
"Okultisme Bjork?" ulang Jose heran.
"Ya, sesuatu yang seperti kakure kirishitan. Selama ini kabar tentang mereka hanya sebatas mitos, sama seperti iluminati atau freemason. Tapi okult itu memang ada. Mereka mengejar dunia utopis. Kehidupan abadi yang menyenangkan di mana tidak ada batas antara kaya dan miskin, semua orang hidup sejahtera, tidak ada yang perlu bekerja ..., yah semacam itu. Sama seperti janji-janji manis agama pada umumnya." Rolan mengawasi Hans dan Gerald, mencari tahu apakah ucapannya menyinggung. Namun dua orang itu tidak memberi komentar apa pun, jadi Rolan melanjutkan, "tapi okult ini lebih mengerikan. Mereka menuntut korban darah dan daging sungguhan. Itu yang aku tahu."
"Dan apa hubungannya dengan hantu hitam kita? Apa hubungannya dengan Sir William?"
Rolan menggeleng. "Aku tidak menemukan apa hubungannya. Tapi kalung yang ditemukan temanmu punya lambang okult itu, dan Tuan Wallace juga mengenalinya."
"Tuan Wallace?" Jose menaikkan sebelah alis dengan heran. "Ah, karena dia Direktur Pusat Arsip, ya?"
Rolan mendehem pelan. Ia tidak menceritakan apa pun soal Wallace, merasa bahwa itu tidak akan memberi pengaruh apa pun. Rolan hanya menceritakan hal lain.
Jose menyimak dalam diam, hanya sesekali bertanya. Untuk mempersingkat penjelasan, Rolan mengambil segala data yang berkaitan dengan apa-apa yang terjadi. Mulai dari data penelitiannya tentang orang-orang yang mati kering, penyelidikannya, serta soal Robert.
"Kurasa, Robert memang yang menculik Marco," pungkas Rolan. "Kita harus memastikannya lagi, tapi intuisiku mengatakan dia terlibat."
"Kenapa Dokter baru bilang sekarang?!" protes Gerald marah. "Kalau kita sudah tahu siapa pelakunya, itu kan gampang! Polisi Bjork sekali pun tidak akan sanggup menghadapi seluruh orang-orang suruhan Tuan Marco!"
"Tidak semudah itu," Rolan berkata. "Yang kalian hadapi adalah Inspektur Polisi. Kalau gegabah, buntutnya akan panjang bagi Marco, bagi Keluarga Argent."
"Tidak," tukas Hans. "Asal kita bisa mendapatkan Tuan Marco kembali, maka semua hal pasti bisa diatasi! Tuan Marco akan bisa mengurus sisanya!"
Jose memperhatikan mereka semua dalam diam. Rolan masih mendebat, berusaha menghalangi dua pekerja yang sudah siap mengkoordinasi para tukang pukul di seluruh Bjork. Jose tidak ragu pada kemampuan Gerald mengumpulkan tukang pukul dan preman yang setia. Ia juga tahu bahwa Inspektur Robert pasti kalah kalau terjadi bentrokan. Gampang saja mengacak-acak seisi Bjork bermodal kebrutalan.
"Sebentar, kalian sendiri yang bilang bahwa kalian tidak akan berbuat seenaknya selama ada Argent yang memimpin. Nah, sekarang, minta izin pada Jose dulu!" Rolan mengerahkan senjata terakhirnya, melempar umpan pada Jose. Ia memberi tanda dengan kedipan mata, berusaha membuat Jose mengerti bahwa bentrokan bukan ide yang baik. Rolan sendiri tidak tahu kenapa ia mati-matian mencegah baku hantam terjadi. Mungkin prinsip Marco untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan di Bjork sudah tertanam jauh dalam dirinya.
__ADS_1
"Kalian yakin bisa membawa Paman Marco kembali?" tanya Jose.
"Kami yakin!" jawab Hans dan Gerald serempak, merasa disetujui.
Rolan menempelkan telapak tangannya di wajah, merasa frustrasi.
Dua pekerja bertubuh raksasa itu sudah siap berjalan keluar kamar. Rolan memberi Jose pelototan tajam yang menyalahkan, tetapi pemuda itu tertawa.
"Aku belum mengizinkan kalian keluar. Mana etika kalian? Apa kalian sudah lupa bekerja untuk keluarga mana?"
Jose masih menggunakan nada cerianya yang biasa. Ia bahkan tersenyum geli. Namun mata lelaki itu kosong, sehingga wajahnya terlihat keras dan dingin. Bahkan tanpa melihatnya pun, baik Gerald maupun Hans tahu bahwa tuan mereka tersinggung.
