
Itu memang Dave!
Jose berlari melintasi tanaman semak belukar dan pepohonan yang makin merapat. Di tangannya tergenggam belati pendek. Ia menggoreskan ujungnya yang tajam ke setiap batang pohon yang ia lewati sebagai penanda agar tidak tersesat.
"Dave!" Jose berseru. Daun dan ranting menampar wajah dan tubuhnya. Sepatunya menjejak tanah tak rata dan hampir tergelincir beberapa kali, tetapi ia masih bisa berlari dengan stabil. "Dave! Jawab!"
Clearwater sebelumnya memberi info bahwa dia melihat Dave berjalan gontai di dekat kantor pajak, menuju Selatan. Ketika masuk ke hutan bersama rombongannya, Jose sekalian berharap ia bisa bertemu Dave. Namun setelah benar-benar melihatnya kali ini di hutan, Jose jadi gentar.
Bagaimana kalau dia seperti Gladys?
Pertanyaan itu muncul kuat dalam benak Jose tanpa bisa ditepis.
Bulan bersinar dingin dan lembut di langit, menerangi jalan. Jose berhenti untuk mendengarkan, menyimak suara hutan. Angin dingin bertiup di sela pepohonan, membuat ujung mantelnya berkibar lembut.
Pepohonan di sekitarnya tumbuh lebih jarang dan ramping dibanding pohon-pohon tua yang barusan ia lewati, tetapi semak belukarnya makin tinggi dan lebat. Jose melangkah dalam keremangan malam, menegakkan kerah mantelnya untuk menahan dingin, sesekali menunduk untuk menghindari duri-duri yang melengkung di atasnya. Ia tidak sembarangan melangkah, tapi sambil memperhatikan jalan mana yang kelihatan habis dijejak langkah manusia, juga sambil menggoreskan tanda di setiap kelokan yang ia lewati.
Semua orang akan marah padanya begitu ia kembali, tetapi Jose tidak memikirkan itu. Ia perlu memastikan apakah yang dilihatnya memang Dave atau bukan. Ia perlu memastikan kondisi kawannya itu.
Torfin memberitahunya bahwa Duke Ashington adalah Solomonari yang memimpin mereka, bukan Sir William. Torfin malah tidak tahu siapa Sir William itu. Namun Jose masih yakin bahwa Sir William memang terlibat dalam semua ini.
Sesuai legenda, Solomonari harusnya tidak punya bayangan. Pasti karena itu para pelayan di rumah Sir William sangat berhati-hati dengan tiap benda kaca yang bisa memantulkan bayangan. Jose masih ingat ketika ia dan Dave datang ke pesta pertama di rumah Sir William, kawannya itu menggerakkan gelas anggurnya mengedari ruangan, seolah sedang mengintip bayang-bayang tiap tamu melalui kaca gelasnya. Bagaimana kalau gerakan sepele itu yang membuat nyawa Dave terancam?
Orang-orang Scholomance sudah mengakui bahwa mereka yang menciptakan golem. Namun Torfin tidak tahu menahu soal mayat hidup atau mayat kering. Mereka bilang, mereka hanya mencuri mayat dari kuburan. Jadi soal Higgins dan soal Gladys jelas bukan tanggung jawab mereka.
Jose mengayunkan belatinya untuk membabat tumbuhan yang menghalangi jalan. Ia berhenti ketika akhirnya melihat sosok yang ia kenali berdiri diam di tempat yang agak lapang, di bawah siraman sinar bulan.
"Dave?" panggil Jose lirih. Suaranya pecah.
Ya, itu memang Dave. Ia mengenal rambut keritingnya yang gondrong, mantel jalannya yang bersulam lambang Dominic, serta pin dasi emas yang berkilau memantulkan cahaya bulan. Pin dasi itu hadiah dari Lady Lidya Jewel.
Dave menguarkan aroma busuk yang bisa tercium dari jarak lima meter. Wajahnya kuyu, rongga matanya cekung, pipinya kempot seperti pria tua. Tidak ada lagi jejak flamboyan perayu wanita pada rupa itu.
__ADS_1
Setidaknya aku akan bisa membawa pulang mayatnya dan memakamkannya dengan layak. Jose mencabut belati yang ia sembunyikan di balik sepatu. Kini kedua tangannya masing-masing menggenggam belati dalam pose bersiap. Ia bisa melakukannya. Ia harus bisa. Gladys pernah berhasil ia atasi, jadi Dave pasti juga bisa. Setidaknya aku akan bisa membawa kepastian bagi keluarganya, bagi orang-orang di Dominic, serta bagi Lady Lidya.
"Maafkan aku, Dave!" Jose menarik napas, membulatkan tekad. "Ini mungkin akan sakit, tapi aku akan membebaskanmu!"
"Jo ... se?"
Jose mengerjap kaget. "Kau kenal aku?" Ia menurunkan kedua tangannya dan menyimpan belati dengan cekatan, lalu bergegas lari menghampiri Dave sekencang yang ia bisa. Harapannya melambung naik begitu cepat hingga tenggorokannya terasa tercekat.
