BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 237


__ADS_3

"Kau tidak membawa Lady Lidya ke Selatan?" tanya Marsh sambil lalu untuk mengisi keheningan. Kalau terlalu lama berdiam diri, mereka akan ditelan rasa takut.


Dave menggeleng menanggapi pertanyaan itu. "Kalau dia dibawa ke sini, semua orang akan ikut juga. Itu akan membuat kekisruhan baru. Garnet dan Argent akan dimaklumi, tapi kalau Jewel juga ada di sini sementara yang lain tidak, maka saat semua ini selesai dan orang-orang tahu apa yang terjadi, posisinya akan jadi susah. Keluarga rivalnya bisa menjatuhkan dia dengan alasan Jewel hanya mencari keselamatannya sendiri."


Saat ini semua selesai. Jose tersenyum mendengar Dave sengaja memilih kalimat yang mengesankan bahwa mereka semua akan selamat melewati malam ini. "Tapi kau sudah meneleponnya?"


"Belum." Dave terkekeh. "Jujur saja, aku tidak tahu mau bilang apa padanya. Aku perlu memikirkan dengan hati-hati supaya tidak salah bicara. Ah, sudahlah! Soal aku dan dia tidak sepenting kau dan Garnet. Sudah sejauh mana kalian?"


"Dia lari kalang-kabut begitu menyadari Garnet dalam bahaya," celetuk Clearwater.


Jose tertawa. "Ayolah, jangan mulai lagi," katanya begitu melihat Marsh seperti ingin ikut berkomentar. Ia menatap Dave lebih serius. "Kau sebaiknya berjaga di Selatan, Dave. Sebagai teman bicara Lord Garnet di karavan."


Dave tertawa kering, mengerti bahwa Jose sebenarnya meminta ia berlindung. Tubuhnya memang belum benar-benar pulih. Ia juga masih sangat sensitif mendengar suara-suara asing atau melihat tempat gelap. "Baiklah," katanya menyerah. "Aku akan duduk manis di sana supaya tidak membuatmu khawatir. Tenang saja."


Jose mengangguk dan beranjak meninggalkan kawan-kawannya untuk menghampiri Rolan yang tengah bicara dengan Xavier.


"Kubilang aku tidak tahu," suara Xavier kedengaran gusar. Ia menoleh ketika menyadari keberadaan Jose. "Hey Argent, apa dokter keluargamu memang selalu seberisik ini?"


Rolan mengabaikan Xavier dan langsung menyambar lengan Jose, menariknya agak menjauh. "Aku bersumpah bahwa ketika kembali ke rumah dari hutan, aku lihat jari-jarinya buntung dan kakinya patah! Jacob membuatnya tidak bisa lari sebagai hukuman karena berani mengacak-acak kamarmu! Tapi lihat dia sekarang?" Tangannya menunjuk Xavier dengan penuh kebencian. "Dia utuh! Kau yang melakukan itu padanya?"


"Aku menyembuhkannya," Jose mengakui. "Dia tamuku, aku sudah bersumpah untuk melindunginya. Lagi pula aku tidak apa-apa, Paman. Sekarang bukan ini yang penting. Tambahan tenaga sebanyak apa pun akan kuhargai."


Xavier berjalan mendekati mereka dengan wajah curiga. "Kalian bicara apa?"


"Soal sepupumu yang mendapat kalung," sambar Jose cepat sebelum Rolan menghardik. "Dia mendapatkan itu dari Duke Ashington, kan? Di mana kalian mengenal dia?"


"Ketika kami pergi ke Rumania, aku sudah cerita, kan?" jawab Xavier.


"Ya, tapi aku tidak bisa membayangkan dia tiba-tiba muncul dan memberi kalian kalung berharga seperti itu." Jose mengerutkan kening. "Setahuku keluargamu juga tidak ada hubungannya dengan Ashington. Makanya masih aneh buatku mencari titik hubungan kalian."

__ADS_1


Xavier menyisir rambut cokelat masainya dengan jari dan membersihkan kuku. "Kami bertemu dengannya memang kebetulan ... atau mungkin bukan?" Alis tebalnya berkerut. "Ada pesta di sana. Lalu saat mendengar bahwa kami dari Bjork, orang itu menghampiri kami. Katanya, dia juga punya rumah di Bjork. Dia dan Charles bicara banyak dan jadi akrab. Kurasa ... sejak awal dia mendekati kami begitu tahu bahwa kami akan kembali ke sini."


"Duke Ashington adalah penganut agama lama," terang Rolan pada Jose. "Dia pasti percaya bahwa tempat ini bisa melindungi kalung itu."


Tapi kenapa dia tidak pergi sendiri? Jose berpikir heran. Apa dia juga tidak bisa menyeberang ke Selatan seperti Sir William?


"Dan dia minta kalian menyimpannya di sini selama tujuh tahun?" Jose memastikan.


Xavier mengangguk. "Dia memberi Charles surat. Semacam instruksi, kurasa. Tapi aku tidak tahu di mana dia meletakkan benda itu. Aku juga tidak tahu apa isinya."


Jose sebenarnya masih ingin bertanya, tapi salah satu pengawal Clearwater keburu datang memberi kabar. Posisi Sir William sudah ditemukan.


***


Lady Chantall bangun dengan rasa sakit di kening dan belakang leher. Barusan ia bermimpi sangat indah. Ia bermimpi masih ada di manor Argent. Ia bermimpi bahwa segala hal yang dialaminya minggu ini cuma mimpi buruk. Ia bermimpi masih berada di rumahnya, mengurus surat-surat seperti biasa, belum menyatakan cinta pada Marco dan tidak melihat pria itu diseret pergi darinya oleh iblis. Ia bermimpi masih bertemu dengan Marco secara berkala seperti biasa, mengaguminya dari jauh.


