BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 28


__ADS_3

Nolan mengerjap terkejut. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal tersebut. “Jadi dokter ternyata ada susahnya,” ucapnya memaklumi, tidak sadar bahwa Rolan menyembunyikan tawa.


Jose ada di depan mereka, tidak menghiraukan percakapan tersebut. Ia melihat jembatan tempatnya menyeberang. Pandangannya diedarkan ke ujung, mencari-cari apakah ada jejak lubang. Karena tidak sabar menunggu langkah orang-orang di belakangnya, Jose meloncat duluan, memelesat pergi menyeberangi jembatan untuk mencari tahu di mana tepatnya ia terperosok.


Ia bisa mendengar kelebat angin di telinga, merasakan telapak kakinya menghantam bumi, juga degup jantung yang makin kencang. Inilah hal yang ia sukai dari berlari atau meloncat: sensasinya yang tak tertahankan, perasaan seolah ia bisa terbang tinggi.


Jose mendengar suara langkah di belakangnya, ia menebak bahwa itu adalah suara langkah dua orang pekerja yang juga merangkap sebagai pengawal. Tidak masalah untuknya, ia senang ditemani berlari.


Ketika sampai di ujung jembatan yang satu, napas Jose masih stabil. Lari dalam jarak sedekat itu sama sekali tidak menguras tenaganya sedikit pun. Sekarang ia sedang mencari dengan mata, mencari tahu di mana ia terperosok semalam. Harusnya tidak jauh. Ia langsung jatuh setelah menyeberangi jembatan harusnya ada di sekitar tempatnya berdiri sekarang.


Tapi tidak ada. Tidak ada lubang. Bahkan bekas timbunan pun tidak ada.


“Kau mencari apa, sih?” tanya Nolan penasaran ketika akhirnya sampai di tempat Jose.


“Lubang itu,” jawab Jose cepat. Ia menunjuk ke tanah, kemudian memberi kerutan bingung. “Kau lihat aku terperosok di dalam lubang, kan?”


Nolan menggeleng. “Tidak, kau kan menabrakku di dekat rumah. Dari kemarin kau ribut soal lubang melulu, kan sudah kubilang, tidak ada lubang apa pun di situ.”


Jose membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi kemudian menutupnya lagi. Ia tidak mau dianggap aneh meski yakin bahwa ia memang terperosok ke dalam lubang galian yang dalam.


“Kalian tidak perlu mengantarku sampai rumah,” ucap Nolan tegas. “Cukup sampai sini saja. Kalau tidak, aku pasti akan jadi bahan gunjingan dan tertawaan. Aku pergi dulu. Jangan ada yang ikut!”


“Sampai ketemu lagi,” Jose berkata otomatis.

__ADS_1


“Tidak,” seru Nolan tanpa menoleh. “Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Jose. Pulang sana ke tempat kalian berasal!”


Para pekerja menatap sengit pada anak perempuan yang kelelakian itu. Mereka tidak suka ada yang bicara kasar pada majikan yang mereka layani. Tetapi Jose terlihat tidak ambil pusing, karena itu mereka juga berdiam diri.


Jose masih sibuk meneliti tanah, kini dibantu oleh Rolan. Kedua pria itu berjalan-jalan sambil menggesek kaki, seolah mencari kalau-kalau ada lubang jebakan tersembunyi.


Setelah setengah jam mondar mandir tanpa hasil, akhirnya Rolan mengedikkan bahu dengan lagak menyerah. “Ayolah, sarapan akan disiapkan sebentar lagi. Aku sudah lapar sekarang.”


Jose membuang napas dengan sebal. “Aku yakin aku jatuh di situ!”


“Ya, ya, anggap saja kau memang jatuh dan kita menemukan lubangnya, lalu kenapa?” balas Rolan santai. “Memangnya apa yang mau kau buktikan dari itu, Jose? Tidak ada apa-apa, kan?”


“Tentu saja ada! Itu akan membuatku yakin soal satu hal.” Jose mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya ketika mengikuti langkah Rolan. “Aku akan yakin bahwa yang aku dengar tidak salah. Aku mendengar suara tawa, dan mungkin itu suara tawa yang sama dengan yang ayah dan ibu dengar.”


“Kenapa, Paman?” tanyanya heran.