Mayat hidup harusnya tidak bicara. Mayat hidup tidak mungkin mengingatku!
Keraguannya sirna begitu melihat mata Dave masih bersinar, masih memancarkan kehidupan.
Begitu Jose sampai ke sisi Dave, menatap pada wajah cekung dan bibir pecah-pecahnya yang menghitam karena luka, kawannya itu segera ambruk. Jose sempat menangkapnya, menariknya kembali hingga bersandar padanya. Dave benar-benar bau. Campuran antara keringat dan kotoran manusia, serta darah.
"Aku akan membawamu pulang," Jose mengabaikan itu semua. Ia bisa merasakan detak jantung kawannya. Dave masih hidup dan bernapas. Hanya itu yang penting. Rasa lega menguasai Jose, membuatnya merasa lebih kuat. Ia membisikkan ucapan syukur, lalu menegaskan lagi, "Aku akan membawamu pulang ke Bjork sekarang!"
Dave merintih, tersedu, menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar karena diterbangkan angin. Jose menarik lengan Dave hingga merangkul ke bahunya, memapahnya. "Kau bisa jalan, kan?" tanyanya ceria. "Gerakkan kakimu. Kalau kita sampai ke puri, akan ada banyak orang yang lebih kuat yang bisa membawamu. Bertahanlah hingga kita sampai. Oh, ada Dokter Rolan juga di sana. Ada minuman, makanan ..."
"Ada senjata dan ada api hangat," Jose meneruskan, pura-pura tidak melihat. Ia memutar kakinya, menyeret tubuh Dave yang hampir kehilangan kesadaran ke arah lain. Ia meraba mantel, mencari kompas, kemudian menyumpah-nyumpah dalam hati ketika tidak menemukannya. Benda itu pasti jatuh ketika ia berlari. Jantungnya berdegup kencang. Rasa dingin menyusup sampai ke tulang-tulang. Kakinya bergerak kaku menyeret Dave. Lewat ekor matanya, Jose melihat makhluk itu beringsut mendekat. Ia bisa melihatnya lebih jelas sekarang: tangan kurus panjang makhluk itu dan jari-jari raksasanya yang berkuku panjang.
Sejak kapan dia di sana? Dia mengikutiku?
Jose tidak ingin pertanyaan itu dijawab. Ia tidak mau peduli sejak kapan makhluk itu mengawasinya, yang ia inginkan sekarang hanya kembali ke rombongannya.
"Dave, bangun!" bisik Jose, tersengal menyeret tubuh itu. Dave sedikit lebih tinggi darinya dan lebih besar, memapah tubuh yang setengah sadar itu saja sudah membuatnya kepayahan. Apalagi kalau Dave benar-benar pingsan.
Sepatunya menginjak tanah dan rumput dengan suara aneh, rasanya seperti menginjak puluhan serangga. Jose tidak mau menunduk untuk melihat apa yang ia jejak. Matanya fokus menatap ke depan, menyibak semak demi semak. Ia sudah melenceng cukup jauh dari tempatnya datang tadi. Jose membuat peta dalam kepalanya, membayangkan rute lain untuk kembali ke jalan yang sudah ia tandai. "Dave, terkutuklah kau!" Jose mengumpat ketika berat tubuh lelaki itu bertambah. Dave benar-benar sudah tak sadarkan diri. Ia menyeret langkah dengan keras kepala, bersumpah tidak akan meninggalkan kawannya itu di hutan beku ini.
Angin bertiup kencang, membuat rambut Jose berantakan. Daun-daun bergoyang berisik di atas, rasanya ia seperti dikepung bisikan tanpa henti. Kemudian ada dengung itu, dengung psikis panjang yang mengganggu dalam kepala. Jose mengerjap-ngerjapkan matanya kuat-kuat dan menggeleng, berusaha mengenyahkan gelombang demi gelombang dengung yang masuk ke telinganya. Percuma. Dengung psikis justru makin ribut. Jose bahkan merasa dengung itu mulai membentuk kata, meneriakkan namanya.
Jose.
__ADS_1
Argent?
