco tidak memperhatikannya. “Baiklah,” ucapnya pasrah. “Biar aku rekam saja suaraku dalam kaset supaya kau bisa mendengarkannya nanti.”
Marco tertawa mendengar itu. Ia menepuk pahanya sendiri, kemudian bangkit dengan tegap. “Jangan direkam, buatkan saja salinan laporan untukku. Usahakan tulisannya bisa kubaca.”
“Lho, kau sendiri mau ke mana?” Rolan merapikan kembali berkas-berkas yang ditaruh Marco di atas meja.
“Aku ada perlu ke sini dan ke sana sebentar, kenapa kau mau tahu?” Marco menukas dingin. Ia harus menemui Robert, lalu Direktur Pusat Arsip. Ia lupa menanyakan soal kalung medalion yang masih disimpannya dari Nolan.
“Kabari aku kalau ada hal lain lagi yang menarik,” ucapnya sambil memakai topi fedora. Ia memanggil George dan menyuruhnya menyiapkan mantel serta mobil dan bersiap untuk pergi, tetapi berhenti saat sepatunya ada di ambang pintu. Ia ingat dokter itu tidak berada dalam kamar Edgar pada saat Nolan tertangkap. “Rolan, kau tahu banyak soal lambang dan simbol?”
“Kenapa? Apa wajahku menyiratkan satu hal atau bagaimana?”
“Menyiratkan keinginan untuk ditempeleng?” gerutu Marco. “Kau sepertinya menyukai hal-hal berbau mistis dan simbol-simbol. Apa kau tahu ini lambang apa?” Ia mengeluarkan kalung dalam kantung celananya, dan menggantung benda tersebut di udara, membiarkan bandulnya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti pendulum.
Rolan menyipitkan mata, tetapi karena tidak bisa melihat, ia berdiri dan berjalan mendekati Marco.
“Wow, kalung yang indah,” katanya heran. “Emas asli, ya? Apa ini milikmu?”
“Kau tahu lambang yang terukir di situ?”
__ADS_1
Rolan mengamatinya agak lama, kemudian tertawa sumbang saat mengangguk. “Kau dapat dari toko barang antik? Atau ini salah satu lelucon burukmu?”
“Sepertinya kau tahu arti kalung itu.”
Rolan menatap Marco langsung ke dalam matanya, ketika menangkap keseriusan pada mata elang itu, dia mengangguk pelan. “Ini kalung yang digunakan dalam ritual darah.”
***
William menghantam tiap tuts dengan jari-jarinya, pertama bertempo lambat, kemudian tiap ketukannya bergerak makin cepat dalam stakato, memenuhi tiap gang dan lorong-lorong serta ruangan di rumahnya. Lagu yang dimainkan berganti-ganti antara nada mayor dan minor, memberi kesan ganjil yang tidak bisa lepas dari hati orang yang mendengarnya.
Para pelayan meringkuk di kamar masing-masing dengan gelisah, saling berbisik dengan teman sekamar mereka. Tiap kali majikan baru mereka memainkan nada yang aneh itu, mereka selalu merasa resah. Ada yang aneh pada nada-nadanya. Ada yang aneh pada rumah yang tidak boleh disusuri pada saat hari mulai malam atau sebelum matahari bersinar ini. Jam kerja mereka hanya dimulai pada saat matahari masih nampak, selain itu, mereka diharuskan untuk tetap di dalam kamar atau tidak usah pulang sekalian kalau hari kebetulan sudah gelap. Hal ini sudah dikatakan pada saat wawancara kerja, sehingga tidak ada satu pun yang merasa perlu bertanya-tanya lagi. Meski begitu, tiap pelayan, baik lelaki maupun perempuan, tetap merasakan kegelisahan yang mengerikan.
Pernah, suatu ketika, anggota pelayan hilang satu orang. Lelaki muda yang memang selalu banyak omong dan penuh rasa ingin tahu. Tidak ada yang ingat lagi siapa namanya, tetapi para pelayan masih mengingat wajahnya. Mereka semua yakin, pelayan lelaki tersebut pasti sudah melanggar aturan yang lain dalam rumah itu; yaitu membuka pintu kamar setelah matahari tidak tampak. Ada suara pintu dibuka dan seruan kaget, seperti suara kesiap di suatu malam—suara pelayan muda yang gampang penasaran itu. Para pelayan lain berpikir, anak muda itu pasti ketahuan menyelinap malam-malam, kemudian dipecat langsung pagi itu juga. Karena, tidak ada satu pun yang sempat melihat kemunculannya lagi.
