BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 117


__ADS_3

Nolan menggeliat-geliat di lantai batu. Tangannya kebas. Kakinya juga. Tali tambang kasar mengikatnya di mana-mana seperti ular, begitu erat sampai terasa mengiris kulit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, masih belum mengerti benar ada di mana dirinya. Segalanya begitu gelap dan dingin. Namun ia tahu bahwa ia ada di dalam penjara. Ia berada di bilik penjara kecil yang berteralis besi, dalam ruangan lain yang lebih besar lagi dan sepertinya dipenuhi bilik-bilik penjara lain. Ia bisa melihat sedikit karena atap ruangan tersebut bolong, membuat cahaya bulan kadang menerangi ruangan jika sedang tidak ada awan.


Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak kerah bajunya dicengkeram ke belakang dan kepalanya jatuh membentur tanah. Lama atau sebentar? Sudah berapa lama? Hal terakhir yang ia ingat adalah ia berada di Hutan Lindung Bjork, membuntuti orang-orang Utara. Kemudian ada hantu hitam. Nolan bergidik mengingat apa yang ia lihat.


Begitu sadar, ia sudah berada dalam penjara. Seperti sel kuno untuk memenjarakan tahanan zaman perang. Ada pasak kaki karatan di ujung ruangan. Bahkan pintu sel jeruji di depannya pun seperti siap runtuh. Yang membuat penjara itu terasa kokoh hanya pintu lapis kedua yang berjarak tiga meter di depan mereka.


Bagi Nolan, berada sel dengan jeruji karatan seperti ini bukan bagian paling menyeramkan. Hal yang menyeramkan adalah melihat pria tua yang duduk bersandar pada dinding sel di belakangnya.


Marco.


Nolan kadang berhenti menggeliat untuk mengamati apakah Marco masih bernapas. Pria itu duduk bersandar di sana dengan kedua tangan terikat di belakang punggung. Kedua kakinya juga diikat kerat di pergelangan tangan dan di paha. Marco menunduk, sehingga yang bisa dilihat Nolan hanya rambut putihnya yang terlihat kelabu dalam kegelapan. Nolan kadang bertanya-tanya apakah pria itu masih hidup. Namun tenggorokannya terlalu sakit untuk bertanya.


Suara Nolan habis untuk berteriak-teriak saat ia pertama kali sadar. Sekarang yang keluar dari tenggorokannya hanya suara parau seperti burung liar.


Terdengar bunyi gemerincing kunci, kemudian suara pintu logam dibuka dan ditutup. Seorang pria datang lagi melihat mereka. Ini kedua kalinya pria itu datang. Sebelumnya, pria itu datang memeriksa sel namun tidak mengatakan apa pun. Wajahnya tidak kelihatan karena sinar api datang dari belakang pria itu, membuat yang bisa dilihat Nolan hanyalah siluet belaka.


"Dia belum mati, kan?" tanya pria dari luar jeruji itu. Dia menanyakan soal Marco. Nolan tidak menjawab. Ia menggeliat-geliat minta dibebaskan.


Pria itu menendang pintu jeruji, lalu berbalik pergi dan menutup pintu. Tetapi kali ini tidak ada suara kunci diputar.

__ADS_1


Nolan masih menggeliat. Tenaganya hampir habis, tetapi ia bertekad akan mengerahkan seluruh yang tersisa untuk mencoba lepas daripada hanya diam saja.


"Anak bodoh, kau akan mati kelelahan kalau menggeliat begitu terus."


Nolan menoleh kaget. Benar-benar kaget. Marco sudah bebas dari talinya, dan sekarang mengeluarkan pisau belati untuk membebaskan Nolan.


Gadis itu membelalakkan mata, tidak mengerti dari mana pisau itu datang.


Senjata Marco memang sudah dirampas semua, kecuali sebuah pisau lipat kecil yang ia injak di dalam sepatu. Kalau saja penyanderanya lebih teliti dan memutuskan untuk menelanjangi Marco, maka pembebasan ini akan jadi lebih sulit.


Nolan membuka dan menutup mulut, menunjuk tali Marco yang lepas padahal masih bersimpul. Matanya menyorot bingung.