“Tidak, tidak ada apa-apa,” Rolan kembali tersenyum. “Tapi kurasa sebaiknya kita tidak membicarakan hal ini keras-keras, apalagi di muka umum. Kau tentu tahu Marco tidak pernah suka gosip-gosip yang bisa membuat Bjork jadi makin resah.”


Jose memutar mata mendengarnya, menyadari bahwa Rolan adalah salah satu dari orang-orang yang tahu kejadian sebenarnya, tetapi memutuskan untuk tutup mulut. Siapa lagi yang tahu? Rolan kelihatan ramah dan menyenangkan. Kalau Jose bertanya, akankah pamannya menjawab? Jose tiba-tiba ingin menanyakan soal mayat yang mengering itu.


“Paman,” ucapnya sambil menggamit lengan pamannya menjauh dari para pengawal.


Orang-orang itu segera membaca bahwa Jose ingin membicarakan sesuatu secara rahasia, jadi mereka sengaja menjauhkan jarak, meski tidak sepenuhnya menjauh. Marco melatih mereka untuk tahu diri meski tetap menjaga keselamatan majikan. Mereka membawa pelatihan itu dengan penuh harga diri, senang mengetahui bahwa mereka bukan pelayan level ecek-ecek atau pun pekerja biasa.

__ADS_1


Dengan diberikannya tanggung jawab dan wewenang besar menyangkut keselamatan diri majikan mereka, para pekerja merasa lebih berharga dan juga lebih penting. Jose bisa melihat hasil didikan pamannya dari sikap tiga pria besar yang segera menjauh itu. Dia bersyukur Marco mengelola para pekerja dengan baik.


“Kenapa, Jose?” Rolan memiringkan kepalanya mendekat, tersenyum penuh rahasia meski dengan gaya jenaka. Bola mata cokelatnya bersinar hangat ketika menatap Jose. “Ada yang ingin kau bicarakan? Tidak bisa menunggu sampai kita tiba di rumah?”


“Tidak, kalau kita di rumah, Paman Marco akan mendengar.”


“Oho, jadi ini hal yang tidak boleh didengar Marco?” Rolan justru terlihat antusias sekarang. “Jadi, apa itu? Aku siap mendengarkan. Apa tentang pacarmu? Aku tahu Marco dan Edgar selalu berusaha mencarikan istri untukmu. Kau mau cerita kalau sudah punya pasangan? Pasanganmu sudah hamil, barangkali?”


“Tidak ada yang seperti itu, Paman!” Jose melotot kesal, menyadari bahwa pamannya yang satu ini hampir tidak bisa dihentikan kalau sudah mulai berspekulasi. “Aku ingin tahu soal ..." Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum kembali melanjutkan dengan suara lirih, “Higgins.”


“Dia mati,” jawab Rolan cepat. Terlalu cepat. Wajahnya heran dan kedua alisnya dinaikkan tinggi-tinggi saat menatap Jose. “Apa lagi? Memangnya kau belum tahu? Kan dia sudah dimakamkan segala?”


“Aku tahu dia mati!” Jose menahan agar suaranya tetap sebatas pada geraman. “Aku juga tahu dia mati kehabisan darah,” tambahnya dengan suara pelan. “Sama seperti beberapa orang lain di Bjork.”


“Oh, begitukah? Kau tahu banyak rupanya.”


“Aku juga tahu bahwa ‘beberapa orang lain di Bjork’ itu adalah orang-orang yang dikabarkan hilang,” Jose melanjutkan ketika melihat pamannya sama sekali tidak memberi reaksi yang berarti.


“Jadi?” Rolan menoleh pada Jose, memberi pandangan penuh arti ketika bertanya, “Kau mengetahuinya sendiri, atau diberitahu oleh Marco?”


Jose diam selama beberapa saat. Ia hanya mendengar derap langkahnya dan juga langkah kasar para pekerja di sekeliling mereka. Kemudian ia menjawab dengan pelan, “Dari Paman Marco.”


Rolan tertawa. Jenis tawa renyah yang malas. “Aku tahu kau ingin menanyakan sesuatu dengan mengungkit ini, tapi aku tidak mau jawab apa pun, Jose. Tanyalah lagi kalau kau sudah mendapat sesuatu dari hasil pencarianmu sendiri.”

__ADS_1


***


__ADS_2