BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Extra 8: Concatenation


__ADS_3

"Kau sebenarnya bisa menggeret Eastwood ke belakang dan melemparnya alih-alih menjadi tameng," kata Jeanne setelah mereka diam sangat lama.


"Terlalu berisiko," Marco menyahut. "Aku tidak sempat mengukur seberapa jauh jangkauan tongkatnya."


Mereka ada di salah satu kamar staff di gedung diskusi, ruang kecil yang tenang dengan jendela kaca dua lapis dan karpet merah lembut menyelimuti lantai marmer. Jeanne duduk di salah satu kursi panjang yang menempel pada dinding sementara Marco di sisinya. Hanya ada mereka berdua di sana. Rolan baru saja pergi setelah merawat luka di kening Marco. Dokter itu juga membawa pergi Nolan untuk memberi mereka ruang pribadi.


"Kau marah?" tanya Jeanne pelan.


"Tidak."


"Kau tidak melihat ke arahku sejak tadi."


Marco sebenarnya masih malas bicara. Kepalanya berdenyut-denyut dan rasa panik masih tersisa dalam hatinya. Ia benar-benar kaget mendengar suara Nolan dan Jeanne ketika hendak keluar gedung tadi. Marco bahkan sempat mengira itu hanya halusinasi. Kemudian ada suara Eastwood. Ia melihat Jeanne menampar baron itu dengan marah, kemudian Eastwood mengangkat tongkat, lalu tahu-tahu Marco mendapati tubuhnya bergerak sendiri untuk berlari. Terakhir kali ia lari sekencang itu adalah saat kabur dari golem yang mengejarnya dan Nolan di hutan sakral tahun lalu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" akhirnya Marco bertanya. Ia tidak bermaksud mengucapkannya dengan marah, tapi kedengarannya barusan seperti itu, jadi ia melanjutkan lebih lunak, "Aku minta kau tetap di rumah, kan?"


"Aku sudah bilang padamu kemarin kalau pagi ini ada pertemuan dengan orang Daily Bjork, kan? Katamu tidak masalah?"


"Tidak masalah karena kau bilang pertemuannya di restoran, bukan di Gedung Diskusi!"


Bentakan itu membuat Jeanne terlonjak kaget.


Marco mengepalkan kedua tangannya di atas lutut. Mengerikan rasanya membayangkan undakan tinggi dan curam Gedung Diskusi, belum lagi kadang-kadang ada perkelahian di sana. Marco masih tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi kalau ia terlambat datang tadi.


"Aku cuma ... aku lihat mobilmu, lalu ... " Jeanne berhenti. Suaranya makin lirih ketika melanjutkan, "Aku cuma ingin menemuimu."


"Kau harusnya—" Suara Marco hilang begitu ia menoleh dan mendapati Jeanne bergeser mendekat. Suara desir kain bergesek lembut memenuhi ruangan. Jeanne menatapnya dengan mata lembut dan sendu. Lagi-lagi mata hijau itu membuatnya luluh dan tidak bisa menyelesaikan kalimat. Helaian rambutnya yang cokelat gelap ditarik ke belakang membentuk sanggul yang rapi, tapi ada helai-helai mengilap yang lolos dari sirkam dan menjuntai di depan telinga Jeanne.


Mustahil untuk tetap marah pada wanita itu jika ia selalu terpesona setiap kali memandangnya.

__ADS_1


"Maafkan aku," Jeanne berbisik. Iris matanya bergetar, berembun basah. Ia menunduk sedikit ketika menarik lepas sarung tangan yang dikenakannya dari bagian ujung jari.


Marco memperhatikan jemari lentik itu, yang selalu menari di atas tuts piano untuknya dalam waktu senggang mereka. Jeanne seperti tidak sadar sedang diperhatikan, fokusnya kembali tertuju pada luka yang tertutup kasa di pelipis Marco.


"Kepalamu pusing tidak? Suaranya tadi keras sekali. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Masih sakit, kan?"


Sebenarnya memang sakit, tapi ini tidak ada apa-apanya bagi Marco dibanding kalau Jeanne yang terluka seperti ini. Kedua tangan Marco mengepal di atas lutut. Ia tidak akan mengampuni Eastwood.


"Kamarmu sebaiknya dipindah ke lantai satu," katanya.


Jeanne menatapnya bingung. "Kenapa tiba-tiba?"


"Tidak tiba-tiba. Aku memang sejak kemarin sudah memikirkannya." Tangga di gedung ini membuatnya ingat bahwa di manor juga sama saja berbahayanya karena kamar mereka ada di lantai dua.


Jeanne diam. Tangannya kembali ditempatkan di atas perut. Itu kebiasaan barunya sejak hamil saat sedang berusaha menenangkan diri. "Kau ... menghukumku?"


Andai pelipisnya tidak sakit kalau mengerutkan kening, Marco sudah melakukannya. "Kenapa memperhatikan keselamatanmu bisa jadi sebuah hukuman?"


Marco menatap istrinya dengan heran, berusaha mencerna apa maksud kalimat itu. Aroma manis anggrek dan vanila mengisi paru-parunya setiap kali ia menarik napas, membuatnya perlahan tenang dan bisa berpikir jernih. "Aku juga pindah ke bawah bersamamu. Kau pikir aku bisa tenang membiarkanmu sendirian?"


Jeanne mengerjap sekali. "Oh," katanya pelan. Rona merah menjalar dari kerah tinggi Jeanne hingga ke tulang pipi. Ia mengerjap lagi dan menggumamkan, "Oh," lain yang lebih lega.