yang m̵̝̜̰͎̖͔͈͈̟̣̍͗̾̈́̃e̴̪̩̭̱͕͒̈̑̈͜͝ṉ̷͔̟̊͋͝y̶̢̢͕̜̠̹̜̦̝͐̒͘ê̷̛̖̣̠̆b̴̞̓͋͌͗̀̑̊̃͠e̴̢͚͖͖̬̳̳̼̿̄́̿̕r̷͇͈̯̳͊̏̎̐a̸̡̳̜̦̟͑͗͂ṉ̴̖̥̂͛g̴̛̻̿̄̒͋͒́͗̕͠
yang ǹ̷̨̨̲̙̳͇̻̰̾̆̈̈́̾͐͝ȅ̴̮͖̀͋͗͑̇́̽͗͠k̸̡̠̭̯̥̻̮͕̎̊̄̃̿̊̊̌͝ḁ̶̢̣̞͕̈́͗͛͌̄̓͆t̴̨̘̠̤̟̠͉̖̖̉̌̉́̎͆̌͛̾̕ menyeberang
meski belum m҉a҉t҉i҉
belum ẃ̶̡̢̛̼̺̣͎̪̠̭̗̈̊́̐͘̚̕a̵̹͈͎̭͖̜͛̃́̈́͂̋͆͝͝k̶̢͚͍̘̭͎͇̀̒̋͝ͅt̷͎̰̬̓̋ǘ̴͖̗͓͉̩͚̩̣͕̃̈n̸͚͙̘̈́̈̿́̓̈́y̵̧̪͎̮͓͓̓͌̋̔̽͜a̸̧̰̭̜̋̒̒͝
Jose tidak mau berhenti untuk meresapi kalimat-kalimat yang diteriakkan ke kepalanya. Ia menaiki lipatan tanah, beranjak ke tempat yang lebih tinggi. Suhu jadi lebih dingin sekarang. Ujung-ujung jarinya membeku sehingga ia harus mencengkeram kuat-kuat lengan David supaya tidak menjatuhkannya ketika berjalan.
*Ḫ̵͉̞̱̹͈̰̣̤́̋̇͗̇̀e̸̡̡̖̓̌̀̾y̷̻̣̍̀̐́̀̓̂̈́͠, Jose. Ĺ̵̼̭͌͆̈̋̃̎̋͒͜i̷̧̢̘̯͙̬͋͂̂̐̏ẖ̷͖̺͚̮͇͙̌͒̀̏̔̕̚͜ā̸͕͔̈́͗̀́̀̋̅̆͠t̶̛̞̹́̌̓́̊ ke sini.
Ĺ̵̼̭͌͆̈̋̃̎̋͒͜i̷̧̢̘̯͙̬͋͂̂̐̏ẖ̷͖̺͚̮͇͙̌͒̀̏̔̕̚͜ā̸͕͔̈́͗̀́̀̋̅̆͠t̶̛̞̹́̌̓́̊ sini
Ĺ̵̼̭͌͆̈̋̃̎̋͒͜i̷̧̢̘̯͙̬͋͂̂̐̏ẖ̷͖̺͚̮͇͙̌͒̀̏̔̕̚͜ā̸͕͔̈́͗̀́̀̋̅̆͠t̶̛̞̹́̌̓́̊ sini
Ĺ̵̼̭͌͆̈̋̃̎̋͒͜i̷̧̢̘̯͙̬͋͂̂̐̏ẖ̷͖̺͚̮͇͙̌͒̀̏̔̕̚͜ā̸͕͔̈́͗̀́̀̋̅̆͠t̶̛̞̹́̌̓́̊ sini
"LIHAT!"
Jose terlonjak kaget dan melakukan kesalahan. Ia menoleh ke kanan, ke arah suara.
Tepat setengah meter di sampingnya terdapat raksasa jamur yang sejak tadi mengikuti. Bentuknya benar-benar seperti jamur tudung pengantin. Kulitnya kisut. Namun jamur raksasa itu memiliki akar kuat dan kering yang seperti milik pohon beringin, akar yang membelit wajah-wajah pucat manusia. Wajah-wajah itu tersenyum pada Jose dan membuka mulut kosong mereka berbarengan.
N̶̗̲͎̲̞̮̓̿́̆̈́̑͜a̴̱̯̹̱͌̐͆̃͐̈́͋̉̈́͗͜ͅa̷̬̜͛̉͂̐h̵̢̫̳̓ĥ̶̤̝͍̘̘̱̖̩̩̂̐͊́ͅ dᵢₐ D̵̗͖̪͙͇̀͗̄̏̃͆ȅ̴̢̢̨͕̲͚̝̻̘̰̏n̶̰̫̭̈́g̷̺͙̯͇̜̩̳͈͈̓̇̈̚ͅå̷̟̺̖͎̤͈̻̊̔͘a̷͇̫̽á̷̢̟̥͓̫̞̖͇͓̩̎̉̅̈́̅͐̕̚a̴̡͕̙̞̲̼̙̣̜̦͐̋̎̃͌͛́̚̕r̷͔͔̭̘̻͎̟͕͋̍̀̾͋̂̿̚̚̚ ̴̤̬̮͒͊̈́̃̚͠.̸̧̛̽̏͋̈́͑͗̃̑͆.̴̠̗̣͎̀͋̍́̿.̷̧̟̯͉̜̙̮̀̅̓.̸̨̛͎̺̗̅̎̄̋͂̔͝
Tidak ada waktu untuk bereaksi. Jose memejamkan mata ketika dengung lain yang lebih panjang dan kuat menghantamnya, membuat kepalanya ditusuk rasa sakit hebat. Dadanya terasa panas.
***
__ADS_1