Andai semua cuma mimpi.


"Berapa lama aku tidur Mr. Rutlan?" tanyanya serak. Ia berdehem pelan untuk menjernihkan suara.


"Sejak Ad ... maksud saya, sejak Lord Marsh membawa Anda, milady? Sudah satu jam kurang." Simon menunjuk jam meja di atas perapian dengan sopan. "Sekarang pukul sebelas kurang sedikit, sudah lewat hampir satu jam sejak Anda dibawa ke sini."


"Kau punya radio?" Lady Chantall meneguk tehnya sampai habis. Minuman itu menghangatkan tenggorokan dan juga dadanya. "Apa yang mereka bilang sekarang?"


"Saya ... barusan mematikannya agar tidak mengganggu Anda, tapi terakhir kali mendengarkan, Hubbert sedang mengajak semua orang berdoa."


"Kanal lain?"


"Mengulang-ngulang kata dan peringatan yang sama; bahwa kita jangan keluar."

__ADS_1


Lady Chantall mengangguk. "Apa kau punya mobil, Sir?"


"Mobil?" Simon mengulang seolah baru pertama mendengar kata itu.


"Ya, di sini. Di rumah ini. Kau punya? Aku mau meminjamnya."


"Ah, ada ..." Simon segera bangkit dan berjalan ke kabinet kayu yang menempel di dinding ruangan di samping bukaan lorong rumah. Ia membuka satu laci teratas dan membawakan kuncinya pada Lady Chantall. "Anda bisa memilikinya. Ambil saja. Ada lagi yang Anda perlukan?"


Simon Rutlan adalah pengacara andal yang populer. Pria itu pasti punya lebih dari satu Tin Lizzie serta kuda. Meski begitu, tetap saja mobil bukan benda yang mudah dibeli atau diberikan seperti kacang goreng. Lady Chantall berterima kasih dengan tulus untuk dukungan yang diberikan Simon. "Aku butuh mantel, sepatu, kotak obat."


Selagi Simon menghilang untuk mengambilkan apa yang diminta, Lady Chantall mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa dan menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan tangis. Tangannya mencengkeram ujung selimut wol kuat-kuat sebagai pelampiasan.


Marco belum mati tadi, ia yakin itu. Ia bisa merasakannya tadi. Namun sekarang ... sekarang ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada hawa kehadiran pria itu. Ia merasa benar-benar kosong dan hampa. Keraguan mengaduk-aduk perasaannya, mengonsumsinya dari dalam seperti parasit.


Namun kalaupun Marco memang sudah meninggal, setidaknya ia harus bisa membawa kembali tubuh Marco. Lady Chantall sudah mendengar bagaimana mayat-mayat hidup kemarin malam terdiri dari orang-orang yang dikabarkan menghilang. Semuanya adalah korban Sir William. Bagaimana kalau Marco juga dibuat seperti itu? Lady Chantall tidak ingin membayangkannya, tapi pikiran itu tetap saja muncul. Marco jelas tidak akan mengizinkan mayatnya digunakan sebagai boneka mainan dan tampil menyedihkan. Lady Chantall berniat melindungi tubuh itu. Kalau pria itu memang sudah tiada, ia ingin memakamkannya dengan penuh penghormatan.


Tapi harusnya dia masih hidup, pikirnya penuh harap. Meski jauh dalam hatinya ia sadar bahwa harapan itu nyaris mustahil, Lady Chantall tetap berdoa sepenuh hati. Kumohon muncullah keajaiban, kalau dia masih hidup meski sekarat, Rolan mungkin bisa menyembuhkannya. Jose pasti bisa. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya, buru-buru menyeka sisa air mata begitu mendengar suara langkah mendekat.


Simon datang dengan mantel dan kotak obat, serta satu sepatu tali. "Ukurannya pasti kebesaran, jadi sebaiknya Anda pakai ini," katanya sambil menyerahkan beberapa pasang kaos kaki tebal.


Lady Chantall mengenakan semuanya dengan patuh. Roknya tidak menghalangi gerakan karena ia mengenakan model flare.


"Saya bisa menemani Anda," kata Simon cepat ketika mengantarnya ke garasi dan membantu menyalakan mesin mobil. "Saya bisa mengemudikannya untuk Anda. Tidak baik jika pergi sendirian."


Lady Chantall berpikir sebentar. Ia akan butuh seseorang untuk mengangkat tubuh Marco ke atas mobil, tapi menambah satu orang akan membuat mobilnya mungkin jadi lebih lambat, jadi dengan berat hati ia menolak. "Kalau ingin membantu," katanya lembut sambil menepuk bodi mobil. "Ubah setelan gas-nya. Kau bisa? Aku mau benda ini melaju sekencang mungkin."


Simon tersenyum kering, tapi mengangguk dan melakukan apa yang diminta. "Saya sudah mengubahnya, tapi tetap saja bukan berarti mobil ini lantas jadi secepat peluru," katanya begitu selesai. Ia kelihatan cemas. "Ma'am, saya ... saya turut berduka."


"Jangan," sahut Lady Chantall sambil melempar kotak obat ke kompartemen belakang. Ia duduk di belakang kemudi dan menutup pintu. Mata hijaunya berkilat keras kepala. "Sebab Marco masih hidup." Ia menoleh untuk menggeleng tegas pada Simon. "Tidak akan kuizinkan siapa pun berduka untuk orang yang masih hidup."

__ADS_1


***


__ADS_2