Marco mencintainya, anak yang ia kandung sekarang adalah buktinya. Namun kadang-kadang Jeanne masih sulit percaya, seolah ia sedang berada dalam mimpi yang sewaktu-waktu akan hilang saat ia bangun. Menggelikan memang, tapi ia terlalu bahagia satu tahun ini hingga sering membuat kesalahan-kesalahan yang malah merusak rencana Marco—seperti barusan. Padahal ia sudah berusaha hati-hati dan berpikir dua kali sebelum bertindak. Namun selalu saja, setiap kali ia lengah sedikit, segala hal berubah buruk dan ia jadi takut mimpinya akan usai.


"Maaf, aku mengacaukan semuanya," akhirnya Jeanne hanya membisikkan itu dalam rasa malu. Bukannya membantu, ia malah selalu saja membuat masalah baru bagi suaminya. "Aku ... aku akan pulang duluan."


"Tidak, jangan ke mana-mana." Marco menangkap tangan Jeanne dengan cepat. "Aku akan mengantarmu nanti, sebentar lagi. Kita tunggu Rolan kembali."


"Kau benar," gumam Jeanne, lagi-lagi menyesal karena terlalu tergesa membuat keputusan.

__ADS_1


"Dan berhentilah minta maaf. Kejadian tadi memang di luar perkiraanku, tapi hasilnya sama dengan yang kuinginkan," Marco meneruskan dengan lebih lembut. Kemarahan yang sejak tadi tampak di wajahnya kini sudah sirna. "Bisa dibilang, kau sudah membantuku. Yang lebih penting, kalian baik- baik saja."


Jeanne menggigit bibir, merasa malu karena Marco bisa membacanya dengan mudah seperti buku terbuka. Salah satu tangan pria itu meraih rahangnya, menghapus jejak basah di sudut matanya dengan ibu jari. Jeanne menyusurkan pandangan dari lengan tebal berotot yang tersembunyi di balik lapisan kain kemeja dan jas, lalu pada dada bidang di depannya. Ada sesuatu yang luar biasa menenangkan setiap kali ia meletakkan tubuhnya dalam dekapan kukuh Marco dan menghirup aroma daun kering dan mint dari lapisan pakaiannya.


Jeanne bisa merasakan napas hangat Marco menyapu keningnya selagi mendekat. Menyadari niat pria itu, ia memejamkan mata. Tubuhnya seperti berubah jadi serpihan ringan yang diterbangkan ke awan, lalu menyatu kembali saat merasakan sapuan panas di bibir atasnya, sentuhan lain di sudut bibirnya, lalu sesapan lembut pada bibir bawahnya. Ia merasakan rambut kumis dan cambang yang lembut menggesek kulit wajahnya, membuatnya meleleh.


Tangan Marco yang bebas menyelinap menyentuh tengkuk Jeanne, menahannya di tempat dalam remasan lembut sementara bibirnya memberi satu ciuman lagi, kali ini lembut dan singkat. Ibu jari Marco mengusap lekuk di bawah bibir Jeanne.


"Lagi," bisik Jeanne tanpa sadar, masih memejamkan matanya, mengharap ciuman lain yang lebih keras dan lama. Marco memberikan apa yang ia inginkan. Jeanne membuka bibirnya, menyambut sentuhan basah lidah pria itu, membiarkan rasa lapar bergulung menjalari mereka secara perlahan. Lengannya mengelilingi leher Marco, tangannya tenggelam dalam rambut perak tebal pria itu.


Ketika akhirnya ciuman itu berakhir, keduanya masih saling menyandarkan kening, terengah kehabisan napas. Jeanne tersipu. "Aku ingin melanjutkannya," katanya malu-malu.


"Tidak, tidak. Yang benar saja, Jean. Kadang-kadang aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu," Marco menukas, menjauhkan kepala. "Aku bahkan heran bagaimana kau bisa tetap setenang ini meski hampir celaka barusan."


"Maksudku bukan melanjutkan di sini," sahut Jeanne geli. "Aku bisa tetap tenang karena percaya padamu. Waktu melamarku kan kau bersumpah—"


Ucapannya dipotong suara bantingan keras dari luar. Kedengarannya seperti ada pintu dijeplak membuka atau sesuatu ditabrak. Suaranya dari arah depan gedung.


Keduanya saling bertukar pandang. Marco memberi pesan, "Jangan ke mana-mana," kemudian berjalan ke luar kamar untuk memeriksa.


Jeanne menatap pintu kamar yang menutup, menunggu hingga suara langkah Marco menghilang, lalu perlahan bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela untuk mengintip ke luar.


Banyak orang berlarian dan berkerumun. Ada suara-suara teriakan yang tak jelas karena teredam kaca jendela. Dilihat dari barel-barel yang menggelinding dan pecah di jalanan, Jeanne menebak ada kereta kuda pengangkut barang yang kelebihan muatan hingga rangkaian talinya putus, membuat beban yang dibawa tumpah. Kecelakaan semacam itu memang kerap terjadi, bahkan tak jarang memakan korban.


Jeanne melihat Rolan ada di antara kerumunan. Menilik dari ekspresi tenang dan dingin pria itu, ia bisa menebak siapa korbannya.


Jeanne tersenyum, melepaskan senandung kecil dari sela bibirnya.


***

__ADS_1


¬Concatenation: rangkaian


__ADS_2