Keadaan bahkan jadi lebih aneh lagi, beberapa pelayan mulai lupa bahwa ada pelayan muda yang hilang. Padahal sebelumnya para pelayan itu yang paling cemas dan sampai menanyakan langsung pada William Bannet apa yang sebenarnya terjadi.
Pemilik rumah tempat mereka bekerja memang sangat tampan dan juga sopan, baik hati, murah senyum, dan gaji yang diberikan pada para pelayan juga lebih dari standar yang biasa diterima di Bjork. Mereka semua bekerja dengan riang dan giat di siang hari, tetapi tiap kali matahari lenyap, semuanya seperti diingatkan pada rasa ngeri yang menanti mereka di kamar. Tidak ada yang bisa menepikan perasaan aneh yang dialami tiap-tiap orang pada malam hari setiap kali mereka mendengar suara permainan piano yang begitu indah dan ganjil di saat bersamaan.
Semua orang meringkuk di balik selimut masing-masing, menahan rasa takut. Mereka tahu, pada saat siang datang, rasa takut itu akan hilang. Namun tidak ada yang bisa mencegah kengerian itu menyelinap masuk. Mereka seperti dikurung. Selalu ada godaan untuk membuka pintu dan melihat apa yang terjadi dalam rumah itu sebenarnya pada saat malam tiba, tetapi selalu, rasa takut lebih kuat. Di belakang pintu kamar mereka, rasanya ada sesuatu yang tidak boleh mereka saksikan. Sesuatu yang lebih menyeramkan daripada monster di buku cerita.
***
__ADS_1
Sana mendapat jatah hari libur hari ini, setelah Jack menghilang. Ia menemui kenalannya, Gladys, yang kebetulan juga sedang libur hari itu. Tiap pelayan memiliki hari libur sekali dalam seminggu, diatur berotasi sesuai dengan keputusan kepala pelayan. Awalnya Sana hanya berbasa-basi menanyakan bagaimana kabar Gladys dan kenapa gadis itu kelihatan lebih kurus, tetapi jawaban yang keluar dari bibir Gladys sangat tidak terduga.
“Aku takut sekali bekerja di tempatku sekarang. Rasanya ingin keluar, tapi juga takut untuk bilang. Kepala pelayan kami orang yang tegas.”
“Memangnya kenapa kau ingin keluar?” tanya Sana prihatin. Ia tahu di beberapa tempat, pekerjaan pelayan sangat berat. Apalagi kalau majikannya rewel. Diam-diam ia merasa bersyukur, meski keluarga Argent sangat keras dan disiplin, tetapi bekerja di sana menyenangkan. “Apa ... tuan di sana kejam?”
“Eeeh, tidak. Tuan Bannet orang yang sangat baik.”
Giliran Sana yang kaget. “Kau bekerja di rumah Tuan Bannet??”
Jeritan itu mengundang perhatian banyak orang. Beberapa yang lewat tidak hanya menoleh sesaat, malah menatap keduanya dengan tertarik. Wajah Sana dan Gladys segera berubah merah, dan keduanya cepat-cepat pergi sambil berbisik-bisik.
“Kenapa kau pakai teriak keras sekali, sih?”
“Habisnya bagaimana? Kau tidak pernah bilang kalau bekerja di tempat sementereng itu!”
“Bagaimana bisa? Kita kan baru sekarang bertemu setelah pekerjaanku yang terakhir!”
“Oh iya, waktu itu kau di tempat pensiunan tua Watson, ya.” Sana terkikik.
Mau tidak mau, Gladys tersenyum. “Ya, akhirnya aku bisa lepas dari pria tua yang jahil itu. Kadang-kadang candaannya keterlaluan. Seperti anak-anak saja.”
__ADS_1
“Katanya, semakin kita bertambah tua, kita justru berubah kembali jadi anak-anak,” komentar Sana sambil lalu. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mereka sudah berjalan cukup jauh, tetapi Bjork memang tetap saja penuh manusia. Tidak ada tempat sepi yang enak untuk bergosip. Belum lagi ada polisi patroli yang selalu berputar-putar dengan mulut tertutup rapat. "Cari tempat untuk ngobrol, yuk."