Hans dan Gerald membeku di depan pintu. Mereka berdua berbalik patuh, menatap pada Jose dengan wajah teguh.
"Mohon maafkan kami, Tuan Kecil. Kami terlalu bersemangat untuk membebaskan Tuan Marco sehingga melupakan tata krama. Kami bersedia menerima hukumannya ketika kami kembali."
Jose menatap kedua pria itu bergantian, lalu menghela napas. Telapak kakinya mengetuk-ngetuk karpet. "Menurut kalian, seorang Marco Argent bisa tertangkap dan disandera dengan mudah?"
Gerald dan Hans saling pandang dalam diam, kemudian menggeleng perlahan.
"Tidak Tuan, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi, kan?"
"Menurut kalian," Jose berkata lagi, "kalau pun Paman Marco tertangkap, dia tidak akan bisa membebaskan dirinya sendiri?"
"Dalam keadaan biasa, pasti bisa, Tuan! Kami tidak meragukan kehebatan Tuan Marco!" seru Gerald dengan suaranya yang berat.
__ADS_1
Hans mengangguk penuh persetujuan.
"Dalam keadaan biasa, pasti bisa," ulang Jose, memberi penekanan. Ia masih duduk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan dan handuk putih melingkar di leher, tetapi ia tampak lebih bermartabat dari bangsawan mana pun yang pernah dilihat Rolan. "Tetapi pamanku belum pulang sampai sekarang. Berarti ada keadaan-keadaan tidak biasa yang terjadi, kan? Apa kalian pikir, dengan bertindak gegabah dan asal tabrak, kalian bisa langsung menemukan di mana pamanku? Apa kalian bisa menjamin bahwa dia tidak sedang dalam keadaan sulit yang justru akan makin sulit kalau kita bertindak sembarangan?"
Jose mungkin mengagumi kehebatan Marco mengumpulkan orang-orang yang setia, tetapi kini Rolan kagum pada Jose yang mampu mengendalikan kesetiaan orang-orang pilihan Marco. Memanfaatkan kesetiaan serta rasa percaya dua pekerja itu pada Marco, Jose berhasil memulihkan akal sehat Gerald dan Hans.
Setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan retoris Jose, baik Hans maupun Gerald segera minta maaf dan kembali duduk di karpet, di depan Jose.
"Lagi pula, kita tidak tahu apakah Inspektur Robert memang mengkhianati Paman," tambah Jose akhirnya. "Kita hanya tahu perkara ini dari satu sisi. Kita perlu lebih banyak informasi."
"Menurutmu, Robert mungkin saja tidak berkhianat?" Rolan memastikan.
Jose mengangkat bahu. "Bisa saja. Kita belum seratus persen tahu. Tidak ada bukti jelas. Bagaimana kalau dengan kita menyerbu Inspektur Robert, kita malah mengganggu rencananya yang menguntungkan kita? Aku sendiri tidak tahu pasti di mana posisinya. Mungkin aku perlu bertemu dengan dia dulu untuk memastikan."
"Kalau kau mau menemuinya, kau harus membawa seseorang." Rolan menunjuk pekerja di sampingnya. "Atau dua orang sekalian. Aku tidak akan membiarkan satu-satunya Argent yang bisa menyelesaikan masalah ini terjebak bahaya."
Jose tersenyum menenangkan. "Aku tidak akan kenapa-kenapa. Lagi pula, aku tidak akan menemui Inspektur Robert. Kedatanganku bisa saja membuat musuh curiga."
Rolan berdehem pelan. "Aku sudah menemuinya pagi ini. Menurutmu tindakanku gegabah?"
"Tergantung," kata Jose. "Kedatangan Paman ke sana pasti sudah diduga oleh musuh. Justru aneh kalau Paman atau Ayah tidak ke sana. Tapi bagaimana reaksi Inspektur Robert? Reaksinya yang penting, Paman."
Rolan memikirkan kunjungannya pagi ini. Menurutnya reaksi Robert mencurigakan.
Rolan menceritakan dengan detail setiap kejadian yang ia alami pagi ini. Mulai dari kedatangannya ke kantor Inspektur Robert, firasatnya bahwa ia sedang diikuti, pertemuannya dengan Greyland, kemudian pembicaraannya dengan Krip.
__ADS_1
Jose menimbang-nimbang. "Kecurigaanku pada Inspektur Robert makin berkurang."
***