
Gladys melongokkan kepala jauh-jauh, kemudian akhirnya menunjuk pada satu tempat di sebelah selatan, di balik dinding tinggi kantor pajak. “Kita ke sana saja, tempatnya sepi.”
Sana menatap arah yang ditunjukkan Gladys, kemudian wajahnya berubah jadi ngeri. “Tidak mau, itu kan jembatan perbatasan.”
“Tidak apa-apa, kan tidak ada larangan untuk ngobrol di sana.”
“Tapi tempat itu terlalu sepi!”
“Yang benar saja,” Gladys tertawa, menepuk-nepuk remah daun kering yang menempel pada roknya. “Tempat itu kelihatan dari sini. Kalau ada apa-apa, orang-orang akan melihat kita. Lagi pula di seberang sana juga ada orang, kan?”
“Tapi itu perkampungan liar,” gumam Sana ketika pergelangan tangannya ditarik ke jembatan. Namun ia tidak benar-benar memprotes, dan mengikuti saja langkah Gladys yang seringan angin.
Kaki mereka berketak-ketuk di atas jembatan kayu yang membentuk lengkungan kuat, menghubungkan dua bagian antara utara dan selatan pada wilayah Bjork. Sana menatap ke sekitar dengan waswas. Memang, tempat ini terlihat jelas baik dari Bjork sebelah utara maupun selatan. Namun ia tetap merasa ngeri.
“Katanya, dulu tempat ini punya sejarah yang romantis,” bisik Gladys. Jari tangannya bergerak menyusuri selusur jembatan yang juga terbuat dari kayu. “Kau tahu kabarnya, kan? Soal percintaan ala Romeo-Juliet. Tapi kalau yang di tempat kita, antara Selatan dan Utara.”
Sana masih terlihat gelisah, ia menatap Gladys dengan waswas. Gadis itu agak aneh hari ini, namun Sana berusaha tidak memikirkannya.
Ini adalah hari yang berharga, libur sekali seminggu setelah enam hari bekerja seharian penuh adalah sebuah kesenangan pribadi. Di tempatnya bekerja, para pelayan bahkan barter jadwal hari liburnya dengan pekerjaan yang sangat berat dan banyak.
Namun ia tidak akan melepaskan Gladys, setidaknya sampai gadis itu membeberkan tiap rincian dari rumah Sir William yang tersohor sampai ke telinga para pelayan.
“Bagaimana kau bisa sampai kerja di sana? Kudengar wawancaranya lumayan sulit?”
Gladys, masih berjalan. Ia menggeleng sebagai jawaban. “Tidak sulit, cuma ditanya beberapa hal seperti jam tidur, serta kesanggupan untuk menaati peraturan tanpa bertanya.”
__ADS_1
“Apa Sir William ternyata punya kelakuan buruk di belelakang umum? Dia suka memukuli pelayan?”
Gladys menggeleng lagi.
“Apa dia memberi pekerjaan dengan semena-mena? Misalnya, kau tahu lah, menggosok semua perak sampai sinarnya mengalahkan lampu listrik?”
Gladys tertawa. "Tentu saja tidak."
“Apa dia ....” Kali ini Sana menengok ke kanan dan ke kiri sebelum mendekatkan bibir dan berbisik di telinga Gladys, “melakukan pelecehan?”
Lagi-lagi sebuah gelengan, membuat Sana mendesah kecewa. “Jadi, apa dong yang membuatmu takut?”
Gladys terdiam. Mereka berhenti di pinggir tanah lapang berumput yang membatasi daerah perkampungan. Domba-domba merumput di sana. Sungai kecil mengalir di samping mereka, membuat bunyi gemericik yang menenangkan. Gladys menarik napas, kemudian menjelaskan, “Ada orang yang hilang, pelayan yang masih muda.”
“Itulah,” Gladys mendesah. “Tidak ingat.”
“Dia anak baru?”
“Tidak, dia datang bersama denganku. Kami tidak menerima pelayan baru sejak aku masuk. Sepertinya kami yang pertama dipekerjakan.”
“Ingatanmu buruk juga.” Sana tidak tahu harus berkomentar apa lagi.
“Bukan begitu! Tidak hanya aku, tapi semua orang lupa pada namanya! Itu kan aneh? Dan ... dan baru-baru ini, yang lain mulai lupa bahwa ada anak yang hilang di sana!”
“Sebentar, maksudmu ... hilangnya bagaimana?” Sana mulai penasaran.
__ADS_1
Gladys menatap kawannya dengan bola mata berkaca-kaca, menarik napas, menahannya sebentar di dalam mulut sampai kedua pipinya menggembung, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Sana.
