
Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukannya pagi itu, Rolan bermaksud pergi ke Pusat Arsip dan menyelia sendiri apa yang dilakukan oleh para pekerja Argent yang diutus oleh Marco.
Ia tidak melaporkan kepergiannya pada Marco karena pintu kamar kerja pria itu dikunci dari dalam, dan pintu tetap tidak terbuka meski ia mengetuk beberapa kali. George bilang, Lady Chantall masih di dalam sana, jadi Rolan menyimpulkan bahwa keduanya sedang merencanakan hal-hal buruk yang melibatkan media massa di dunia depan.
Jose masih ada di ruang rawat. Ketika menyelinap untuk memeriksa, Rolan melihat Jose masih berdiri diam memandangi mayat Krip, seolah sedang mematri kondisi terakhir pria itu dalam benaknya. Keduanya memang dekat. Krip sangat memanjakan Jose saat kecil, membiarkannya berlarian dan mengacau di toko kelontongnya, mengajari satu-dua trik menarik informasi dari orang lain; Krip memberi kasih sayang yang normal pada Jose yang sering luput diberikan oleh Marco ataupun Edgar.
Rolan mengawasi pemandangan itu agak lama, bimbang apakah sebaiknya ia masuk dan menegur Jose. Ia tidak bisa melihat wajah keponakannya dengan jelas. Ruangan itu gelap, Jose menunduk, dan mata pemuda itu tertutup bayangan dari rambut depannya yang agak panjang. Akhirnya Rolan memutuskan untuk tidak mengganggu waktu duka Jose.
Ketika keluar, ia memberi pesan pada Hans dan Gerald untuk berjaga di depan ruang rawat kalau-kalau Jose membutuhkan sesuatu. Hanya Hans yang bisa berjaga karena Gerald masih harus mengatur keluar masuknya para pekerja serta berkoordinasi dsngan orang-orang Greyland yang akan datang.
Renata mengunci diri di kamarnya dan menolak keluar. Namun wanita itu sudah sarapan di dalam kamar, dan dayang-dayangnya juga ada di dalam sana, jadi Rolan cukup tenang. Ia mengetuk pintu kamar Renata dan berpamitan, tapi tidak ada suara sahutan. Namun Renata di dalam sana, mendengarnya. Rolan bisa merasakan itu. Ia kembali turun ke lantai satu dan keluar dari pintu samping.
Ketika menyeberangi halaman, ia mendengar suara-suara perempuan mengobrol. Ia menoleh heran, melihat bagaimana Nolan dan Maria bicara heboh dalam rumah kaca. Keduanya kelihatan cukup akrab.
"Aku akan memeriksa Pusat Arsip dan mengawasi para pekerja yang ada di sana," kata Rolan saat berpapasan dengan George yang berjalan keluar dari rumah kaca. "Kalau Marco ingin memanggilku, dia bisa menelepon Toko Pierre."
"Dokter tidak sarapan?"
__ADS_1
"Aku makan di luar saja." Rolan diam sebentar, berpikir. Hans bisa diandalkan dalam hal kekuatan, tapi ia lebih percaya pada George untuk hal-hal yang membutuhkan pemikiran taktis. "Lalu sekali-sekali tengoklah Jose," tambahnya. "Pastikan dia ada di mana. Kalau tiba-tiba Jose lenyap, langsung saja telepon Pierre. Masalah apa pun yang muncul, telepon Pierre. Dia akan langsung memberikan teleponnya padaku."
"Tentu, Dokter." George mengangguk sopan. "Tapi lenyap yang bagaimana yang Dokter maksud?"
"Maksudku kabur," Rolan segera meralat, sadar bahwa setiap diksi begitu penting saat ini. Semua orang berhati-hati dan berada dalam puncak kewaspadaan mereka. "Dia kan selalu kabur mendadak dan muncul dalam kondisi mengerikan. Jadi sebaiknya jangan beri dia kesempatan melakukan hal-hal yang bakal membunuh dirinya sendiri."
"Tentu, Dokter." George mengangguk sekali lagi. "Apakah Dokter ingin menggunakan kereta atau mobil?"