Itu bukan sulap. Ia memang tahu cara supaya tali yang mengikatnya gampang dilepas. Ini bukan pertama kalinya ia diikat untuk dicelakakan. Ayahnya yang mengajari cara supaya gampang melepaskan ikatan. Hanya dengan menahan napas saat diikat, membuat tubuh jadi lebih besar dari aslinya, sehingga ketika ia mengembuskan napas, tali akan jadi longgar. Beberapa cara lain adalah mengepalkan kedua tangan dan menempelkan kedua tulang ibu jarinya agar tidak ada simpul mati yang bisa diikatkan padanya.


Marco memang sengaja diam dan menunggu agar musuh jadi lengah. Sekarang lah saatnya pergi. Pintu lapis kedua tidak dikunci. Mungkin penyandera mereka ceroboh, lengah, atau ... Marco memikirkan kemungkinan ketiga dalam hati. Atau seseorang memang berniat mengeluarkan mereka.


Ia membungkuk di sisi Nolan, kemudian mengiris lepas semua ikatan yang melilit gadis 17 tahun tersebut. Nolan mengusap-usap pergelangan tangan dan kakinya yang kebas, masih kebingungan.


Marco tidak berniat mengajaknya bicara. Ia sebenarnya lebih suka berada lebih lama di sana, menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia tidak bisa membiarkan Nolan di sini. Setidaknya ia harus mengeluarkan anak itu.

__ADS_1


Marco merayap ke pintu penjara, meneliti tiap sudutnya, kemudian mendorong dan mengguncang beberapa bagian pintu teralis hingga lepas dari engselnya. Lelaki yang baru saja datang dan menendang pintu jeruji, lelaki itu adalah Xavier Hastings, sepupu Charles Hastings. Marco samar-samar masih mengenali suara dan bentuk tubuhnya.


Xavier berumur 30an tahun, tubuhnya jangkung. Lelaki itu selalu menempel di belakang Charles dengan wajah sok, tapi juga cemas. Ketika muncul dan bertanya apakah Marco masih hidup, suara lelaki itu gemetaran.


Apa pun yang sedang terjadi di balik pintu penjara, hal itu pasti membuat Xavier takut dan memutuskan untuk berpaling pada Marco.


Marco mengetahuinya begitu mendengar pertanyaan Xavier tadi. "Dia belum mati, kan?" adalah pertanyaan yang memberi petunjuk bahwa yang diinginkan oleh siapa pun yang menangkap mereka adalah Marco, dan ia dibutuhkan dalam kondisi hidup. Sebelumnya, Xavier juga memeriksa sudut-sudut sel teralis mereka dan pada kunjungan kedua mempertegas maksudnya dengan menendang teralis.


Lelaki itu memang berniat membebaskan mereka.


Sebagai buktinya, Marco bisa merasakan bahwa pintu teralis yang memenjarakan mereka bisa dibobol lepas tanpa kunci. Ia mencengkeram jeruji teralis tersebut, yang hanya ditempel pada batu rempal, kemudian mendorongnya kuat. Dengan sedikit usaha, pintu jeruji itu sudah lepas dari kosennya. Nolan sampai menganga. Kalau saja tenggorokannya tidak sakit, ia pasti sudah bersorak kagum. Ia bertepuk tangan beberapa kali tanpa suara.


Marco menyingkirkan teralis konyol itu ke samping, menyandarkannya di tembok sel. Di ruangan itu ada empat bilik penjara yang saling bersisian. Marco sengaja ditempatkan pada penjara yang teralisnya karatan. Jelas bahwa orang yang ditugaskan memenjarakan mereka sama sekali tidak berniat mengurung mereka terlalu lama.


Marco melangkah keluar bilik lebih dulu, menyiapkan pisau lipatnya, dan menyuruh Nolan berlindung. Ia mendekati pintu utama ruangan sambil mengendap. Tangannya menarik pegangan pintu lapis kedua pelan-pelan. Pintu logam itu lebih berat dan kokoh, tapi sekarang tidak ada gunanya karena tidak terkunci. Mata elang Marco mengintip lewat celah yang hanya menyerupai sebuah garis samar. Tidak ada apa pun yang bisa dilihat. Di luar begitu gelap, tanpa penerangan.


Nolan berada di belakang Marco, melihat sedikit senyum yang terulas di bawah kumis perak itu. Tadinya, ia sangat benci dan takut setiap kali melihat Marco. Tetapi kini senyum itu membuatnya sangat lega. Itu adalah senyum penjamin keselamatan.


***

__ADS_1


__ADS_2