Sambil menyimak, Sana menggigiti kukunya sendiri. Cerita orang yang lenyap tiba-tiba ini sedikit banyak mengingatkannya tentang cerita kapal hantu, kapal di mana suatu ketika semua orangnya lenyap, hanya menyisakan cangkir-cangkir kopi yang masih terisi dan mengepul, koran yang terbuka seperti baru dibaca, dek dan ruang kemudi yang kosong. Ke mana orang-orang itu? Beberapa orang berteori tentang makhluk halus, yang lainnya berpegang teguh pada teori tentang alien, sementara sisanya bersikeras bahwa itu cuma lelucon.
Sana tidak bisa berpikir bahwa orang-orang yang lenyap di Bjork adalah sebuah lelucon. Gladys sekarang ketakutan setelah menceritakan apa yang ia alami dalam pekerjaan barunya. Sana sampai harus berkali-kali meyakinkan gadis itu bahwa tidak ada siapa pun yang akan tahu dan bahwa dia tidak akan mengatakannya pada orang lain tentang apa yang ia dengar kali ini, namun Gladys malah bertambah takut sambil menunjuk-nunjuk ke arah sungai.
Seluruh tubuh Sana meremang. Ia membeliak. Terapung di sungai, ada gumpalan putih yang aneh. Gumpalan itu seperti asap, begitu mistis, bergulung-gulung di tempat dan mengeluarkan suara serak yang ganjil. Gumpalan putih itu menguarkan sesuatu yang membuat kedua gadis menjerit ketakutan. Kedua kaki mereka terasa berat, dan dalam kekalutan, dua gadis tersebut justru berlari ke masuk ke hutan.
***
Marco memutar-mutar bandul di pangkuannya. Ritual darah, kata Rolan. Ia tidak ingin tahu dari mana dokter itu mengetahui hal-hal berbau semacam ini—lagi pula, memang tugas pria itu untuk mengetahui banyak informasi yang diperlukan. Yang ia ingin ketahui adalah, kenapa Direktur Pusat Arsip bisa berubah pucat ketika melihat ia kalung ini kemarin. Dan yang lebih aneh lagi, kenapa setelahnya, si gendut itu malah bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
Marco menemui Wallace, Direktur Pusat Arsip di Bjork, kemarin sore. Melihat medalion yang dibawa oleh Marco, pria itu membelalakkan kedua matanya yang berwarna hijau cemerlang. Dilihat dari reaksinya, pria itu jelas-jelas tahu apa arti untaian yang digantung Marco pada jarinya. Kedua tangan Wallace bahkan sudah terangkat naik, siap meraih, tetapi Marco lebih cepat. Ia menyentakkan rantai emasnya dan mencengkeram bandulnya erat, menyembunyikan bulatan emas itu dalam telapak tangannya.
Pada saat itu juga, Wallace seolah kembali waras. Matanya mengerjap sekali, kemudian binar aneh yang sempat terlintas juga jadi hilang.
“Di mana Anda mendapatkan kalung itu, Tuan Argent?” tanya Wallace, matanya melirik sekilas ke arah arloji. Saat itu masih pukul tiga sore. Gedung Diskusi masih sunyi, hanya ada beberapa petugas bersih-bersih yang sedang mengobrol serta beberapa bangsawan di lobi, jauh dari mereka.
Marco hanya memberi sunggingan senyum miring sebagai jawaban.
“Saya mengenal banyak simbol dan lambang, tapi yang seperti itu tidak pernah saya lihat,” Wallace berkata lagi. Bibirnya sibuk mengisap dan mengepulkan asap rokok, tetapi matanya berulang kali melirik kalung dalam genggaman tangan Marco. “Saya pikir, kalung itu bukan barang yang berharga,” tambah Wallace lagi karena Marco masih bertahan dalam diam.
“Masa?” balas Marco penuh selidik. Ia mengamati Wallace lekat-lekat, menyukai selintas rasa gelisah yang muncul dalam mata hijau tuanya. “Tapi kalung ini terbuat dari emas murni. Tuan Wallace, Anda pasti berselera sangat tinggi, atau nyentrik? Sampai-sampai, emas pun jadi barang tidak berharga di mata Anda.”
Wallace mengisap rokoknya lebih dalam, wajahnya kelihatan seperti sedang berpikir keras. “Emas bukan segalanya, Tuan Argent,” pria itu berkata cepat. Marco bisa melihat titik-titik keringat di pelipisnya. “Emas bahkan ... kadang-kadang membawa kutukan.”
__ADS_1