Rolan menggeleng. "Aku mau jalan. Ada banyak sudut yang ingin kuperiksa. Dan aku bawa sigil tato milik Gerald dan Hans ... semoga saja itu aman, lagi pula sekarang masih siang." Ia mengeluarkan jam saku dari kantung celana. "Aku akan kembali sebelum atau saat makan siang. Sementara itu, tolong jangan biarkan Jose pergi. Kecuali kalau dia sudah dapat izin Marco atau bersama Marsh atau Clearwater."
George mengerti.
Ia menatap George lagi, yang masih menunggu perintah selanjutnya. "Jaga Renata," katanya. "Dia mengurung diri di kamar. Pastikan kau selalu mengecek kondisinya."
***
Kayu-kayu itu kemarin tidak begini bentuknya. Rolan menatap gang di samping gudang pabrik kayu. Tumpukan kayu berjajar dalam posisi yang tidak biasa. Biasanya kayu tersebut akan disandarkan secara miring di kiri dan kanan dinding gang secara berselang seling. McKenzie suka menatanya seperti itu, tapi hari ini susunannya kelihatan seenaknya. Rolan menatap gang itu agak lama, tapi kemudian kembali berjalan melewatinya karena tidak merasa itu adalah hal penting.
__ADS_1
Ketika sampai di Pusat Arsip dan melihat catatan peminjaman buku dari Krip, Rolan baru merasa kagum pada kemampuan pria itu. Berlembar-lembar halaman buku peminjaman penuh dengan berkas, arsip, serta buku yang dibaca oleh Krip. Mengetahui apa yang sudah ditemukan pria itu rasanya akan mustahil. Ia menatap para pekerja Argent yang dengan tekun memilah kembali daftar tersebut dan mengelompokkannya berdasar klasifikasi tertentu.
Mereka bisa membaca, pikir Rolan sambil memandangi orang-orang tersebut, juga bisa sedikit berpikir. Tapi mustahil mereka bisa menemukan apa yang berhasil Krip saring dari sekian banyak arsip.
Rolan menghela napas, kemudian melangkah keluar Pusat Arsip. Ia merasa tidak ada gunanya ikut sibuk bergumul dengan segala file tersebut. Lebih baik ia memeriksa jalan dan menyusuri kota, mencari kemungkinan saksi mata atau saksi dengar.
Langit masih biru cerah tanpa awan di atas Bjork. Matahari bersinar cukup terik, bayangannya jatuh memanjang di undakan semen Pusat Arsip. Ia tersenyum geli, mendadak ingat permainan bodoh yang selalu dilakukannya saat kecil: berusaha menginjak kepala bayangan.
Rolan menenggelamkan kedua tangannya ke dalam celana, heran karena angin tetap saja bertiup dingin matahari mulai naik di sebelah timur. Ia akan sarapan dulu di tempat Pierre sebelum melanjutkan jalan.
Jalanan tidak seramai biasanya, pikir Rolan heran ketika melihat orang-orang dan kendaraan yang berkeliaran. Ia memejamkan mata dan mengendus udara. Tidak ada aroma kacang rebus atau kentang goreng yang biasa dijual pagi-pagi. Ia menghentikan langkah di undakan paling dasar, sekarang baru sadar bukan hanya itu yang tidak ada.
Ia tidak lagi mendengar suara orang bicara. Ia tidak mendengar bunyi geradak roda melindas jalan batu. Tidak ada anjing atau binatang lain. Ia berbalik cepat untuk kembali masuk ke ruang arsip di mana ada beberapa pekerja Argent yang pasti bisa diandalkannya. Namun Rolan membeku di tempat begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu gedung itu.
Sir William.
Kali ini pria itu mengenakan jas berekor panjang. Di tangannya tergenggam tongkat metalik. Beberapa orang biasanya menyembunyikan pedang dalam tongkat jalan mereka, jadi Rolan memutuskan untuk waspada terhadap benda itu.
__ADS_1
Ah, bodohnya aku. Bukan pedang yang harusnya kuwaspadai. Ia tersenyum kecut ketika pria itu berjalan pelan menuruni tangga Pusat Arsip. Tidak ada bayangan di bawah kaki Sir William.
***